Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 146 : Keanehan Berlanjut


__ADS_3

Sudah berlalu cukup lama semenjak Arystina melihat kepergian Ren bersama Rusava yang terburu-buru. Menilai dari ekspresi yang terlihat, sepertinya mereka mendapatkan masalah serius yang harus segera ditangani. Entah masalah seperti apa itu dia tak tahu, tetapi yang pasti dirinya berharap bahwa masalah itu bisa diatasi dengan mudah.


"Ne ... Ratu, sedang memikirkan apa?" Aurlin bertanya sambil tersenyum. Sepertinya dia berusaha menggoda Arystina yang sedang melamun.


Tersadarkan oleh panggilan Aurlin, Arystina menoleh lalu tersenyum lembut, senyum yang selalu ia tunjukan ketika Aurlin merasa cemas atau khawatir terhadap dirinya.


"Mhm, hanya sedikit memikirkan masa depan," jelas Arystina sembari menggelengkan kepala pelan.


Aurlin berpikir dan tidak mungkin percaya begitu saja. Bagaimanapun, Arystina telah berpikir cukup lama, tidak mungkin waktu yang tidak sebentar itu digunakan untuk memikirkan sedikit daripada masa depan bukan?


Angin berhembus lembut menerpa tubuh Aurlin yang sedang duduk bersantai di halaman istana bersama Arystina. Pandangan Aurlin lantas mengikuti arah angin yang menuju cakrawala, dan kini orang yang melamun adalah dirinya.


"Mungkinkah masa depan itu bersama Yang Mulia?" Aurlin masih tetap menggoda walaupun pandangannya telah pergi jauh entah kemana.


Sontak perkataan itu membuat Arystina sedikit tersentak. Lalu dengan perasaan yang menyangkal Arystina menggerakan tangan untuk mencubit lengan Aurlin sampai membuatnya meringis kesakitan.


"Anak kecil ini, memangnya apa yang kamu tahu?"


"Adu-duh ... Ratu, itu sakit," keluh Aurlin dengan ekspresi lucu.


Arystina tanpa sadar tertawa kecil saat melihatnya, "Fufufu, itu adalah hukumanmu karena berbicara sembarangan."


Aurlin mengusap-usap bagian yang dicubit oleh Arystina, hal itu secara mengejutkan masih terasa sedikit sakit. Aurlin tidak pernah berpikir bahwa Arystina akan mencubitnya tanpa menahan diri.


Namun berkat hal itu pula, Aurlin dapat mengetahui kalau tebakannya tidak benar-benar salah. Lagipula, siapa yang akan percaya pada seseorang yang menyangkal dari mulut tapi ekspresinya mengatakan sebaliknya?


"Ratu, mengenai masa depan itu sebaiknya jangan terlalu dipikirkan."


"Hm? Ah tidak apa-apa, aku hanya sedikir berpikir. Apakah di masa depan nanti, aku masih pantas untuk berdiri di sisinya?" Arystina terlihat khawatir.


"Kalau itu ... saya tidak tahu. Tapi terlepas dari semuanya, bukankah Ratu hanya perlu berusaha?"


"Usaha ya?"


Arystina tidak mengerti harus berusaha seperti apa. Bahkan dalam beberapa kasus terakhir, dia berusaha untuk bisa diandalkan tetapi pada akhirnya gagal kembali. Jujur hal itu sedikit membuat Arystina tidak percaya terhadap dirinya sendiri dan merasa sedikit trauma.


"Katakan, Aurlin. Menurutmu, aku harus berusaha seperti apa?" tanya Arystina serius. Dia mendekatkan wajahnya dengan wajah Aurlin sambil menatap Aurlin dengan penuh kesungguhan.


Mata yang sehijau zamrud itu sudah bergelimang cahaya harapan, menatap lurus ke dalam mata yang berwarna biru safir yang dipenuhi kegelisahan. Siapapun yang melihat ini pasti tidak bisa membuatnya kecewa, termasuk Aurlin yang berusaha keras memikirkan jawaban.


"Uhm, karena kekayaan dan kekuatan sudah pasti dimiliki oleh Yang Mulia, lalu bagaimana dengan perasaan dan kasih sayang untuk memenangkan hatinya?" usul Aurlin secara acak.


Arystina sedikit membulatkan mata, lalu menarik diri sambil tersenyum pasrah seolah tidak memiliki harapan lagi. "Tidak ada kesempatan. Mungkin kamu tidak tahu, tapi Yang Mulia itu dingin dan tidak peduli dengan hal-hal yang sepele."


"Mus ... tahil. Bagaimana bisa sebuah perasaan dianggap hal yang sepele?" sahut Aurlin tak percaya.


"Iya, karena itulah memperlihatkan perasaan hanya akan berakhir sia-sia."


Melihat cahaya harapan di mata Arystina mulai memudar, Aurlin berinisiatif untuk memberikan semangat lebih. Dia sendiri tidak yakin, tapi daripada melihat Arystina bersedih lebih baik dia mencari solusi apapun yang bisa dilakukan.


"Ratu, jangan menyerah. Saya memiliki satu usulan yang mungkin bisa dicoba?"


"Usulan apa itu?" Arystina penasaran tetapi secara tiba-tiba dia menyadari sesuatu dan sekali lagi mencubit Aurlin. "Sudah aku katakan berhenti memanggilku dengan sebutan Ratu karena itu sangat memalukan!"


"Auch ... sakit-sakit! Baiklah, Nona! Saya minta maaf!" Aurlin dengan putus asa meringis kesakitan. Walaupun dia telah meminta ampunan tetapi apa daya, Arystina telah melancarkan serangan <> yang bertubi-tubi.

__ADS_1


Setelah menerima serangan dahsyat, beberapa bintik merah muncul di lengan Aurlin yang putih dan mulus. Perbedaan warna yang sangat mencolok itu membuatnya terlihat semakin jelas.


"Uhuuu, sungguh kejam."


Aurlin memandang sedih pada lengannya yang terluka. Sementara itu, Arystina merasa sedikit bersalah dan menggunakan sihir penyembuhan sederhana untuk mengobati luka di lengan Aurlin.


"Jangan berlebihan, lukanya sudah sembuh. Sekarang katakan usulan apa yang kamu punya?"


Meskipun perasaan sakit itu sudah hilang, namun Aurlin masih merasakan betapa mengerikannya cubitan Arystina. Di masa depan, Aurlin akan mengingat untuk menghindar lain kali, dan sembari meyakinkan hal itu dengan sedikit enggan dia mulai bersuara.


"Anda tahu? Beberapa jenis pria di dunia ini akan luluh oleh ketulusan seorang wanita. Namun dengan mempertimbangkan sikap Yang Mulia itu yang sedikit aneh, tidak mungkin untuk mendekatinya hanya dengan perasaan semata. Anda benar-benar harus membuktikan betapa tulusnya perasaan itu kepada Yang Mulia!" kata Aurlin dengan penuh semangat.


Alih-alih menerimanya dengan baik, Arystina malah murung kembali. Faktanya, dia telah berusaha untuk membuktikan hal tersebut berkali-kali, dan semua usaha itu selalu berakhir dengan sebuah kegagalan. Tidak aneh jika orang lain menyebutnya sebagai orang tak berguna.


"Caranya?" Arystina tetap bertanya karena tidak ingin mengecewakan Aurlin yang masih semangat untuk membantunya mencari solusi.


"Jika boleh saya katakan, maka solusi yang ideal untuk mendekati Yang Mulia adalah menggunakan makanan!" balas Aurlin sangat percaya diri dengan saran miliknya.


Jawaban ini benar-benar tidak terpikirkan. Bukan karena aneh ataupun baru, melainkan karena terkesan seperti jawaban yang dipilih secara asal-asalan. Arystina sedikitpun tidak akan pernah berpikir untuk menggunakan makanan sebagai bentuk ketulusan hatinya.


"S-Sudahlah, Aurlin. Dalam hal masakan, aku kalah telak dari Nirlayn," lirih Arystina, menatap kekosongan dengan mata yang sama kosongnya.


Aurlin tersenyum puas mendengarnya. Bagaimana mungkin dia menyarankan hal ini kalau tidak memiliki peluang keberhasilan yang tinggi? Itu adalah apa yang dia katakan dari wajahnya.


"Nona tidak perlu risau. Menurut pengamatan saya selama beberapa hari ini, Nona Nirlayn tidak membuat masakan itu sepenuh hati, dengan kata lain dia tidak berniat memenangkan hati Yang Mulia menggunakan masakan. Lagipula, bukankah masalah itu bisa diselesaikan dengan mudah jika Anda melampaui Nona Nirlayn dalam memasak?"


Tidak ada kata lain yang dapat mencerminkan perasaan Arystina saat ini selain terharu. Setidaknya, meskipun Aurlin tahu bahwa Arystina tidak pandai memasak tetapi dirinya masih berusaha untuk memberikan motivasi yang kuat. Sungguh itu adalah keinginan memberi semangat yang begitu tinggi.


"Aku mengerti maksudmu, Aurlin. Tapi tetap saja tidak mungkin, aku buruk dalam hal masak-memasak, mungkin satu-satunya hal yang bisa aku buat hanyalah minuman yang terbuat dari buah?"


"Belajar pada siapa?" Arystina ingin tahu.


"Hm ... karena meminta pada Nona Nirlayn itu tidak mungkin, maka satu-satunya orang yang bisa mengajari kita adalah ... Nona Raytsa."


Aurlin bangkit lalu mengulurkan tangan untuk mengajak Arystina pergi menemui Raytsa. Akan tetapi, Arystina tahu betapa sibuknya Raytsa dalam penelitian sihirnya baru-baru ini sehingga tidak mungkin bagi mereka untuk meminta tolong.


"Nona, aku yakin dia akan membantu kita dalam masalah ini. Ayo kita segera pergi, atau memang Anda ingin kesempatan ini diambil oleh orang lain?"


Mendengar hal itu, Arystina merasa sedikit dilema antara harus mengikuti perkataan Aurlin atau tidak. Namun sebuah tekad tiba-tiba muncul sehingga dia dengan cepat mengambil keputusan.


"Uhm, baiklah."


Arystina meraih tangan Aurlin kemudian bangkit. Mereka berdua kemudian mengambil langkah yang cepat menuju ruang penelitian milik Raytsa. Saat diperjalanan, Arystina sadar bahwa Aurlin mengetahui beberapa hal yang seharusnya tidak dia ketahui. Dan itu membuat dirinya penasaran dari mana Aurlin mendapakan hal tersebut?


"Aurlin, aku merasa ada seseorang yang mengajarimu sesuatu?"


Aurlin lantas menoleh dan memberikan jawaban yang bisa diharapkan, "Yah ... Nona Raytsa sedikit berbicara mengenai hal itu."


Setelah tiba di ruang penelitian Raytsa, mereka berdua langsung mengutarakan keinginan mereka tanpa ragu, kemudian Raytsa menerimanya tanpa masalah tapi dengan syarat mereka harus membantu dalam penelitiannya.


Tidak ada kerugian, dan saling menguntungkan, sehingga kesepakatan di antara mereka bertiga pun dapat terjalin dengan baik walau tanpa sepengetahuan seseorang.


..._________________...


Ketika sudah berada di atas istana, Ren langsung mendarat bersama dengan yang lain. Termasuk dua orang tahanan yang dikurung dalam kubus merah yang pekat, mereka semua berjumlah enam orang dan kedatangannya cukup menarik perhatian.

__ADS_1


Beberapa anak roh yang sedang bermain-main terlihat tertarik, namun tidak berani menghampiri terlalu dekat karena sedikit takut, dan mereka berakhir dengan memperhatikan dari jarak yang cukup jauh.


"Rusava."


Ren mengambil sebuah kertas dari inventory lalu menuliskan suatu gambar di atas kertas tersebut. Setelah merasa puas dengan itu semua, Ren menggulung kertasnya lalu memberikan kertas bergambar itu kepada Rusava.


"Berikan ini kepada Raytsa. Itu adalah hal yang dapat membantu penelitiannya."


Tidak perlu dikatakan bahwa gambar yang dibuat di atas kertas itu adalah beberapa pola mana sederhana yang telah dia temukan. Bagaimanapun, suatu pola mana akan selalu berubah-ubah tergantung dari efek yang dihasilkan.


Gambar pola mana yang diberikan oleh Ren hanya dasar dari dasar pola mana sihir elemental, dengan kata lain Raytsa masih harus mengembangkan diri untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi.


Ren memang bisa memberikan semua yang dia tahu sekaligus, tetapi perbuatan itu tidak akan mengembangkan kemampuan Raytsa, dan malah akan berdampak buruk baginya. Untuk itu, Ren berniat membimbing Raytsa sedikit demi sedikit sampai titik di mana Raytsa bisa diajak berdiskusi mengenai beberapa sihir yang belum terpecahkan.


"B-Benarkah itu, Yang Mulia? Saya tidak tahu harus berterima kasih seperti apa lagi, dia pasti sangat bahagia mengetahuinya. Terima kasih, terima kasih banyak, Yang Mulia!"


Kesenangan Rusava meluap hingga batas tertinggi, mungkin karena menyangkut keinginan terbesar Raytsa sehingga dia bersikap demikian. Sikapnya itu membuktikan betapa kuatnya ikatan antara mereka berdua, jauh lebih kuat melebihi yang diperkirakan selama ini.


"Tidak masalah, ini hanya sedikit petunjuk kecil. Pergilah, berikan kertas itu kepada Raytsa, semakin cepat semakin bagus."


Rusava membungkuk hormat, "Kalau begitu, saya pamit pergi, Yang Mulia."


Setelah Rusava meninggalkannya, Ren memerintahkan Avrogan dan Indacrus agar bertugas seperti biasa. Umumnya tugas mereka berdua hanyalah diam di antara gerbang utama atau sesekali mengelilingi istana untuk memastikan keamanan.


Namun ketika penyerangan tiba, mereka adalah orang pertama yang akan menghadangnya sehingga tugas mereka berdua sebenarnya cukup penting untuk keamanan istana.


Ren bergegas pergi sambil berpikir, "Kemunculan mereka sungguh lebih cepat dari yang aku perkirakan. Mungkin karena terpengaruh oleh kehancuran Kerajaan Suci Sancteral sehingga mereka benar-benar bergerak. Sebaliknya, bagaimana bisa hipotesis acak yang kubuat benar-benar tepat sasaran?"


Kekaisaran Lodysna berubah menjadi kuat dalam kurun waktu tiga tahun lantas dikaitkan dengan kemunculan para pemain yang datang di waktu yang bertepatan. Ini adalah perkiraan yang berdasar pada bukti yang kurang akurat tetapi menghasilkan sesuatu yang sangat akurat, benar-benar tidak terduga.


Bahkan Ren tidak berharap bahwa semua pemain puncak yang tersisa akan berkumpul di Kekaisaran Lodysna. Hal itu sangat mengerikan dalam artian yang berbeda karena dia seolah bisa melihat semuanya dengan akurat.


"Pria itu mengatakan ... empat dari mereka ya? Meskipun aku yang tertinggi tapi alangkah baiknya aku berhati-hati," gumam Ren mengingatkan dirinya sendiri.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuan. Tidak perlu dikatakan lagi bahwa ruangan besar ini merupakan penjara yang tersedia di istana.


Namun siapapun akan berpikir bahwa tempat ini terlalu bagus untuk disebut sebagai penjara. Tidak ada hal kotor dan bau, dan tidak ada perasaan mengerikan yang selalu menyertai nama penjara, ruangan ini lebih mirip seperti penginapan yang bersih dan terjaga rapi.


Setelah pintu masuk ruangan hanya terdapat satu lorong dengan kedua sisi lorong diisi oleh beberapa ruang tahanan. Jumlah keseluruhan ruang tahanan adalah sebelas ruangan dengan lima ruangan di kedua sisi, dan satu ruangan di ujung lorong.


Material yang menyusun penjara ini terdiri dari beberapa logam yang memiliki konduktivitas mana yang baik sehingga memungkinkan istana untuk menerapkan sistem pertahanan di semua bagiannya. Sistem pertahanan itu dimulai dari anti-sihir, peredaman kekuatan fisik, sihir ilusi, sihir penenang, atau bahkan sihir penyerangan jika diperlukan.


"Baik, mari pilih yang satu ini."


Ruangan pertama sebelah kanan telah diisi oleh seseorang, karena itu Ren menempatkan tahanan baru ini di ruang pertama sebelah kiri. Ada alasan mengapa mereka disatukan dalam satu ruang yang sama, salah satu alasan itu karena mereka berdua memiliki ikatan pertemanan yang cukup erat tentunya.


TAK!


Kubus merah pecah berkeping-keping yang membuat dua orang itu sukses dibebaskan. Mereka berdua terkejut, tetapi dengan sigap langsung melihat ke sekeliling untuk memperhatikan situasi.


Begitu arah pandangan mereka terpaku pada satu titik di mana ada seseorang tengah berdiri dengan tegap memandangi mereka sambil tersenyum ramah, mereka langsung mengetahui situasinya.


Ren kemudian menunjukan keramahan yang luar biasa dengan cara meregangkan seluruh bagian tubuh seolah akan bertempur sambil berkata menggunakan kalimat yang tidak kalah ramahnya, "He-he-he, mohon kerja-samanya?"


GLEK!

__ADS_1


Mereka langsung memeluk satu sama lain seraya menelan ludah lalu mengangguk cepat sebagai bentuk konfirmasi.


__ADS_2