
Kota Aulzania.
Kekacauan terjadi dimana - mana, bangunan hancur berserakan, orang - orang berlarian dengan panik, darah berceceran dimana - mana.
Ada tiga Naga yang berterbangan bebas di Langit Kota Aulzania. Semua Naga itu memiliki ciri - ciri yang sama, yaitu berwarna Hitam Legam, mempunyai Kulit yang sudah membusuk dan Kedua mata mereka yang telah tiada.
Sementara itu....
Tap Tap Tap
Dibalik kekacauan Kota Aulzania ini, ada sebuah Kelompok orang - orang yang berjalan dengan tenang. Mereka tak terpengaruh oleh semua kekacauan yang terjadi di Kota Aulzania.
Kelompok itu dipimpin oleh seorang Pria yang mengenakan Pakaian Hitam bercorak merah. Kedua mata merah miliknya Bercahaya Redup, menambah kesan kemisteriusan yang dia miliki. Rambut dia yang hitam, melegam di bawah teriknya sinar mentari sore hari.
Lelaki itu berjalan dengan elegan layaknya seorang penguasa. Orang - orang yang mengikuti dia dari belakang menambah kesan penguasa yang terpancar dari dalam dirinya....
"Kalian semua, selamatkan penduduk Kota, aku akan menghadapi mereka seorang diri."
Lelaki itu mengeluarkan suara, sebuah suara yang dingin bagaikan lantunan kematian. Di dalamnya tercampur berbagai macam Emosi. Kebencian, Dendam, Kemarahan, dan Kesedihan.
Menakjubkannya, dia sama sekali tidak tertelan oleh Emosi Negatif itu. Seakan - akan, semua Emosi itulah yang tertelan oleh dirinya.
Orang - orang yang mengikuti dia mengangguk, menandakan bahwa mereka mengerti. Tidak ada satupun dari mereka yang berani menentangnya saat ini. Lelaki yang memimpin mereka, seolah telah berubah menjadi seseorang yang tidak mereka kenal.
Satu per satu semua orang mulai berpisah dari kelompok sampai akhirnya menyisakan lelaki itu berjalan seorang diri.
Lelaki itu, menatap tajam pada Colosseum Kota Aulzania.
Lelaki itu mengarahkan lengannya ke udara Kosong. Seketika, sebuah lubang Ruang dan Dimensi yang menelan lengannya muncul disana.
Kemudian...
Lelaki itu menarik sebuah Pedang dari dalam Ruang itu. Pedang yang berwarna Putih murni, bilah Pedang itu sendiri berwarna putih. Bagiam mata Pedang digarisi oleh warna Emas yang mengkilap.
Beberapa ukiran berwarna Emas terdapat dalam gagang dan bilahnya.
Pedang itu mengeluarkan aura yang begitu indah, tak dapat diucapkan dengan kata - kata. Begitu Pedang itu telah menampakan diri sepenuhnya, Ruang di sekitarnya menjadi terdistorsi.
"Saatnya bagimu menunjukan Eksistensi, [Thousand Divine Souls Sword~Nuxuria]."
Lelaki itu, mengayunkan lengannya, mengeluarkan sebuah Tebasan ke udara kosong.
Sebuah Tebasan Vertikal.
Murni hanya sebuah Tebasan biasa, tidak ada sedikitpun Kekuatan ayunan dalam Tebasan itu. Tidak ada tanda - tanda penggunaan mana untuk memperkuatnya.
Dia hanya mengeluarkan sebuah Tebasan itu, seakan bermain - main untuk melukis Garis Cahaya indah di udara.
Seharusnya, orang - orang akan berpikir, apa kegunaan dari Tebasan lemah seperti itu?
Bahkan jika dibayangkan dengan Logika, sebuah Tebasan seperti itu tak akan bisa membelah Kayu.
Namun, apa yang terjadi karena sebuah Tebasan itu?
Bumi dan Tanah, Bangunan dan Dinding, Colosseum dan Udara, mereka semua seketika terbelah....
Membuat apapun yang ada dihadapan pria itu menjadi terbagi dua. Retakan tanah dengan lebar Sepuluh Meter tercipta, lurus menuju ke arah Colosseum Kota Aulzania.
Bersama dengan seluruh Bangunan yang ada di jalurnya, tidak terkecuali Colosseum Kota Aulzania. Itu semua terbelah, oleh sesuatu yang bahkan tidak dapat dilihat oleh mata.
Ketika hampir semua yang ada di jalur serangan itu musnah dan binasa. Hanya orang - oramg tak berdosa yang tidak terkena serangan itu. Betapa menakjubkannya hal itu, mengingat dampak dari sebuah Tebasan sederhana itu sangatlah besar.
Lelaki itu, berjalan dengan tenang kembali, berjalan lurus ke arah Colosseum. Tanah yang terbelah seketika kembali seperti semula ketika dia melewatinya. Seolah - olah tebasan nya ini hanya digunakan untuk membuat sebuah Jalan bagi dia.
*
*
*
*
*
*
*
*
Badumm!!
Dinding bagian sisi Arena Colosseum meledak, itu disebabkan oleh Kedua orang yang terpental dengan kecepatan tinggi.
Kedua orang itu adalah Arniga dan Ilvina, mereka telah dibuat tak berdaya dihadapan Undead - Undead yang mengelilingi Wanita Necromancer.
"Kahahah! Menyerah saja, dan jadilah Undeadku yang manis..." Wanita Necromancer itu tertawa penuh kemenangan.
"Grkk... Sialan, ternyata mana kita telah diserap...." Arniga dengan wajah penuh lukanya menggerutu.
"Guhuk, jadi penyebab serangan kita menghilang adalah karena itu..." Ilvina terbatuk mengeluarkan darah.
Meski mana Arniga dan Ilvina telah diserap, mereka yakin bahkan jika kekuatan mereka masih dalam keadaan semula. Mereka tidak akan dapat mengalahkan Wanita Necromancer itu. Hanya satu dari lima Undead yang mengelilinginya sudah sekuat mereka berdua.
Belum lagi, mereka merasakan pria tua botak yang ada disisi Wanita Necromancer itu mempunyai kekuatan yang mengerikan.
Lelaki Tua itu mungkin lebih kuat dari Wanita Necromancer..
"Sial... Bagaimana ini." Arniga bergumam.
"Bagaimana lagi? melawan ataupun tidak wanita itu tetap akan membunuh kita... Jadi sebaiknya kita melawan sampai akhir." Ilvina menyuarakan pendapat layaknya seorang Ksatria Sejati.
Ilvina mulai bangkit kembali, kata - kata nya dipenuhi oleh Tekad seorang Ksatria.
Arniga merasa sedikit malu, tekadnya dikalahkan oleh Seorang Wanita, dia merasa Harga dirinya telah jatuh saat ini.
"Tch.. Baiklah, aku tidak menyukai kekalahan tanpa kehormatan." Mengikuti Ilvina, Arniga bangkit kembali.
Ilvina dan Arniga menatap tajam ke arah Wanita Necromancer, mereka terlihat seperti pejuang yang akan mati berkorban.
Keduanya menyiapkan senjata mereka masing - masing, dengan melakukan ancang - ancang, mereka berlari...
"Hyaa, aku sangat menyukai orang yang pantang menyerah... Menyiksa mereka akan lebih menyenangkan." Wanita Necromancer malah terlihat bahagia.
Ekspresi bahagia Wanita Necromancer berubah dalam sekejap. Menjadi sebuah Ekspresi yang mengerikan...
"Lawan mereka.... Zen~zu." Wanita Necromancer memberikan perintah dengan Nada manis.
Seorang Undead Lelaki menanggapi perintahnya. Undead itu melakukan kuda - kuda, seperti hal nya seorang Ahli Beladiri.
Undead laki - laki itu tidak mengenakan Senjata apapun, hanya menggunakan kedua tangannya untuk dijadikan senjata.
"Haa...!" Arniga dan Ilvina menyerang secara bersamaan.
Mereka hanya mengandalkan fisik untuk melakukan serangan ini. Meski begitu, mereka masih tetap melawan walau tak memiliki kesempatan untuk menang.
Undead yang diperintahkan oleh Wanita Necromancer segera berpindah tempat. Dia menghalau jalur lintasan serangan dari Ilvina dan Arniga.
Tak! Tak! Tak! Dug! Dug! Dug!
Serangan cepat beruntun Undead itu lancarkan. Disaat yang bersamaan, serangan itu menangkis sekaligus menyerang Arniga dan Ilvina. Tanpa Mana, Arniga dan Ilvina tak dapat bereaksi.
Pukulan demi Pukulan dari Undead itu mereka terima.
"Guhok!" Arniga memuntahkan darah.
"Grahhh.!" Seluruh wajah Ilvina dipenuhi oleh luka - luka.
__ADS_1
Undead itu tidak memberikan sedikitpun ampun pada Ilvina dan Arniga. Dia terus melancarkan serangan pukulan beruntun miliknya.
Ketika Arniga dan Ilvina sudah tidak memiliki tenaga dan akan terjatuh. Undead itu mencengkeram leher keduanya, menahan mereka untuk terjatuh.
"Cukup, tahan mereka seperti itu.." Wanita Necromancer memberi perintah.
Menanggapi Perintah dari Tuannya, Undead itu melonggarkan Genggaman nya pada leher Ilvina dan Arniga.
"Reynalue, cepat perintahkan undeadmu itu untuk membawa Keluarga Kerajaan kesini..." Pria Tua Botak yang ada di samping Wanita Necromancer berbicara sinis.
"Berisik, aku sudah memerintahkan mereka. Lihat, mereka sudah datang..." Wanita Necromancer kesal.
Raja Esdagius, Ratu Rialna, Pangeran Etharez, dan Putri Sylna. Mereka digiring oleh para Undead dengan keadaan lengan terikat.
Bruk! Bruk! Bruk! Bruk!
Mereka semua dijatuhkan dengan cara yang kejam. Pakaian mereka yang mewah mengenai debu tanah Arena dan menjadi kotor seketika.
"Grah! Kurang ajar kalian, beraninya menyerang Kota Aulzania!" Raja Esdagius berteriak dalam keadaan tertelungkup.
"Rajaku..." Ratu Rialna menatap penuh kekhawatiran.
"Keluarga Kerajaan Aulzania, Kehahaha! Mulai saat ini, Kerajaan ini menjadi milik kami!" Wanita Necromancer tertawa puas.
"Um...?" Wanita itu menghentikan tawa nya, dia terlihat melirik sesuatu yang menarik baginya. Sesuatu itu adalah... Wanita yang memakai penutup wajah, Putri Sylna.
"Hei, aku merasakan sesuatu yang menarik darimu..."
Raja Esdagius melotot melihat Wanita Necromancer itu mendekati Putri kesayangan nya.
"Jangan sentuh dia! Kurang ajar kau!"
"Kehahaha! Melihat kau mengatakan itu malah membuatku semakin penasaran dengan perempuan ini!"
Putri Sylna, diangkat dengan cara yang Kejam oleh Wanita Necromancer.
"Biarkan aku melihat wajahmu itu..!"
Wanita Necromancer merobek penutup wajah milik Putri Sylna. Sebuah wajah yang mengejutkan terdapat di dalamnya. Bukan wajah yang buruk rupa, melainkan wajah yang sangat cantik. Mata, Hidung, Pipi, dan setiap sudut wajahnya terasa sempurna.
Rambutnya yang putih murni, semakin cocok ketika itu disatukan dengan kulitnya yang seputih susu. Siapa yang menyangka dibalik penutup wajahnya, kecantikan seperti ini dia sembunyikan.
Wanita Necromancer terlihat terkejut untuk sesaat. Tapi dengan segera dia sadar kembali dan memasang sebuah Senyum yang menakutkan.
"Beruntungnya~ aku belum mempunyai Koleksi yang cantik seperti ini..."
"Brengsek! Jangan kau berani macam - macam dengan adik ku?!" Pangeran Etharez berteriak marah, meski saat ini posisi tubuhnya begitu menyedihkan.
"Grrkk...! Kurang ajar! Beraninya kau menyentuh Putriku!" Raja Esdagius pun mengalami kemarahan yang sama besarnya.
Namun semua itu malah semakin membuat Wanita Necromancer tersenyum bahagia. Dia terlihat begitu menikmati orang - orang yang menjerit putus asa.
"Ahh! Aku menyukai Ekspresi keputusasaan itu... Sudah kuputuskan, aku akan menjadikan Si Cantik ini sebagai Koleksiku saat ini juga." Wanita Necromancer menjilat bibirnya, dia menatap pada Putri Sylna bagaikan menatap seorang mangsa.
"Menjauh darinya!"
"Sialan! Kurang ajar! Brengsek!"
"Ehehehe, aku menyukai teriakan kalian~" Wanita Necromancer semakin tersenyum bahagia. Kemudian, dari Tangan kanannya muncul sebuah Kabut ungu yang menyeramkan.
Leher Putri Sylna dicengkeram dengan Kuat oleh Wanita Necromancer. Ketakutan memenuhi seluruh bagian wajah Putri Sylna. Dia menangis terisak - isak takut akan apa yang terjadi padanya.
"Matilah dengan tenang dan jadilah koleksiku~ [Dark Magic : Rise of Undead.]
Tangan Kanan Wanita Necromancer mendekat ke arah Dada Putri Sylna. Seakan - akan tangan itu akan merebut jantung milik Putri Sylna.
"Hiks... Hiks... T-Tuan Dirvaren, T-Tolong.."
"Eh...?" Wanita Necromancer menghentikan gerakannya. Dia merasakan ada sesuatu yang aneh tak jauh dari tempatnya berada. Lamunan nya ini tersadarkan, ketika Pria Tua Botak berteriak....
"Menghindar! Reynalue!" Pria Botak berteriak, dengan cepat dia bergerak dan menarik Wanita Necromancer menjauhi tempat dia berdiri. Mereka dengan cepat berpindah ke tempat dimana kursi penonton Colosseum berada.
"Diam! apa kau ingin mati, lihat itu.!" Pria Botak menunjuk pada salah satu sudut Arena.
"Lihat?! Apa yang kau lih-"
Durururu!
Colosseum bergetar hebat, kemudian secara tiba - tiba, Colosseum itu sepenuhnya terbelah. Bersamaan dengan Retakan besar di tanah yang memotong Colosseum menjadi dua bagian.
Pemandangan yang mustahil untuk dipercaya, tidak ada serangan apapun yang terlihat. Tidak ada penyebab yang pasti mengapa semua ini terjadi. Wanita Necromancer dan Pria Botak Tua terbelalak tak percaya.
"Bumi terbelah secara tiba - tiba..?"
"Aku merasakan sesuatu yang berbahaya dari sudut sana. Tapi, ini tak terduga hal yang berbahaya itu dapat membelah Arena ini seketika... Kekuatan yang benar - benar Gila!" Pria Tua Botak berteriak tak percaya.
"Apa maksudmu serangan? tidak ada apapun yang kulihat seperti serangan!"
"Jangan bertanya padaku! aku juga tidak tahu."
"Nidgor lihat itu!" Wanita Necromancer menunjuk pada salah satu sudut Arena yang terbelah.
Di balik awan debu yang memenuhi seluruh bagian Arena. Sosok Siluet gelap berjalan dengan tenang. Tanah yang terbelah seakan tidak menghentikan langkah nya sedikitpun. Di balik sosok Gelap nya itu, dua buah mata... Bersinar merah.
Tap Tap Tap
"Kematian tidak akan cukup bagi kalian...."
Tap Tap Tap
"Kalian yang telah menyakiti orang tak berdosa...."
Tap Tap Tap
"Kalian yang telah berusaha melukai orang yang berada di bawah perlindunganku.."
Tap Tap Tap
"Kalian akan kubinasakan, menuju.... Keputusasaan dari Neraka tanpa akhir."
Ketika siluet itu menghentikan langkah nya, awan debu telah sepenuhnya menghilang. Menampakan keseluruhan dari sosok dirinya yang seorang lelaki, dia menatap tajam pada Wanita Necromancer dan Pria Tua Botak yang ada di Tempat Kursi Penonton.
Deg!
Pria Tua Botak merasakan Jantung nya serasa disambar oleh sebuah petir. Ketika mata lelaki yang ada di Arena menatapnya, seketika membuat hati membeku. Insting berbahaya terus menerus memberitahunya, untuk segera melarikan diri.
"R-Reynalue, kita harus cepat lar-"
"Argh! Beraninya kau menghancurkan Undead - Undeadku yang manis!"
Wanita Necromancer malah berteriak marah, karena semua Undead - Undead nya telah sepenuhnya dihancurkan. Hanya tersisa beberapa bagian tubuh mereka saja yang ada di Arena. Sesuatu yang membuat Colosseum terbelah, sepertinya berhasil membasmi semua Undead yang ada.
Anehnya sesuatu yang membelah Colosseum itu tidak melukai seorangpun selain dari para Undead itu. Putri Sylna yang hanya berjarak beberapa inci dari Retakan Tanah yang terbelah pun selamat.
"Jadi kau ya, Wanita Necromancer itu..." Lelaki itu sama sekali tidak mengindahkan Wanita Necromancer yang berteriak marah.
"Grggg Aku akan menyiksamu!" Wanita Necromancer bersiap untuk menyerang.
Plakk!
Sebuah Tamparan keras diterima Wanita Necromancer itu. Dia terlihat sedikit kebingungan dan mencari darimana asal tamparan ini.
"Nidgor! Apa yang kau lakuka-"
"Dasar Bodoh! Mustahil kita bisa menang darinya! Cepat panggil Naga mu itu kesini! kita mundur secepatnya!" Pria Tua Botak memarahi Wanita Necromancer.
"T-Tapi...."
__ADS_1
"Sudah cukup! kau ingin dihukum lagi?!"
"Tidak ingin! Kemarilah, Nagaku!"
Groaaarrr
Satu Naga terlihat terbang di langit Colosseum membuat bayangan besar memenuhi seluruh Arena. Pria Tua Botak dengan cepat menggiring Wanita Necromancer menuju ke atas punggung Naga. Pria Tua Botak itu, menggunakan sepasang sayap yang ada di punggung nya untuk terbang.
Wosshh! Wosshhh!
Naga dengan cepat terbang menjauhi Colosseum Kota Aulzania. Mereka berdua benar - benar melarikan diri dari lelaki yang ada di Arena.
Meninggalkan Lelaki itu yang sedang berdiri mematung, sebuah senyum menakutkan muncul di wajahnya.
"Maafkan keterlambatanku semuanya.." Lelaki itu melirik, pada semua orang yang tergeletak di Arena.
"Untuk saat ini, aku akan mengejar mereka terlebih dahulu... [Blood Ruler : Multi Blood Prison Cube]... Sampai Jumpa."
Sosok lelaki itu dengan cepat menghilang entah kemana. Namun, ada satu hal yang pasti dia meninggalkan Kubus merah yang membungkus setiap orang yang ada. Semua itu untuk melindungi mereka, andai serangan lainnya tiba.
*
*
*
*
*
*
*
Woshh! Woshh! Woshh! Wossh!
Beberapa Naga Hitam Legam terbang di atas langit sebuah Hutan. Pada punggung salah satu Naga tersebut, dua orang terlihat sedang berdiri disana.
"Nidgor, bisa kau jelaskan mengapa kita mustahil menang melawannya?"
"D-Dia begitu misterius, aku tidak dapat mengukur seberapa besar kekuatannya. Tapi aku meyakini alasan mengapa mustahil bagi kita untuk menang adalah, karena sebuah Pedang yang ada di tangannya."
"Pedang berwarna Putih itu..?"
"Ya, Pedang itu entah mengapa sangat menakutkan, kekuatannya begitu besar dan tak terukur..."
"Hufftt.... Mengapa Rencanaku selalu gagal seperti ini, bagaimana aku menghadapnya nanti?"
"Reynalue, kali ini aku akan membantumu memberi penjelasan. Yah... Yang terpenting kita berhasil kabur terlebih dahulu."
Wanita Necromancer dan Pria Tua Botak itu menghela napas. Berbagai macam perasaan bercampur aduk di hati mereka.
"Apa kalian berpikir sudah lolos?"
Sebuah Suara yang dingin dan menusuk terdengar oleh Kedua orang yang menunggangi Naga. Seketika Hati mereka membeku, dengan enggan mereka berbalik pada Asal suara ini.
"Mustahil...?!"
"Nidgor, dia bukan manusia?!"
Mereka terkejut, Ren yang mengejar mereka memiliki sepasang sayap di punggung nya. Sayap yang terbuat dari sebuah kabut merah darah. Itu bahkan tidak terlihat nyata sama sekali.
"Apa kalian ingin mendengarkan Cerita tentang Pedang ini?" Ren tersenyum menakutkan, dia sama sekali tidak berniat untuk menyerang. Dia hanya terbang, mengikuti tiga naga yang terbang di udara.
"Pedang ini....." Ren memulai Cerita sepihaknya..
"Thousand Divine Souls, Nuxuria. Sesuai dengan Namanya, Pedang ini terbuat dari seribu Jiwa ilahi dari masa lampau. Memiliki kekuatan dari seribu Jiwa Ilahi, Pedang ini dapat meruntuhkan Gunung, Membelah Lautan, dan Menghancurkan dimensi serta Kenyataan."
Wanita Necromancer dan Pria Tua Botak begitu terkejut ketika mereka mendengar apa yang dikatakan oleh Ren. Mereka akhirnya menyadari, penyebab mengapa Colosseum dapat terbelah seketika.
Ren menghentikan laju terbang nya, dia kini hanya mengapung di udara. Menatap pada tiga Naga hitam yang terbang menjauh darinya.
"[Slash]."
Shing!
Skill dasar dari seorang Swordsman [Slash] hanya sebuah tebasan biasa yang mengandung mana. Tebasan itu dia lakukan secara Horizontal, menciptakan sebuah Garis Cahaya berbentuk bulan sabit di udara.
Bilah Cahaya berbentuk sabit, dengan cepat meluncur menuju para Naga yang melarikan diri. Bilah Cahaya itu semakin membesar setiap saat, sampai mencapai ukuran yang luar biasa, dapat diperkirakan setara dengan luas Kota Aulzania.
Bilah Cahaya, memotong segala sesuatu yang ada di jalurnya. Naga, Udara, bahkan Gunung yang berada dalam jalur lintasan Bilah Cahaya.
Shratt! Shratt! Shratt!
Badumm!
Tiga Naga yang terbang terpotong menjadi dua bagian dengan cara yang dramatis. Bukan hanya Naga yang terpotong, melainkan Gunung tak jauh dari tempat Naga itu berada juga terkena dampaknya. Garis cahaya meninggalkan bekas sayatan yang amat besar di Gunung itu.
Kekuatan yang amat dahsyat ini, hanya disebabkan oleh sebuah Tebasan biasa dari Pedang Nuxuria milik Ren.
Kedua sosok yang menunggang Naga terjatuh dari atas langit. Dengan ketinggian seperti itu, seharusnya cukup bagi makhluk hidup untuk mati. Namun, keduanya adalah Ras iblis yang memiliki daya tahan kuat.
Meski mereka jatuh dari ketinggian seperti itu, hanya akan menimbulkan luka kecil biasa.
Brukk!
Brukk!
Kedua sosok itu terjatuh ke tanah...
"Guhok! Daya hancur yang begitu... Gila." Pria Tua Botak terbatuk - batuk, dia tak percaya sebuah Tebasan biasa dari Pedang bisa memiliki Daya Hancur yang luar biasa seperti ini.
"Kyaa! Argh...!"
Jeritan dari Wanita Necromancer membuat Pria Tua Botak terkejut dan berbalik padanya.
"Reynalue...?!"
Wanita Necromancer berguling - guling kesakitan. Dua kaki yang dia miliki terpotong oleh Bilah Cahaya yang luar biasa besar itu. Darah menyembur dari sana dengan hebat.
"Bertahanlah! Kita segera per-"
"Hoho... Mau mencoba kabur lagi?"
Pria Tua Botak segera berbalik untuk melihat asal suara. Dia berbalik dengan wajah yang telah sepenuhnya pucat pasi.
"Menyerahlah, dan terima penghakiman ini..."
Hanya sesaat, Pria Tua Botak melihat sosok Ren sebagai sesuatu yang menyeramkan. Sesuatu yang ditakuti oleh seluruh makhluk hidup... itu adalah Kematian.
.....................
**Catatan Author :
Hallo~...
Tidak terasa sebuah Cerita serba kekurangan saya ini telah mencapai 50 Chapter. Semua ini berkat kalian para pembaca yang memberikan dukungan yang sangat berarti bagi saya.
Maka dari itu, saya memaksakan diri untuk membuat satu Chapter tambahan ini. Semoga ini meredakan Rasa kesal kalian pada saya yang selalu membuat sesuatu dengan cara yang 'Nanggung' :)
Brakk!
Author : Woi siapa yang mukul?!
Ren : Siapa lagi? Aku merasa jijik dengan kepercayaan dirimu.
Author : Ebuset, kok bisa kamu keluar?!
__ADS_1
Tidak ada jawaban**....
Oke sampai jumpa... Terima kasih.