
Di Kerajaan Aulzania, setiap penjahat yang telah melakukan suatu kejahatan berskala besar, akan diadili secara langsung oleh Sang Raja. Begitu pula dengan Kejadian Kota Rondelia, meski Ren belum terbukti secara sepenuhnya menjadi pelaku. Tapi, dirinya masihlah seorang tersangka.
Pengadilan Raja selalu dilakukan di Colosseum Kota Rondelia. Alasan mengapa Colosseum dipilih sebagai tempat pengadilan, karena di tempat ini mudah bagi para Ksatria Aulzania untuk bergerak jika penjahat melakukan suatu hal yang tidak diinginkan.
Sebelum melakukan Hukuman, Raja akan menanyakan beberapa hal terkait kejahatan yang dilakukan tersangka. Terkadang, seseorang akan terbebas jika dia memang mengatakan yang sebenarnya dan dinyatakan tak bersalah oleh Raja sendiri.
Tidak ada yang mengetahui dengan pasti, apa penyebab Raja membebaskan seorang penjahat dalam kasus tertentu. Setiap orang meyakini, bahwa Sang Raja mungkin memiliki suatu Hal yang bisa mendeteksi kejujuran.
*
*
*
*
*
*
Penjara.
Dalam salah satu penjara yang ada disini. Terlihat Ren yang sedang memejamkan mata dan duduk bersandar pada dinding. Meski seharusnya seseorang akan bersedih, cemas dan ketakutan apabila dirinya akan dihukum. Tapi, semua itu tidak ada dalam wajah Ren saat ini. Malahan, wajahnya menampakan ketenangan, tanpa kegelisahan sedikitpun.
Duk. Duk. Duk.
Suara langkah kaki yang berat terdengar dari kejauhan. Berselang beberapa waktu, dua Ksatria yang mengenakan Zirah putih keemasan muncul. Mereka adalah Ksatria Aulzania yang menyeret Ren ke dalam penjara ini.
Kedua Ksatria ini menyaksikan Ren yang sedang duduk bersandar pada dinding. Ekspresi wajah yang Ren perlihatkan membuat Dua Ksatria ini keheranan.
"Apakah dia sudah menerima Nasibnya?"
Salah seorang Ksatria menyatakan hal ini pada teman Ksatria nya.
"Entahlah, itu bukan urusanku. Dia telah menghina Kita ingat? apapun yang terjadi padanya aku tidak peduli."
"Benar juga, sesaat aku merasakan Rasa kasihan yang sia - sia."
"Benarkan? sudahlah, ayo kita bawa dia. Sebentar lagi pengadilan akan dilaksanakan."
Ckrekk.. Drengg.....!
Ksatria itu membuka Kunci penjara. Pintu penjara mengeluarkan bunyi berderit ketika itu dibuka. Bunyi berderit menyebabkan Ren tersadar dan membuka Matanya. Kemudian, Ren berbalik pada Dua Ksatria itu, Mata Ren menatap kedua Ksatria itu dengan tenang.
"Apakah Hari sudah berganti?"
Ren bertanya pada keduanya, suaranya yang begitu tenang membuat dua Ksatria Aulzania ini merasakan keanehan.
Salah satu Ksatria itu menyeret temannya menjauh dari Ren. Kemudian, dia berbisik pada teman Ksatria nya.
"Hei... Apakah dia orang yang berbeda...?"
"Kau benar, aura yang dia keluarkan benar - benar berbeda. Lalu, apa yang harus kita lakukan...?"
"Lupakan, kita harus segera menyeretnya. Mungkin dia hanya menggertak, untuk seorang penjahat sesuatu semacam itu pasti hal yang mudah."
"Benar juga... dia sepertinya berniat mengelabui kita."
Keduanya mengangguk secara bersamaan setelah saling berbisik satu sama lain.
Mereka kembali mendekati Ren yang sedang bersandar dengan wajah yang aneh.
"Kami tidak memiliki kewajiban untuk menjawabmu!"
"Dia benar, berdirilah! jangan menyusahkan kami.!"
Mereka berbicara dengan Nada angkuh. Tetapi, Ekspresi mereka terlihat aneh, seakan - akan semua yang mereka katakan saat ini adalah berpura - pura semata.
"Heh, apakah aku terlihat seperti orang yang tidak bisa berjalan sendiri?"
Ren tertawa mendengar kata - kata dua orang Ksatria di hadapannya. Lalu Ren beranjak bangun dari sandaran nya.
"Apa..? Kalian tersinggung oleh kata - kataku?" Senyuman licik memenuhi Ekspresi Ren.
Ksatria Aulzania yang memiliki Harga diri tinggi dengan mudah terpancing oleh kata - kata Ren. Salah satu dari Ksatria itu mencoba menghunuskan pedang yang ada di pinggang nya.
"Kau....!"
Shing!!
Ksatria itu mencoba menebas kepala Ren. Namun, tebasan itu terhenti tepat beberapa inci sebelum mengenai leher Ren. Pedang Ksatria itu tertahan oleh lengan Ksatria yang lain.
"Tenanglah... Aku juga mengerti perasaanmu yang ingin menghabisinya. Tapi kita tidak boleh membunuh seseorang yang akan diadili oleh Raja."
"Tch... Kau beruntung kali ini, setelah Raja memutuskan kau bersalah. Aku sendiri yang akan memohon pada Raja untuk menghukummu dengan kedua tanganku sendiri!"
"Ingat hal ini... Sialan."
Ksatria yang mencoba menebas Ren beranjak menjauh lebih dulu. Lalu dia menyarungkan kembali pedang yang telah dia hunuskan.
Ren yang menyaksikan hal ini terlihat tersenyum mengejek.
"Yah... Cepat borgol aku kembali.." Ren berkata pada Ksatria yang berada di dekatnya.
"Cih... Jangan sombong dulu, aku menghentikannya bukan karena membelamu."
"Ya, Ya, Aku mengetahui hal itu. Cepatlah borgol aku dan bawa aku ke pengadilan itu."
Clek, Clek.
Kedua lengan Ren diborgol, begitu juga dengan kedua kaki nya. Dua orang Ksatria itu lalu menyeret Ren keluar dari penjara, menuju tempat dimana pengadilan akan dilaksanakan.
*
*
*
*
*
*
Colosseum Kota Rondelia.
Colosseum ini sangat luas, dengan kursi penonton yang berjumlah lebih dari seribu.
Di sudut Colosseum ini, ada sebuah tempat yang lebih tinggi diantara yang lain. Ini adalah tempat bagi Sang Raja dan keluarga Kerajaan lain menyaksikan pertunjukan. Tempat ini disebut dengan [The King's Area] oleh penduduk Kerajaan Aulzania.
Saat ini, Sang Raja sedang duduk dengan megahnya disinggasana yang ada pada [The King's Area]. Di sebelah kanan, terlihat Sang Ratu duduk dengan anggun, sementara sebelah kiri, Pangeran pertama tengah duduk dengan tenang.
Sosok Derrian terlihat berdiri dengan gagahnya di belakang Singgasana Sang Raja.
Derrian merupakan Ketua Ksatria Aulzania, sekaligus pengawal Sang Raja. Hal yang wajar bagi Derrian berada di ruangan khusus ini untuk mengawal Sang Raja.
Suasana Colosseum saat ini sedang sibuk, para bangsawan dari seluruh Kerajaan yang memiliki waktu luang masih saling berdatangan. Sudah menjadi suatu kebiasaan bagi para bangsawan dan orang - orang penting lainnya menyaksikan Pengadilan Sang Raja. Apalagi Duke Tayslen akan ikut diadili, membuat para bangsawan lain semakin tertarik melihat hal ini.
Tok. Tok. Tok.
"Permisi...."
Bunyi ketukan yang diikuti oleh suara perempuan terdengar dari balik pintu Ruangan ini.
"Yang Mulia, sepertinya Sarlyn telah tiba. Hamba mohon ijin untuk membuka pintu.."
Derrian yang pertama kali menyadari ketukan meminta izin pada Sang Raja.
"Aku memberimu Izin." Raja mengangguk dan menyuruh Derrian membuka pintu.
__ADS_1
Derrian membungkuk, lalu beranjak untuk membuka pintu agar Sarlyn bisa memasuki Ruangan.
"Selamat Datang, Nona Sarlyn. Yang Mulia telah menunggu.." Derrian menyambut Sarlyn yang menunggu di balik pintu.
"Terima kasih Derrian...."
"Apakah aku tidak mendapatkan sambutan?"
Seorang pria dengan suara yang berat tiba - tiba muncul dari belakang Sarlyn. Pria yang sudah berumur cukup tua ini tersenyum dengan cara menjijikan.
"Oh.... Ternyata Fraudlin, maafkan aku karena tidak menyadarimu." Derrian tersenyum dengan terpaksa.
"Lagi - Lagi kau menyebut Namaku secara langsung. Apakah kau tidak tahu sopan santun pada orang yang lebih tua?" Fraudlin berbicara kesal.
"Mana mungkin Derrian sopan padamu yang bersifat kekanak - kanakan, Pak Tua Fraudlin." Sarlyn ikut berkomentar untuk memojokan Fraudlin.
"Guhh... Kalian memang senang bekerja sama untuk memojokan ku kan?" Fraudlin terlihat protes pada Derrian dan Sarlyn.
"Sudahlah, Yang Mulia telah menunggu kalian."
Derrian beranjak pergi meninggalkan Sarlyn dan Fraudlin. Kedua nya mau tak mau mengangguk dan mengikuti Derrian untuk menghadap Sang Raja.
"Sarlyn Erlyden, menghadap pada Yang Mulia."
"Fraudlin Hurgart, Salam Hormat. Yang Mulia."
Sarlyn dan Fraudlin berlutut dibelakang Sang Raja. Ini merupakan Salam penghormatan yang ditujukan untuk orang yang berkedudukan tinggi di Kerajaan Aulzania.
"Sarlyn ya, Bagaimana dengan wanita itu? apakah kau berhasil membujuknya?"
Raja Esdagius berbicara, tetapi pandangan matanya masih tetap melihat ke Arena.
"Ya, Maafkan hamba Yang Mulia. Sayang nya, dia masih tetap enggan untuk menjadi bagian dari Kerajaan ini."
Sarlyn menunduk, seakan terlihat menyesal atas kegagalan nya dalam membujuk Nirlayn. Sementara Fraudlin, hanya bisa memasang Ekspresi bingung dalam diam.
Beberapa hari terakhir ini dia tidak sempat keluar untuk mendapatkan informasi.
"Begitu... Mungkin jika Lelaki yang menjadi Tuan nya telah dipastikan menjadi penjahat, dia berubah pikiran. Tidak apa Sarlyn, aku tidak akan menghukumu karena hal seperti ini."
"Terima kasih atas perhatian Anda, Yang Mulia."
"Um. Lalu Fraudlin, selama beberapa waktu terakhir. Aku tidak melihatmu dimanapun, kemana kau pergi?"
Raja kini bertanya pada sosok Fraudlin yang berlutut.
"Maafkan saya Yang Mulia, selama beberapa hari ini. Saya meneliti berbagai macam potion untuk dikembangkan..."
"Aku memang menyukai sifatmu yang ingin terus berkembang. Namun, jangan sampai semua itu membuatmu melupakan tugasmu sendiri."
"Ya, Saya akan mengingat hal ini..."
"Bagus, kalian berdua berdirilah. Pengadilan akan segera dimulai."
Perkataan Raja Esdagius membuat Sarlyn dan Fraudlin beranjak bangun dari posisi berlutut. Masing - Masing dari mereka kini berdiri, Sarlyn di belakang Sang Ratu. Sementara Fraudlin di belakang Sang Pangeran.
Deng!! Deng!! Deng!!
Suara sebuah Logam yang dipukul dengan Keras bergema di seluruh Colosseum.
Orang - Orang yang pada awalnya berbicara kini menghentikan pembicaraan mereka.
"Para Hadirin yang terhormat! Mohon untuk tidak mengeluarkan suara yang berisik. Pengadilan Raja akan segera dimulai.!"
Seorang Pria di umur 30 tahun berdiri di tengah arena. Sihir angin telah dia gunakan untuk mengeraskan suara nya hingga bergema di seluruh Arena. Para penonton pun kini diam, tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara.
"Terima Kasih atas pengertiannya.! Kalian tentu mengetahui bahwa Kota Rondelia hampir dihancurkan dan direbut oleh kelompok yang tidak diketahui.! Saat ini, seorang lelaki yang menjadi tersangka sebagai bagian dari kelompok itu akan di beri pengadilan oleh Yang Mulia Raja!"
"Perhatikanlah! dialah seorang yang berusaha mengambil alih Kota Rondelia!"
Pria ini menunjuk pada sebuah Gerbang besar di sudut Arena.
Sebuah Gerbang besar di sudut Arena mulai terbuka. Dari sana, tiga orang siluet muncul dengan perlahan. Dua orang Ksatria yang memakai Zirah putih keemasan, dan satu orang lelaki berpenampilan buruk yang di kekang lengan dan kakinya.
Mendadak, para penonton yang menyaksikan hal ini berbisik satu sama lain.
Begitu juga dengan Fraudlin yang menyaksikan ini dari atas. Fraudlin tidak bisa menahan Rasa penasaran tentang siapa sebenarnya penjahat ini.
"Uhm.. Sst.. Sarlyn, apa kau tahu. Nama dari penjahat ini?" Fraudlin berbisik dari kejauhan pada Sarlyn.
"Ha..? Pak tua, apa yang membuatmu tertarik pada pria menjijikan itu..." Sarlyn keheranan.
"Terserahlah... Aku tidak peduli, jika tidak salah.. Namanya.. R-Ren?"
"Apa...?!" Fraudlin berteriak dalam hatinya.
Fraudlin terkejut bukan main, Nama seseorang yang dia kenal kini muncul sebagai penjahat. Siapa yang tidak akan terkejut jika mendengar hal ini?
Fraudlin dengan segera memperhatikan sosok penjahat itu, menyadari bahwa orang ini memiliki penampilan yang berbeda dengan masternya. Fraudlin bernafas dengan lega...
"Fyuh.. Aku kira dia master Ren." Fraudlin bergumam dalam hati.
Pria yang menjadi Juru bicara kembali mengeluarkan suara..
"Tolong Tenang! Dia adalah penjahat itu! seseorang yang telah mengacaukan Kota Rondelia dan mengutuk Putri Duke Tasylen!."
"Untuk Duke Tayslen sendiri, dimohon untuk Turun ke Arena supaya bisa memberikan penjelasan!"
Masih dari Gerbang yang sama, sosok Duke Tayslen bersama dua orang Ksatria keluar dari sana. Berbeda dengan pria yang dikekang tadi, Duke Tayslen berjalan dengan bebas, Ksatria di kedua sisi nya pun terlihat seperti mengawalnya.
Kemudian, Duke Tayslen dan Ren berdiri berdampingan. Kedua orang ini menghadap ke arah dimana Sang Raja berada.
"Lakukan penghormatan bagi Yang Mulia Raja!"
Pria yang menjadi juru bicara memberi instruksi kepada semua orang yang ada di Arena agar melakukan penghormatan kepada Sang Raja. Dengan serempak, semua yang ada di Arena berlutut pada Sang Raja.
Terkecuali untuk satu orang....
Dia adalah Ren yang dikekang lengan dan kaki nya. Dia tetap berdiri, meski semua orang berlutut pada Sang Raja. Wajah Ren menampakan senyum yang tak kenal ketakutan sedikitpun.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Tetapi, lengan dan kaki saya telah dikekang. Bagaimana mungkin saya dapat berlutut dalam keadaan seperti ini.?"
Ren berkata dengan senyuman di wajahnya. Meski alasannya memang masuk akal, tetapi wajahnya tidak menunjukan sedikitpun penyesalan.
Sontak, seluruh orang yang ada di Colosseum itu menjadi murka. Mereka terlihat tidak terima, seorang penjahat berani mempermainkan Raja mereka sendiri.
Kedua Ksatria yang menggiring Ren ke Arena tidak dapat menahan kemarahan nya lagi. Mereka berdua dengan cepat menghunuskan senjata masing - masing, mereka berlari menuju Ren, berniat untuk membunuhnya.
"Dasar ******** tak tahu malu!"
"Mati kau!"
Ksatria yang menggunakan pedang menyerang leher Ren dengan arah Horizontal. Sedangkan untuk Ksatria satu lagi, dia menggunakan Tombak untuk menusuk punggung Ren yang terbuka lebar.
Shing!
Shyutt!
Semua orang yang berada di Colosseum telah berpikir tentang kematian Ren setelah melihat Kedua Ksatria ini menyerang nya.
Namun, pikiran mereka hanyalah ilusi, semua gambaran dalam otak mereka tak lebih dari sebuah harapan belaka.
Sosok Ren masih berdiri dengan tegap di tempat yang sama. Rantai yang mengekang kedua lengan nya telah jatuh terlepas.
Tangan Kanan nya kini telah menahan tusukan tombak yang ditujukan padanya dari belakang. Sementara Tangan kiri nya, menahan sebuah pedang yang datang dari arah samping. Semua itu Ren lakukan dengan tubuh yang tidak bergerak sedikitpun. Ren bahkan tidak berbalik sama sekali untuk menahan kedua serangan ini.
"Mustahil...?!??!"
"Tidak Mungkin, Tidak Mungkin!!!"
__ADS_1
Ksatria Tombak dan Ksatria Pedang menjerit histeris merasa tidak percaya.
Keduanya mencoba menarik kembali senjata mereka namun tidak bergerak sedikitpun.
Menyadari perbedaan kekuatan yang amat besar. Wajah kedua Ksatria ini menjadi pucat dan penuh keringat. Mereka yang disebut sebagai pasukan terkuat kerajaan, kini dipermainkan layaknya anak kecil dihadapan Ren. Keputusasaan melanda hati kedua Ksatria itu.
-
-
-
-
Bruukkkk!
"Apa yang terjadi!?"
Raja Esdagius memukul singgasana nya dengan marah. Bahkan, dirinya tidak menyangka suatu hal seperti ini akan terjadi.
"Seseorang katakan padaku apa yang terjadi!?" Raja berteriak marah.
"Rajaku! Tenanglah, dia mungkin menggunakan semacam tipu muslihat!"
"Benar ayah! tidak mungkin baginya menahan serangan Ksatria Aulzania kita hanya dengan jari jika tidak menggunakan semacam tipuan!"
"Tch! Derrian! Perintahkan seluruh Ksatria Aulzania untuk meringkusnya!"
"Baik!"
"Sarlyn! apa kau melihat sihir tipuan macam apa yang dia buat?! katakan padaku!"
"Sa-Sama sekali tidak Yang Mulia!. Saya tidak merasakan aliran mana sedikitpun! Bahkan, mana yang dia miliki lebih kecil dari orang biasa!" Sarlyn menjelaskan dengan putus asa.
"Tch...! Fraudlin?!"
"Ti-Tidak mungkin, sosok ini...?" Fraudlin terbelalak menatap sosok pria itu.
Fraudlin tidak menghiraukan Sang Raja sedikitpun. Mata nya terfokus pada pria yang ada di Arena.
Raja hanya bisa berdecak kesal, sosok penjahat itu ternyata hanya berpura - pura lemah.
-
-
-
-
-
Derrian berlari dari Ruangan Raja menuju Arena. Dengan sekejap, Derrian telah sampai di tempat para Penonton berada.
"Semua! dengarkan aku! serang dia secara bersamaan! ini merupakan perintah langsung dari Yang Mulia.!"
"Ya!!"
Para Ksatria Aulzania yang menjaga para bangsawan di kursi penonton turun satu per satu. Mereka dengan cepat membentuk Formasi untuk mengelilingi Ren agar tidak melarikan diri. Derrian yang merupakan seorang ketua berdiri langsung di hadapan Ren.
Sementara Kedua Ksatria yang menyerang Ren masih berusaha untuk melepaskan senjata mereka.
"Ya ampun, kalian ini begitu kejam padaku. Apa salahku sehingga kalian semua berusaha untuk menghabisiku?"
Ren masih tersenyum, meski dirinya telah di kepung dari berbagai arah.
"Ren, aku tidak menyangka bahwa kau memang penjahat yang sebenarnya." Derrian menatap Ren dengan tajam.
"Pe.. Penjahat..? Pfftt.... Hahahahaha!"
Ren tertawa dengan keras, membuat semua orang yang berada di Colosseum merasa heran sekaligus kebingungan.
"Mengapa kau tertawa, Ren.?"
"Hahahaha... Maaf - Maaf, aku sama sekali tidak berniat menertawakan kalian. Hanya saja, itu benar - benar lucu tahu?"
"Apa... Maksudmu Ren..?"
"Hei Derrian, kau pikir kenapa aku berpura - pura menjadi seorang yang lemah?"
"Kau..... ingin membunuh Yang Mulia....kan?" Derrian berbicara Ragu - Ragu.
"Tidak... Kau salah besar, bagiku untuk membunuh Sang Raja tidak perlu untuk berpura - pura terlebih dahulu."
"Brengsek! lalu mengapa kau menyiksa putriku?!" Duke Tayslen tiba - tiba berteriak dengan marah.
"Biar aku berceri-?!" Kata - Kata Ren terpotong oleh dua buah tebasan yang mengarah padanya.
"Benar juga, mengapa aku Ragu - Ragu. Padahal seorang penjahat memang pintar berbual.. Semua Serang!"
Seluruh Ksatria Aulzania yang sudah bersiap kini mulai mendekati Ren untuk menyerang nya secara bersamaan.
"Ya.. Ampun, bahkan kalian tidak ingin mendengar Ceritaku... Mau bagaimana lagi, aku akan mencoba hal baru kali ini..."
Ren berbicara sendiri, dia bahkan tidak memperhatikan satu orang pun yang meluncur ke arah dirinya.
"Ksatria sesungguhnya tidak banyak bicara!" Derrian berteriak...
"Tapi... Aku bukan Ksatria, [Blood Ruler : Multi Blood Prison Cube]"
Tak!
Ren menjentikan jarinya....
Dalam sekejap mata, Derrian bersama seluruh Ksatria Aulzania yang berusaha menyerang Ren terkurung dalam sebuah kubus merah transparan.
Pemandangan sebuah kubus yang ada dimana - mana memenuhi Arena. Seketika, Derrian dan Ksatria Aulzania lainnya yang telah melihat siksaan Putri Duke memasang Ekspresi Pucat.
"Ko-Kotak Kutukan....?!" Derrian bahkan tidak bisa menahan ketakutannya.
-
-
-
-
-
-
"Ya-Yang.. Mulia, cepat lari... ini Mustahil, Mustahil....."
Sarlyn terjatuh, Ekspresi nya begitu ketakutan. Seorang pria yang telah dia sebut menjijikan telah menggunakan sebuah sihir kutukan yang amat menakutkan dalam jumlah yang luar biasa.
"Apa yang terjadi, Sarlyn?!" Ratu bertanya pada Sarlyn yang terjatuh.
"Yang Mulia... Hanya satu kotak merah itu saja... adalah... Lo-Lost M-Magic.."
"Apa?! Bagaimana bisa...?!" Raja begitu terkejut.
"Ahha.. Aku melupakan kalian."
Suara Ren secara tiba - tiba terdengar di ruangan itu. Semua orang kini menjadi pucat, tubuh mereka gemetar ketakutan. Begitu pula dengan Sang Raja, pikirannya kini telah dipenuhi oleh sebuah penyesalan yang tak berujung.
"Bagaimana jika kalian mendengarkan Ceritaku..?"
Sosok Ren muncul dihadapan semua orang dengan tiba - tiba....
__ADS_1