
Suasana suram dan lembab dari penjara memang sama dimanapun Ren berada. Bau tidak sedap yang menusuk hidung sudah bukan hal yang aneh lagi. Terlebih jika dalam satu penjara terdapat beberapa orang yang berbeda.
Beruntung kali ini Ren ditempatkan dalam penjara yang kosong. Sehingga dia tidak perlu berdesak-desakan dengan tahanan lain. Mengatasi bau tak sedap pun lebih mudah jika tidak ada seorangpun di sekitarnya.
Dengan menggunakan sihir air, Ren membersihkan setiap sudut dari penjara tersebut. Lalu setelah itu menggunakan sihir angin untuk mengeringkan sisa-sisa air di antara lantai dan dinding.
Semua dilakukan oleh Ren ketika penjaga tidak ada. Dan kebetulan, Ren ditempatkan di sebuah penjara paling ujung yang jauh dari penjara lainnya.
.....
Telah berlalu beberapa jam semenjak Ren dimasukan ke dalam penjara. Dalam kurun waktu itu, dia melakukan berbagai macam hal termasuk sedikit melakukan percobaan. Hasilnya, Ren menemukan beberapa fakta menarik terkait Kota Soliedavosa.
Perkiraan Ren terkait penghalang persepsi mana terbukti salah besar. Dimana sebelumnya dia mengira penghalang persepsi mana ini bersifat mutlak dan tidak dapat ditembus oleh apapun.
Namun semua itu terbukti tidak benar, jika Ren meningkatkan persepsi mana pada satu titik selayaknya jarum yang menusuk. Maka dia bisa menembus penghalang persepsi mana itu.
Fakta yang paling penting adalah tidak ada keberadaan Mana yang sama dengan Rakuza, Raytsa, maupun Rusava. Persepsi mana Ren telah membuktikan hal itu dengan mencari ke seluruh penjuru kota.
Kemudian Ren memfokuskan diri untuk memeriksa bangunan yang ada di pusat kota. Kemungkinan besar bangunan ini adalah Temple of Earth, kediaman dari Great Bishop of Earth sekaligus kuil pusat tempat pengikutnya menyembah dewa.
Beberapa keberadaan memiliki penghalang persepsi mana di sekitar mereka. Sehingga cukup sulit untuk Ren menembus dan melihat seberapa besar kekuatan mereka satu per satu.
Namun ada satu hal yang pasti, orang yang menyandang gelar Great Bishop berada di tempat tertinggi seorang diri. Ren tidak mampu menebak apa yang sedang dia lakukan karena dia hanya diam tak bergerak.
Persepsi mana kembali menyusuri Temple of Earth dan menemukan sesuatu. "Oh?"
Ren akhirnya menemukan Nirlayn dan Arystina yang saat ini berada dalam salah satu ruangan Temple of Earth. Berdasarkan kondisi, pergerakan, dan gelombang mana yang dikeluarkan, mereka berdua tidak dalam kondisi yang berbahaya.
Menyadarinya membuat Ren menghela napas lega, lalu menyudahi pemeriksaan Kota Soliedavosa.
Seraya mendengarkan suara langkah kaki yang semakin mendekat, Ren bangkit dan berdiri. Menunggu kedatangan orang yang akan memeriksanya sebagai tahanan.
Beberapa saat kemudian, seorang lelaki muda berzirah emas datang seorang diri. Melangkahkan kaki dengan percaya diri dan berekspresi penuh kesombongan. Dia membusungkan dada dan menengadahkan kepala, seolah dia memandang rendah semuanya.
Tidak ada kata-kata lain yang bisa di ucapkan oleh Ren untuk menggambarkan dirinya selain menyebalkan. Untuk ukuran seorang lelaki yang terlihat lebih muda darinya (di bumi), dia terlalu sombong.
Pintu dari penjara dibuka, lelaki itu masuk ke dalam penjara seraya melirik kanan-kiri seolah tidak ada orang disana. Seperti dengan sengaja menghiraukan sosok Ren yang berdiri dihadapannya.
"Hoo ... maaf, Tuan Lart ini tidak menyadari ada orang lemah sepertimu sebelumnya." Lelaki itu, Lart menyipitkan mata dengan sinis.
Grakk!!
Ren mengepalkan tangan sampai beberapa tulang dari tangannya retak. Hal yang mengerikan dari semua itu adalah, Ren masih tersenyum ramah ketika melakukannya.
Pemandangan ini terlihat seperti pertarungan kesombongan antara dua orang yang arogan. Saling menatap untuk beberapa saat tanpa bergerak dan tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.
Merasa dirinya direndahkan, Lart memandang Ren penuh amarah sambil mengucapkan kata-kata makian, "Menjijikan! Seorang sampah sepertimu tidak berhak merasa setara denganku!"
Lart itu menggerakan lengan, berniat untuk menyerang Ren yang dalam keadaan diam. Namun sebelum dia menyerang, sebuah pukulan keras melayang ke arah wajahnya.
Pukulan Ren itu menghempaskan dan seketika membuat Lart tidak sadarkan diri dengan mulut yang berbusa. Ren sampai melamun tidak percaya dengan semua itu.
"What the ... makhluk sombong ini ternyata sangat-sangat lemah."
Bagaimana bisa makhluk selemah ini mendapatkan rasa kesombongan yang luar biasa tinggi? Ren merasa tidak mengerti.
Namun pada akhirnya, Ren menyerah untuk memikirkan masalah lain. Daripada diam merenungi kelemahan orang lain, lebih baik dia segera mengeksekusi rencana.
__ADS_1
Portal inventory terbuka saat Ren merentangkan lengannya. Ia mengambil sebuah pakaian biasa yang sangat sederhana lalu menaruh pakaiannya di samping tubuh Lart.
"Ok, mari kita lakukan."
Aura merah darah merembes keluar dari tubuh Ren bagaikan sebuah kabut yang muncul tiada henti. Aura merah darah itu menyelimuti seluruh tubuh dan sosok Ren untuk beberapa saat, sebelum akhirnya menghilang dan memperlihatkan sosok Ren yang berbeda.
Selain dari zirah emas, Ren telah meniru dengan sempurna sosok Lart yang saat ini tidak sadarkan diri. Mulai dari rambut pirang yang disisir ke belakang, wajahnya yang arogan, dan bentuk tubuh.
Ini adalah pertama kalinya Ren merubah tubuhnya secara keseluruhan menjadi sosok yang benar-benar berbeda. Kemampuan ini sudah termasuk dalam kategori terlalu luar biasa karena bisa meniru dengan sangat sempurna.
Sayangnya, Ren belum memberikan nama untuk kemampuan luar biasa yang satu ini. Mungkin dia akan memikirkannya dengan baik saat melakukan penyusupan nanti.
Ren melepaskan semua zirah emas yang dipakai oleh Lart kemudian mengenakannya. Dengan zirah emas ini, penyamaran Ren bisa dikatakan sudah sangat baik. Hanya ada satu kekurangan yang seharusnya bisa menyempurnakan sebuah penyamaran, yaitu informasi.
"Ehm." Ren membenarkan postur tubuh agar sesuai dengan perilaku dan sikap Lart saat berjalan.
Sesaat sebelum Ren memutuskan untuk keluar dari penjara, dia tiba-tiba mendapatkan sebuah ide yang luar biasa.
"Bagaimana dengan mengubah Lart sialan ini menjadi orang yang menyedihkan?"
Meski sebelumnya Ren tidak pernah menggunakan kemampuan ini pada orang lain, tapi apa salahnya dengan mencoba?
Percobaan itu kemudian dilakukan. Beberapa kali percobaan itu gagal, sampai akhirnya benar-benar berhasil dilakukan. Setelah itu Lart ditinggalkan begitu saja dalam keadaan yang mengenaskan.
___________________________________________
"Selamat sore, Tuan Lart."
"Sore hari yang cerah, seperti kecerahan Anda, Tuan Lart."
"Semoga Anda sehat selalu, Tuan Lart."
Tidak peduli dimanapun itu, orang-orang selalu menyapa dan memberikan hormat padanya. Tidak sedikit pula orang yang mendoakan agar Lart tetap sehat dan berjaya.
Bagaimanapun, mereka sebenarnya bertemu dengan orang yang salah. Lart yang begitu mereka hormati sudah berubah menjadi sampah di penjara.
Ren mencoba mengumpulkan informasi dengan berjalan-jalan di tengah kota. Namun ketenaran Lart sepertinya sangat besar, sehingga terjadilah rentetan salam dan penghormatan yang menyebalkan ini.
Semua penghormatan dari orang-orang itu berakhir ketika Ren mencapai kawasan Temple of Earth. Keberadaan para penduduk biasa sudah sangat berkurang di tempat ini.
Salah seorang prajurit mendekat dengan terburu-buru. Dia memberikan salam penghormatan pada Ren kemudian berbicara dengan sopan.
"Tuan Lart, hal yang langka menemui Anda disini. Ada urusan apakah?"
Hal langka? Bukankah Lart ini termasuk ke dalam pasukan Temple of Earth? Seharusnya tempat ini merupakan tempat berkumpulnya mereka. Jadi aneh jika dikatakan Lart cukup langka berada disini.
"Aku ingin menemui dua orang wanita yang kemarin ditangkap. Ada masalah?" jelas Ren masih dengan nada yang sombong.
Prajurit itu bergetar sambil menggelengkan kepala cepat. "S-sama sekali tidak! Mari saya antarkan Anda kesana."
"Hoo? Menarik, sepertinya status Lart disini tidak hanya sebatas pasukan Temple of Earth."
Ren menerima dengan terbuka niat baik dari prajurit itu yang ingin mengantarnya. Prajurit itu membawa Ren memasuki kuil besar dan megah yang disebut Temple of Earth.
Melewati beberapa jalan, ruangan, orang dan lorong sampai akhirnya berhenti di hadapan sebuah pintu.
"Disini, Tuan Lart." Prajurit itu menunjuk pintu tersebut.
__ADS_1
"Um, kau bisa pergi." Ren mengibaskan lengan dengan sombong.
Prajurit itu kemudian segera pergi. Entah itu hanya perasaan atau ilusi, tapi Ren merasa prajurit itu seolah melarikan diri.
"Hm ... terserahlah."
Pintu dibuka oleh Ren, menampakan segala sesuatu yang ada dalam ruangan, termasuk sosok Arystina dan Nirlayn. Mereka terlihat waspada dengan kedatangan Ren sambil menatap tajam ke arahnya.
Ren mengabaikan mereka, menutup kembali pintu secara rapat-rapat untuk menghindari siapapun yang berusaha mengintip.
Ketika berbalik, Ren disambut oleh sesuatu yang menarik dan tidak terduga. Baik Nirlayn maupun Arystina sudah siap untuk menyerangnya kapan saja.
"Bergerak atau mati." Nirlayn mengarahkan Blood Sword ke arah leher Ren.
Ren tersenyum kecut, tidak memiliki pilihan selain membatalkan penyamaran. Aura merah darah sekali lagi menutupi seluruh tubuh Ren dan mengubah kembali sosoknya seperti sedia kala.
Betapa tersentaknya Nirlayn dan Arystina begitu mengetahui bahwa sosok itu bukanlah musuh melainkan tuan mereka, Ren.
"Eh, ini benar-benar Anda 'kan, Yang Mulia?!" teriak Arystina sambil bergerak menjauh.
Nirlayn bersikap tenang, menarik Blood Sword dan menghilangkannya.
"Ren-sama, bagaimana bisa Anda berakhir dengan meniru sosok yang menjijikan itu?"
"Itu tidak penting."
Ren duduk pada kursi yang ada di ruangan itu kemudian menjelaskan situasi yang telah dia ketahui. Tentang Rakuza, Rusava dan Raytsa yang tidak ada di kota ini, dan tentang pergerakan yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Ren-sama, bolehkah saya memberi sebuah usulan?"
"Katakan saja."
"Bagaimana dengan bergerak secara terpisah?"
Ren mengangkat alis dan bertanya, "Apa maksudmu?"
Nirlayn menghirup napas dan kembali menjelaskan usulannya, "Saya akan secara pribadi bergerak terpisah dengan Anda untuk mencari keberadaan mereka bertiga. Sedangkan untuk Arystina, terserah padanya akan mengikuti Anda atau pergi bersama dengan saya."
"Kalau itu aku sudah mengerti. Aku bertanya, mengapa kau mengusulkan sesuatu yang berisiko seperti ini?"
"Kalau itu ... saya hanya ingin merasa lebih berguna."
Mata Nirlayn dipenuhi dengan tekad dan ketulusan akan keinginannya untuk berguna. Ren menyadari hal ini tapi dia tidak bisa mengizinkan hal itu.
Siapa yang dulu hampir kehilangan nyawa karena mencoba mencari Ren di Hutan Loudeas? Ren tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.
"Baiklah, aku menolak usulanmu."
Penolakan mentah sudah diperkirakan oleh Nirlayn sebelumnya. Untuk itu dia tidak merasa keberatan dan hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
"Oh iya, ada satu hal lagi yang harus aku katakan sebelum pergi." Ren merubah kembali sosoknya menjadi Lart yang sombong.
"Apa itu, Ren-sama?" tanya Nirlayn.
"Anda mau kemana, Yang Mulia?" tanya Arystina.
"Carilah Avrogan terlebih dahulu. Aku memiliki sedikit urusan dengan Great Bishop yang ada di atas sana."
__ADS_1
Ren melambaikan tangan sebelum akhirnya keluar dari ruangan. Nirlayn menghela napas lelah sesaat setelah Ren meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Arystina, dia ikut menghela napas tanpa alasan yang jelas.
"Hei ... Arystina, bagaimana jika kita sedikit merencanakan sesuatu?"