Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 120 ~ Kekacauan Kerajaan Suci Sancteral II


__ADS_3

Temple of Earth mengalami kerusakan yang parah pada bagian atas bangunan, tepatnya kerusakan itu berpusat pada ruangan paling penting yaitu Aula Dewa Augsnel. Sebuah tempat dimana terjadinya pertempuran antara Augsnel melawan Blood Devil.


Kehancuran ini membuat seluruh penduduk yang melihatnya merasakan panik karena Temple of Earth yang merupakan simbol kesucian dan perlindungan untuk mereka semua telah diserang.


Para penduduk itu berkumpul di sekitaran bangunan, mereka berkumpul di sana karena berbagai macam alasan. Sebagian besar dari mereka berkumpul untuk berdoa, dan sebagian kecil hanya ingin melihat atau memastikan kebenaran.


Dalam suasana seperti ini, seharusnya Great Bishop muncul untuk menenangkan mereka semua. Memberi sebuah kalimat agar penduduk percaya dan tidak merasa khawatir karena dewa ada bersama dengan mereka.


Namun kali ini, Great Bishop tidak menampakan keberadaan-nya. Hal itu secara tidak langsung menimbulkan sebuah pertanyaan dalam hati, apakah Great Bishop itu sendiri masih selamat?


Augsnel tidak mempedulikan hal lain, termasuk keadaan Kota Soliedavosa yang kacau. Apakah para penduduk berdoa, atau malah meragukan kepercayaan mereka, Augsnel tidak peduli lagi.


Perasaan murka yang disebabkan oleh terinjaknya harga diri memenuhi setiap inci dari dirinya. Dendam karena dikalahkan oleh seseorang yang dia remehkan itu sangat besar dan berhasil membuatnya melupakan apapun termasuk ketakutan.


"Sial! Sial! Sial! Beraninya dia ...!"


Ruangan yang ditempati oleh Augsnel seperti sebuah kapal yang pecah. Kerusakan ada dimana-mana, benda-benda berserakan, dan itu terlihat sangat mengerikan.


"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya, Tuan Augsnel?"


Itu adalah makhluk hitam aneh yang bertanya. Makhluk itu memiliki tubuh yang sangat ramping tapi dengan tinggi yang luar biasa hingga hampir menyentuh langit-langit dari ruangan.


Tidak ada kata lain yang mampu menggambarkan secara singkat dari makhluk aneh ini selain hitam. Mungkin hanya kedua mata dan mulutnya yang memiliki warna berbeda?


Augsnel yang sedang merasakan kemarahan terpaksa harus menahan amarahnya. Dia mendengus sekali sebelum memberitahukan langkah selanjutnya dengan perasaan kesal.


"Aku tidak peduli, dia harus menerima akibat dari perbuatannya karena telah merendahkan seorang malaikat." Augsnel mengepalkan tangannya dengan kuat, seraya kembali berbicara, "Beritahukanlah informasi ini kepada mereka semua, ini memang memalukan tapi aku tidak mungkin menang melawan-nya seorang diri."


Menanggapi ini, makhluk hitam itu seolah tersenyum mengerikan. Namun itu segera hilang saat Augsnel menoleh ke arahnya karena merasa aneh.


"Baiklah, saya akan segera menyampaikan informasi ini. Lalu, bagaimana dengan semua hama yang berada di luar sana?"


Augsnel melirik pada jendela sesaat, dan dengan tidak peduli dia menjawab, "Biarkan mereka, aku sudah tidak peduli."


"Oh, tidak bisa begitu, Tuan Augsnel. Para hama itu akan berguna nantinya, jadi saya berharap Anda menenangkan mereka."


Makhluk hitam itu menggunakan sedikit penekanan dalam kata-katanya. Bahkan Augsnel merasa sediki terintimidasi oleh penekanan kata-kata dari makhluk hitam itu.


"Aku tahu itu, sebaiknya kau segera memberikan informasi ini pada mereka," ucap Augsnel seraya menyembunyikan kenyataan kalau dia merasa tertekan.


"Saya akan segera pergi, Anda tidak perlu khawatir soal penyampaian informasi. Tidak akan membutuhkan waktu lama sampai mereka semua mendengarnya."


Makhluk hitam itu berbalik untuk bergerak ke arah dimana jendela berada. Langkahnya ringan dan tidak bersuara, seolah dia berjalan dengan cara melayang.

__ADS_1


"Tunggu, Viltic." Augsnel menghentikan makhluk hitam itu yang akan segera pergi.


"Ada apa lagi, Tuan Augsnel?" balas makhluk itu tanpa menoleh.


"Senjata yang dia gunakan, sangat mengerikan. Tidakkah kau mengetahui sesuatu tentangnya?"


Makhluk hitam itu terdiam, beberapa saat kemudian dia berjalan kembali. Kelakuannya ini membuat Augsnel mengerutkan dahi karena merasa dirinya diabaikan. Tapi sebelum makhluk itu benar-benar pergi, dia mengatakan sesuatu.


"Saya tidak yakin tapi ada satu senjata yang mirip dengan senjata yang orang itu miliki. Namun Anda jangan salah sangka, senjata yang saya maksud itu lebih luar biasa dan tidak bisa dibandingkan dengan miliknya."


"Kau serius?" tanya Augsnel.


"Saya tidak memiliki alasan untuk berbohong. Senjata itu sangat kuat sampai-sampai keberadaan-nya sendiri bagaikan bencana, dan itu hanya dimiliki oleh ... seseorang."


Sosok makhluk hitam itu menghilang secara perlahan-lahan, bagaikan sebuah ilusi yang tergantikan oleh kenyataan. Pernyataan dari makhluk hitam itu sebelum dia pergi, sangat sulit untuk Augsnel mempercayainya.


"A-aku tidak percaya ini, sialan!"


Augsnel berpikir, dia tidak mungkin bisa dikalahkan jika Blood Devil itu tidak memiliki senjata yang mengerikan. Lalu, ada sesuatu yang lebih mengerikan dari senjata yang dia miliki? Augsnel tidak bisa menerimanya!


"Tunggu saja ... aku akan membalasmu!" Kedua mata Augsnel dipenuhi oleh api kemarahan dan dendam.


____________________________________________


____________________________________________


"Hoamm ..."


Seseorang menguap dengan santai seraya duduk pada sebuah kursi yang nyaman di atas kereta kuda.


"Ini cukup mengejutkan mengetahui bahwa Anda juga dapat menguap seperti itu, Tuan."


Avrogan memberikan komentar yang cukup menyindir seolah Ren bukan manusia. Tidak, dia memang bukan manusia di dunia ini tapi setidaknya dia pernah menjadi seorang manusia di bumi.


"Yah, suasana yang menenangkan dan nyaman seperti ini dengan sendirinya memunculkan hal itu."


Avrogan menoleh untuk menatap tuannya dengan perasaan heran. "Tidak, ini kasus istimewa karena saya belum pernah melihat Anda seperti ini sebelumnya."


"Ah, benarkah? Bahkan ketika aku bersantai?"


"Ya, Anda selalu bersantai dengan wajah serius sebelumnya."


"Hm, mungkin karena aku terlalu memikirkan semuanya? Sekarang aku sedang melepaskan itu semua, tidak memikirkan apapun dan menikmati suasana."

__ADS_1


Malam yang tenang, angin dingin yang berhembus kecil, suara dari hewan-hewan yang ada di hutan, langit berbintang dan yang paling utama adalah tidak adanya konflik apapun.


Jarang sekali Ren menikmati suasana damai dan nyaman seperti ini. Meskipun dia telah mengalami suasana yang serupa beberapa kali tapi saat itu dia tidak benar-benar menikmatinya.


"Saya mengerti, Anda memang membutuhkan istirahat."


Avrogan, seorang Beast Servant Legendaris yang memimpin seluruh spesiesnya mengerti cukup baik perasaan dari menjadi seorang pemimpin. Memikirkan segala sesuatu dan membuat keputusan itu tidaklah mudah.


Dalam hal ini, rencana, keputusan, dan tindakan yang dibuat oleh Ren lebih berat daripada tanggung jawab yang dipikul oleh Avrogan sendiri. Akan sangat berdusta jika Ren mengatakan kalau dia tidak tertekan sama sekali.


"Aku juga merasa demikian, kapan terakhir kali aku menikmati suasana seperti ini ya?"


Mungkinkah dua bulan yang lalu saat terakhir kali dia berlibur di bumi?


"Hahaha, saya yakin Anda sudah sangat lama tidak beristirahat."


"Hoo, mengapa kau berpikir demikian?" tanya Ren penasaran.


"Itu terlihat sangat jelas dari mata Anda."


"Hm?" Ren mengerutkan dahi.


Apakah matanya memang menunjukan hal seperti itu? Ren sedikit ragu. Padahal waktu hanya berlalu dua bulan semenjak dia menikmati suasana, kecuali ada satu kasus istimewa yang ikut terbawa.


Apakah ini terhitung ataupun tidak tapi kebenaran mengatakan bahwa Ren telah mengalami kematian yang sangat panjang. Entah berapa lama dia menetap dalam kegelapan tanpa batas pada saat dia mengalami kematian.


Namun ketika Ren terbangun, waktu hanya berlalu beberapa saat. Ini membuktikan bahwa konsep waktu seakan membeku dalam ruang gelap yang kosong itu. Jadi, sulit untuk mengatakan kalau Ren sudah tidak merasakan ini sangat lama.


"Hm, tanpa sadar aku mulai berpikir lagi," ucap Ren sambil tertawa kecil.


"Apakah begitu? Sepertinya saya harus lebih berhati-hati dalam berbicara agar tidak menimbulkan sesuatu yang bisa membuat Anda memikirkannya."


"Tidak apa, aku sudah cukup puas menikmati suasana ini. Bagaimana dengan pembicaraan yang lebih serius?"


Ren membenarkan posisi duduknya, dan berekpresi lebih serius saat ini. Hal itu membuat Avrogan menghela napas karena berpikir tuannya terlalu singkat dalam menikmati suasana.


"Tidak masalah, saya akan mendengarkan dan membalas sebaik mungkin."


Ren mengangguk kecil. Kemudian dia memperlihatkan mata dan ekspresi yang serius. Cukup serius untuk mengatakan bahwa suasana santai sebelumnya adalah kebohongan.


"Bagaimana kalau ...."


________________________________________________________________________________________

__ADS_1


Catatan Author : 1000 kata, sebuah Chapter yang pendek...


__ADS_2