
Tok Tok Tok
Sosok Ren yang sedang berdiri, mengetuk pintu The King's Area. Selang beberapa saat setelah Ren mengetuk pintu, Derrian membuka pintu tersebut dari dalam.
"Tuan Dirvaren, Yang Mulia meminta agar Anda masuk secara langsung, tidak perlu repot - repot mengetuk pintu terlebih dahulu." Derrian mengatakannya dengan sedikit bermasalah.
"Benarkah..? Kalau begitu, lain kali aku tidak akan mengetuk pintu, ini juga sedikit merepotkan."
"Ya, tentu saja...." Derrian mengangguk.
Ren dan Derrian berjalan memasuki Ruangan itu kembali. Raja Esdagius adalah orang yang pertama menyadari kedatangan Ren, dia segera menoleh ke arah Ren dan tersenyum padanya.
"Apakah urusan anda telah selesai..?"
"Tentu saja, tadi hanya urusan kecil." Ren mengangguk.
"Kebetulan sekali, Tuan Dirvaren. Orang yang akan bertanding kali ini cukup menarik."
"Menarik..?" Balas Ren sambil duduk kembali di tempat yang telah disediakan sebelumnya.
"Um.. Anda lihat, orang yang disebelah sana dipercaya akan memenangkan Turnamen ini oleh berbagai pihak."
Raja Esdagius menunjuk seorang lelaki yang berada di Arena, lelaki yang mengenakan Zirah merah mencolok. Wajahnya bisa dibilang cukup tampan, cocok apabila disebutkan sebagai wajah seorang lelaki yang suka menyebabkan masalah.
Aura yang dia keluarkan terlihat seperti orang yang suka meremehkan orang lain. Dengan sorot mata nya yang tajam, menambah kesan menyebalkan yang dia miliki. Saat ini, lelaki itu sedang berdiri memegang Tombak panjang miliknya.
Setelah melihat lelaki yang ditunjuk oleh Raja Esdagius, Ren mengernyitkan alisnya. Ren semakin merasa aneh ketika orang - orang yang ada di Ruangan itu mengangguk setuju atas pernyataan Sang Raja.
'Dari sudut pandangku, dia sama sekali tidak memiliki kualifikasi sebagai pemenang..'
Meskipun jika dilihat secara sekilas pria itu memang terlihat kuat karena mengenakan Zirah yang terlihat kokoh dan Senjata Sihir berupa Tombak yang bercahaya merah redup.
Tetapi, Ren bisa merasakan mana, dia tahu seberapa besar dan seberapa murni mana yang dimiliki pria itu.
'Jumlahnya biasa saja, dan Mana nya tidak memiliki kemurnian.. Malah, aku merasakan keanehan dalam mana nya..'
Ren memegang dagunya, dia memperhatikan dengan seksama lelaki yang ada di Arena dengan kedua mata merah yang menyala.
Disaat yang sama, Ren sama sekali tidak menyadari sedikitpun Putri Sylna yang sedang memperhatikan dirinya. Bukan hanya Putri Sylna seorang yang memperhatikan Ren, namun seorang wanita dengan mata berkaca - kaca melakukan hal yang sama.
Perhatian Ren masih terpaku pada lelaki yang ditunjuk oleh Raja Esdagius.
"Raja Esdagius, siapa lelaki yang kau bicarakan itu..?"
Seseorang yang diyakini akan keluar sebagai pemenang Turnamen ini harus lah orang kuat dan tersohor. Alasan inilah yang membuat Ren menanyakan siapa sebenarnya lelaki itu.
"Saya sudah menduga anda akan bertanya, lelaki itu adalah Arniga Radulart, seorang Ksatria dari Kerajaan Tetangga. Dia juga dijuluki Flame Disaster karena kebiasaannya membuat masalah diberbagai tempat." Raja menjelaskan dengan sepenuh hati nya.
'Flame Disaster, apakah benar dia sekuat julukan yang dia sandang?'
Karena Penjelasan Raja Esdagius, Ren merasa sedikit waspada. Lelaki yang mengenakan tombak itu bisa saja seorang yang sangat kuat dan bisa menyembunyikan kekuatan yang dia miliki.
Kali ini Ren memutuskan akan bertanya pada Putri Sylna yang berada di tempat duduk sebelahnya.
"Ehm.. Tuan Putri Sylna, apa kau tahu sesuatu tentang ini.?"
Tuan Putri Sylna tersentak, sangat jelas terlihat jika dia tidak menyangka Ren akan bertanya padanya. Ren juga memaklumi Reaksi dari Putri Sylna ini, dari apa yang Ren tahu, sepertinya Putri Sylna adalah seorang yang pemalu dan tidak suka bersosialisasi.
Segera, Tuan Putri Sylna menyadarkan diri dari keterkejutan. Dengan tingkah yang aneh dan berlebihan, dia berkata pada Ren...
"S-Saya sama sekali tidak mengetahui tentang dirinya, Tuan Dirvaren.... Tetapi, jika anda sangat ingin tahu, biarkan saya m-mencari informasi tentang di-dia nanti...." Putri Sylna berkata sambil terlihat malu.
"Mhm... Bisakah aku mengandalkanmu Tuan Putri?" Balas Ren, sebuah senyuman hangat muncul di wajahnya.
Tentu saja Ren telah menyadari bahwa Putri Sylna tidak akan tahu apa - apa tentang Pria yang bernama Arniga itu. Tetapi, Ren dengan sengaja bertanya agar Putri Sylna sedikit lebih baik dalam bersosialisasi.
Seorang Putri dari sebuah Kerajaan harus pandai dalam hal itu. Meski dia tidak akan menjadi seorang yang memimpin Kerajaan langsung. Tetapi, suatu saat dia pasti menikahi seseorang yang penting dari Kerajaan lain agar hubungan kedua Kerajaan berjalan dengan baik. Sebuah kebiasaan dari Dunia Fantasy...
"Lalu Raja Esdagius, siapa yang menjadi musuhnya itu..?" Ren merubah pertanyaan nya pada Sang Raja.
"Saya tidak tahu tentang dirinya, mungkin hanya pengembara yang mengincar hadiah besar dari Turnamen ini?" Raja membalas.
"Begitu.." Ren mengangguk dalam, tidak ada cara untuk membuktikan kekuatan dari Pria bernama Arniga ini selain dengan melihat pertarungan nya langsung.
'Flame Disaster, mari kita lihat, apakah kemampuan dirimu sama seperti julukan yang kau sandang.'
*
*
*
*
*
"Hahaha! Suatu keberuntungan bagi aku yang hebat ini! untuk bisa menghabisi seseorang yang dijuluki Flame Disaster!"
Pria botak yang memiliki tubuh kekar dan berotot yang abnormal berteriak dengan keras. Dari perkataan yang dia lontarkan, sudah jelas dia adalah orang yang sombong.
Tetapi Arniga adalah orang yang sama sombong nya. Arniga menanggapi perkataan Pria botak dengan senyuman menantang.
"Ada apa dengan tubuhmu? apa kau masih bisa disebut manusia... Pffftt. Bukankah, kau terlihat seperti Monster?" Arniga tertawa pada pria botak dihadapannya.
"Gahahaha....!" Pria botak itu tertawa keras.
__ADS_1
Tanggapan yang diberikan Pria Botak membuat Arniga merasa keheranan. Seharusnya, seorang akan marah jika dia dihina, tetapi Pria botak ini malah tertawa.
"Aku memang mendambakan tubuh Monster yang luar biasa! Hanya saja aku sial dilahirkan sebagai manusia!" Pria botak itu melanjutkan kalimatnya tanpa Rasa malu sedikitpun.
"Hah? Bukan hanya tubuhmu yang aneh, ternyata otakmu bahkan lebih aneh..."
Arniga tidak melanjutkan sikap meremehkannya. Dia berpikir itu akan sia - sia jika memancing emosi seseorang yang telah kehilangan akalnya.
"Berisik kau! biar ku perlihatkan padamu, kekuatan dari Tuan Orgo yang hebat ini!"
Pria Botak Orgo menggenggam kedua kapak yang berukuran besar miliknya. Kuda - Kuda yang dia siapkan bahkan mirip dengan monster, sepertinya dia yang mendambakan untuk menjadi seorang monster memang suatu kenyataan.
Sementara Arniga, dia menggunakan pose tubuh yang aneh. Dia merenggangkan kaki kirinya hingga lurus kedepan, sementara tangan kiri nya menyentuh tanah arena. Tombak yang dia gunakan sebagai senjata, dia genggam menggunakan lengan kanannya yang lurus ke belakang dalam posisi Horizontal.
Pertandingan akan dimulai, seorang Juri dari Turnamen terlihat berdiri dan bersiap untuk menghitung mundur.
"Tiga, Dua, Satu... Mulai!" Juri itu berteriak.
Dengan hitungan mundur sebagai tanda dimulainya pertandingan. Orgo bergerak terlebih dahulu, dia berlari menuju ke arah Arniga yang masih dalam posisi yang sama.
Dam! Dam! Dam!
Setiap hentakan kaki Orgo menyebabkan suara yang bergema, membuktikan bahwa tubuhnya memiliki bobot yang luar biasa.
Orgo berlari selayaknya monster berlari, dia tidak memperhatikan sedikitpun berbagai macam celah yang dia miliki. Dia hanya menyiapkan kedua buah kapak besarnya untuk menebas Arniga.
Setelah Arniga masuk ke dalam jangkauan serangannya, Orgo langsung melakukan ancang - ancang untuk mengayunkan kapak miliknya.
"Gaahahahh! Rasakan ini!"
Dua kapak berukuran besar itu Orgo ayunkan ke bawah, menuju ke arah Argina yang masih dalam posisi nya itu.
Orang - orang membayangkan sosok Arniga yang akan terbelah oleh Kedua kapak besar itu. Juri yang melihat ini pun segera berdiri, untuk menghentikan pertandingan secepat mungkin. Namun.....
Swossshhh!!
Clank! Clank!
Hanya sesaat, dua Garis cahaya terbentuk diudara, mengenai serangan yang di lancarkan oleh Orgo. Bersamaan dengan itu, sebuah pemandangan yang tak dapat dipercaya terjadi. Kedua kapak Orgo, terpental jauh ke arah sudut arena.
Semua penonton melongo dan menatap seakan tak percaya. Bukan Arniga yang terbelah, melainkan kapak Orgo lah yang terpental jauh. Serangan balasan Arniga begitu cepat, para penonton tidak bisa melihat pergerakan Arniga sedikitpun.
"Seranganku yang hebat, dihalau...?"
Orgo berbicara pelan, menyaksikan suatu kemustahilan yang terjadi di depan matanya. Serangannya dihalau oleh Arniga dengan mudah, yang lebih mengejutkan adalah... Arniga, tidak merubah posisinya sedikitpun.
"Ba-Bagaimana, mungkin...?"
Hati Orgo diliputi oleh ketidakpercayaan akan apa yang terjadi. Berkali - kali dia berusaha menyangkal apa yang dia alami saat ini dalam hatinya.
"Eh..?"
"Seekor Monster hanya Monster, tidak ada Monster yang membuatku takut, aku membasmi dan memusnahkan mereka." Arniga mulai mengocehkan sesuatu yang tidak jelas.
Sebuah Nafsu membunuh yang hebat dikeluarkan oleh Arniga, membuat tubuh Orgo bergetar ketakutan dalam sekejap.
"Hiii...!" Orgo menjerit.
"Rasakanlah teknik yang diajarkan master padaku, [Consecutive Attack]!."
Dwushhh!!
Api yang membara muncul dari tombak Arniga. Kemudian, dalam sekejap api itu menjalar dan membalut seluruh Tombak Arniga. Pemandang ini membuat para penonton yang menyaksikannya terkagum - kagum.
Arniga bergerak, dia mendekati Orgo dengan langkah yang unik. Bagaikan sebuah Tarian yang sengaja diperlambat, Arniga memutar - mutar tombaknya. Api yang membaluti Tombak menciptakan sebuah pertunjukan yang begitu menakjubkan.
Woshh! Wooshshhh!
Pergerakan Arniga semakin cepat seiring berjalannya waktu. Sampai akhirnya, serangan Arniga mencapai Orgo.
Orgo yang tidak bisa bergerak karena Nafsu membunuh yang dikeluarkan oleh Arniga, terpental ke udara. Seharusnya ini mustahil seorang yang memiliki tubuh abnormal seperti Orgo dapat dipentalkan semudah itu. Namun, kekuatan Arniga membuktikannya saat ini...
"Grahh!!"
"Grahh!!"
Tidak cukup hanya satu serangan, Arniga melakukannya berkali - kali. Orgo mengalami nasib yang amat buruk, dirinya terus dipentalkan ke udara. Bahkan, Orgo tidak memiliki kesempatan untuk menyentuh tanah. Arniga akan terus mementalkannya kembali ke udara ketika tubuh Orgo mendekati tanah.
Arniga bergerak dengan cepat ke semua sisi bagian Tubuh Orgo. Tidak memberikan sedikitpun kesempatan untuk Orgo menghirup napas. Dia melakukannya secara terus menerus.
"Gahhh... Gahh... Gahh.!"
Meski begitu, serangan Arniga ini tidak terlihat bermaksud untuk membunuh sedikitpun. Arniga hanya menyerang Orgo dengan bagian tumpul tombaknya. Dia hanya membuat beberapa luka bakar yang disebabkan oleh Api yang membara di tombaknya.
Kondisi Orgo semakin menyedihkan seiring berjalannya waktu, meski Arniga tidak menyerang secara fatal tetapi itu masih menyebabkan luka yang terus menerus. Jika ini dibiarkan lebih lama, mau tak mau Orgo akan tewas.
"Berhenti...!" Seorang yang menjadi juri berteriak untuk menghentikan serangan Arniga.
Teriakan dari Juri membuat Arniga terkejut, karena posisi nya terlanjur melancarkan sebuah serangan, Arniga tidak dapat menghentikannya.
Swosshh! Badum!
Arniga melancarkan serangan terakhirnya dari langit. Orgo yang tak bisa melawan, dengan mulus mendarat di tanah dengan keadaan yang menyedihkan. Orgo sudah tak sadarkan diri, serangan Arniga tidak memberi ampun sedikitpun.
Dengan wajah yang sama sekali tidak puas, Arniga menancapkan Tombaknya di tanah. Dia memperhatikan Orgo yang telah tak sadarkan diri dengan seksama.
__ADS_1
"Tch.. Lemah."
"Pemenang pertandingan ini adalah Arniga Radulart!"
*
*
*
*
*
Di Kursi Penonton, seorang Ksatria Wanita berambut biru Es sedang duduk memperhatikan Arena, dia adalah Ksatria Wanita yang bertanding sebelumnya, Ilvina Alrunin.
"Nona, pria itu terlihat kuat..."
Di samping nya, seorang Wanita yang mengenakan pakaian pelayan berbicara.
"Arniga, Flame Disaster.... dia adalah musuh alamiku. Aku ingin segera bertarung dengannya." Ksatria Wanita Ilvina, sama sekali tak menghiraukan kekhawatiran pelayan nya itu.
*
*
*
*
*
'Hoo... Kali ini seorang Elemental Knight api ya.'
Berbeda dari Ksatria Wanita Ilvina yang memiliki Job Spesial dari Elemental Knight. Lelaki yang bernama Arniga ini hanya Elemental Knight biasa, meski begitu untuk standar Kerajaan Aulzania itu sudah cukup tinggi.
"Raku-"
Ren berniat bertanya pendapat Rakuza soal ini. Tetapi, Rakuza menghentikan perkataan Ren dengan sebuah Isyarat tangan.
"Tuan Dirvaren, sebaiknya anda bertanya pada seorang yang terlihat akan menangis itu..." Rakuza berbisik pada Ren dan menunjuk seseorang.
"....?"
Ren merasa tidak mengerti atas apa yang dikatakan Rakuza, dengan segera Ren berbalik untuk melihat siapa yang Rakuza tunjuk.
Ketika Ren berbalik, ternyata sosok yang ditunjuk oleh Rakuza adalah seorang wanita. Kedua matanya berkaca - kaca, dia terlihat akan segera menangis.
'Nirlayn..? Aku benar - benar melupakannya, dia belum kusapa sedikitpun, apa itu alasan dia bersedih?'
Hati Ren merasa sedikit bersalah, dia telah mengabaikan Nirlayn untuk waktu yang cukup lama. Dengan memberanikan seluruh hati nya, Ren memutuskan berbicara dengan Nirlayn.
"Maafkan aku Nirlayn, aku tidak bermaksud sedikitpun untuk mengabaikan dirimu.." Perkataan Ren dipenuhi oleh Nada bersalah.
"Anda tidak perlu memikirkannya, saya tidak bersedih sedikitpun. Sama sekali tidak."
"Ugh..." Ren merasakan hati nya tersakiti oleh jawaban Nirlayn.
'Sudah kuduga, dia benar - benar akan menangis. Beruntung Rakuza memberitahuku.'
Kenyataan nya, Ren sama sekali tidak mengerti mengapa Nirlayn akan menangis karena sedikit diabaikan. Ren menyadari sesuatu dari hal ini, meski Nirlayn adalah seorang wanita yang cukup kuat dalam hal pertarungan dan kekuatan. Tetapi, hatinya masihlah hati seorang wanita, hal itu tidak dapat disangkal sedikitpun.
Ren segera berbalik ke arah Rakuza, untuk meminta bantuan dari seorang bawahannya itu. Tetapi, Rakuza seakan sudah menyiapkan tanggapan terhadap tindakan Ren yang satu ini. Rakuza hanya menatap ke arah Arena, dengan wajah yang terberkati. Rakuza dengan sengaja tidak menghiraukan Ren sedikitpun.
'Rakuza, akan kubalas ini nanti...' Ren mengarahkan sebuah senyum menakutkan pada Rakuza.
Tubuh Rakuza bergetar, dia merasakan seluruh tubuhnya merinding, semua itu disebabkan oleh tatapan Tajam yang berasal dari Ren.
Ren tidak mempehatikan Rakuza lebih jauh, dia segera berbalik kembali pada Nirlayn.
'Bagaimana aku kesulitan hanya menghadapi sesuatu seperti ini...'
Seluruh bagian sudut dari otaknya Ren gunakan, untuk mendapatkan sebuah solusi yang paling tepat menghadapi sikap Nirlayn.
Sayang nya, sejauh manapun dia mencari, semua itu sia - sia. Setiap pilihan yang ditemukannya pasti memiliki Resiko tersendiri.
'Tch.. Tidak ada pilihan lain...'
Dengan mengumpulkan segala macam keberanian untuk melindungi hatinya, Ren berbicara....
"Nirlayn, aku harus mengakui hal ini. Mungkin, untuk saat ini dan seterusnya, aku akan lebih dan lebih.. mengabaikan dirimu, tetapi pada saat itu, aku berharap kau untuk bertahan dan selalu mengingatkanku.." Ren mengatakannya dengan tersenyum pahit.
'Ya ampun, apa yang aku katakan..?'
Ketidak percayaan memenuhi otak Ren, bagaimana mungkin dia mengatakan sesuatu yang tidak jelas seperti itu.
'Aku tidak bertanggung jawab atas apa yang diucapkan oleh mulutku, sama sekali tidak.' Ren berbicara sendiri dalam hati, berusaha menyangkal apa yang barusan dia katakan.
Untuk menghindari reaksi yang tidak diharapkan dari Nirlayn. Ren mengalihkan pandangan nya pada Arena. Dengan Elegan dia melakukan pose menyilangkan kaki dan menahan dagu miliknya. Berusaha untuk terlihat tidak peduli sebesar mungkin...
"Ren-sama, anda benar... saya terlalu terbawa perasaan saya sendiri." Nada Nirlayn dipenuhi oleh penyesalan.
Sebuah jawaban dari Nirlayn ini, membuat hati Ren merasa lega seketika. Namun, saat ini dia harus bertindak sesuai dengan Rencana...
"Hm... Baguslah." Ren membalas dengan Nada dingin seakan tidak terlalu mempedulikannya.
__ADS_1
Sikap Kedua orang ini tidak diperhatikan oleh siapapun dari Pihak Kerajaan Aulzania. Mereka tengah sibuk memperhatikan Arniga yang memenangkan Pertandingan dengan menakjubkan.
Mungkin... Hanya Rakuza dengan ekspresi terberkati miliknya yang menyadari suasana dramatis antara Ren dan Nirlayn...