Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 166 : Kelas Pahlawan


__ADS_3

Mulai hari ini, Akademi Aulzania membuka satu kelas baru, yaitu kelas khusus yang dibimbing langsung oleh Pahlawan Aulzania. Kelas ini dinamakan sebagai kelas pahlawan karena diharapkan generasi yang menerima bimbingan menjadi seorang yang hebat dan bermartabat seperti seorang pahlawan.


Murid akademi yang memasuki kelas ini dipilih berdasarkan bakat, kepribadian, dan keahliannya dalam kepemimpinan. Karena setelah menerima pembelajaran selama satu bulan dari Anryzel, para murid itu akan membimbing murid lain berdasarkan pengajaran yang telah diberikan.


Lalu setelah mengalami perdebatan panjang, para petinggi akademi sepakat untuk memberikan gelar prosefor ahli sihir dan pertempuran jarak dekat kepada Anryzel. Secara tidak langsung, gelar tersebut menegaskan bahwa Anryzel mahir dalam segala hal, baik itu dalam keahlian menggunakan sihir, maupun pertempuran jarak dekat bersenjata dan tangan kosong.


Sempat ada pertentangan dari beberapa pihak yang tidak lain adalah guru-guru akademi perihal gelar yang dirasa terlalu berlebihan. Akan tetapi, Anryzel diminta untuk membuktikan kemampuannya, dan berhasil membungkam mulut semua orang.


Oleh karena itulah, di tempat ini ... sebuah kelas yang mewah dan elegan, seorang profesor baru akan mengajar. Sebanyak tiga puluh orang murid yang terdiri dari enam belas murid laki-laki dan empat belas murid perempuan telah siap dalam posisi duduk mereka.


Kemudian beberapa menit setelahnya, pintu kelas dibuka. Seorang yang mengenakan pakaian profesor resmi dari akademi berjalan masuk ke dalam ruangan dengan penuh martabat dan kepercayaan diri. Mengikuti kedatangannya, seorang wanita yang mengenakan pakaian asisten profesor ikut masuk ke dalam kelas.


Mereka adalah Anryzel dan Nivania yang akan mengajar kelas pahlawan selama satu bulan ke depan. Rambut hitam dengan mata merah menyala, kulit putih dan wajah tampan yang masih muda, seseorang tidak akan percaya bahwa dia adalah seorang profesor.


Mayoritas murid yang berada dalam kelas sempat menahan napas mereka karena merasa tegang dan gelisah. Pasalnya, mereka telah diberitahu bahwa yang akan membimbing kelas pahlawan adalah seorang pahlawan asli yang memiliki kemampuan luar biasa, sehingga perasaan itupun secara alami muncul dalam diri setiap orang.


Anryzel berdiri tegak di hadapan semua murid seraya melakukan sedikit gerakan tangan untuk menarik perhatian.


"Ehm."


Anryzel berdeham agar usahanya dalam menarik perhatian para murid berhasil. Hasilnya, semua murid terfokus ke arahnya tanpa ada satupun yang mengalihkan pandangan.


"Halo, aku adalah Anryzel Dirvaren. Profesor baru yang akan mengajar kalian selama satu bulan. Bidang pengajaranku hanya terbatas pada sihir, kemampuan bertarung, dan sedikit tentang ilmu alkimia. Memang kedengarannya tidak banyak, tapi aku berharap kalian semua dapat menerimanya dengan baik."


Sekarang adalah giliran Nivania untuk memperkenalkan diri. Nivania sedikit membungkuk, dan secara spontan semua murid laki-laki melihat ke arahnya dengan tatapan kagum.


"Lalu, aku adalah Nivania Zournac. Asisten Profesor Anryzel yang akan membantunya dalam setiap pelajaran untuk satu bulan ke depan. Mungkin aku tidak hebat seperti Profesor, tetapi harapanku adalah kalian dapat memakluminya."


Para murid dengan serentak langsung berdiri, mereka membungkuk dalam-dalam seraya meneriakan kata-kata yang sama, secara bersama-sama.


"Hormat kami! Selamat datang Profesor dan Asisten Profesor!"


Anryzel sedikit terketuk, para murid ternyata memberikan mereka berdua sambutan yang lebih baik daripada yang diperkirakan. Setelah menerima sambutan yang cukup hangat, Anryzel duduk di meja profesor bersama Nivania lalu mereka melihat daftar murid untuk memeriksa kehadiran para murid.


"Nivania akan menyebutkan satu per satu nama kalian. Ketika nama kalian terpanggil, ingatlah untuk mengangkat tangan dan memperkenalkan diri, mengerti?"


Semua murid mengangguk. Kemudian tugas memeriksa kehadiran dilakukan oleh Nivania dan berlangsung lancar tanpa ada kendala. Namun, beberapa orang murid yang dipanggil oleh Nivania secara tak sengaja mengejutkan diri Anryzel.


Salah satunya adalah ....


"Ferlin Alvadio dari kelas sihir 1E?" ucap Nivania.


Ferlin, anak perempuan dari Duke Fedel mengangkat tangan. Ferlin lantas memperkenalkan diri di hadapan semua orang.


"N-namaku Ferlin Alvadio, dari kelas sihir 1E. Element yang paling aku kuasai adalah Api, dan salah satu sihir favoritku adalah Fire Cyclone."


Nivania langsung mengkonfirmasi kehadiran Ferlin di lembar kehadiran. Sementara Anryzel merasa sedikit terkejut karena Ferlin yang masih kelas satu ternyata bisa masuk ke kelas pahlawan. Anryzel awalnya mengira kelas pahlawan hanya akan diisi oleh senior berbakat yang berasal dari kelas dua, tetapi sepertinya tidak demikian.


Setelah menyelesaikan sesi mencatat kehadiran, Anryzel lalu menuliskan sebuah kata di atas papan tulis. Papan tulis di akademi masih berwarna hitam, dan Anryzel harus menggunakan batu kapur yang belum sempurna untuk menuliskan sesuatu di atasnya.


[SIHIR]


Itulah kata yang ditulis oleh Anryzel di papan tulis berwarna hitam. Hanya satu kata sudah cukup untuk memberitahu para murid bahwa pembelajaran kali ini akan berkaitan langsung dengan sihir.


"Jadi hari ini kita akan belajar lagi mengenai sebuah pertanyaan, yaitu apa sebenarnya sihir itu?"


Anryzel menegaskan bahwa hampir seluruh orang di dunia, baik anak-anak maupun yang sudah tua mengetahui apa itu sihir. Akan tetapi, pernahkan mereka memikirkan sesuatu yang lain seperti, apa sihir itu sebenarnya? Bagaimana seseorang mendefinisikan sihir berdasarkan kata-kata, lalu membuktikannya dengan sebuah tindakan?


Para murid juga terdiam dengan sebuah pertanyaan ini. Mereka hampir setiap hari menggunakan sihir, atau menjumpai orang yang menggunakan sihir, tetapi ... pernahkan mereka bertanya tentang hal yang sama? Itu tidak pernah sama sekali.


Kini pikiran mereka secara otomatis mencari arti dari sihir yang sesungguhnya. Karena itulah, kebanyakan dari mereka sekarang dilanda oleh kebingungan yang tidak sepele.


Anryzel mengambil kesempatan ini, lalu memberi perintah kepada para murid. "Jika kalian memiliki sebuah pendapat mengenai sihir, silahkan katakan tanpa ragu! Angkat tangan kalian, dan bicaralah!"


Seorang laki-laki yang berasal dari kelas ksatria mengangkat tangan. Dia memiliki rambut perak, dan karisma yang paling menonjol di antara murid yang lain. Sosok yang begitu familiar di mata Anryzel, dan sosok yang dihormarti oleh para murid, dialah Pangeran Etharez.


"Bicaralah, Etharez!"


Anryzel mempersilahkan Etharez berbicara sambil merasa heran ternyata sang pangeran pun ikut ke dalam kelas pahlawan. Tidak diketahui apakah sang pangeran masih berstatus sebagai murid atau bukan, namun yang pasti ada campur tangan Raja Esdagius di sini.


"Begini, Profesor. Aku memiliki pendapat bahwa sihir itu adalah kekuatan asal. Sebuah kekuatan yang tidak bisa dihapus, maupun diciptakan oleh seseorang. Singkatnya, aku berpikir sihir itu adalah awal mula segalanya, seperti ... bagaimana dunia ini bisa tercipta, bukan begitu?"


Semua murid mengangguk dengan pendapat Pangeran Etharez, tidak hanya masuk akal di mata mereka, tetapi karisma dari sang pangeran pun menambah keyakinan dalam diri setiap orang, terutama para gadis.


"Bagus, aku menghargai keberanianmu dalam berpendapat. Akan tetapi, pendapatmu kurang menjelaskan suatu hal. Jadi, apakah ada di antara kalian yang ingin menambahkannya?"


Keheningan menyelimuti seisi kelas. Kejadian yang sudah lumrah terjadi, di mana seseorang akan merasa inferior setelah orang berstatus tinggi memberikan pendapatnya sehingga orang lain akan merasa ragu-ragu.


"Um, maafkan aku, tetapi ... apakah aku juga dapat memberikan pendapat, Profesor Anryzel?"


Semua mata memandang pada Nivania yang sedang duduk di bangku asisten. Kebanyakan dari mereka terkejut karena seorang asisten profesor melakukan tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun sebenarnya, keberadaan seorang profesor yang memiliki asisten itu langka di akademi.


"Oh, Nivania? Silahkan, aku tidak akan membatasi peserta. Biarkan para murid belajar dari semua hal yang ada."

__ADS_1


Nivania lantas beranjak dari kursi duduknya. Dia berdiri dekat Anryzel lalu menggunakan Light Magic : Light Ball, kemudian menggunakan semacam skill penguatan fisik di saat yang sama.


"Menurutku, sihir hanyalah satu dari sekian banyak kekuatan yang ada di dunia. Buktinya terdapat pada sihir dan skill, meski memiliki dasar yang sama, yaitu Mana tetapi cara kerja keduanya tentu berbeda."


Nivania menjelaskan bahwa apa yang mereka sebut dengan sihir itu hanya terbatas pada fenomena yang berkaitan dengan element dunia saja. Sedangkan skill itu bisa mencakup semuanya, bahkan suatu fenomena yang tidak termasuk ke dalam element dunia.


Nivania juga memberikan sebuah contoh, yakni sihir teleportasi yang dimiliki oleh Kerajaan Aulzania. Dikarenakan teleportasi itu belum terlalu diketahui apakah termasuk ke dalam enam element utama atau bukan, maka penamaannya menggunakan "Sihir" jelas kesalahan, dan akan lebih pantas jika disebut sebagai skill teleportasi, bukan sihir teleportasi.


"Kesimpulannya adalah ... sihir adalah suatu fenomena yang tercipta akibat penggunaan mana, dan cakupan efeknya hanya terbatas pada ke-enam element utama saja."


Para murid dibuat melongo oleh perkataan Nivania. Kali ini, mereka bahkan tidak sanggup berkata-kata lagi karena mendapatkan jawaban yang mungkin mendekati kata sempurna.


"Bagaimana dengan itu, Profesor Anryzel?" tanya Nivania.


Entah semacam ilusi atau bukan, tetapi para murid melihat seringai penuh kepercayaan diri ketika Nivania berkata demikian. Mungkin yang saat itu ada dalam pikiran Nivania adalah Anryzel yang akan memuji atas jawaban yang luar biasa, akan tetapi harapan itu terbukti sia-sia.


"Hm ... cukup memuaskan, tetapi masih tidak lengkap."


Anryzel tersenyum pasrah, meskipun jawaban Nivania memang mengandung kenyataan, tetapi ada beberapa bagian yang terlupakan. Sementara itu, Nivania tampak memandang kecewa, lalu dengan perasaan sedikit tidak terima dia meminta penjelasan yang masuk akal, mengapa jawabannya tidak lengkap?


"Kalau begitu, bisa Profesor jelaskan di mana letak kekuranganku?"


Lalu seorang murid menimpali kata-kata Nivania, "Asister Profesor benar, di mana letak kesalahannya? Padahal jawaban dari Asisten Profesor sudah memuaskan bagiku!"


Anryzel menggelengkan kepala pada mereka. Menunjukkan bahwa dirinya benar-benar merasa tidak berdaya.


"Aku mengerti, untuk meyakinkan kalian maka akan kujelaskan kekurangan dari pendapat Etharez, dan pendapat Nivania."


Pertama, Anryzel menggambar sebuah lingkaran sihir yang rumit dan sulit di papan tulis. Semua orang menunggu dalam keadaan diam sambil merasa terkesima. Setiap detik demi detik, gambar lingkaran sihir itu semakin lengkap dan akhirnya menjadi sempurna.


"Kalian tau ini apa?"


Semua murid menatap dalam diam, mereka tentu mengetahui bahwa gambar di papan tulis adalah sebuah lingkaran sihir yang sangat rumit. Namun, mengapa profesor ini menanyakan hal yang sudah jelas? Apakah profesor ini meremehkan pengetahuan mereka?


"Jawab. Itu adalah lingkaran sihir, Profesor."


Anryzel mengangguk pada seorang murid yang menjawab. "Benar, ini adalah lingkaran sihir."


Anryzel lalu menatap pada Nivania seolah memberi isyarat akan sesuatu. Nivania yang menatap balik pada awalnya tidak sadar, tetapi beberapa saat kemudian perasaan sadar itu datang yang membuatnya merasa telah melakukan kesalahan besar.


"A-ah ... Anda benar, aku melupakan lingkaran sihirnya!" ungkap Nivania.


"Benar sekali, dan ini telah menjawab kekurangan Nivania untuk sementara. Selanjutnya adalah kekurangan Etharez. Kalian tahu lingkaran sihir ini mengandung sihir macam apa?"


Seorang murid perempuan yang berpenampilan sangat baik mengangkat tangan. Sontak semua perhatian menuju padanya bersamaan dengan bisikan demi bisikan muncul yang mengatakan bahwa dia adalah murid terbaik di kelas sihir.


Tanpa ada yang meminta atau memerintahkan, semua murid termasuk Pangeran Etharez bertepuk tangan. Mereka berkata dalam hati; seperti yang diharapkan dari murid terbaik di kelas sihir! Dia mengetahui jenis sihir hanya dari beberapa bagian lingkaran sihir yang terlihat.


Namun bagi Anryzel, jawaban itu termasuk biasa. Kemampuannya dalam mengobservasi lingkaran sihir memang cukup langka, dan terbilang cukup berbakat, akan tetapi ... bakat yang biasa tidak memiliki perbedaan di mata Anryzel.


"Jawaban yang cukup baik. Siapa namamu tadi?" tanya Anryzel penasaran.


"Nama saya Laishena dari kelas sihir 2A, Profesor."


Anryzel langsung mengingatnya, ternyata murid perempuan ini adalah murid yang mengaku bisa menggunakan tiga element sekaligus. Element yang paling dia kuasai adalah kegelapan, lalu air, dan yang terakhir adalah angin.


Ketika orang lain hanya mampu menggunakan dua element saja, murid perempuan ini bisa menggunakan tiga element. Mungkin Anryzel bisa menganggapnya sebagai yang cukup istimewa di antara yang biasa? Mungkin saja seperti itu.


"Baiklah, Laishena. Kau benar, ini adalah lingkaran sihir yang mengandung element cahaya, dan bukan tipe yang akan menyerang secara langsung. Kau tidak sepenuhnya salah ketika menyebut sihir ini tipe dukungan, atau tipe kehidupan sehari-hari, tetapi sihir ini sebenarnya lebih luar biasa daripada yang kau tahu."


Semua murid sedikit mencondongkan badan ke depan, terkecuali Laishena yang sedang dalam posisi berdiri. Mereka merasa tertarik dengan sihir yang luar biasa, dan segera menerka-nerka, sihir macam apa itu?


Nivania yang merasa menghalangi pandangan para murid pun memutuskan untuk kembali duduk di kursi asisten, dan memperhatikan penjelasan Anryzel dari sana.


"Pernahkah kalian mendengar sebuah sihir cahaya yang bisa meniru bentuk manusia, lalu menari-nari dalam gerakan yang telah ditentukan? Sihir ini juga memberikan efek positif berupa penambah keberanian, dan pemulihan stamina pada semua orang di dekatnya. Nah, pernahkah kalian mendengarnya?"


Laishena mengerutkan dahi sambil berkata untuk mewakili semua orang memberikan jawaban. "Maaf Profesor, saya tidak mengetahuinya sama sekali. Apakah ini semacam sihir yang dirahasiakan? Atau mungkin sebuah Lost Magic?"


Anryzel menggerakan tangan untuk memberi indikasi bahwa sihir itu bukan seperti yang mereka perkirakan.


"Salah ... ini bukan sihir rahasia, maupun Lost Magic yang tidak kuketahui. Sihir ini adalah jenis terbaru yang baru saja aku buat. Aku memberinya nama sebagai <>" terang Anryzel dengan enteng.


BRAKK!!


Seseorang menggebrak meja, dan itu tidak lain adalah Nivania. Para murid pun seketika beranjak dari kursinya seraya menampakan ekspresi tidak percaya. Wajah mereka dengan jelas mengatakan bahwa ucapan Anryzel sebelumnya adalah hal yang sangat mustahil.


"Tunggu! An- ... Profesor Anryzel, jangan bercanda di saat seperti ini!" seru Nivania dengan tegas.


"Itu tidak mungkin Profesor! Menciptakan sihir baru adalah hal yang mustahil. Bahkan jika itu bisa dilakukan, seharusnya para peneliti sihir tidak akan menjawab mustahil bukan?!"


"Profesor tolong jangan bergurau! Meskipun Anda seorang Profesor, tetapi mengetahui Anda mengatakan lelucon seperti ini benar-benar tidak lucu!"


Anryzel hanya tertawa sedikit. Seraya menunggu semua protes yang dilakukan oleh para murid, ia hanya diam menerima semua kata-kata mereka.

__ADS_1


"Profesor Anryzel! Jangan hanya tersenyum, tolong katakan bahwa semua ini adalah lelucon!"


Anryzel mengerutkan dahi, lalu berkata-kata dalam hati. "Oh, hei ... bukankah kalian sendiri yang terlalu bersemangat sampai tak memberikanku kesempatan berbicara?"


"Semuanya! Tolong diam sebentar! Biarkan Profesor yang memberi penjelasan!" seru Pangeran Etharez dengan nada yang tidak senang.


Pada akhirnya para murid pun terdiam. Satu per satu dari mereka kembali duduk seraya menenangkan diri, tetapi ucapan Anryzel tidak bisa mereka abaikan begitu saja.


Anryzel pun memegang dahi karena merasa situasi tadi cukup sulit. Jika bukan murid yang harus dia urus, maka sedari awal cara lembut ini tidak akan pernah dilakukannya!


"Tch, begini saja. Aku akan menunjukan sihir ini sambil memberi kalian penjelasan sedikit demi sedikit."


Anryzel lantas menggunakan <> yang memunculkan sebuah cahaya berbentuk manusia. Cahaya itu kemudian menari-nari dengan bebas dalam ruangan kelas.


Beberapa murid yang terdampak oleh cahaya merasakan diri mereka telah pulih dari kelelahan. Sementara beberapa yang lain tidak memperhatikan detail kecil, dan hanya terfokus pada sihir itu sendiri.


Anryzel lalu melanjutkan penjelasannya, "Definisi sihir menurutku adalah suatu fenomena yang dipicu oleh penggunaan Mana melalui media berupa lingkaran sihir. Sementara definisi dari skill adalah suatu fenomena yang dipicu oleh penggunaan Mana tanpa media, dan efeknya akan lebih bervariasi daripada sihir."


"Dan sebenarnya, sihir dan skill adalah sesuatu yang serupa. Hanya saja, yang membedakan mereka adalah penggunaan lingkaran sihir dan efek yang ditimbulkan. Selama kau mampu menggunakan Mana untuk membuat fenomena yang diinginkan, maka menciptakan suatu sihir atau skill yang baru itu tidaklah mustahil."


"Aku tidak akan menjelaskan secara rinci bagaimana itu bekerja, karena yang aku khawatirkan adalah, kemungkinan seseorang bisa menciptakan sihir itu adalah satu banding seratus juta. Seseorang yang kukenal, dan dia telah melakukan penelitian sihir sepanjang hidupnya bahkan belum bisa menciptakan sihir yang paling sederhana sekalipun."


Anryzel menjentikkan jari lalu menghapus sihirnya. Manusia cahaya yang menari-nari itupun hilang dari pandangan semua orang.


"Cukup. Jika kalian ingin bukti, maka tantanglah aku untuk menciptakan sihir yang menurut kalian tidak akan pernah ada di dunia, bagaimana?"


Setelah mendengar pernyataan itu, Nivania adalah orang yang pertama mengambil langkah dan kesempatan ini. Tidak diketahui motivasi macam apa yang ada dalam diri Nivania sehingga dirinya mengangkat tangan beberapa kali lebih cepat dari para murid.


"Ya ampun, mengapa kau tidak menjadi murid saja jika seperti ini?"


Nivania hanya tersenyum malu dan berkata, "A-aku masih tidak percaya. Maka aku akan menantangmu untuk membuat sihir yang bisa membuat seseorang jujur dalam waktu tiga detik!"


Anryzel tertawa cukup keras. Dia berpikir bahwa tantangan yang diberikan oleh Nivania terlalu sederhana dan mudah untuk dilakukan. Bagaimana jika para murid malah menyangka bahwa mereka telah bekerja sama?


"Sangat mudah. Aku sudah membuatnya."


Semua orang terdiam tak bisa berkata-kata. Ada yang percaya dengan ucapan Anryzel, tetapi tidak sedikit murid yang mengira bahwa Anryzel telah melakukan kebohongan besar.


"B-benarkah, coba buktikan apakah sihir itu bekerja!"


Anryzel lalu menggunakan sihir itu kepada Nivania. Mana terkumpul di sekitar tubuhnya, lalu sebuah lingkaran sihir muncul di hadapan Nivania. Lingkaran sihir itu hanya berputar dan terus berputar hingga tubuh Nivania dibaluti oleh kegelapan yang cukup mengerikan.


Sebelum sihir itu selesai, Anryzel lalu bertanya pada Nivania. "Hal apa yang paling tidak kau ingin katakan padaku seumur hidup?"


Lingkaran sihir menghilang, dan secara otomatis sihir baru itu telah aktif. Nivania yang merasa tidak percaya seketika memikirkan hal memalukan yang dimaksud oleh Anryzel. Dia kemudian berniat untuk berbohong tetapi malah kejujuran yang keluar dari mulutnya.


"Aku pernah bermimpi tentangmu tiga kali!" seru Nivania tanpa rasa malu.


"..."


Suasana menjadi hening ... bahkan suara angin yang berdesir melalui jendela dapat terdengar oleh para murid. Tidak ada yang berani memberikan komentar, termasuk Anryzel yang memberi pertanyaan.


Pipi Nivania memerah, rasa malu melanda dirinya. Alih-alih berbohong, ternyata yang dia ucapkan merupakan suatu kebenaran. Nivania langsung berlari meninggalkan kelas dengan muka yang merah seakan mau meledak kapan saja.


Dan kali ini ... yang terkejut adalah diri Anryzel itu sendiri.


"Tidak aku sangka. Nivania, ternyata kau cukup ... tidak terduga," ucap Anryzel dengan tak percaya.


Anryzel fokus kembali pada pekerjaan. Dia bertepuk tangan sekali untuk menarik perhatian semua murid ke arahnya.


"Baiklah, siapa lagi di sini yang ingin menantangku membuat suatu sihir? Dengan syarat sihir itu tidak melanggar norma dan etika."


Laishena mengangkat tangan, lalu berdiri dari kursi duduknya. Semua orang menghela napas lega dan berpikir bahwa inilah yang terjadi seharusnya. Jika Laishena adalah yang menantang, maka kejadian yang membuat canggung tadi tidak akan pernah terjadi.


"Maaf sebelumnya, Profesor. Saya ingin Anda membuat sebuah sihir yang menggerakan sebuah kapur tulis agar kapur tersebut dapat menulis sendiri di papan tulis sesuai dengan perkataan saya."


Anryzel menerima tantangan tersebut. Sebelum membuat sihir itu, Anryzel menanyakan terlebih dahulu perkataan macam apa yang ingin Laishena tulis dalam sihir baru itu.


Laishena lalu menginginkan agar kapur itu menulis seluruh nama murid yang ada di kelas pahlawan. Anryzel memberikan konfirmasi dan meminta agar Laishena menunggu di kursinya sementara dia membuat sihir yang diminta.


Selang beberapa menit, Anryzel menyelesaikan tantangan Laishena. Semua orang tertegun dengan seberapa cepat Anryzel membuat sihir yang baru.


"Wind Magic : Write."


Lingkaran sihir muncul di atas kapur, lalu kapur tersebut bergerak sendiri dan mulai menulis di atas papan tulis. Semua orang membulatkan mata dengan mulut yang menganga, sedangkan Laishena dan beberapa orang yang mengerti lebih baik tentang sihir hanya bisa menatap tak percaya.


Mereka hampir mengeluarkan air mata karena melihat sesuatu yang paling menakjubkan, yang pernah dilihat sepanjang hidup. Sebuah penciptaan sihir yang mereka pikir adalah mustahil, kini benar-benar terbukti bisa dilakukan oleh seseorang yang bernama Anryzel ini!


Ketika Anryzel berbalik untuk melihat bagaimana reaksi para murid, dia cukup terkejut karena para murid kini seolah bersujud di bangku mereka masing-masing.


"Aku rasa ... ini adalah hasil yang baik?" tanya Anryzel pada dirinya sendiri.


..._________...

__ADS_1


Catatan Author :


Ini cukup panjang.


__ADS_2