
Serangan dari [God's Blood Spear] Ganzalan akan memusnahkan Makhluk Hidup. Tidak hanya tubuh fisik, melainkan Jiwa yang ada didalamnya akan dimusnahkan. Milžiniška gyvatė sudah menghilang dari Dunia, semua Dunia, tidak ada jalan kembali, murni menghilang tanpa menyisakan apapun.
Kemusnahan sepenuhnya Milžiniška gyvatė, sedikitpun tidak mengobati Rasa sedih dalam diri Ren karena kegagalan dalam melindungi Istana miliknya. Namun tidak ada yang dapat Ren lakukan, tidak mungkin bagi dirinya mengulang waktu dan memperbaiki kesalahan.
Ren menggunakan Sihir Tanah untuk membuat Tanah yang sudah Rusak dan Terlubangi kembali seperti semula. Meski tidak bisa mengembalikan Rerumputan seperti sedia kala, setidaknya Ren memperbaiki Tanahnya.
"Bagaimana caraku mengembalikannya?" Ren bergumam seorang diri.
Gumaman Ren yang pelan ini terdengar oleh Avrogan, Arystina dan Nirlayn yang sudah berada di dekatnya. Walau sempat ketakutan oleh Tombak yang mengerikan, mereka masih tetap mengkhawatirkan Ren sebagai Tuan mereka.
"A-Apa yang harus anda kembalikan ... Ren-sama?"
"Tuan, anda bisa mengatakannya pada kami."
"Y-Yang Mulia ..."
Suara dari mereka bertiga menyadarkan Ren dari Kesedihannya. Tidak mungkin seorang Penguasa menunjukan Kesedihan pada Bawahannya, itulah yang ada dalam pikiran Ren saat ini.
"Ah, kalian ... Aku hanya ingin mencari tahu, bagaimana cara menge- ..." Ren terdiam oleh sesuatu yang baru saja dia ingat kembali.
Ren bergerak dan dengan seketika sudah menggenggam Erat kedua Bahu Arystina, dia lalu berkata, "Arystina ..."
Ekspresi serius Ren dalam berkata dan jarak Ren yang sangat dekat dengannya, membuat Wajah Arystina menjadi merah merona.
"Y-Y-Yaaa ... Yang M-Mulia?"
"Arystina ... Aku ingin, kau mengembalikan Rumput-Rumput yang sebelumnya Tumbuh disini!" Ren menatap penuh harap pada Arystina seraya menunjuk Tanah Kosong yang ada disekitarnya.
Sebagai Roh Hutan, Ren memperkirakan bahwasannya Arystina memiliki kemampuan untuk menumbuhkan Tanaman. Maka dari itu, Ren melihat sebuah Harapan ketika mengingat sosok Arystina.
Lalu, suasana tegang yang ditunjukan oleh Nirlayn dan Avrogan ketika melihat dan mendengar Ren yang berkata serius langsung menghilang. Keseriusan itu hanya berasal dari Rumput? Mereka berusaha untuk tidak mempercayainya. Arystina yang mengharapkan sesuatu yang lain bahkan merasa kecewa.
Arystina dengan lemahnya menjawab, "Eh? Baiklah, Yang Mulia."
Semua Kesedihan Ren sirna seketika, semua itu disebabkan oleh persetujuan Arystina. Rerumputan Berharga yang telah hilang akan dikembalikan oleh Arystina, meski berbeda tapi masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
"Aku ... Berterima kasih."
Dengan tidak terduga, Ren langsung memeluk Arystina setelah mengucapkan kata-kata terima kasihnya. Nirlayn dan Avrogan yang melihat ini terkejut setengah Mati dengan Mata yang membulat dan mulut yang terbuka.
Sedangkan untuk Arystina? Dia langsung tak sadarkan diri dalam kebahagiaan.
__ADS_1
"Ah, Arystina?!" Ren menyadari tindakannya yang berlebihan sehingga membuat Arystina tidak sadarkan diri.
Ren langsung menggunakan Blood Art untuk membuat sebuah tempat tidur sederhana disana. Kemudian, Ren memangku Arystina dan membaringkannya di tempat tidur itu.
Waktu berjalan cukup cepat, dimana pada saat Ren membaringkan Arystina, Ren merasakan Cahaya Matahari yang mulai muncul dari Ufuk Timur yang menandakan bahwa Hari sudah mulai memasuki Pagi.
Beberapa Hal memang sulit untuk diperkirakan, dan sepertinya, Ren tidak akan dapat beristirahat. Setidaknya Ren harus berangkat ke Kerajaan Suci Sancteral Hari ini.
"Nirlayn, Avrogan ..." Ren memanggil Nama dari Dua orang yang masih terkejut itu seraya melihat Matahari yang terbit.
"Y-Ya, Ren-sama." Balas Nirlayn.
'Tch, Arystina memang Hebat ... Lain kali, aku yang akan mendapatkannya.' Kalimat asli yang ada dalam Hati Nirlayn.
"Saya disini Tuan!" Balas Avrogan semangat.
'Meski aku tidak paham, tapi sepertinya Tuan adalah seorang lelaki yang dapat meluluhkan Hati seorang Wanita tanpa dia sadari!' Ini adalah Perkataan penuh semangat Avrogan yang sebenarnya.
Bahkan, tidak mungkin bagi Ren dapat mendengar seseorang yang berbicara dalam Hati mereka. Jadi, Ren hanya diam tanpa mengetahui perkataan yang ada dalam Hati Kedua bawahannya itu.
"Kalian tentu tahu ... Matahari telah terbit, dan kita tidak dapat beristirahat."
"Saya mengerti, Ren-sama. Saya tidak keberatan." Ucap Nirlayn yang pengertian.
Avrogan menambahkan perkataan dengan penuh semangat, "... Tuan tidak perlu mengkhawatirkan kami!"
Mendengarnya membuat Ren merasa sedikit lega, meski tidak dapat dipungkiri bahwa dia sendiri merasa lelah. Tapi ... sepertinya tidak buruk jika Ren benar-benar bersyukur memiliki Bawahan yang pengertian seperti mereka.
"Bagus ..." Ren berkata seraya mulai berjalan ke arah Istana, sebelum sepenuhnya pergi, dia berhenti dan menoleh kembali, "Ah ya Nirlayn, kau tidak berencana pergi dalam keadaan seperti itu kan?"
Penampilan Nirlayn cukup berantakan, dan jauh berbeda dari Nirlayn yang biasa berpenampilan anggun. Ren menyatakan ini dengan maksud mengingatkan, dan tidak memiliki maksud yang lain. Namun, Nirlayn menganggap Ren berbicara seakan-akan tidak suka dengan Penampilannya saat ini.
"Ah ... Anda benar, sepertinya saya akan bersiap-siap terlebih dahulu!"
Nirlayn langsung berlari panik, melewati Ren yang bahkan masih diam berdiri. Sebagai seorang Penguasa yang diharuskan mengerti para bawahannya, Ren menganggap Sikap Nirlayn yang sedikit tidak sopan seperti ini Normal, karena menyangkut Penampilan dari seorang Perempuan.
"Avrogan, jagalah Arystina selagi aku ke Istana, dan jangan lupa sampaikan pesanku padanya agar langsung bersiap-siap ketika dia sudah sadar nanti."
Ren pergi dan melambaikan tangan pada Avrogan, meski lambaian tangan ini tidak diperlukan, tapi Ren sudah menjadikan itu sebuah kebiasaan. Avrogan membalas Ren dengan cara menunduk dan berjanji, bahwa apa yang harus dia sampaikan, akan langsung dia katakan.
____________________________________________
__ADS_1
* * *
* * * ____________________________________________
[The Demon Monarch] Nescaruza, kemungkinan besar Sang Monarch dari para Iblis ini memiliki hubungan dengan Organisasi yang sedang mengincar Ren saat ini. Lalu jika bukan Nescazura, dari siapa Irlyana bisa mendapatkan [Blood Curse of the God] yang berharga?
Akan tetapi, mau itu Sang Monarch ataupun bukan, mereka para Iblis masih tetap membuat masalah tidak peduli di Zaman manapun mereka hidup. Hanya karena Nama mereka Iblis, bukan berarti mereka harus membuat masalah di setiap Zaman juga 'kan? Ren sedikit tidak mengerti tentang ini.
"Ren-sama ... Mengapa kita pergi ke Kota Aulzania?"
Nama Ras Blood Devil juga memiliki arti yang buruk, namun faktanya Ren sama sekali tidak terpengaruh oleh sebuah Nama. Atau apakah Iblis itu memang didesain untuk membuat masalah di Dunia? Ini pertanyaan yang cukup menarik untuk Ren pikirkan.
"Ren-sama ..."
Lalu, ada kemungkinan lain bahwa Dewa yang berusaha dibangkitkan oleh Organisasi itu adalah Nescazura. Jika kekuatan di Dunia ini memang sudah begitu turun seperti yang dirasakan oleh Ren, maka orang seperti Nescazura sudah pasti dianggap Dewa.
Kemunculan Informasi mengenai Nescazura ini membuat kemungkinan yang ada dalam Otak Ren semakin bertambah. Hanya sedikit Informasi dapat memunculkan berbagai macam kemungkinan, andaikan semuanya dapat dengan mudah diketahui, Ren pasti tidak akan kesulitan seperti ini.
"Ren-sama!"
Ren tersentak oleh Nirlayn yang berteriak memanggil Namanya.
"Ada apa Nirlayn? Tidakkah kau melihat aku sedang berpikir?" Ren mengerutkan dahi karena merasa sedikit terganggu.
"Mohon maaf Ren-sama, tapi kita bertiga disini penasaran mengapa kita bergerak ke arah Kota Aulzania."
"Huh, ternyata hanya itu? Sepertinya kalian harus belajar untuk menebak tanpa bertanya ... Kita akan menemui dan mengajak seseorang yang ada disana."
Ren hanya merujuk pada satu orang yang akan berguna dalam pertempuran. Avrogan dan Nirlayn langsung mengetahui siapa seseorang ini. Namun untuk Arystina, dia tidak mengetahui sedikitpun siapa yang dimaksud oleh Ren dengan seseorang.
Arystina, ini adalah pertama kalinya dia keluar dan melihat Dunia secara langsung setelah sekian lama. Arystina sudah pasti tidak akan memikirkan hal seperti ini, dia memang seharusnya fokus untuk menikmati luasnya Dunia.
'Yah ... Aku harap dia tidak akan menolaknya.'
Orang yang dimaksud oleh Ren adalah Kanza, kemampuan bersembunyi miliknya dangat berguna untuk memata-matai musuh. Tidak hanya itu, Kanza juga seorang Assassin dengan Job [Shadow Executor], dia dapat dengan mudah mengalahkan Musuh secara diam-diam dan tanpa diketahui.
Ren akan merasa terbantu jika Kanza bersedia menerima permintaan ini. Namun jika Kanza menolak, Ren tidak dapat berbuat apa-apa karena pada dasarnya, Kanza tidak memiliki Hubungan apapun dengan Ren selain 'Orang yang saling mengenal' dan 'Orang yang berasal dari Bumi'
"Ya ampun ... Andai saja masalah akan usai hanya dengan menghancurkan Kerajaan Suci Sancteral." Ren berguman seolah kecewa.
Disebabkan oleh Angin yang kencang, Gumaman ini hanya sebatas Gumaman yang terbawa Angin tanpa seseorang yang dapat mendengarkannya ...
__ADS_1