Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 126 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral VIII


__ADS_3

Mengetahui bahwa semua penghalang yang melindungi Kota Zarisma berhasil dihancurkan, Udensa dan Vezisa diperintahkan oleh Archangel Draisma untuk melihat keadaan diluar sana.


Keduanya menerima perintah dengan baik. Mereka segera keluar dari ruang pertemuan kemudian terbang ke langit tepat di atas bangunan Temple of Light berada untuk mengamati situasi.


Bagi Udensa yang merupakan seorang peri, terbang bukanlah perkara yang menyulitkan. Kendati demikian, peri masih bukan seekor burung yang mampu terbang bebas tanpa memiliki batasan, dia hanya mampu terbang dengan ketinggian dan kecepatan tertentu saja.


Sedangkan untuk Vezisa yang seorang Elf, seharusnya terbang adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi ras mereka. Namun, karena Vezisa sangat ahli dalam menggunakan sihir angin, dia mampu melakukannya entah bagaimana.


"Bagaimana menurutmu? Penghalangnya benar-benar dihancurkan loh?"


Vezisa memeriksa beberapa kali keberadaan penghalang itu tapi berapa kalipun dia mencoba hasilnya tetap sama. Jika bukan karena Archangel Draisma sendiri yang mengatakan musuh kali ini sangat kuat, Vezisa mungkin tidak akan percaya sedikitpun akan hancurnya penghalang ini.


"Tidak bisa diragukan lagi, kita harus berhati-hati."


Sebagai seorang peri, Udensa mampu membaca aliran mana sekitar menggunakan sayap yang berada dipunggungnya. Dari awal dia memamg menerima sinyal mana yang luar biasa kuat dari arah dimana musuhnya berada.


"Berapa persen kemungkinan kita menang? Lima puluh 'kan?"


"Entahlah, yang penting tidak mungkin kita menang dengan mudah."


Keduanya lantas saling mengangguk satu sama lain, sepakat untuk mendatangi musuh terlebih dahulu. Akan tetapi semua itu dihentikan oleh makhluk hitam yang tiba-tiba muncul di udara kosong.


"Tunggu, Anda sekalian sebaiknya tetap berada disini."


Baik Udensa maupun Vezisa langsung memutarkan kepala mereka untuk melihat makhluk hitam dibelakangnya.


"Apakah ini perintah dari Tuan Draisma, Viltic?" tanya Udensa.


Makhluk hitam itu tidak segera menjawab, melainkan menggerakan lengan untuk menunjuk pada sisi yang akan mereka tuju.


"Ini memang bukan perintah darinya tapi peringatan dari saya. Lagipula, bisa Anda lihat bahwa musuh sedang mendekat?"


Udensa menggerakan matanya untuk melihat dua titik hitam yang ditunjuk Viltic sedang bergerak dikejauhan. Peri tidak memiliki penglihatan yang terlalu bagus, oleh karena itu dia hanya mampu melihat beberapa titik hitam jika itu terlalu jauh.


Vezisa ikut memperhatikan arah yang ditunjuk oleh Viltic sebagai tempat keberadaan musuh. Namun karena dia elf, secara samar dia mampu melihatnya dua kali lebih baik dari Udensa.


"Ada tiga orang ya? Mereka juga terlihat menunggangi sesuatu yang mengancam," ucap Vezisa setelah memperhatikan dengan seksama.


"Anda sudah bisa merasakannya? Dua hewan tunggangan itu adalah [Beast Servant] Legendaris. Wajar jika Anda merasakan ancaman yang besar dari keduanya."


Pernyataan Viltic membuat keduanya memalingkan muka secara intens sambil menampakan wajah yang sedikit terkejut.


"Legendaris, katamu?" tanya Vezisa.


"[Beast Servant] yang super-langka itu?" Udensa pun ikut bertanya.


Keberadaan [Beast Servant] Legendaris bukan hal yang asing lagi di telinga mereka. Organisasi memasukan [Beast Servant] ini ke dalam ancaman sehingga mereka sedikit tidak percaya ketika mendengar ada dua daripadanya.


"Tepat, sebaiknya kalian berhati-hati karena aku tidak bisa menolong kalian secara langsung."


Viltic mengatakannya sebelum menghilang dengan cara yang unik, yaitu keberadaan yang menyebar dan menyatu dengan udara. Tidak hanya sosok, tapi semua hal tentang dirinya benar-benar menghilang dan tidak bisa terdeteksi.


"Dia menghilang seperti biasa. Ah, Udensa, aku ingin melakukan serangan pembuka, bisakkah kau sedikit membantuku?"


Selama Vezisa berbicara, beberapa aliran angin muncul dari udara kosong bagaikan air yang mengalir. Setiap aliran angin yang ada bekerja sama untuk membentuk sebuah busur angin yang indah di tangan Vezisa.


"Wow, berapa kalipun aku melihatnya, busur angin milikmu memang luar biasa, Vezisa!" puji Udensa dengan mata berbinar.


Vezisa tidak menanggapi pujian dari Udensa, hal ini karena dirinya telah mendengar kata-kata yang sama beberapa kali hingga membuat pujian itu sendiri tidak terasa istimewa.


"Busur ini memang istimewa. Dia indah bagaikan sesuatu yang suci tapi ..." Vezisa tersenyum cerah dan meneruskan perkataannya, "Ribuan nyawa telah menjadi persembahan untuknya."


Vezisa menarik tali busur yang terbuat dari benang mana yang saling terikat antara dua lengan busur. Disaat yang sama, mana terkonsentrasi di hadapan busur Vezisa, menciptakan sebuah peluru angin tak sempurna yang semakin menyempurnakan diri setiap saatnya.


Vezisa mengarahkan busur itu tepat pada musuh yang semakin mendekat seraya menghimpun mana agar serangan yang dihasilkan memiliki kekuatan yang lebih besar lagi.


"Inilah saatnya ... Udensa, gunakanlah sesuatu yang bisa melindungi seranganku ini."


Udensa sedikit tidak mengerti maksud dari tindakan yang dilakukan Vezisa. Namun, dia enggan untuk memikirkannya, cukup lakukan karena itu tidak merepotkan adalah hal yang dia pikirkan.

__ADS_1


"[<>]!"


Tidak ada hal yang terlalu istimewa setelah Udensa mengatakan nama dari teknik yang dia gunakan. Hanya ada kejadian biasa seperti lingkaran sihir kecil berwarna biru tercipta kemudian mengeluarkan air yang segera membaluti panah angin milik Vezisa.


"Hei, kau yakin ini akan berguna?" tanya Vezisa ragu.


Keraguan Vezisa membuat Udensa mendengus kesal sekali, merasa tidak terima bahwa sihir yang dia gunakan itu diremehkan.


"Jangan remehkan aku, sihir yang baru saja aku gunakan bisa menangkal nafas dari para kadal besar!" seru Udensa dengan angkuh.


Udensa tidak berdusta, sihir yang baru saja dia gunakan dapat menangkal nafas dari para naga biasa. Hal ini dikarenakan satu Dragon Breath dari naga biasa setara dengan sihir api tingkat menengah.


"Tidak ada pilihan lain, aku akan mempercayaimu."


Vezisa melepaskan genggaman, melancarkan panah angin spiral yang diperkuat oleh sihir air milik Udensa. Panah angin spiral itu bergerak sangat cepat mengarah kepada target seolah-olah memiliki kesadarannya sendiri.


Beberapa saat setelah dilancarkan, dan beberapa detik sebelum mengenai sosok yang ditargetkan, panah angin tiba-tiba dihadapkan dengan gelombang api besar yang menyerupai nafas naga.


Gelombang api itu berukuran besar hingga sesaat membuat kita berpikir bahwa panah angin sekecil itu pasti akan binasa. Namun sebaliknya, pelindung sihir air yang diberikan oleh Udensa memang mampu menangkalnya.


Keberhasilan sihirnya yang menangkal gelombang api membuat Udensa membusungkan dada dengan percaya diri. Dia pun mulai berkata-kata untuk menyombongkan diri.


"Lihat! Sudah kubilang itu mampu menangkalnya!"


Akan tetapi, kesombongan Udensa tidak berlangsung lama. Hal itu karena panah angin milik Vezisa pada akhirnya dihancurkan oleh sesuatu yang tidak terlihat.


"Tadi, apa yang kau katakan?" tanya Vezisa sambil memalingkan muka perlahan dengan senyuman.


"Ah, itu bukan salahku, bahkan sihir airku tidak memiliki pertahanan mutlak tahu?"


Sebelum Vezisa mampu meneruskan protesnya terhadap Udensa, satu cahaya merah melesat dengan kecepatan tinggi yang dengan tanpa sopan dan santunnya langsung menebas mereka berdua.


__________________________________________


Ren mengarahkan jari telunjuknya agar menghadap ke panah angin yang datang dengan kecepatan tinggi.


Gumaman Ren merupakan awal dari munculnya sebuah lingkaran sihir kecil berwarna merah di ujung jari telunjuknya. Secara bertahap, lingkaran sihir itu menyerap mana darinya untuk dikonversikan menjadi sebuah serangan api yang akan muncul selanjutnya.


Beberapa detik setelah itu, gelombang api besar yang sama persis dengan apa yang disebut dengan nafas naga muncul dan bergerak ke arah datangnya panah angin.


Kedua serangan yang hampir bertolak belakang itu bertemu, dan saling menghancurkan. Gelombang api raksasa yang luar biasa panas melahap panah angin yang dibaluti oleh sedikit air.


Seharusnya, ini adalah kasus dimana gelombang api yang akan keluar sebagai pemenang. Akan tetapi, sihir adalah sesuatu yang tidak terduga, yang dapat dengan mudah membalikkan fakta.


"Tuan, itu menembus!" seru Avrogan.


Seperti yang dikatakan oleh Avrogan, panah angin yang dibaluti oleh sedikit air itu berhasil menembus gelombang api, bahkan memusnahkannya.


Jika bukan karena dunia fantasy, Ren pasti akan mempertanyakan kewarasan dari kejadian kali ini.


"Tidak apa, ini masih dibawah harapanku!"


Ren memanggil sembilan lapisan multi-barrier versi dirinya sendiri dalam sebuah garis lurus di antara jaraknya yang tersisa dengan panah angin.


Apabila harus dipertanyakan, mengapa Ren membuat sembilan daripada mereka maka jawabannya cukup sederhana, dia ingin menguji seberapa tangguh serangan itu.


Panah angin itu mengenai multi-barrier yang pertama, menghilangkan air yang membalutinya. Ketika itu mengenai multi-barrier yang kedua, semua hal tentang serangan itu musnah seketika.


Betapa terkejutnya Ren, saat mengetahui fakta bahwa serangan itu terlampau jauh mengecewakan ekspektasinya.


"Aah ... sial!" teriak Ren tiba-tiba.


Perilaku Ren yang mengejutkan membuat seluruh bawahannya menatap dengan heran. Avrogan dengan tatapan yang penasaran, Indacrus dengan tatapan bertanya-tanya, Nirlayn dengan tatapan khawatir, dan Arystina dengan tatapan bingung.


Dengan cara yang tidak diketahui, mereka semua berteriak untuk menanyakan hal yang sama.


"Ada apa, Tuan?!"


Nirlayn yang biasa memanggil dengan sebutan Ren-sama bahkan menggunakan tuan untuk bertanya. Arystina pun melakukan hal yang sama, dia lupa untuk memanggil Ren dengan sebutan Yang Mulia.

__ADS_1


"Eh?" Ren bingung.


Ren tidak menyangka bahwa umpatan yang muncul secara tidak sengaja itu membuat para bawahannya terkejut sedemikian rupa.


"Tidak apa, tidak apa." Ren mengibaskan lengan sambil tersenyum canggung.


"Keh, aku hanya sedikit kecewa dengan serangan itu yang terlalu lemah," dengus Ren kesal.


Mereka tidak mengerti. Semuanya menatap dengan tatapan kosong ke arah Ren karena tidak menyangka alasan dari semua ini hanya kekecewaan semata.


Ren tidak menganggap tatapan mereka berarti. Dia bukan kesal karena serangan itu lemah, melainkan kesal karena musuhnya meremehkan dia sampai mengirim sesuatu selemah itu.


"Aku akan pergi, kalian menyusul."


Ren melepaskan diri dari Avrogan dengan cara melompat, sebelum kehilangan momentumnya di udara, dia menciptakan sepasang sayap yang membuatnya tetap terbang tanpa terjatuh. Sayap itu mengepak sekali, dan itu sudah cukup untuk mendorong Ren agar melesat sangat cepat mendekati musuh.


Seraya melesat, Ren mengaktifkan persepsi mana demi keamanan andaikan dirinya akan diserang dari belakang.


"Jadi kalian wanita ya? Pantas saja kalian meremehkanku!"


Ren menciptakan Blood Sword di tangannya. Kemudian dia menghimpun tenaga untuk melakukan tebasan kilat ke arah dua wanita yang sudah menjadi targetnya.


Dalam satu detik, Ren melakukan tebasan horizontal sesaat sebelum dia mencapai kedua sosok wanita itu. Ketika melakukan serangan, Ren hanya terlihat seperti sebatas cahaya yang bergerak melintasi dua sosok wanita, tapi kenyataan tidak seperti itu.


Blood Sword dengan mulus membelah dua sosok wanita itu menjadi dua bagian yang terpisah. Namun karena mereka adalah musuh yang berpotensi, Ren yakin mereka tidak akan mati semudah itu.


"Selamat sore, para wanita."


Ren yang diam setelah melakukan tebasan sedikit menoleh ke arah belakangnya. Matanya yang bercahay merah menunjukan ketertarikan akan kekuatan yang dimiliki oleh musuh.


Perlahan, Ren memutar seluruh anggota tubuhnya menggunakan sedikit dorongan yang dilakukan oleh sayap kanan untuk menghadapi mereka secara penuh.


Ketika Ren berbalik, dia disambut oleh dua potongan tubuh yang masih mengambang di udara. Anehnya, tidak ada sedikitpun darah yang muncul dari dua tubuh tersebut. Dua tubuh yang terbelah itu kemudian berubah menjadi air yang mengucur dan angin yang menghilang di udara.


"Are, laki-laki yang satu ini sangat disayangkan cukup kasar bukan?"


Seorang wanita elf muncul seolah tercipta dari angin yang mengalir di udara. Dia menggenggam sebuah busur angin yang indah di tangannya.


"Uhu, padahal dia memiliki tampang yang sangat baik tapi tidak kusangka perilakunya cukup kasar."


Ren tidak mengetahui darimana sebuah gelembung air itu muncul. Sesuatu yang jelas adalah gelembung itu yang berubah menjadi sosok wanita bersayap peri yang memiliki tubuh relatif kecil.


Keduanya berhasil menghindari tebasan super cepat dari seorang Anryzel Dirvaren tanpa terluka sedikitpun. Hal ini membuktikan bahwa mereka layak untuk dijadikan sebagai lawan.


"Aku hanya lembut pada seseorang yang dekat denganku. Kalian adalah musuh dan juga wanita, bagaimana aku bisa bersikap lembut karenanya?"


Senyum Ren melayang dengan mempesona, seolah tidak memiliki beban pikiran ketika menyatakan perasaan yang sebenarnya.


Disaat yang bersamaan, satu tombak cahaya raksasa muncul di belakang Ren dalam sekejap mata. Secara seketika tombak cahaya itu melesat dan menjadikan sosok Ren sebagai targetnya.


Vezisa dan Udensa menampilkan senyum kemenangan seolah-olah takdir kematian telah diputuskan untuk menimpa Ren. Tidak ada perasaan lain selain kasihan yang murni muncul dalam hati Ren.


"Meskipun itu terbuat dari cahaya, tapi tidak secepat cahaya."


Sosok Ren berpindah tempat begitu saja. Dia berhasil menghindari serangan satu arah dari tombak cahaya yang melintasinya.


Tombak cahaya itu melesat dan menabrak danau, menghasilkan ledakan besar yang tidak bisa dikira bahwa itu hanya berasal dari sebuah tombak raksasa.


Vezisa dan Udensa mendecak kesal karena kecewa. Meski Archangel Draisma telah mengatakan bahwa serangan ini akan gagal sebelumnya, tapi mereka tidak benar-benar mengira itu akan terjadi.


"Tiga orang melawan satu memang yang terbaik. Dimana lagi aku bisa menemukan sesuatu semacam ini?" ucap Ren dipenuhi dengan kebahagiaan.


Apakah dia seorang masokis atau maniak pertempuran, tidak ada yang tahu. Baik Vezisa maupun Udensa tidak peduli akan hal itu.


Mereka berdua hanya akan, melakukan serangan habis-habisan dan membunuh ancaman. Kegagalan bukanlah pilihan untuk mereka berdua.


______________


Kalau kacau maaf ya, serius udah lupa :v

__ADS_1


__ADS_2