
Dia adalah Archaniva Divergil La Exousillia, laki-laki tampan yang berumur 32 tahun dengan penampilan seperti pemuda berusia 18 tahun. Memiliki rambut berwarna sian yang elegan dan menambah kesan ketenangan, kulit yang berwarna putih bersih semakin menambah ketampanan, dan iris mata yang berwarna safir yang menyorotkan kelembutan serta kebijaksanaan.
Semua penampilan itu dibalut dalam sebuah pakaian megah yang elegan, tidak menambahkan ornamen yang berlebihan, tetapi mengutamakan keamanan, kenyamanan, dan keindahan yang mudah untuk digunakan.
Archaniva adalah seorang kaisar yang memimpin Kekaisaran Agung Exousillia. Dia merupakan pemimpin tertinggi yang mampu menggerakkan ratusan ribu pasukan hanya dengan satu perintah. Tidak ada yang tidak menyadari akan keagungannya, tapi tidak semua orang bisa melihatnya, itulah sosoknya sebagai kaisar misterius yang jenius dan bijaksana.
Sebagai kaisar yang dilindungi oleh segenap individu-individu kuat, Archaniva bukanlah pemimpin yang lemah, melainkan seorang laki-laki yang begitu kuat dan tidak tertandingi. Tidak akan ada yang membantah apabila Archaniva dinobatkan sebagai orang terkuat di kekaisaran, begitulah keadaannya.
Keberadaan sang kaisar begitu dihormati, setiap gerakannya mengandung maksud tertentu yang melambangkan kekaisarannya sendiri. Hal itu menyebabkan Archaniva tidak dapat bergerak sembarangan, bahkan ketika di istana dia harus berhati-hati agar sosoknya tidak mudah ditemukan.
Namun, apa yang dilakukan oleh sang kaisar saat ini? Dia pergi seorang diri mengunjungi Kuil Bloodmoon yang merupakan kuil terbesar yang ada di kekaisaran. Tidak ada pengawal, tidak ada pemberitahuan, dan tidak ada yang mengetahuinya, kecuali untuk satu orang yaitu wanita suci agung dari Kuil Bloodmoon.
"Bagaimana dengan ramalannya?" Archaniva bertanya dengan perasaan khawatir.
Dia berdiri di tengah sebuah altar yang sangat besar, sementara matanya menatap pada sebuah patung yang berdiri tepat di pusat altar tersebut. Patung itu memancarkan kilauan yang indah, terbuat dari material kelas tertinggi [Divine Crystal] sebagai bahan baku utamanya.
Setiap lekukan yang dipahat tampak begitu sempurna, detail-detail yang kecil seperti mimik wajah diukir dengan begitu rinci dan indah. Dan hasilnya patung ini layak disebut sebagai karya seni sejati yang diturunkan dari nenek moyang dari generasi ke generasi.
"Bintang-bintang akan bertabrakan. Dunia menjadi merah. Teriakan dan amarah melahap hati orang-orang. Ramalan tentang kekacauan dunia, tidak akan lama lagi."
Evalyn menyebutkan kalimat yang disusun dari kata-kata acak yang berasal dari setiap ramalan yang muncul. Sebuah ramalan memang tidak pernah mengatakan semuanya dengan jelas, biasanya ramalan hanya memperlihatkan potongan kejadian yang akan terjadi di masa depan dengan sangat samar.
Dikarenakan masa depan itu dapat berubah, tidak semua ramalan yang diramal oleh wanita suci agung Evalyn benar-benar terjadi. Ada kalanya beberapa dari mereka meleset, atau hanya sebuah mimpi kosong yang tidak berarti, namun pada ramalan kali ini cukup berbeda.
Semua mimpi yang menunjukkan ramalan terasa begitu nyata. Evalyn yang melihatnya seakan ditekan untuk mempercayai bahwa ramalan itu memang benar adanya. Hal itu diperkuat pula oleh bukti yang sesungguhnya dalam catatan sejarah yang telah terkubur begitu lama, bahwa suatu saat nanti bintang akan bertabrakan, dunia menjadi merah, dan teriakan serta amarah akan muncul dalam hati orang-orang.
Archaniva menegang sesaat, pancaran mana yang kerlap-kerlip darinya menandakan hati yang sedang gundah. Lagipula siapa yang tidak akan khawatir setelah mendengar ramalan yang seolah mengisyaratkan akhir dari dunia?
"Aku tidak akan membiarkan semuanya berakhir dengan buruk. Bagaimanapun caranya, aku akan melindungi manusia dari ancaman luar seperti yang dilakukan oleh leluhur ter-agung kita, Raja sesungguhnya dan penguasa dari benua ini, Continents Holder The Blood Monarch."
Archaniva selalu bersumpah untuk melindungi ras manusia yang layak untuk dilindungi. Semenjak kebenaran tentang sejarah manusia terungkap oleh mata spesial [Eye of Truth] miliknya, sejak itulah dia mulai bersumpah.
Semua berawal dari 12 tahun yang lalu, Archaniva membangkitkan mata spesial yang bernama [Eye of Truth] saat menjalani rutinitas untuk menyembah dewa di Kuil Bloodmoon. Ketika itu, dia sedang menatap patung dewa dalam keheningan, tetapi tiba-tiba patung itu bercahaya dan matanya mengeluarkan semacam reaksi.
Kesadaran Archaniva seketika dibawa melewati ruang kosong yang sulit untuk digambarkan. Lalu dia mendapatkan semacam penglihatan mengenai garis besar yang terjadi di masa lalu, mengenai peperangan, keberadaan para Continents Holder, dan makhluk asing yang menginvasi dunia.
Setelah menyaksikan itu semua, Archaniva mendengar sebuah suara yang memerintahkannya untuk menggeser patung dewa di Kuil Bloodmoon karena di bawah patung itu tersimpan semacam catatan kuno yang berasal dari puluhan ribu tahun lalu.
Archaniva pun tersadar setelah mendengar suara itu, kemudian tanpa berpikir lama dia memerintahkan beberapa orang yang berada di kuil untuk menggeser-kan patung itu sedikit. Dan benar saja, di bawah patung tersebut tersimpan catatan kuno yang masih dalam kondisi baik.
Catatan itu mengatakan bahwa, semua yang kau lihat adalah kebenaran. Faktanya, kau diperlihatkan semua itu menandakan bahwa kau adalah orang yang terpilih. Jadilah pelindung manusia menggantikan aku untuk sementara waktu. Tidak lama lagi, kekacauan akan terjadi.
Archaniva bergetar hebat setelah membaca catatan yang berisi pesan kecil itu. Meskipun isi dari catatan tersebut hanya sedikit tetapi itu menjelaskan bahwa semua yang dia lihat tentang masa lalu adalah kebenaran, sedangkan yang manusia percayai hingga kini adalah kepalsuan.
__ADS_1
Singkatnya, sejarah telah dimanipulasi. Setiap generasi demi generasi fakta-fakta yang ada diubah menjadi karangan yang berupa omong kosong belaka. Semua itu dilakukan sedikit demi sedikit dalam kurun waktu yang sangat lama sehingga tidak pernah menimbulkan kecurigaan sedikitpun.
Sejak itu, Archaniva pun bersumpah untuk melindungi manusia. Dia kemudian dinobatkan menjadi kaisar dan berhasil mendapatkan gelar sebagai kaisar terbaik sepanjang sejarah.
Tidak akan ada yang menyangka bahwa perkembangan hebat Archaniva dalam hal kepribadian, pengetahuan, dan kekuatan itu sebenarnya berasal dari secarik kertas yang berisi catatan kecil dari orang tidak dikenal.
Mereka yang tidak mengalami langsung mungkin akan tertawa saat mendengarnya, tetapi itu bukan masalah karena yang mengetahui kejadian itu hanyalah Archaniva dan beberapa orang saja.
....
Kembali ke masa kini, Archaniva mengingat dengan baik bahwa semua yang dilihat olehnya 12 tahun yang lalu bukanlah sihir ilusi, atau semacam jebakan yang dibuat oleh musuh. Karena bagaimanapun, Kuil Bloodmoon merupakan bangunan tertua yang berada di kekaisaran bahkan lebih tua dari kekaisaran itu sendiri.
Beberapa pemeriksaan berskala tinggi telah dilakukan dengan rahasia untuk mengetahui apakah ada semacam hal yang aneh dari catatan kecil, patung dewa, atau bahkan Kuil Bloodmoon itu sendiri. Namun semua pemeriksaan mengatakan dengan jelas bahwa tidak ada keanehan sedikitpun, bahkan jejak sihir mencurigakan pun tidak ada sama sekali sehingga dapat dipastikan bahwa apa yang dilihatnya adalah asli.
"Oh Dewa, siapa sebenarnya yang memberitahuku mengenai kebenaran masa lalu. Apakah itu engkau? Atau leluhur kami, Sang Continents Holder?" Archaniva bertanya kepada sang dewa dalam hatinya.
Bisa dipastikan bahwa dia tidak akan mendapatkan jawaban. Dewa yang mereka sembah --Dewa Ahn-- tidak mungkin mendengarkan pertanyaan yang tidak terlalu penting untuk diperhatikan olehnya. Archaniva sadar akan hal itu, tapi dia tetap bertanya karena hatinya menginginkan begitu.
"Hei, Evalyn. Menurutmu, apakah leluhur kita dan Dewa Ahn itu sama?"
Sebuah pertanyaan tidak berdasar, dan cenderung merendahkan sang dewa mereka. Akan tetapi, Archaniva sang kaisar bijaksana tidak mungkin bertanya sesuatu semacam itu tanpa alasan yang jelas.
"Saya tidak tahu. Alangkah baiknya, kita tidak mempertanyakan hal itu lagi, Yang Mulia."
Archaniva tersenyum mengerti. Evalyn tidak mungkin membiarkan pertanyaan itu membuat mereka tersesat, dan jatuh dalam kepercayaan yang salah. Namun, bahkan bagi Evalyn sendiri pertanyaan itu sebenarnya memberi rasa penasaran tersendiri.
Archaniva berbalik membelakangi patung Dewa Ahn, ia kemudian berjalan meninggalkan altar dengan perasaan yang tidak terpuaskan. Namun sebelum dia benar-benar keluar dari altar tersebut, sebuah cahaya yang tidak asing bersinar dalam ruangan.
Cahaya itu adalah sesuatu yang sama dengan 12 tahun yang lalu. Archaniva begitu terkejut, lantas dia menoleh ke arah patung Dewa Ahn lagi dengan perasaan senang berharap akan mendapatkan petunjuk lain.
Tapi di sana, Evalyn-lah yang diselimuti oleh cahaya. Kesadarannya ditarik melewati kegelapan tanpa batas, menuju ruang putih tanpa ujung dan bertemu dengan seorang laki-laki yang sangat asing dan tidak dikenal.
Laki-laki itu memiliki rambut hitam, mata merah, dan berwajah tampan. Sosoknya terlihat sangat manusia, kecuali untuk beberapa hal yang tidak termasuk ke dalam ciri-ciri fisik.
Evalyn melamun karena bingung. Di tempat yang sangat asing dan aneh, bersama seorang laki-laki yang tidak pasti apakah dirinya baik atau jahat, dia harus bereaksi seperti apa?
"Halo, wanita cantik."
Dan sekarang laki-laki itu mulai berbicara dengan gaya seorang penakluk wanita. Evalyn semakin merasa bingung sehingga tanpa sadar dia mengabaikan salam pertama yang seharusnya diberikan sebuah respon.
"Eh, apakah tubuh spiritual juga bisa tuli?" ucap laki-laki itu heran.
Laki-laki itu mulai memutari tubuh spiritual Evalyn sambil memperhatikan dengan seksama apakah wanita ini memiliki masalah pendengaran?
__ADS_1
"Hei, apa kau mendengarku?"
Evalyn tersentak, dan membalas gugup, "I-iya, maaf tapi siapakah Anda ini?"
Laki-laki itu tertegun, kemudian dia berkata dengan ekspresi penyesalan, "Benar juga, waktu yang aku miliki tidak lama. Baiklah, hanya memberimu sedikit pesan bahwa ...."
Kesadaran Evalyn ditarik kembali melewati ruang putih tanpa ujung menuju kegelapan tanpa batas untuk kemudian kembali ke tubuhnya yang berada di Kuil Bloodmoon. Evalyn langsung termenung, berusaha mengingat apa yang dikatakan oleh laki-laki itu sebelum dirinya menghilang.
Archaniva yang melihat Evalyn telah membuka mata segera menghampiri. Dia begitu merasa penasaran tentang apa yang dilihat oleh Evalyn ketika kesadarannya menghilang entah kemana.
"Evalyn, Evalyn? Apa yang kau lihat?"
Namun Evalyn malah mengeluarkan air mata dengan perasaan bahagia sambil merasa sedikit menyesal. Laki-laki itu, dan perkataan yang diucapkannya sudah mengisyaratkan siapa sebenarnya dia.
"Dewa Ahn? Tidak salah lagi."
Sebagai wanita suci agung yang mendapatkan berkah dari dewa yang mereka sembah, Evalyn merasa sangat bahagia karena telah diberi kesempatan untuk bertemu dengannya walaupun dalam waktu yang sangat singkat.
Mungkin, penyesalan Evalyn yang terbesar adalah memberikan kesan yang buruk kepada dewanya saat pertama kali mereka bertemu. Ada sedikit rasa malu yang tak tertahankan, tetapi semua itu tertutupi oleh rasa kebahagiaan.
Setelah menenangkan diri, Evalyn baru berbicara kepada Archaniva mengenai apa yang dilihatnya.
"Yang Mulia, saya mendapatkan pesan dari Dewa Ahn. Dewa berkata, dia akan segera muncul maka sambutlah oleh kalian kedatangannya."
Archaniva membulatkan mata, sebagian karena pengakuan Evalyn yang mendapat pesan dari dewa, sebagian lagi karena pesan yang diberikan sangat membuat penasaran tentang siapa sebenarnya "Dia" ini.
"Apa kamu mendengar siapa yang disebut sebagai "Dia" oleh Sang Dewa?"
Evalyn terlihat ragu-ragu untuk mengatakannya. Tetapi dia memutuskan untuk memberitahu sang kaisar sebagai pengecualian.
"Dia yang dimaksud adalah The Blood Monarch?" Evalyn sendiri tidak yakin.
Sebenarnya, Dewa Ahn mengatakan sedikit mengenai pecahan atau sesuatu seperti itu tapi Evalyn tidak begitu mengerti. Oleh karena itu, dia hanya memberikan sang kaisar jawaban yang sudah pasti.
Seketika itulah Archaniva menegang oleh keterkejutan. Dan seketika itulah, mereka berdua merasakan sebuah lonjakan kekuatan yang besar dari arah barat daya dengan samar. Berdasarkan kekuatan yang dirasakan, seharusnya jarak itu sangat jauh dan bertepatan dengan ... Hutan Loudeas di pusat benua.
...__________________...
Catatan Author :
Saya selaku author dari Crown of the Nine Continents ini mengucapkan,
Minal Aidin Wal Faizin, mohon maaf lahir dan batin.
__ADS_1
SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI BAGI KALIAN YANG MENJALANKANNYA.
Maafkan saya yang selalu telat dalam update, maupun pengucapan selamat ini....