
Pada Hari yang sama, Raja Esdagius mengeluarkan sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan. Pernyataan itu berupa Janjinya yang akan mengadakan sebuah Pesta untuk merayakan Kerjasama antara Ren dan Kerajaan Aulzania.
Derrian dan beberapa Penasihat Raja lain pada awalnya menentang keputusan Raja Esdagius. Namun, beberapa Argumen yang dikeluarkan oleh Sang Raja membuat mereka tidak dapat berkata - kata lagi. Akhirnya, Ren sendiri yang harus turun tangan untuk menentang keputusan Raja Esdagius ini. Ren mengatakan bahwa Kondisi Kerajaan Aulzania masih belum stabil dan aman, sehingga lebih baik jika pesta diadakan nanti setelah kondisi menjadi lebih aman. Namun, lagi - lagi Raja Esdagius mengeluarkan sebuah pernyataan yang tidak dapat Ren tolak. Raja Esdagius berkata ....
Hahaha! Apakah anda bergurau? siapa yang dapat menyerang kami jika anda ada disini!
Seperti itu ...
Atas pernyataan Raja Esdagius yang satu ini, Ren menjadi berpikir dengan keras. Andaipun diadakan atau tidaknya pesta ini, jika ada seseorang yang ingin menyerang Kerajaan Aulzania, itu pasti terjadi. Maka dari itu Ren menyerah untuk melontarkan Argumen penentangan lebih lanjut dan memutuskan untuk menerima keputusan Sang Raja.
Pesta dilaksanakan pada Hari yang sama, bertempat di salah satu Aula Istana Kerajaan. Orang yang diundang untuk menghadiri pesta ini hanya Bangsawan yang terpilih dan dipercayai oleh Sang Raja. Sebenarnya, keputusan ini akan menuai sedikit Konflik diantara Bangsawan untuk ke depannya. Namun, Ren tidak memiliki urusan dengan ini jadi dia tidak peduli.
Ren lebih mempedulikan masalah yang saat ini sedang dia hadapi.
"Katakan padaku, apakah ini cocok dipakai olehku?"
Ren bertanya sambil menghadap pada sebuah Cermin Besar. Di samping nya, ada sosok Nirlayn yang sedang berdiri dan memperhatikan Ren dengan seksama.
"Saya belum pernah menemukan pakaian yang tidak cocok dikenakan oleh anda, Ren-sama." Nirlayn menjawab sepenuh Hati.
Jawaban Nirlayn yang cepat dan sepenuh Hati ini malah membuat sebuah perasaan Ragu di Hati Ren.
"Nirlayn, apa kau tidak terlalu menilai tinggi diriku?" Ren bertanya sedikit Ragu.
"Tidak, saya berkata Jujur Ren-sama." Balas Nirlayn dengan tersenyum.
"Hm? Begitukah ...." Ren terlihat berpikir lalu kemudian menghela Napas lega.
"Nirlayn, bisa kau ambilkan sarung tanganku?" Ren menunjuk pada sarung tangan yang merupakan set pakaian yang dia kenakan saat ini.
Nirlayn melirik pada arah yang ditunjuk oleh Ren. Disana terdapat sepasang sarung tangan yang tergeletak berwarna putih. Nirlayn kemudian berjalan untuk mengambil sarung tangan tersebut tanpa sepatah katapun. Ketika sarung tangan itu telah dia genggam, Nirlayn berbalik dan tersenyum.
"Tentu, ini Ren-sama ...."
"Terima kasih ...."
Setelah menerima Sarung Tangan dari Nirlayn, Ren melanjutkan kegiatan mencoba pakaian miliknya sambil berusaha untuk tidak mempedulikan Nirlayn sedikitpun. Sudah sejak awal Ren merasa aneh akan kehadiran Nirlayn dikamarnya, namun Ren memutuskan untuk tidak bertanya apapun tentang hal ini.
Sesekali, Ren mencoba memerintahkan Nirlayn agar melakukan sesuatu, hal ini untuk menghancurkan Rasa canggung yang dia rasakan saat diperhatikan secara terus menerus seperti ini.
'Serius, apa yang dia lakukan sebenarnya?' Ren melirik pada Nirlayn sesaat, berusaha untuk mencari Jawaban. Tapi sebuah Jawaban adalah hal yang tidak mungkin jika Ren tidak bertanya secara langsung pada Nirlayn. Ren pun mengembalikan Lirikan nya pada Cermin dan menghela napas.
'Haaa ....'
Pada akhirnya, meski Ren berusaha untuk tidak mempedulikan tatapan Nirlayn namun semua itu tidak bisa dia abaikan sepenuhnya. Ada semacam perasaan tidak mengenakan ketika ditatap oleh Nirlayn secara terus menerus seperti itu. Ren menyerah untuk mengabaikan Nirlayn dan memutuskan untuk bertanya sesuatu.
"Nirlayn, aku penasaran, apakah dirimu dulu hidup pada saat yang sama dengan Rusava dan Raytsa? Aku ingat kau berteriak Nama mereka pada saat di Arena."
"Eh?! Anda mendengarnya Ren-sama?!" Nirlayn menjawab panik.
"Di Suasana yang seperti itu, suaramu terdengar jelas olehku."
"Uwaah ... Memalukan sekali."
__ADS_1
Dengan Raut wajah memerah, Nirlayn dengan cepat berbalik dan membelakangi Ren yang saat ini sedang berdiri. Meskipun Ren berpikir bahwa kejadian di Arena bukanlah sesuatu yang memalukan, namun Nirlayn berpikiran sebaliknya.
"L-Lupakan itu Ren-sama, saya dan Dua Leluhur Sejati Rusava, Raytsa, tidak hidup pada saat yang sama."
"Hoo ...." Ren menjawab acuh tak acuh, sebenarnya saat ini dia sedang terpaku pada Pakaian yang sedang dia coba. Beruntung, Nirlayn berbalik ke arah lain dan tidak mengetahui hal ini.
"Leluhur Sejati Rusava dan Raytsa hidup lebih dulu, dan sudah menjadi Legenda ketika saya lahir." Nirlayn lanjut menjelaskan.
"Apa maksudmu dengan itu, lalu bagaimana kau bisa mengetahui mereka hanya dengan sekali lihat?"
"Saya sudah bisa merasakan Hawa Kehadiran mereka berdua. Lagipula, meski mereka telah tiada, Lukisan mereka masih tetap ada."
"Um begitu, aku mengerti." Ren mengangguk dalam - dalam.
Sebuah Senyum Puas melengkung di wajah Ren. Bukan karena puas akan jawaban dari Nirlayn, melainkan Puas karena berhasil menemukan pakaian yang dia Rasa cocok untuknya.
"Bagaimana dengan ini? apakah terlihat aneh?" Ren sekali lagi bertanya pada Nirlayn.
Nirlayn tersentak dan segera berbalik untuk menjawab pertanyaan dari Ren.
"Ini ... Bagus sekali dikenakan oleh anda."
Nirlayn menjawab dengan tersenyum lebar. Jawabannya ini membuat Ren mengangguk dan tersenyum puas. Kali ini, Ren merasa sedikit percaya diri untuk mengenakan Pakaian yang diberikan oleh Raja Esdagius.
"Ayo pergi ...."
Ren memutuskan untuk mengenakan Pakaian ini dan mengajak Nirlayn untuk pergi ke acara Pesta yang sesungguhnya.
'Um ... apakah Nirlayn sudah bersiap?'
Dalam Hati, sebuah pertanyaan ini muncul secara tiba - tiba. Namun disaat yang sama Ren memperhatikan Pakaian yang dikenakan oleh Nirlayn. Itu sudah dalam kualitas yang baik, seakan Nirlayn memang sudah bersiap dari awal.
Hanya sedikit dalam benak, Ren berpikir bahwa Nirlayn berada di kamarnya sedari awal memang sudah bersiap dan berniat untuk berangkat bersama dengannya.
'Ugh, menjijikan, itu tidak mungkin.'
Pemikiran ini dengan cepat Ren singkirkan, akan sangat memalukan jika itu hanya dirinya yang terlalu percaya diri.
Ren lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju Aula dimana pesta diadakan. Dengan didampingi oleh Nirlayn yang tentu saja berjalan di samping nya.
*
*
*
*
*
Sebuah Aula dipenuhi oleh Gemerlap Cahaya yang Bersinar. Aula ini diisi oleh berbagai macam orang - orang yang mengenakan Pakaian mewah dan indah. Kebanyakan dari mereka adalah para Wanita dan Lelaki muda yang merupakan Bangsawan baru.
Sudah menjadi sebuah Tradisi, para Bangsawan Muda yang baru saja diangkat menjadi seorang Penerus mencari pasangan Hidup mereka dalam sebuah Pesta. Apalagi Pesta yang diadakan Hari ini merupakan Pesta yang diselenggarakan langsung oleh Sang Raja. Mereka dengan segera melihat Pesta ini sebagai sebuah Peluang Emas yang amat bagus untuk mencari pasangan ataupun membuat Koneksi dengan Bangsawan lainnya.
__ADS_1
Meskipun maksud sesungguhnya Sang Raja mengadakan Pesta ini adalah untuk merayakan Kerjasama antara Kerajaan Aulzania dan Ren. Namun informasi itu masih dirahasiakan dari Pandangan Umum. Sehingga para Bangsawan dan orang yang tidak mengetahui apapun soal itu beranggapan bahwa ini hanya Pesta Biasa.
Meja - Meja yang dipenuhi oleh berbagai macam Hidangan tersebar di seluruh Aula. Ada sebagian orang yang sedang memakan Hidangan, ada pula sebagian orang yang berbicara satu sama lainnya.
Rakuza dan Kanza, mereka berdua juga hadir di pesta ini. Saat ini mereka sedang mengobrol dengan para Bangsawan Wanita muda di salah satu sudut Aula. Meskipun Rakuza adalah Demi-Human dan Kanza adalah seorang Elf, tetapi sepertinya para Wanita Bangsawan itu tidak mempermasalahkannya. Ini juga menjadi sebuah Bukti, bahwa Ras selain Manusia tidak didiskriminasi di Kerajaan ini.
"Permisi, ini minumannya ...."
Dalam sebuah Pesta pasti ada yang dinamakan dengan seorang Pelayan untuk menyajikan berbagai macam Hidangan bagi para tamu. Lin-Ya, seseorang yang telah Ren selamatkan dulu di Kota Rondelia, entah dengan cara apa kini menjadi Pelayan di Pesta ini. Beberapa kali, dia terlihat bolak - balik untuk menyajikan minuman pada para Wanita yang menghadiri pesta ini.
Mungkin Ren akan sedikit terkejut melihat Lin-Ya yang berubah menjadi seorang Pelayan.
Pesta telah Ramai dan dipenuhi oleh berbagai macam orang. Namun bintang utama yang sesungguhnya yaitu Keluarga Kerajaan belum muncul.
Beberapa saat kemudian, Pintu Besar Aula terbuka. Sontak saja ini mengundang perhatian seluruh orang yang berada di dalam Aula. Mereka mengalihkan pandangan pada apa yang membuka Pintu tersebut. Sebagian besar dari mereka berharap ini adalah Keluarga Kerajaan yang telah hadir. Namun, harapan itu segera terpatahkan ketika dua orang muncul dari sana ....
Mereka bukanlah Keluarga Kerajaan, mereka berdua adalah sepasang Lelaki dan Perempuan.
Sang Lelaki memiliki Paras yang dapat meluluhkan wanita manapun. Rambutnya yang Hitam Legam memantulkan Cahaya yang berada di Aula, menambah Kemisteriusan yang dia miliki. Kulitnya yang seputih susu membuat sebagian wanita merasa malu. Pakaian Bangsawan yang dia kenakan semakin menambah kesempurnaan parasnya itu. Para wanita yang berkumpul di Aula terpaku dan tidak dapat mengalihkan pandangan dari sosok dirinya yang berjalan dengan Elegan.
Sosok Lelaki itu ditemani oleh seorang Wanita yang memiliki Kecantikan yang tidak biasa. Dari segala macam sudut penampilan yang dia miliki, sangat cocok jika disandingkan dengan lelaki yang berjalan disamping nya. Para Wanita yang merasa tersaingi hanya bisa menggigit jari mereka. Sedangkan para Lelaki yang terpesona hanya bisa menatap tanpa berani mendekati.
Tap Tap Tap
Mereka berdua berjalan berdampingan tanpa menghiraukan tatapan sekitarnya. Banyak sekali Bangsawan yang menghadiri Pesta terlihat ingin mengenal mereka berdua lebih jauh. Namun, suasana di sekitar mereka berdua yang misterius membuat Niat mereka kembali menyusut.
Dua orang itu kini berdiam diri dan saling berhadapan. Mereka hanya berbicara satu sama lain tanpa menghiraukan orang - orang disekitar mereka.
"Nirlayn, apa kedatangan kita berdua terlalu mencolok?" Ren merasa ada sedikit kesalahan disini dan mencoba untuk bertanya pada Nirlayn.
"Saya Rasa tidak Ren-sama, mungkin sosok anda yang terlalu banyak mengambil perhatian." Nirlayn membalas, sebuah senyum penuh makna terlukis di wajahnya.
"Aku?" Ren kebingungan.
Disaat Ren sedang memikirkan apa maksud dari Jawaban Nirlayn yang sebenarnya. Sosok Rakuza dan Kanza tampak menghampiri dirinya.
Dari Kejauhan, Kanza sudah berbicara pada Ren dengan Nada yang biasa dia gunakan.
"Tuan Dirvaren, anda memang selalu mencolok seperti biasanya bukan?" Senyum Bermakna melengkung ketika Kanza mengatakannya.
Ren hanya bisa tersenyum kecut menanggapi perkataan Kanza yang satu ini. Dengan berat Hati, Ren membalas ...
"Heh, kau tahu? Aku juga tidak ingin mengambil terlalu banyak perhatian."
"Bukankah Populer adalah keinginan para Pria di dunia ini?" Rakuza menimpali pembicaraan keduanya.
Kanza dan Ren langsung mengalihkan perhatian mereka pada Rakuza dan menatapnya dengan aneh. Menjadi Populer memang impian dari seorang Pria, tetapi jika terlalu berlebihan itu akan berubah menjadi sebuah gangguan. Apakah Rakuza tidak mengerti hal ini? Ren dan Kanza tidak tahu.
"Lupakan itu ... Tuan Dirvaren, para wanita di sebelah sana berkata padaku ingin mengenalmu lebih jauh. Bisakah anda kesana sebentar?"
Kanza mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengejutkan secara tiba - tiba. Ren sampai tidak dapat mencerna apa yang dia katakan dan malah bertanya kembali.
"Eh, apa kau bilang?"
__ADS_1