Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 140 : Ketika Monarch Kelelahan


__ADS_3

Setelah mengeluarkan semua penumpang dengan aman, prototype dari Anti-Detection Aircraft mencapai batasnya. Kemegahan yang terbalut dalam kengerian berwarna merah darah itu memudar, menghilang menjadi butiran mana yang menyebar ke udara.


Para roh yang masih kebingungan berkumpul dalam satu area yang sama. Jelas terlihat dalam ekspresi, mereka mengalami fenomena alami yang disebut dengan mabuk kendaraan. Nah, itu tidak dapat dipungkiri saat memikirkan perjalanan ini adalah yang pertama kali untuk mereka.


"Semuanya, dengarkan aku!" seru Ren mencoba menarik perhatian semua roh.


Roh yang sedang waspada terhadap keberadaan Avrogan, dan Indacrus mengalihkan perhatian mereka dengan enggan kepada Ren. Roh yang sibuk merasa bingung dengan fenomena mabuk kendaraan terpaksa mengubah perhatian kepada Ren.


Saat semua orang telah terpaku padanya, kecuali beberapa anak-anak yang dengan santai bermain-main, Ren meninggikan suara untuk memberi tahu kepada mereka semua.


"Karena penumbuhan Shade of Spirits akan memakan waktu cukup lama, maka untuk sementara kalian akan tinggal di istanaku. Selama kalian tinggal di dalam istana, tolong jaga sikap dan jangan membuat masalah, mengerti?"


Semuanya mengangguk dengan patuh, walaupun mereka memiliki beberapa keberatan dalam hati, tapi di tempat yang tidak diketahui ini tidak ada pilihan selain menurut dan bertindak sesuai aturan demi keselamatan.


"Mhm, kalau kalian sudah mengerti maka ...." Menggunakan perantara hubungan kontrak, Ren memanggil dua orang yang dia butuhkan. "Raytsa, Nirlayn, kemarilah."


Tanpa menunggu waktu lama, sesosok siluet bergaun hitam datang. Itu adalah Nirlayn yang pertama kali tiba sambil membawa busur, dan anak panah dipunggungnya. Selang beberapa saat, Raytsa juga datang dengan cara terbang menggunakan sayapnya.


"Nirlayn disini siap menerima perintah, Ren-sama."


"Saya datang menghadap, Yang Mulia."


Mereka berdua membungkuk hormat dengan cara yang anggun, dan berkarisma. Bahkan pesona keduanya sanggup menarik perhatian para roh yang merupakan wanita sampai bola mata mereka terlihat berbinar.


Namun di sisi yang berbeda, Ren berpikir sikap mereka berdua memang mempesona, tapi dia tidak menemukan alasan yang masuk akal mengapa para roh bisa merasa sekagum itu. Padahal menurutnya, tidak ada perbedaan signifikan dalam hal penampilan.


Ini menjadi suatu misteri tersendiri bagi Ren tentang bagaimana para wanita suka memuji satu sama lain tanpa merasa canggung sedikitpun.


Sekarang bandingkan dan bayangkan bagaimana jika dua orang laki-laki saling memuji dengan mengatakan satu sama lain tampan, bukankah itu sangat mengerikan dalam artian yang berbeda?


Mengesampingkan soal pujian, Ren memberi apresiasi kepada mereka yang segera memenuhi panggilannya. "Aku senang kalian cepat tanggap. Pertama, aku harap kalian bisa memperkenalkan diri dengan baik kepada keluarga baru kita."


Keluarga baru? Nirlayn dan Raytsa langsung terpaku pada para perempuan yang berkumpul di hadapan mereka. Dilihat dari manapun, mereka benar-benar sekumpulan perempuan yang memiliki paras cantik.


"Ah, uhm ..." Nirlayn merasa canggung. "Namaku adalah Nirlayn Mlaina, jangan merasa sungkan untuk berbicara denganku ya."

__ADS_1


Ren tertegun, menatap dengan heran pada Nirlayn yang berkenalan. Bagaimanapun perkenalan itu tidak seperti cara berbicara Nirlayn yang biasa, lebih seperti seorang gadis umum yang selalu canggung.


Mengakhiri perkenalan Nirlayn, Raysta sedikit mengedepankan dirinya. Mungkin agar semua roh bisa melihat sosoknya dengan jelas, atau mungkin karena alasan yang lain.


"Halo, sepertinya kalian sedikit kebingungan di tempat baru ini? Jika ada suatu masalah, katakan saja padaku ya. Oh, ngomong-ngomong namaku adalah Raytsa."


Ren mengerutkan dahi, kini giliran Raytsa yang tampak seperti perempuan ceria yang menampakan keramahan. Hal itu seketika membuatnya berpikir bahwa hari ini beberapa hal terjadi dengan begitu aneh.


Masih dengan perasaan heran, Ren mengambil alih pembicaraan untuk meneruskan perkataan yang ingin disampaikannya. "Mhm, begitulah. Mereka berdua akan bertanggung jawab atas kalian, dan jika membutuhkan sesuatu katakanlah pada mereka, paham?"


Sekali lagi mereka mengangguk, tetapi kali ini ada beberapa orang yang memberikan suara. Dan karena kata paham juga dirujukan kepada Nirlayn, dan Raytsa, maka Ren menatap keduanya dengan maksud tersirat yang mudah dimengerti.


"Kami mengerti," balas keduanya serentak.


"Haaah ..." Ren menghela napas letih. "Bagus, aku serahkan mereka pada kalian. Ingat, tuntunlah mereka ke kamarnya masing-masing," ucap Ren seraya beranjak pergi sambil menepuk bahu keduanya.


Selain daripada tempat tidur dan makanan, maka Ren tidak perlu mengkhawatirkan kondisi para roh. Ketersediaan mana di Bloody Palace ini juga sangat melimpah, bahkan melebihi Shade of Spirits jika harus dikatakan.


"Ah, aku bahkan lupa menanyakan kondisi Arystina," gumam Ren. Dia berbalik untuk mendapati sosok Arystina yang masih bersama Aurlin yang tetap mendukungnya berdiri.


Pada saat mata mereka saling bertemu, Ren melambaikan tangan sebagai bentuk perpisahan. Mungkin cara ini sedikit kasar tetapi mempertimbangkan segala keletihan yang dia rasakan, sudah seharusnya dia beristirahat dengan segera.


"Nah, mari tidur."


......................


...______________...


Berdiri megah di atas pegunungan adalah sebuah kastil yang dikelilingi oleh benteng beton berbentuk segi-empat. Memiliki warna perak pucat, kastil terhubung pada sebuah jalanan batu yang dibuat cukup halus, dan memanjang hingga beberapa kota di Kerajaan Efidoxia.


Ini adalah kastil milik seorang Duke Kerajaan Efidoxia yang membela kubu penentang dan melakukan kudeta. Letaknya yang cukup strategis membuat kastil ini dijadikan sebagai markas utama kubu penentang.


Kekuatan utama kubu penentang terpusat disini, termasuk seorang player dari dunia lain yang bernama Ernens. Dia dijuluki sebagai benteng berjalan karena Job spesial yang dimilikinya <>.


Selain daripada itu, Ernens juga dikenal sebagai orang yang memiliki kepribadian buruk, suka mengganggu orang lemah, atau bahkan melakukan perbuatan tercela. Tidak ada hal bagus mengenai Ernens selain Job spesialnya yang tangguh.

__ADS_1


Mengawasi dari hutan timur adalah Kanza dan Leusgira, serta beberapa orang lain yang terlihat seperti bagian dari kubu pembela. Beberapa orang itu terpilih karena kemampuan mereka yang bisa disebut sebagai yang terbaik, dengan mengecualikan Ritter Zorano yang bertugas mengawasi sang putri.


Seperti yang diduga, meski mereka adalah yang terbaik di antara yang terbaik tetapi itu hanya pada tingkat Ksatria Aulzania rendah. Ernens yang merupakan salah satu top player bahkan tidak akan terganggu oleh keberadaan mereka.


Bagaimanapun, Kanza sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin kepada sang putri bahwa kekuatan Ernens berada di luar kemampuan mereka. Akan tetapi, sang putri tetap egois mengatakan bahwa mereka akan kehilangan muka apabila menyerahkan semuanya kepada orang lain.


Setelah itu Kanza tidak bisa berkata apa-apa. Perkataan sang putri memang masuk akal, dan tidak mungkin menyerahkan semua urusan internal kepada orang asing.


"Aku akan memeriksa keadaan lebih dekat, kalian tunggulah disini."


Bertindak sebagai pemimpin pasukan, Kanza berinisiatif untuk melihat lebih dekat keadaan pasukan musuh. Kemampuannya sebagai seorang Assassin memang cocok untuk digunakan sebagai pengumpul informasi, tetapi karena tidak ada yang mengisi posisi pemimpin, maka dirinya dengan terpaksa mengisi posisi itu.


Berbicara soal itu, Leusgira adalah sosok yang sangat misterius dan pendiam. Leusgira tidak pernah berbicara banyak selain mengatakan ya, tidak, setuju, atau tidak setuju, sesuatu semacam itu.


"Tunggu, kami akan ikut."


Seseorang yang dikirim oleh sang putri menawarkan diri, tetapi seperti yang terlihat mereka hanya akan menghambat pergerakan. Kanza bahkan lebih memilih Leusgira jika harus memiliki seseorang untuk menemani.


"Tidak usah, aku sendiri sudah cukup. Bersiagalah, dan tunggu aba-aba dariku."


Tanpa melihat ekspresi orang-orang itu yang tampak kesal karena diremehkan, Kanza pergi menyelam ke dalam bayangan. Dia bergerak cepat di antara bayang-bayang pepohonan, dan tiba di dekat benteng kastil dalam kurun waktu satu menit.


Kanza menyamarkan hawa keberadaan dan mana yang merembes dari dirinya hingga titik minimum. Disaat yang sama, dia menggunakan persepsi mana walaupun penggunaan ini membocorkan kembali mana yang telah dia sembunyikan sedikit demi sedikit.


"Lebih dari tiga ratus orang?"


Kanza tidak bisa menghitung dengan pasti, dia hanya bisa memperkirakan seakurat mungkin jumlah pasukan musuh yang sedang bersiap-siap. Selain tiga ratus lebih pasukan musuh, Kanza merasakan keberadaan lain di dalam kastil.


Mereka adalah Ernens, serta beberapa orang yang kemungkinan adalah keluarga sang duke dan beberapa pelayan. Bahkan disaat seperti ini, Ernens sama sekali tidak menyembunyikan hawa kehadirannya, memang layak disebut sebagai orang yang congkak.


"Angkuh, dan ceroboh. Bagaimanapun, sepertinya orang-orang berkata apa adanya mengenaimu, Ernens."


Kanza tersenyum sesaat, lantas dirinya masuk ke dalam bayangan sekali lagi untuk menginformasikan hal ini kepada Leusgira dan yang lain. Dalam kurun waktu yang sama, Kanza sudah tiba hutan timur dimana Leusgira mengawasi, tetapi saat itu ia mendapatkan pemandangan yang mengejutkan.


Leusgira sedang mencengkeram leher satu orang, sedangkan beberapa yang lain sudah tergeletak di sekitaran dalam kondisi tak sadarkan diri. Sadar akan kedatangan Kanza, Leusgira menjelaskan dengan wajah tanpa emosi.

__ADS_1


"Mereka adalah pengkhianat."


Kanza sedikit waspada dan bingung, disaat seperti ini apakah Leusgira memang mengatakan kebenaran? Atau ... Leusgira sendiri yang membelot?


__ADS_2