
Arystina mengaktifkan kemampuan khusus miliknya. Ketika melakukan hal itu, tubuh Arystina dipenuhi oleh Aura kehijauan, yang kemudian Aura itu merambat ke tanah dan menyebar ke segala arah dalam bentuk benang akar.
Lalu setelah kemampuan berhasil diaktifkan sepenuhnya, Arystina bisa merasakan apa yang dirasakan oleh alam sekitarnya. Sebuah Sihir khusus yang dimiliki oleh para Roh hutan <> memungkinkan sang pengguna dapat berinteraksi dengan alam dan meminjam persepsi alam untuk sementara waktu.
Disaat yang sama, Nirlayn dan Avrogan bersiap sedia, memperhatikan Arystina dengan seksama untuk berjaga-jaga andaikan Arystina menemukan sesuatu yang mencurigakan. Memang Avrogan dan Nirlayn memiliki kemampuan persepsi mereka masing-masing, tapi dalam hal jangkauan, Arystina lebih bisa diandalkan.
Jadi keputusan yang telah diambil oleh Ren dalam menyerahkan tugas ini kepada Arystina adalah hal yang tepat. Bukan hanya meningkatkan keamanan, tapi juga menghemat mana yang dimiliki oleh Avrogan dan Nirlayn.
Sedangkan Avrogan dan Nirlayn lebih dapat diandalkan dalam hal kemampuan penyerangan daripada Arystina. Jika mana mereka habis, maka itu hanya akan menimbulkan ketidak ada gunaan dalam diri mereka.
Untuk beberapa saat, hanya ada keheningan diantara mereka bertiga, tapi Arystina membuka matanya dan berkata, "Aku belum menemukan sesuatu yang aneh selain daripada monster yang berkeliaran."
Dari awal kemunculan musuh memang belum dapat dipastikan, tuan mereka sendiri yaitu Ren tidak mengatakan kepastian apakah akan ada musuh atau tidak, namun tetap saja ketika mendengar Arystina menyatakan negatif terhadap keberadaan aneh, Nirlayn dan Avrogan menghela napas lega.
"Syukurlah ... oh ya, Arystina. Apa tidak masalah jika kau berbicara ketika kemampuanmu masih aktif?" Nirlayn menatap pada Arystina dengan ekspresi yang bertanya-tanya.
Arystina sedikit tidak mengerti mengapa Nirlayn bertanya seperti itu, tetapi apapun alasannya, tidak baik bagi dirinya untuk diam tanpa membalas pertanyaan.
"Ah, tidak masalah. Selama konsentrasiku tidak hancur, aku masih tetap akan terhubung dengan alam," balas Arystina.
"Hm ... itu bagus jika memang seperti itu. Namun ingat jangan terlalu memaksakan dirimu, Arystina." Nirlayn tersenyum pada Arystina.
Sebuah senyum yang tulus tanpa ada maksud dan tujuan tertentu di dalamnya. Senyuman yang murni diisi oleh kekhawatiran Nirlayn terhadap Arystina.
"Tentu saja, Nirlayn." Arystina pun tersenyum dengab tulus.
Avrogan yang berada disana seakan-akan hanya sebuah pajangan. Dia tidak berbicara, maupun diajak untuk bicara. Beruntung dirinya sudah cukup terlatih dalam hal ini sehingga tidak mempermasalahkan apapun ketika diabaikan.
Avrogan yang diam mengalihkan pandangan ke sisi lain dari mereka berdua. Sebuah kebetulan ketika itu, muncul sebuah pintu cahaya yang menandakan bahwa Ren telah kembali.
"Lihat, sepertinya tuan telah kembali," ucapnya, "tidakkah kalian ingin menyambut kedatangan kembali tuan?"
Namun entah mengapa, pemberitahuan dari Avrogan mengenai kembalinya Ren ini malah membuat Arystina dan Nirlayn saling memandang dengan senyum penuh makna yang mengerikan. Seluruh tubuh Avrogan langsung merasakan kengerian yang luar biasa, dan dengan segera dia mengabaikan mereka berdua.
Sementara itu, Arystina meningkatkan konsentrasinya ke tingkat yang lebih tinggi, memperluas jangkauan dari kemampuannya dan memejamkan mata. Sedangkan untuk Nirlayn, dia telah menghilang entah kemana.
Pintu Inventory terbuka, mengeluarkan seorang Ren yang muncul dari sana. Berbeda dari ketika Ren memasukinya, pintu Inventory kini memiliki ukuran beberapa kali lipat lebih besar dan bisa dikatakan sebagai sebuah gerbang daripada pintu.
"Aku kembali," ucap Ren.
Ren melihat ke sana kemari dengan rasa penasaran tentang bagaimana kondisi para bawahannya. Namun apa yang menyambut kedatangannya adalah suasana dari keanehan.
__ADS_1
Avrogan terlihat diam mematung, bahkan ketika dirinya adalag seekor kuda, ekspresi kosong seolah ingin diabaikan dapat dirasakan dari wajahnya. Begitu pula dengan Arystina, dia memejamkan mata dengan penuh konsentrasi sehingga mengucurkan keringat diantara wajahnya.
Dikarenakan rasa bingung dengan suasana yang misterius ini, Ren memutuskan untuk mengabaikannya sementara waktu. Hal yang harus di utamakan adalah mengeluarkan kereta kuda dari dalam Inventory.
Kemampuan fisik Ren yang luar biasa memungkinkan dia untuk membawa kereta kuda dengan mudahnya. Tanpa merasa kesulitan sama sekali, Ren mengangkat kereta kuda dari dalam Inventory menggunakan satu lengannya.
Jika mengesampingkan keseimbangan dari kereta kuda, mungkin Ren akan mengangkat kereta kuda itu menggunakan satu jari. Terdengar cukup mustahil, tapi memang itulah kenyataannya.
Kereta kuda diletakan diatas tanah dalam keadaan sempurna. Warna dasar yang dimiliki kereta kuda ini adalah emas yang berkilauan dan putih yang mengkilap tanpa noda. Beberapa bagian yang dijadikan sebagai corak dan ukiran disertai oleh kristal-kristal biru yang mencolok.
Kursi yang disediakan untuk pengemudi dan penumpang pun dibuat dengan serius. Bahan yang digunakan tidak main-main dan sangat mewah. Dengan menggunakan bulu dari Beruang kristal dua element yang langka, memungkinkan kursi ini dapat menjadi hangat di kala dingin dan menjadi dingin di kala panas.
Ren menatap karya pertama dirinya dalam membuat kereta kuda dengan seksama. Memperhatikan segala sudut dengan baik untuk memastikan apakah ada kekurangan atau tidak. Setelah dirasa cukup dan memuaskan, Ren menggangguk seraya tersenyum puas.
"Seseorang yang suka kemencolokkan pasti akan tergila-gila dengan kereta kudaku ini." Ren tersenyum pasrah seraya berbalik kepada kedua bawahannya tadi.
"Eh?" Ren tersentak. "Dimana Nirlayn?"
Hilangnya Nirlayn seorang membuat Ren secara tiba-tiba mengaktifkan Persepsi mana. Persepsi mana itu kemudian diperluas dalam radius beberapa kilometer.
Mana Nirlayn langsung ditemukan dalam jarak kurang lebih satu kilometer dari tempat Ren berada. Sesuatu yang menarik perhatian Ren adalah Nirlayn yang sedang bertarung dengan beberapa Monster lemah disana.
"Yah, kurasa dia akan segera kembali?"
Senyum yang merekah dia perlihatkan pada Ren. Senyum itu terasa sedikit terganggu karena adanya bekas darah yang terciprat diantara pipinya.
"Selamat datang kembali, Ren-sama. Apakah anda lapar?" Nirlayn menunjukan sesuatu yang mirip dengan seekor Rusa.
Tanpa perlu memastikan, Ren sudah dapat menduga apa yang dibawa oleh Nirlayn. Itu adalah monster yang memiliki bentuk dasar dari sebuah Rusa, dengan kata lain, itu bukan sesuatu yang dapat dimakan begitu saja.
'Apa yang ada dalam pikirannya?'
Ren tidak dapat memastikan apakah daging dari seekor monster dapat dimakan atau tidak. Bahkan jika itu bisa dimakan, Ren sudah menduga bagaimana rasanya nanti.
"A-Aku mengerti, Nirlayn. Kau sudah berusaha dengan baik, tapi untuk sekarang aku belum merasakan lapar." Ren berusaha untuk menghindari makanan dari monster sebaik mungkin.
Namun sepertinya takdir tidak berpihak pada Ren kali ini. Nirlayn yang mendengar hal itu malah menganggap bahwa Ren berusaha terlihat kuat di mata para bawahannya.
Dengan sebuah senyuman tulus yang membuat iba, Nirlayn berkata, "Ren-sama, apakah saya tidak berguna ...."
"Uh ... Ahh, ya ampun." Ren memegang kepala karena tidak tahu harus menjawab apa. Tapi pada akhirnya, Ren menyerah dengan semua ini dan berniat menerima apa yang akan menimpanya nanti.
__ADS_1
"Baiklah, " ucap Ren.
Ren menciptakan sebuah wadah penampungan air dalam jumlah yang cukup besar. Kemudian, Ren menggunakan sihir air untuk mengisi penuh wadah penampungan air itu dan berkata, "Bersihkanlah terlebih dahulu. Ah ya, bersihkan dulu dirimu."
Ren langsung meninggalkan Nirlayn yang sedang dipenuhi oleh kesenangan. Berjalan ke arah lain untuk menyadarkan Avrogan dan Arystina yang sedang terlena dalam dunia mereka sendiri.
Ketika menyadarkan Avrogan, Ren menamparkan telapak tangannya ke tubuh Avrogan dengan kekuatan yang cukup. Cukup besar sehingga menghasilkan suara 'Bukk' yang keras dan menyadarkan Avrogan yang seketika terbatuk.
"Kau kenapa?" tanya Ren.
"Uhuk, uhuk ... maafkan saya tuan. Sesaat sebelumnya saya melihat sesuatu yang mengeluarkan kelicikkan luar biasa sehingga membuat saya terjebak di dalamnya," balas Avrogan.
"Aku tidak peduli dengan imajinasimu, Avrogan. Lihatlah disana, itu adalah kereta kuda yang akan kau tarik." Ren menunjuk pada kereta kuda seraya berjalan mendekati Arystina.
"Hm?" Avrogan melirik pada kereta kuda yang berkilauan. "Waaahhh, apa-apaan?!" teriaknya.
Ren mengabaikan Avrogan yang berteriak penuh kesenangan. Apa yang ada dihadapan Ren saat ini adalah Arystina yang mengeluarkan keringat dengan wajah yang pucat.
"Kau terlalu memaksakan diri." Ren menjentikkan jarinya pada dahi Arystina.
Seketika Arystina tersadar dan mengerang kesakitan sambil memegangi dahinya yang terasa sakit.
"A-Auhh ... Yang Mulia, sakit."
"Tidak ada pilihan lain, ini adalah hukuman bagimu karena terlalu memaksakan diri."
Ren tersenyum dan berbicara kembali, "Hentikan itu, aku sudah ada disini."
Arystina menyerah, mengangguk dan menghentikan kemampuan miliknya. Namun begitu dia ingin bergerak, sepertinya tenaga dan kekuatannya telah dikuras habis sehingga membuat dia berjalan sempoyongan.
"Hati-hati, apa kau butuh bantuan?" tanya Ren.
Arystina hanya menatap pada Ren dengan sedikit perasaan kecewa. "Saya tidak apa-apa, Yang Mulia."
"Oh, benarkah?" Ren berbalik seakan tidak peduli.
Namun langkah selanjutnya adalah sesuatu yang tidak terduga, dimana Ren membantu Arystina berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sontak itu membuat Arystina terkejut sekaligus bahagia, dia menatap dengan seksama pada Ren dan bertanya, "Y-Yang Mulia?"
"Lain kali jangan terlalu memaksakan diri," balas Ren singkat.
Setelah semua, Ren berpikir bahwa istirahat di tempat ini untuk sementara waktu juga merupakan pilihan yang bagus. Maka dari itu, Ren membuat beberapa kursi yang dilengkapi oleh sebuah meja menggunakan <>
__ADS_1
Meski apa yang menanti dihadapannya adalah masakan dari Nirlayn yang terbuat dari monster, tapi Ren tidak akan mengeluh sama sekali, karena pada dasarnya dia memang merasa sedikit kelaparan.
'Mencoba sesuatu yang berbahaya, sepertinya menarik juga,' ungkap Ren dalam hati.