
Ren menuntun Nivania bergerak cepat untuk menghindari keramaian. Ketika mereka mencapai daerah yang lebih tenang, saat itulah pergerakan mereka diperlambat.
Mereka awalnya berpegangan tangan, tetapi saat ini sudah dilepaskan oleh Ren karena menurutnya hal itu sudah tidak diperlukan lagi.
"Tsh, bukankah mereka benar-benar membisikkan hal yang tidak masuk akal?" Ren berbicara kesal.
Orang-orang itu memang membisikkan sesuatu yang bersifat pra-duga, namun tetap saja ada beberapa hal yang sudah melewati batas sampai membuatnya merasa terganggu.
"Bagian yang mana?" sahut Nivania.
Ren terdiam sejenak, dia tidak berharap pertanyaan itu mendapat respon sebetulnya, tapi karena Nivania telah meluangkan waktu untuk merespon maka dia tidak bisa menghindar.
"Mana mungkin aku mengatakannya," balas Ren heran.
Ren tidak mengerti mengapa Nivania seperti ingin dirinya mengatakan hal itu, dan sebelum dia bisa berpikir, Nivania tiba-tiba berjalan cepat kemudian menghadangnya dari depan.
"Ren ...."
Ren mengerutkan dahi, "Apa?"
"Anryzel Dirvaren ...."
Sekarang Ren mundur satu langkah karena merasakan firasat buruk. Tentu hal itu dia lakukan sambil memberikan respon yang sama.
"Apa?"
Nivania menghirup napas dalam-dalam, dan firasat buruk yang dirasakan oleh Ren benar-benar terjadi.
"Padahal aku sudah menahan diri loh! Mengapa kamu tidak mengatakan apapun saat pertemuan kita setelah sekian lama?!"
Keterkejutan melanda Ren, bagaimana seorang Nivania yang dulu ia kenal sebagai pribadi yang cukup tenang kini berubah menjadi seseorang yang mudah marah dan meledak-ledak?
"Katakan sesuatu, atau aku tidak akan memaafkanmu."
Nivania mengepalkan tangan lalu menunjukan hal itu kepada Ren seolah mengancam. Ren sendiri tidak merasa terancam, apa yang harus ditakutkan dari tangan yang kecil dan ramping Nivania? Itu malah terlihat lucu dan menggemaskan dalam artian yang berbeda.
"Ah, baiklah-baiklah."
Ren mundur selangkah, mengubah posisi kaki sebelah kanan untuk menyilang dengan posisi kaki sebelah kiri. Perlahan dia membungkukkan badan sambil meletakkan tangan kanan di perut, dan tangan kiri di punggungnya.
"Senang bertemu denganmu kembali. Bagaimana kabarmu selama ini?"
Postur tubuh yang menunjukan penghormataan, ucapan tulus yang disertai oleh ketulusan, dan kekhawatiran yang ditunjukkan oleh sebuah pertanyaan, tidak ada sesuatu yang lebih sempurna dari ini, Ren yakin akan hal tersebut.
__ADS_1
Namun-
"Tidak mungkin," ucap Nivania seolah kecewa.
... mengapa kegagalan ini bisa terjadi? Dan tidak cukup sampai di sana, Nivania melanjutkan kata-katanya seolah memperlihatkan rasa kasihan yang begitu mendalam.
"Ren, sepertinya kamu tidak bisa memperlakukan wanita dengan baik, ya?"
Perkataan itu membuat Ren merasa dikasihani. Sudah lama dia tidak pernah merasa dikasihani seperti ini, dan mungkin Nivania adalah satu-satunya orang yang dapat melakukannya.
"Ya, itu mungkin benar."
Mengesampingkan hal itu, Ren menengadah ke atas langit untuk melihat matahari yang sudah mulai menunjukkan waktu yang ditentukan oleh Raja Esdagius dalam memulai pertemuan dengan para utusan kekaisaran.
Akan sangat merugikan jika Ren melewatkan pertemuan dengan para utusan karena permasalahan sepele. Bagaimanapun caranya, dia harus meyakinkan Nivania agar membebaskannya untuk pergi.
"Nivania, kau tinggal di mana?"
Kesalahpahaman rentan terjadi saat seorang pria menanyakan di mana rumah seorang wanita, tetapi dia tidak dalam kondisi yang santai untuk memikirkan hal semacam itu.
"Eh ... sementara ini, aku tinggal di penginapan."
Kota Aulzania memiliki begitu banyak penginapan, tapi itu bukan sebuah masalah yang berarti untuk Persepsi Mana. Rentang pencarian juga bisa dipersempit pada beberapa penginapan, dengan begitu menemukan Nivania adalah hal yang mudah.
"Oke, tunggulah di penginapan, aku memiliki beberapa urusan yang tidak bisa ditunda."
"Apa lagi?"
"Aku ikut denganmu, ya?" bujuk Nivania dengan mata memelas.
Mata Ren bercahaya untuk menelaah maksud tersembunyi. Meskipun Nivania tampak merasa sedikit terganggu tapi dia tidak peduli.
"Apa yang diinginkan wanita ini?" pikir Ren dalam hati.
"Pergi menemui sang raja di istana. Kau tidak masalah dengan itu?"
Sesaat mata Nivania bergetar, tampak terkejut dan berpikir akan sesuatu. Sikapnya inilah yang membuat Ren berharap agar Nivania menyerah untuk mengikutinya, namun harapan itu bertolak belakang dengan kenyataan.
"Tidak masalah, aku akan mengikutimu dalam diam," ucapnya penuh keseriusan.
Berani berkata demikian menandakan bahwa Nivania sudah paham. Urusan ini sangat penting karena menyangkut satu kerajaan dan dua kekaisaran, lantas mengapa Nivania sangat yakin dengan keputusannya?
"Terserah, tapi ingatlah untuk mengikuti apapun yang aku katakan."
__ADS_1
Jika sudah seperti ini maka harapan terakhirnya adalah Raja Esdagius melarang siapapun yang tidak bersangkutan untuk berpartisipasi. Dengan begitu, Ren memiliki alasan untuk menolak kehadiran Nivania dalam pertemuan.
"S-Semua yang kau katakan?" tanya Nivania ragu.
Karena suatu alasan tertentu, Nivania terlihat memerah dan malu. Ren sadar akan hal itu dan menganggap Nivania pasti terkena penyakit aneh selama di perjalanan karena sikapnya yang benar-benar aneh.
...____________________...
Kekaisaran Lodysna, Istana Kekaisaran.
Devaran telah sepenuhnya mengambil alih kekaisaran dari balik bayangan. Tidak hanya mengendalikan sang kaisar, semua benda yang dimiliki oleh sang kaisar pun telah diambil alih.
Istana yang semula ditinggali oleh sang kaisar kini direbut oleh Devaran untuk ditinggali oleh dia dan pengikutnya. Sementara Devaran memiliki kamar utama dari istana, sang kaisar dialihkan untuk tidur di tempat biasa, tetapi anehnya tidak ada satupun orang yang menyuarakan keberatan, termasuk sang kaisar itu sendiri.
Jika mempertimbangkan perubahan yang begitu cepat ini, maka bukan hal yang mustahil bagi Devaran untuk mengambil alih tahta sang kaisar secara resmi dalam waktu dekat. Pada saat itu terjadi, mungkin Kekaisaran Lodysna akan mengalami perubahan yang sesungguhnya.
Di kamar utama, Devaran mendapatkan kabar dari seseorang yang dipercaya olehnya untuk mengirim dan menerima informasi misi rahasia bahwa tim peninjau awal untuk Hutan Loudeas telah menghilang.
"Mereka menghilang?"
Devaran penasaran bagaimana bisa mereka bertiga menghilang begitu saja. Meskipun kemampuan mereka bertiga tidak istimewa, tetapi fakta bahwa mereka menghilang dalam sekejap mata itu menandakan keberadaan musuh yang kuat.
Hutan Loudeas memang dipenuhi oleh misteri, sangat memungkinkan mereka bertiga telah dikalahkan oleh monster yang sangat kuat. Tapi pada akhirnya, monster tetap monster, Devaran tidak mungkin mundur karena keberadaan monster.
"Kogia, Murga, dan Hairan. Mereka memasuki hutan pada pagi hari, dan mengirimkan pesan terakhir dua jam setelahnya. Pesan itu mengatakan kalau kondisi hutan biasa saja, monster yang menghuni tempat itupun terbilang cukup lemah, lalu setelah itu mereka melanjutkan kembali misinya, dan tidak mengirimkan pesan lagi."
"Jadi sampai saat ini mereka tidak memberi kabar apapun? Apakah kalian ini bodoh!"
BRAKK!
Devaran memukul dinding di sampingnya hingga retak. Emosi yang mudah meluap-luap ini adalah satu dari beberapa kekurangan yang dia miliki. Orang yang mengirimkan kabar itupun terlihat bergetar ketakutan.
"Hanya menangani seperti ini saja tidak becus! Cepat kirimkan tim lain untuk meninjau jejak mereka, jika menemukan satu keanehan apapun segera kembali dan laporkan padaku!"
Devaran sudah habis kesabaran, awalnya dia mengira tim peninjau awal itu menghilang karena memang sudah dipastikan menghilang, tetapi ternyata mereka dinyatakan menghilang karena sebatas tidak mengirimkan pesan.
Kebodohan para pengikutnya yang membuat dia merasa marah. Seharusnya, mereka bisa memastikan setiap informasi terlebih dahulu sebelum dilaporkan kepadanya bukan?
"B-baik!!"
Setelah orang itu menghilang, Devaran mendengus beberapa kali karena kesal. Dia kesal karena beberapa hal, salah satunya disebabkan oleh pengikut yang bodoh dan tidak bisa berbuat apapun tanpa dirinya.
"Jika terus begini ... bagaimana bisa aku mengalahkan si sombong nomer satu itu!"
__ADS_1
Kepribadian Devaran yang kejam dan tidak sabaran ini memang tidak lain dan tidak bukan karena rasa persaingan yang tidak pernah memuaskannya. Ketika dia, sang nomer dua merasa bersaing dengan si nomer satu dalam hal kekuatan, popularitas, dan pencapaian, akan tetapi orang yang dianggapnya saingan malah tidak peduli dengan semua itu.
Mulai dari hari Devaran dipermalukan, dia benar-benar menyimpan dendam, dan bersumpah suatu saat nanti akan melampaui si nomer satu apapun yang terjadi.