Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 107 : Perampok yang malang


__ADS_3

Sekelompok orang yang melakukan kejahatan dengan cara mencuri dan merampok orang-orang yang melewati suatu kawasan tertentu, apakah mereka ini pencuri, perampok ataupun bandit, semua tetap sama.


Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak mau berusaha dan berakhir menempuh jalan kejahatan, tapi tidak sedikit dari mereka ada juga yang terpaksa melakukannya. Namun terlepas dari apakah mereka terpaksa atau tidak, kejahatan masih tetaplah kejahatan, mereka telah melukai banyak orang dan pantas mendapatkan hukuman.


Pedagang, orang-orang kaya, dan Bangsawan yang melintasi Jalan menuju Kota Perbatasan Ordenz memiliki banyak cerita mengenai kelompok perampok yang mendiami hutan di bagian selatan Kota Perbatasan ini. Saksi demi saksi yang selamat mengatakan, kelompok perampok ini begitu kejam dan tidak segan-segan membunuh korban mereka.


Hanya dengan seorang pengawal yang kuatlah, mereka tidak akan berani menampakan diri. Setidaknya, mereka tidak akan berani menampakan diri pada orang-orang yang memiliki tingkat yang sama dengan Ksatria Aulzania, membuktikan betapa kejam dan kuatnya kelompok mereka.


Mereka adalah sekelompok perampok yang menamai diri mereka sendiri dengan [Bloody Robber]. Terdiri dari 36 orang pria yang menjadi anggota mereka, setiap dari anggota memiliki kemampuan individu yang bagus, bahkan menyaingi prajurit terlatih. Pemimpin dari kelompok [Bloody Rober] ini adalah seorang mantan ksatria dari Kerajaan yang cukup jauh dari sini, dia memberi julukannya sendiri dengan [Si Bengis Lador].


Mereka menetap sementara di Hutan dekat Kota Perbatasan Ordenz, dan membangun beberapa pemukiman kamuflase disana. Dengan dipimpin oleh Lador yang merupakan mantan Ksatria yang memiliki pemikiran cerdik, kelompok perampok ini sulit untuk ditaklukan bahkan oleh Kerajaan Aulzania sendiri.


Pencapaian mereka dalam Dunia kejahatan ini membuat mereka menjadi sombong dan menamai diri sendiri dengan perampok berdarah. Meski demikian, pembantaian dan kekejaman mereka juga merupakan alasan utama mengapa mereka memanggil diri sendiri seperti ini.


Pembantaian dan perampokan mereka yang semakin menjadi-jadi membuat Kerajaan Aulzania segera bertindak dan mengirimkan beberapa Ksatria Aulzania untuk membereskannya. Informasi dari Ksatria Aulzania yang berniat untuk membasmi mereka pun mencapai telinga Lador.


Informasi ini memaksa Lador untuk membuat keputusan dengan segera, dia mengumpulkan seluruh anggota miliknya di sebuah tanah lapang pada malam hari. Berkumpul disana seraya mengerumuni api unggun yang menghangatkan. Setiap dari mereka menampakan wajah yang serius ketika menunggu Lador untuk berbicara.


"Ehm!" Lador berdeham.


Lador, seorang pria dewasa dengan raut wajah yang menyeramkan, sebuah bekas luka sayatan tergaris diantara dahi kiri menuju ke pipi kanannya, seolah menjadi tanda dari kekejaman dan kebengisannya. Rambut hitamnya yang acak-acakan cocok disandingkan dengan Mantel Beruang yang dia kenakan.


"Mereka telah bergerak." Kilauan kebencian terdapat dalam mata Lador, "dan kita harus pergi, mengumpulkan kekuatan yang lebih besar."


"Para Ksatria sialan itu mungkin bisa menjadi ancaman bagi kita sekarang, tapi untuk nanti, merekalah yang akan tunduk di bawah kaki kita."


"Kita harus mengumpulkan orang-orang untuk bergabung, agar tujuan kita untuk menjadi organisasi kejahatan terbesar di Benua ini dapat tercapai!"


Semua orang mulai mengangguk dan tersenyum mengerikan.


"Hehehe! Ketua memang hebat!"


"Kecerdikan dan kekuatan ketua tiada duanya!"


"Disaat kita sudah menguasai Benua, kita dapat melakukan apapun yang kita mau!"


Lador pun tersenyum lebar, dan berteriak lantang, "Aku Si Bengis Lador! Suatu saat akan menjadi Raja Benua! Hahahaha!"


Lador dan para bawahannya pun tertawa dengan penuh kejahatan. Tawa mereka yang menggema ini menjadi penanda, seakan-akan mereka benar-benar telah menguasai seluruh Dunia. Suasana seperti ini bertahan untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya mereka hening kembali.


"Jangan senang dulu! Kita harus mengumpulkan anggota sebanyak dan sesegera mungkin! Bersiaplah, fajar nanti kita akan pergi dari sini!" Jelas Lador yang diikuti oleh anggukan semua bawahannya.


Ketika mereka semua berniat untuk membubarkan diri, sesuatu muncul dari kedalaman hutan. Bersamaan dengan langkah yang membuat semua orang menjadi waspada dan menyiapkan senjata mereka.

__ADS_1


Prok! Prok!


"Hei, Hei, bukankah kalian ini sangat bengis dan kejam? Mengapa kalian berniat melarikan diri?"


Satu sosok kemudian muncul bersamaan dengan keluarnya suara yang dipenuhi dengan ejekan itu.


"[Bloody Rober] Nama yang terlalu berlebihan untuk seorang pengecut seperti kalian."


Sosok itu mengenakan Zirah putih berkilau yang diwarnai oleh corak keemasan, serta memiliki lambang Kerajaan Aulzania di bahunya. Dia adalah seorang pria tampan yang memiliki rambut putih, tatapannya terlihat tenang dan santai, namun sebenarnya berbahaya.


"Tch, tidak kusangka baj*ingan Kerajaan Aulzania akan tiba secepat ini." Lador berdecak kesal.


Sosok pria itu terlihat kagum dengan Lador ketika memanggilnya dengan sebutan kasar. Lantas, dia pun tersenyum lelah seraya menghunuskan Pedang yang ada di pinggangnya.


"Ck, ck, kalian ini sungguh aneh, aku tidak ingat Kerajaan ini pernah membuat masalah dengan kalian. Lalu, kalian pula yang memulai kekacauan, tapi dengan seenaknya kalian memanggilku dengan kasar seperti itu."


Sikap dan Perilaku pria ini yang selalu meremehkan dengan begitu santai membuat Lador dan anggota [Bloody Robber] naik pitam. Harga diri mereka sebagai perampok bengis telah diremehkan, dan itu membuat mereka tidak dapat membiarkan ini begitu saja.


"Grk, hanya karena kau Ksatria Aulzania, jangan harap kami akan menyerah begitu saja! Serang!" Teriak Lador.


Semua anggota [Bloody Robber] menyerang bersama-sama, mereka menggenggam senjata masing-masing dan berlari menerjang seraya berteriak penuh kemarahan.


"Dasar tidak sabaran, bagaimana kalau kita membicarakan ini dengan baik-baik? Aku tidak suka membun- ..."


Pria itu menghindari serangan dari orang pertama yang menyerangnya. Lalu tanpa disadari oleh mereka, dia sudah berada dibelakang orang yang menyerangnya dan menusuk tepat di jantung orang itu.


Jleb!


Darah mengalir diantara Pedang yang menusuk, orang itu tidak dapat berbuat apa-apa bahkan sampai dia kehilangan Nyawa. Seseorang telah mati seketika, tapi pria itu masih santai seperti semula, tidak ada tanda-tanda keseriusan dalam wajahnya.


"Hei, sudah kubilang aku tidak suka membunuh." Ocehnya.


Ketika pria itu selesai mengoceh, beberapa perampok lain sudah mengepung dan menyerang secara bersamaan. Melakukan sebuah tusukan Pedang yang dilakukan secara bersama dalam bentuk melingkar dan pria itu dijadikan sebagai pusat sekaligus targetnya.


"Ya ampun! Bagaimana caraku menghindarinya!" Teriak pria itu dengan panik.


Namun sebenarnya, pria itu hanya mengatakan sebuah lelucon yang disertai oleh ejekan yang ditujukan pada para perampok. Dia sendiri berteriak panik setelah menghindari semua serangan Pedang itu dan berdiri diatas Pedang yang ditumpu oleh para perampok.


"Oh? Sepertinya keberuntungan memihakku?" Pria itu berkata dengan tanpa dosa.


Beberapa perampok itu bingung mengapa mereka hanya menyerang sesuatu yang kosong, sebaliknya orang yang menjadi target mereka malah dengan santai menginjak Pedang yang ditujukan padanya.


"Semoga kalian tenang di alam sana." Ucap pria itu seraya tersenyum.

__ADS_1


Beberapa orang itu pada mulanya tidak mengerti, namun setelah pandangan mereka berputar-putar seolah diterbangkan, barulah mereka menyadari kematian yang mereka alami. Beberapa orang yang menyerang itu, telah mati dengan tanpa kepala.


Lador bersama dengan bawahannya terdiam dengan mata yang bulat. Pemandangan yang baru saja mereka lihat bukan lagi pertempuran, melainkan pembantaian. Mereka yang selalu membantai orang-orang kini merasakan ketakutan akan rasanya dijadikan target pembantaian itu.


"S-Sial, aku tidak menyangka kekuatan Ksatria Aulzania sekuat ini." Gumam Lador pelan.


Ketakutan itu membuat wajah mereka membiru, pucat dan berkeringat. Tidak ada satupun dari tubuh mereka yang dapat digerakkan untuk melarikan diri. Mereka yang disebut sebagai perampok bengis dan kejam dibuat tak berdaya hanya dengan pemandangan mengerikan.


"Ah!" Pria itu tersentak seolah mengingat sesuatu, "Aku lupa memperkenalkan diri, maafkan aku ... Namaku adalah Ry, anggota Ksatria Aulzania yang baru saja bergabung beberapa saat lalu."


Perkataan pria itu membuat Lador dan bawahannya mengeluarkan Ekspresi yang suram. Mereka merasa kesal karena diremehkan sampai sedemikian rupa, tapi mereka yakin tidak dapat mengalahkan pria dihadapannya. Tidak ada jalan untuk kabur, ataupun melarikan diri, hanya tersisa satu pilihan untuk Lador dan bawahannya, yaitu melawan sampai mati.


"Grggg ... Aku tidak percaya ini, Kerajaan Aulzania sampai mengirimkan seseorang sekuat dirimu untuk membasmi kami." Lador menggenggam dua tombak dengan dua tangannya.


Satu detik kemudian, Lador bersama dengan anggota [Bloody Robber] berlari dan menyerang secara bersamaan. Pandangan mereka dipenuhi dengan kejahatan dan kebencian. Namun sebelum mereka dapat mencapai pria itu, pandangan mereka berputar-putar dan mereka semua tidak dapat merasakan kembali tubuh mereka.


Kepala dari Lador dan anggota [Bloody Robber] yang tersisa melayang di udara, lalu menggelinding diatas tanah. Pemandangan yang terakhir kali mereka lihat adalah sosok dari pria itu yang telah berpindah tempat dengan sangat cepat.


"Kegigihan dan Tekad huh? Kalian para penjahat tidak pantas menggunakan hal itu, orang-orang pengecut yang hanya bisa membunuh orang-orang lemah." Pria itu menatap mayat dan kepala yang bergeletakan seolah menatap seekor hama.


Tatapan yang begitu merendahkan itu seketika berubah, menjadi tatapan santai dan tenang seperti sedia kala. Dia tersenyum penuh kemenangan, lalu menggosok-gosok Rambutnya.


"Yah, tidak dapat dihindari, sandiwaraku sebagai orang lain itu cukup hebat kan?"


Rambutnya menjadi hitam, matanya menjadi merah, dan pakaian yang dia kenakan seketika berubah. Menggantikan sosok dari Ksatria Aulzania Ry sebelumnya, menjadi sosok yang tidak asing, Anryzel Dirvaren.


"Semoga saja Darah kalian cukup, jika tidak darimana lagi aku harus mencarinya." Keluh Ren seorang diri.


Ren merentangkan lengannya ke depan, mengendalikan Darah yang berasal dari mayat-mayat para perampok itu menjadi Bola Darah yang menggulung di udara. Setelah semua Darah terkumpul, Ren mengarahkan Bola Darah itu menuju tempat yang kosong dan memecahkannya disana.


Ketika terpecah dan mengenai tanah, Darah itu dengan sendirinya membentuk sebuah Lingkaran Sihir diatas tanah. Sebuah Lingkaran Sihir yang lebih besar beberapa kalo lipat daripada Lingkaran Sihir yang dia gunakan terakhir kalinya.


Ren menatap dengan seksama Lingkaran Sihir seraya berharap, "Dengan ini, aku berharap seseorang yang cukup kuat muncul."


Lingkaran Sihir mulai berputar secara perlahan-lahan, dan setiap detik yang terlewati maka akan semakin cepat dia berputar. Pemandangan ini sudah beberapa kali Ren lihat, jadi saat ini dia tidak merasakan aneh maupun kagum seperti pertama kali melakukannya.


Ren menggigit jarinya, kemudian meneteskan Darah yang keluar dari sana pada Lingkaran Sihir, lalu berkata, "[Summon : Sacred Blood Beast]"


Bam!


Ledakan cahaya terjadi ... Dan sesaat setelah Ledakan Cahaya itu berakhir, seseorang berlutut diatas Lingkaran Sihir dengan cara yang bersungguh-sungguh.


"Hormatku, pada Tuan." Ucapnya dengan penuh kesopanan.

__ADS_1


__ADS_2