Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 151 : Nasib Lorei Zonio


__ADS_3

Tubuhnya meluncur dengan mulus melewati celah yang terbentuk di antara pecahan kaca, lalu dia mendarat di atas tanah dengan sempurna. Tampak di penglihatan, sosok Lorei Zonio telah bangkit berdiri sambil menatap penuh kebencian padanya.


"Apa yang kau lakukan sialan! Beraninya kau mempermalukan ku?!" geram Lorei dengan suara tinggi.


Ren tidak merespon dengan kata-kata melainkan mendekatinya secara bertahap. Seringai licik muncul bersama dengan pedang yang sengaja ia hunuskan agar Lorei melihatnya dengan jelas.


Sangat disayangkan bahwa dua orang pengawal yang bersama Lorei mengikutinya, mereka melompat dari jendela lalu berlari mendekat kepada Lorei dan membentuk penjagaan di kedua sisi depan Lorei.


Ren tidak berniat menghentikan langkahnya, tapi dia melihat pemandangan menarik sehingga memutuskan untuk menonton terlebih dahulu.


Lorei menggemertakkan gigi.


Lorei menghempaskan aura yang dibentuk oleh mana. Aura itu memiliki warna hijau yang tampak seperti asap beracun melayang-layang dan melapisi seluruh bagian tubuh.


"Kalian minggir! Aku tidak butuh bantuan orang-orang lemah."


Lorei memberikan perintah yang secara langsung menghina kedua pengawal itu dengan mengatakan mereka lemah. Terlihat para pengawal itu sedikit tidak terima, tapi mereka memang lebih lemah daripada Lorei sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.


Mereka berdua dengan patuh menyingkir untuk memberikan jalan kepada Lorei sambil mengepalkan tangan. Sikap yang bisa sangat masuk akal mengingat Lorei telah menghina langsung keduanya.


Seharusnya, di antara pemain yang ada di Kekaisaran Lodysna, Lorei adalah yang terkuat setelah [The Four Sovereigns] karena menduduki peringkat ke-enam bukan?


"Mata merah sialan. Aku ingin lihat bagaimana cara kau mengalahkan aku tanpa serangan pengecut seperti tadi?"


Lorei sepertinya masih menyimpan dendam besar akibat serangan mendadak yang mempermalukannya. Bagaimana tidak, dihadapan seorang raja dan utusan lain, Lorei yang telah bersikap sombong dihajar begitu saja seolah tidak memiliki harga diri. Itulah mengapa Lorei tidak terima dan mengatakan kalau Ren adalah seorang pengecut.


Namun dari sudut pandang Ren, serangan mendadak semacam itu tidak mencerminkan sikap pengecut. Kalian tahu? Ini adalah pertempuran, tidak ada yang namanya aturan tentang apapun yang kau lakukan.


Oleh karena itulah, Ren menganggap segala macam bentuk hinaan yang dilontarkan padanya seperti angin lalu belaka, dan dia malah memprovokasi balik Lorei yang sedang marah.


"Hei, benarkah kau itu seorang budak?" tanya Ren sambil berpura-pura menahan tawa.


Alhasil perbuatannya itu menarik kesabaran Lorei yang tersisa keluar. Lorei dengan muka penuh amarah dan aura yang menggebu-gebu, menerjang cepat ke arah depan.


Sekali lagi, Ren tidak menanggapinya dengan serius. Dia merentangkan lengan ke depan sambil menggelengkan kepala dan berkata, "Tunggu."


Lorei seharusnya bisa mengabaikan hal itu, namun entah mengapa dia cukup bodoh untuk berpikir bahwa kata-kata itu adalah jebakan.


"Sial! Apa kau ingin menggunakan cara pengecut lainnya huh?!"


Ren tersenyum prihatin.


Bagaimanapun, Lorei ternyata begitu bodoh sehingga bisa tertipu oleh sesuatu yang tidak dimaksudkan untuk menipu. Tapi setidaknya itu merupakan kabar baik untuk Ren yang menginginkan kondisi tertentu.


"Tidak ada, mengapa kau berhenti menyerang?"


KRAK!


Seluruh tubuh Lorei bergetar dipenuhi kemurkaan. Pertama dia telah diserang tiba-tiba hingga membuatnya malu, dan sekarang dirinya tertipu serta dipermalukan untuk kedua kalinya.


"Dasar kau bajingan! Beraninya kau menipuku?!"


Jika sebelumnya Lorei marah biasa, maka sekarang dirinya sudah memasuki tahap kemarahan yang luar biasa. Bahkan kemarahan dan kekesalan itu hampir membuatnya gila dan kehilangan kendali.


Aura yang terbentuk dari Mana berwarna hijau kini telah meluas sampai ukuran yang cukup besar. Mungkin terlihat seperti raksasa hijau yang tidak memiliki bentuk pasti jika diibaratkan secara garis besar dan kasar.


"Oh? Aku sudah penasaran dari awal, sebenarnya apa Job-mu itu?"


Dari karakteristik Mana yang dilepaskan sangat mirip dengan magus yang memfokuskan diri terhadap sihir racun atau semacamnya, tapi menilai dari perilaku Lorei yang menerjang dan memperpendak jarak di antara mereka, Lorei bukanlah seorang magus sejati.


Rasa penasaran Ren akhirnya terpenuhi setelah Lorei memperlihatkan senjata yang dimilikinya. Bagaimanapun, senjata itu adalah sebuah cakar yang terdiri dari tiga bilah dan terdapat di kedua tangannya.


Jenis senjata macam ini mengingatkan Ren pada suatu film masa lampau tertentu, dan bahkan hingga masa sekarang penggunaan senjata cakar semacam itu sempat menjadi tren sesaat dalam game Cothenic.


Job ini dinamakan dengan <> yang merupakan alternatif bagi ras selain demi-human yang menginginkan bentuk serupa ketika demi-human memasuki <> mereka.


"Sudah cukup basa-basinya. Aku akan menghancurkanmu! Tidak, aku akan menyiksamu, mencabik-cabik dirimu, dan menikmati setiap detik keputusasaan yang akan kau tunjukkan!"

__ADS_1


Lorei melangkah.


Setiap kali kakinya melangkah itu akan meninggalkan bekas berupa lubang berbentuk kaki yang ditimbulkan akibat tekanan berkekuatan tinggi. Rumput yang ada di sekitar mereka layu, dan beberapa orang yang menghirup udara yang telah terkontaminasi aura Lorei pingsan akibat keracunan, termasuk kedua pengawal yang bersama Lorei.


"Magus yang ahli dalam racun ya? Hm, jika begitu maka tidak salah lagi dia memiliki Job langka <>?"


Meskipun Job itu sendiri termasuk kategori langka, tapi Ren tidak memandangnya spesial sama sekali. Banyak kekurangan yang menyertainya dan menggunakan racun untuk melawan musuh adalah cara yang tidak menyenangkan.


"Ya ampun, maaf aku terlalu lama berpikir dan hampir melupakanmu."


Ren mengambil ancang-ancang lalu melemparkan pedang milik Nivania ke atas langit. Pedang itu melesat dengan kecepatan tinggi serta berhasil mengalihkan perhatian Lorei untuk melihatnya.


Namun Lorei dengan cepat mengingat bahwa orang itu adalah seorang pengecut yang bahkan menggunakan sesuatu untuk menyerang diam-diam. Lorei lantas mengalihkan kembali perhatiannya tetapi yang dia dapatkan adalah sosok Ren yang telah melompat tinggi mengikuti ke mana arah pedang melesat dan menghilang.


"Grrrghh ... bahkan sekarang kau berniat melarikan diri?!"


Lorei langsung mengikuti Ren dengan kecepatan tinggi. Karena dia mampu menggunakan beberapa sihir termasuk sihir angin, tidak sulit baginya untuk menyusul Ren yang sedang meluncur di udara.


"Tunggu! Jangan lari kau dasar brengsek pengecut!!"


Keduanya pergi dengan kecepatan tinggi menuju pinggiran kota, kemudian memasuki kawasan Hutan Loudeas. Kemarahan yang dirasakan oleh Lorei membuatnya tidak sadar bahwa Ren memang sengaja menariknya menjauhi kawasan Kota Aulzania.


Ketika mereka tiba di atas hutan yang luas, Ren berhenti untuk memunculkan sayap merah di punggungnya. Kini dia melayang di udara, tidak lagi meluncur seperti tadi seolah melarikan diri.


Lorei pun ikut melayang di udara dengan memanipulasi angin menggunakan sihir yang dia ketahui. Amarahnya masih menggebu-gebu, dan bahkan saat melihat Ren sudah diam dia langsung menyerang.


"Poisonous Meteor."


Lorei memanggil sekumpulan batu raksasa yang dibaluti oleh kabut hijau menjijikan dari langit. Meteor itu membelah awan dan mengalami gesekkan dengan atmosfer sehingga meteor yang awalnya hanya berisi kabut racun kini disertai oleh api yang membara.


Menilai dari kekuatan destruktif yang akan dihasilkan oleh ledakkan meteor, maka sihir ini bisa diklasifikasikan sebagai sihir tingkat tinggi, atau bahkan menembus hingga tingkat divine.


"Heh, apa kau yakin ingin beradu kekuatan sihir denganku?'


Ren merentangkan lengan ke atas langit. Lalu perlahan tanah bergetar, menggoncangkan apapun yang ada di sekitarnya. Tanah hutan yang ditumbuhi oleh pepohonan mencuat ke atas langit membentuk sebuah perisai super besar yang menahan seluruh meteor yang ada.


"Bagaimana? Apa kau su- ... eh?"


Lorei tampaknya menyadari serangan meteor itu akan sia-sia. Oleh karena itu sebelum perhatian Ren kembali sepenuhnya dia telah menyerang dengan kecepatan penuh.


"Mati kau sialan!"


CLANK!


Serangan super cepat yang dilancarkan oleh Lorei berhasil ditangkis. Akan tetapi kegagalan itu tidak menyurutkan semangat Lorei dalam menyerang dengan kecepatan penuh.


Faktanya mereka yang menggunakan cakar sebagai senjata utama akan menggunggulkan status dasar berupa stamina dan kecepatan di atas yang lain. Dan karena Lorei memiliki Job magus, maka yang selanjutnya dia unggulkan sudah pastilah jumlah mana.


Dengan kenyataan itu, Lorei memang memiliki kecepatan, stamina, dan mana dalam jumlah banyak tetapi sangat kurang dalam hal kekuatan. Itulah mengapa saat Ren mampu mengimbangi kecepatan dan stamina yang dimilikinya, Lorei merasa tidak percaya dan tidak terima.


"Bagaimana, bagaimana bisa ini terjadi! Kau seharusnya seorang swordsman kelas rendahan, dan memiliki sedikit kemampuan magus, tapi kenapa ...?"


Padahal dari awal, Lorei merasa dirinya lebih kuat dalam hal apapun. Jika dia tidak diserang tanpa peringatan tidak mungkin dirinya mengalami hal yang memalukan.


"ARRRRGHHH!" Lorei meraung hebat.


Lorei kemudian menggunakan kembali <> yang telah ditumpuk sebanyak lima kali. Hasilnya puluhan meteor raksasa membelah langit dan membuat getaran yang sangat hebat bagi daratan.


Tidak sampai di sana, Lorei masih menyerang Ren agar dirinya tidak mampu menahan meteornya menggunakan sihir tanah itu lagi. Lorei sudah tidak peduli, bahkan jika dirinya mati dia harus membawa orang itu mati bersama dengannya.


Namun-


Ren hanya tersenyum sambil berkata, "Jangan hanya menambah jumlah meteor itu karena ...."


Ren memasukkan pedang Nivania ke dalam inventory lalu menggunakan Blood Art untuk meniru Pedang Nuxuria. Semua itu dilakukan dalam waktu yang sangat cepat, sebanding dengan jeda serangan yang dilakukan oleh Lorei yang berspesialisasi dalam kecepatan.


Setelah mementalkan serangan Lorei dan membuatnya sedikit menjauh. Ren menggunakan tebasan sebanyak puluhan kali yang dipenuhi oleh kekuatan sejati dari Job Divine Swordsman.

__ADS_1


Setelah melakukan itu dia masih tersenyum dan melanjutkan kata-katanya, "Ya, itu karena pedangku bisa memotongnya."


BOOM! BOOM! BOOM!


Meteor meledak bahkan sebelum itu mencapai daratan. Ledakan itu berbeda dengan suatu ledakan yang menghasilkan api, tapi ledakan itu mengiris semua meteor hingga bentuk terkecil dan memecahnya menjadi debu.


Lorei tertegun dengan pemandangan itu sambil meneguk ludah beberapa kali. Mukanya pucat dan berkeringat, tidak mampu berkata apapun lagi.


"Tidak, tidak ... aku akan kalah di tempat semacam ini? Tidak mungkin!" pikir Lorei dalam hati.


Lorei menyangkal penglihatannya, itu pasti salah. Tidak mungkin pemain sekuat itu ada di Kerajaan Aulzania karena semua pemain puncak berada di Kekaisaran Lodysna, kecuali ....


"Mustahil ... dia pasti bukan orang itu."


Lorei mengumpulkan semua keberanian untuk menyangkal apapun yang dilihatnya barusan. Konsentrasi mana meningkat tajam, sebuah pertanda bahwa Lorei akan menggunakan sesuatu yang berbahaya.


"Kali ini kau akan mati ... tidak peduli sekuat apapun kemampuan berpedangmu, kau tidak akan bisa menghindari racunku! Poison Field!"


Lingkaran sihir yang sangat besar muncul di bawah mereka berdua. Lingkaran sihir itu berdiameter beberapa ratus meter dan berwarna hijau seperti racun yang dimiliki oleh Lorei.


Tidak lama, sesuatu yang benar-benar buruk terjadi. Lingkaran sihir itu menghasilkan kabut racun yang merembes ke seluruh hutan, dan menyebar ke segala arah termasuk udara di mana mereka berada.


Ren pada awalnya tenang dan percaya diri, sebuah racun tidak mungkin akan melumpuhkannya begitu saja. Akan tetapi, saat melihat racun itu membinasakan tumbuhan hijau yang berharga, membusukkan tanah yang suci, dan menyebar ke segala arah sehingga memungkinkan Kota Aulzania masuk ke dalam area penyebarannya, dia menjadi emosi.


"Sungguh ... tidak bisa dimaafkan."


Tidak ada yang perlu dipikirkan lagi. Meski beberapa orang akan menyadari keberadaannya, atau mendeteksi kekuatannya, tapi itu tidak harus dipikirkan untuk sekarang. Keselamatan alam, dan nyawa orang-orang lebih berharga daripada rahasia yang dia sembunyikan.


Segala pengekang yang membatasi kekuatan Ren telah dilepaskan. Aura yang dihasilkan oleh Mana yang tak terbendung lagi menciptakan sebuah pilar cahaya merah dari langit menembus hingga daratan dengan Ren sebagai pusatnya.


Tentu ini merupakan tingkatan yang sangat berbeda dalam pembentukan aura, dibandingkan Lorei yang sebatas menciptakan aura berbentuk raksasa perbedaannya bagaikan langit dan bumi.


Setelah melepaskan semua kekuatan, Ren merasa dirinya telah berkembang cukup pesat. Mana yang dia miliki bahkan telah bertambah sebanyak dua kali lipat sehingga pembentukan auranya jelas berbeda dari terakhir kali.


Melihat Lorei dari kejauhan yang tampak terkejut, Ren mendeklarasikan sesuatu melalui ucapannya, "Karena kau begitu mengagungkan peringkat ke-enam milikmu. Maka izinkan aku menyombongkan diri ... perkenalkan, aku adalah R.Styx yang menduduki peringkat satu. Bagaimanapun, kesombonganmu itu ditunjukkan kepada orang yang salah."


Menggunakan Mana yang melimpah, Ren membuat penghalang berbentuk kubah yang meliputi semua area yang telah terkontaminasi oleh racun. Penghalang itu membatasi area yang telah hancur dengan area yang masih utuh agar racun tidak menyebar lebih jauh.


Penghalang itu kemudian mengecil dan menekan racun sampai mereka berkumpul menjadi satu gumpalan kabut dalam bola kecil transparan. Ren lalu mengambil bola yang sebenarnya sihir penghalang itu di tangannya.


Gumpalan kabut racun yang terdapat dalam bola terlihat sangat pekat dan terkonsentrasi sehingga tidak ada celah bagi mata untuk menembus dan melihat apapun yang ada dibaliknya.


Racun inilah yang sudah menyebabkan kerusakan alam. Hanya memikirkan hal itu membuat Ren kesal dan mengepalkan tangan. Ren lalu mempehatikan sekitarnya, dan mendapati apapun yang terkena racun telah membusuk dan tidak mungkin bagi tanaman untuk tumbuh kembali di tanah yang membusuk itu.


"Tch, inilah mengapa aku membenci racun," decak Ren kesal.


Adapun Lorei ... dia tidak bisa berbuat apapun. Ketika mendengar bahwa musuhnya adalah sang nomer satu, tidak ada perasaan apapun selain inferioritas, dan dia sudah menyerah. Tidak mungkin, tidak mungkin dia mengalahkan sang nomer satu yang sangat abnormal.


Lorei menghilangkan semua permusuhannya dan berniat menyerahkan diri. Tidak ada pilihan yang lebih baik selain menyerah, dengan begitu mungkin dirinya akan dibiarkan hidup?


Akan tetapi-


Ren sudah melesat dan berhenti di hadapan Lorei, dia lalu mengarahkan bola yang berisi racun berbentuk kelereng itu ke mulut Lorei sehingga Lorei tanpa sengaja menelannya.


"Heheheh, aku tahu apa yang kau pikirkan. Menyerah bukan? Ingin hidup 'kan? Sayang sekali, dari awal aku sudah mengatakan ingin membunuhmu."


Lorei terbatuk-batuk dan berusaha mengeluarkan racun yang ditelannya. Lorei sangat tahu, meski dia kebal terhadap racunnya sendiri tapi kekebalan itu memiliki batas tertentu. Jika semua racun yang terlampau banyak diserapnya maka kekebalan itu tidak akan berarti.


"Guhk, guhk! A-aku ... ampuni ... guhk, aku!"


Lorei putus asa meminta ampunan.


"Teruslah memohon layaknya seekor anjing. Ketika kau melakukan itu, maka saatnya aku menikmati pertunjukkan yang menarik."


BLUKK!


Terdengar sebuah ledakkan kecil yang berasal dari perut Lorei. Itu adalah ledakkan kecil yang disebabkan oleh hancurnya penghalang yang membatasi racun dalam tubuh Lorei sehingga saat ini, racun itu mulai menggerogoti tubuh Lorei.

__ADS_1


Untuk mencegah meluasnya racun, Ren memasang penghalang di sekitar tubuh Lorei dan membawa Lorei ke daratan untuk menyaksikannya membusuk sedikit demi sedikit, tersiksa secara perlahan, dan akhirnya mengalami keputusasaan di mana dia akan lebih memilih mati daripada terus hidup.


__ADS_2