Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 144 : Tiga Sekawan Yang Cukup Tangguh


__ADS_3

Ren menghela napas panjang begitu mendengar permintaan Rusava yang tidak mengehui apa-apa. Bagaimanapun, tiga orang yang mereka hadapi ini dapat menyembunyikan kekuatannya dengan sangat baik.


Mereka tidak menyembunyikan kekuatan hingga titik minimum seperti Ren, kemampuan menyembunyikan mereka juga tidak sesempurna milik Ren, hanya saja mereka cukup cerdik untuk menipu seseorang seperti Rusava.


Mereka dengan sengaja menyembunyikan setengah dari kekuatan untuk mengecoh lawan, dan sesekali kembali menyembunyikan kekuatan agar terlihat lebih lemah lagi sehingga orang-orang akan berpikir bahwa keadaan mereka saat ini berada dalam puncaknya.


Jika itu seseorang seperti Rusava, sudah pasti mereka akan mengira bahwa tiga orang ini hanyalah orang awam yang belum bisa menyembunyikan kekuatan, padahal yang sesungguhnya tidak demikian.


"Aku mengerti keinginanmu, tapi sayang sekali kau tidak bisa melakukannya," tolak Ren tanpa berpikir lama-lama.


Mereka memang tidak sebanding dengan Rusava dalam pertarungan satu lawan satu, atau dua lawan satu, tetapi saat mereka bertiga bekerja sama maka hampir tidak mungkin bagi Rusava untuk menang.


Hal itu telah dipertimbangkan berdasarkan kemampuan, gerak-gerik, dan posisi mereka yang menurut Ren terkoordinasi dengan baik. Bisa dikatakan mereka cukup ahli dalam strategi dan kerja sama tim.


"Apa, mengapa, Yang Mulia?' Rusava meminta penjelasan, dan tanpa sadar melemahkan cengkeraman tangannya.


Hairan menggunakan kesempatan itu untuk mundur ke posisi awal di mana dia dan Kogia serta Murga kembali membangun formasi yang kokoh. Ketiga orang itu terlihat sangat waspada, dan berbisik satu sama lainnya.


"Biar kupikirkan, sudah jelas karena kau tidak akan mampu melawan mereka bertiga sekaligus."


Penampilan ketiga orang itu ... sangat mirip dengan mereka yang berasal dari Bumi, dengan kata lain mereka bertiga kemungkinan besar adalah para pemain yang telah ditransfer seperti dirinya.


"M-Mereka? Saya tidak mampu?" ucap Rusava putus asa.


Rusava belum mengetahui kebenarannya. Sangat wajar jika Rusava merasa putus asa saat dikatakan tidak mampu melawan beberapa orang yang dalam sudut pandangnya sangat lemah. Itu terlihat seperti Ren sudah tidak mempercayainya lagi.


"Mereka sebenarnya cukup cerdik, lelaki yang menyerang barusan mungkin terlihat seperti orang bodoh yang asal menyerang, tapi kenyataannya tidak seperti itu, semua sudah terencana dan mengalir seolah-olah ini adalah kebiasaan mereka bertiga dalam melawan musuh."


Ren membeberkan semuanya tanpa menurunkan suara yang membuat tiga bersaudara itu semakin waspada. Bahkan mereka sekalipun tidak pernah menduga bahwa taktik dan strateginya akan mudah diketahui seperti ini.


"Siapa orang ini? Kemampuannya dalam mengamati sangat mengerikan!" pikir ketiga orang itu.


Rusava memperhatikan, kali ini setelah diperingatkan oleh Ren dirinya menyadari ketiga orang itu memang tampak menyembunyikan sesuatu.


"Ugh, maafkan saya yang hampir dengan ceroboh menganggap mereka enteng, Yang Mulia."


"Tidak masalah. Jika ditambahkan Avrogan dan Indacrus, mungkin kalian bisa menang dengan mudah."


Mereka adalah pemain, itu sangat mungkin. Karena mereka adalah pemain maka harus dihadapi dengan sangat hati-hati. Siapa yang tahu jika mereka memiliki kartu andalan di tangan mereka? Ada kemungkinan yang sangat tidak pasti.

__ADS_1


Ren melangkah ke depan, mendekati tiga orang bersaudara yang telah bersiaga dengan mata yang terpaku untuk menangkap segala macam gerak-gerik mereka. Seraya berjalan mendekat, Ren berusaha mencari informasi itu sendiri.


"Dari mana asalnya kalian?" tanya Ren tenang.


Namun mereka tidak membalas, melainkan menggemertakan gigi seolah tidak akan menyerah, dan lebih memilih mati daripada harus membocorkan asal-usulnya.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Ren kembali dengan tenang.


Alih-alih memberi respon, mereka bertiga seketika menyerang dengan cara menghimpit Ren dari segala sisi. Kogia si pengguna pedang menyerang dari bawah ke atas menggunakan tebasan diagonal yang diperkuat.


Murga si pengguna busur sudah melambung di udara seraya menarik anak panahnya, mengarahkan serangan tepat ke kepala. Sementara Hairan berada di sisi bersebarangan dengan Kogia yang menyerang dengan pukulan tunggal berlapis api.


Tebasan yang meluncur ditangkis oleh Ren menggunakan pedang yang muncul entah dari mana, selanjutnya dia melemparkan pedang itu dalam tempo yang cepat untuk memblokir anak panah yang telah dilancarkan Murga.


Setelah mengamati dua serangan sudah tidak menimbulkan bahaya lagi, Ren menghimpun kekuatan secepat kilat lalu beradu pukulan dengan Hairan yang menyerangnya dari sisi kiri. Proses itu berlangsung sangat cepat, sehingga orang biasa tidak akan mengetahui apa yang terjadi.


Kogia yang terpental mundur segera menerjang kembali, dalam momentum itu dia sempat memberikan kontak mata kepada Murga untuk memberi sebuah isyarat. Murga mengangguk, dia menyiapkan lima anak panah sekaligus lalu melancarkan tembakan kuat yang disertai oleh petir di setiap anah panahnya.


Lima anak panah yang dilancarkan Murga bergerak mengikuti Kogia yang sedang menyerang. Bagaimanapun, anak panah itu sedang dikendalikan oleh Murga agar sesuai dengan kehendaknya.


Kombinasi antara Kogia, dan anak panah milik Murga cukup merepotkan, mereka saling melengkapi untuk melindungi dan menyerang. Belum lagi, Hairan yang dari awal terdiam sudah pasti merencanakan sesuatu.


Ren menghilang dalam sekejap, baik itu Kogia maupun Murga yang mengendalikan anak panah sudak kehilangan sosoknya di mata mereka. Saat mereka tersadar, Ren sudah berada di belakang Murga dan menargetkan dirinya.


"Halo?" sapa Ren sambil melayangkan pukulan ke perut Murga.


Strategi paling sederhana dari pertempuran adalah menargetkan terlebih dahulu penyerang yang berada di garis belakang musuh. Akan tetapi, bagaimana jika garis belakang itu memiliki kemampuan seperti mereka yang berada di garis terdepan? Tentu itu akan mengejutkan dengan caranya tersendiri.


Murga dengan lihai menghindari pukulan yang diarahkan kepadanya, bahkan dia beberapa kali melayangkan serangan balasan yang tentu dengan mudah digagalkan.


"Eh? Kukira kau ... ternyata tidak, aku sudah mengerti."


Semua ini adalah taktik yang mereka gunakan. Mereka dengan sengaja membuat Ren sibuk agar Hairan dapat menyiapkan sesuatu, lalu mereka dengan sengaja membuat celah agar Ren menyerang Murga padahal itu adalah jebakan.


"Hehehe, menarik sekali. Mungkin sudah lama semenjak aku melakukan PvP dengan pemain yang cukup hebat."


Hairan tersenyum puas dari kejauhan, "Aku akan mengubur kesombongan itu! Walaupun kau lebih kuat dari kami, tapi apakah bisa menerima semua ini?!"


Lingkaran sihir memenuhi keadaan di sekitar Ren seperti sebuah penjara yang bercahaya. Satu detik kemudian, mereka diaktifkan lalu membuat ledakan yang sangat dahsyat dalam bentuk segi-empat.

__ADS_1


Ledakan tidak merambat ke seluruh hutan karena Hairan, Murga, dan Kogia telah bekerja sama untuk membuat penghalang yang membatasi dampak dari ledakan yang dihasilkan.


"Murga, lakukan!" perintah Kogia.


Demi memastikan kemenangan, Murga dan Kogia melancarkan serangan kuat yang bermaksud untuk memastikan kekalahan musuhnya. Murga mengambil tiga anak panah, lalu melancarkan tembakan legendaris <>.


Tiga anak panah berbentuk naga petir menghantam Ren, dan sekali lagi membuat ledakan super dahsyat. Siluet yang berdiri di tengah bekas ledakan masih terlihat, dan oleh karena itu Kogia melancarkan serangan penghabisan dalam kecepatan super tinggi.


Kogia menerjang sembari menebaskan pedangnya ratusan kali dalam satu detik. Sosok Kogia muncul kembali di seberang tempat dia berdiri sebelumnya dengan rasa percaya diri telah menghabisi musuh.


"Dia sangat tangguh," gumam Kogia yang merasakan tangannya telah terbebani. Namun Kogia tidak lupa bahwa ada beberapa musuh yang tersisa, untuk itu dirinya berkata, "Hairan, Murga ... masih ada yang tersisa, jangan lengah!"


Hairan dan Murga bergerak mendekati Kogia, mereka kembali membuat formasi yang kokoh sambil sesekali berbisik merencanakan taktik selanjutnya.


"Ini aneh, mereka terlalu tenang saat melihat sekutunya mati."


"Murga, coba pastikan apakah musuh tadi sudah mati?"


"Aku sudah memastikannya, Hairan. Bagaimanapun, di sana terdapat beberapa potongan daging yang hangus, dan aktivitas mananya benar-benar lenyap."


"Baguslah, tetapi kekuatan kita sudah terkuras cukup banyak. Murga, Hairan, mari kita lakukan seperti yang terakhir kali."


"Eh, kau yakin? Itu masih sangat berbahaya."


"Hehehe, tidak kusangka kau akan mengizinkannya. Baiklah, ayo kita lakukan!"


Rusava memandangi mereka bertiga yang sedang merencanakan taktiknya. Dari belakang, Avrogan dan Indacrus membisikkan sesuatu kepada Rusava untuk menanyakan apa keputusan yang akan dia ambil.


"Bagaimana, bertarung bersama?" usul Indacrus.


"Meski mereka telah melemah, masih ada kemungkinan lain. Seharusnya kau tidak menolak bukan?" tanya Avrogan.


Rusava berpikir dalam-dalam, kemudian ia mengingat perkataan itu di mana dia dikatakan tidak akan mampu melawan mereka bertiga sekaligus. Saat itulah Rusava tersenyum dan membuat keputusan.


"Tidak, aku akan bertarung sendirian. Jika ada sesuatu yang berbahaya, aku berharap kalian menolongku."


Avrogan dan Indacrus saling menatap dalam diam. Mereka lalu melangkah mundur untuk mengundurkan diri agar Rusava dapat bertarung sesuai dengan keinginannya.


"Terima kasih, biarkan aku belajar sesuatu dari ini!"

__ADS_1


__ADS_2