
Pada hari Pengadilan Raja dilaksanakan. Lin-Ya dan Nirlayn diberikan hak untuk duduk di kursi penonton oleh Sarlyn. Meski hanya para bangsawan dan orang penting di Kerajaan yang diperbolehkan menyaksikan Pengadilan Sang Raja. Tetapi Lin-Ya dan Nirlayn saat ini diberikan sebuah pengecualian.
Lin-Ya dan Nirlayn duduk bersebelahan, keduanya sedang menatap Arena dengan penuh perhatian.
"Lakukan penghormatan bagi Yang Mulia Raja!"
Lin-Ya yang mendengar Instruksi ini, dengan segera berlutut pada Sang Raja dengan sungguh - sungguh. Seakan Sang Raja memang sedang ada di hadapannya. Semua orang yang berada di kursi penonton pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Lin-Ya.
Sementara Lin-Ya berlutut dengan penuh kesungguhan, Nirlayn malah terlihat duduk biasa saja. Pandangan matanya terus menatap ke arah Arena. Lin-Ya terkejut melihat Nirlayn tidak berlutut sama sekali.
Dengan posisi masih berlutut, Lin-Ya berusaha memanggil Nirlayn..
"Sst... Nirlayn, mengapa dirimu tidak berlutut?!" Lin-Ya protes.
Nirlayn berbalik pada Lin-Ya yang memanggil Namanya. Meski begitu, Ekspresi nya tidak terkejut maupun merasa bersalah sama sekali. Malahan, Nirlayn terlihat kebingungan atas perkataan Lin-Ya.
"Huh? Apa maksudmu dengan berlutut? aku hanya akan berlutut pada Ren-sama atau seseorang yang Ren-sama perintahkan untuk dihormati.." Nirlayn mengatakan hal ini dengan acuh tak acuh.
"Apakah kamu tidak mengerti?! kita ada dihadapan Sang Raja!" Lin-Ya semakin menyuarakan protesnya.
"Aku tidak peduli, lagipula... Ren-sama juga tidak berlutut." Nirlayn menunjuk pada Arena dibawah. Tepatnya pada sosok Ren yang berdiri dengan tenang.
"Apa maksud... Eh?!"
Lin-Ya menolehkan pandangannya pada Arena. Begitu melihat Ren yang masih berdiri dan tidak berlutut sedikitpun, Lin-Ya terkejut.
*
*
*
*
*
*
The King's Area.
"Ahha.. Aku melupakan kalian."
Ren secara tiba - tiba muncul dihadapan semua orang. Kedatangan nya yang tidak diharapkan membuat hati semua orang membeku. Dalam sekejap mata, sosok Ren yang berada di Arena kini muncul dihadapan Mereka.
"Bagaimana jika kalian mendengarkan Ceritaku...?"
Ren mengatakan hal ini dengan tersenyum tulus. Tapi, senyuman Ren sama sekali tidak membuat Raja, Ratu, Sarlyn dan Pangeran senang sama sekali. Mereka malah merasakan sebuah Terror dibalik senyuman itu.
"Bagaimana ini... Rajaku?" Ratu berbicara dengan putus asa.
"Tch... Maafkan aku, Rialna, Etharez, karena kecorobohanku.. Kalian terseret semua masalah ini." Raja berkata penuh penyesalan, pandangannya menatap Ren dengan waspada.
"Tidak perlu mengucapkan sesuatu yang menyedihkan seperti itu...." Ren mengibaskan lengannya.
"Aku tidak berniat jahat sama seka...Hm?"
Kata - Kata Ren terpotong, dirinya menoleh ke arah seorang pria yang berada di ruangan itu. Seorang pria yang terasa tak asing bagi dirinya...
"Ya ampun, aku tak menyangka akan bertemu denganmu disini, Fraudlin."
Fraudlin tersentak oleh kata - kata Ren, Ekspresi wajahnya seolah - olah tidak percaya.
"Apakah itu benar - benar anda, Ma-Master.... Ren?" Fraudlin berbicara terbata - bata.
"Tepat sekali....." Ren mengangguk.
"Lalu... Apa maksud semua ini....? dan kenapa wujud anda menjadi.... um.. buruk?" Fraudlin terlihat Ragu - Ragu dan mencurigai Ren.
"Biarkan aku menjelaskan itu nan-"
"M-Ma-Mati! [Thousand Wind Blade]!" Sarlyn berteriak tiba - tiba.
"Tidak! Tunggu! Sarlyn!" Fraudlin berteriak berusaha menghentikan Sarlyn yang melepaskan Sihir nya.
Tapi, Fraudlin sudah terlambat, sebuah Lingkaran Sihir muncul dihadapan Sarlyn.
Lingkaran Sihir itu menciptakan Bilah - Bilah angin yang tak terhitung jumlahnya. Bilah angin melesat pada Ren dengan kecepatan tinggi. Menghasilkan sebuah Suara yang unik ketika itu melesat di udara.
Dessh! Dessh! Dessh! Dessh! Dessh!
Ren memunculkan sebuah Pedang entah darimana. Dalam sekejap mata, Ren melakukan beberapa tebasan sekaligus.
Shing! Shing! Shing! Shing! Shing!
Setiap tebasan menghasilkan sebuah Garis Cahaya yang indah di udara. Ketika Bilah Angin mengenai Garis Cahaya, Bilah angin akan menghilang tanpa perlawanan.
Bruk!
"Ap-Apa...... Si-Sihirku...."
Sarlyn terjatuh, dirinya mundur beberapa langkah.... Ekspresinya menunjukan keputusasaan. Pada awalnya, Sarlyn berpikir serangan Bilah angin miliknya akan memberikan beberapa luka pada Ren. Namun, semua itu hanya harapan yang tak lebih dari sebuah mimpi belaka.
Raja, Ratu, dan Pangeran yang mengharapkan hasil yang sama dengan Nirlayn pun merasa putus asa. Bagaimana tidak, bahkan Sihir Angin milik penyihir terkuat Kerajaan dikalahkan dengan mudah oleh Ren.
"Sihir yang Bagus, tapi itu terlalu lemah. Sayang sekali, bahkan itu tidak bisa melukai pria menjijikan sepertiku..." Ren menggelengkan kepala tak berdaya.
"Tidak ada pilihan lain.. Nona satu ini memang tidak bisa diatur... [Blood Ruler : Multi Blood Prison Cube]"
Semuanya memasang Ekspresi Ketakutan ketika Ren menyebutkan Skill miliknya.
Mereka semua telah mengetahui, betapa mengerikannya Kutukan dari Korak Merah yang ditanamkan pada Putri Duke.
Raja, Ratu, Pangeran, dan Sarlyn terbungkus Kubus merah transparan dalam sekejap.
Mereka berusaha memberontak untuk bisa keluar dari kubus ini.
"Jangan bawa Istriku dan Anakku ke dalam masalah ini! Mereka tidak ada hubungan nya!" Raja berteriak marah.
"Master Ren! apa yang anda lakukan?!" Fraudlin berteriak, dia terkejut atas apa yang Ren lakukan pada Sang Raja. Hanya Fraudlin sendiri yang tidak dibungkus oleh Kubus merah ini.
"Berisik sekali, lihatlah.. Aku hanya mengurung mereka. Tidak lebih dari itu..."
Mendengar perkataan Ren, Fraudlin memperhatikan pada Raja dan lainnya yang terkurung dalam kubus. Tidak ada apapun yang terjadi, mereka hanya terkurung dalam kubus itu.
"An-Anda benar, Master Ren.. Tapi, mengurung Sang Raja itu sedikit...."
__ADS_1
Ren mengabaikan perkataan Fraudlin, Ren berjalan kemudian berdiri di hadapan Sang Raja.
"[Blood Art : The Throne]"
Menggunakan Skill Blood Art nya, Ren meniru sebuah singgasana yang indah dan megah. Singgasana itu terbentuk tepat dihadapan ketiga orang yang terkurung dalam kubus merah.
Ren duduk di singgasana dengan kaki disilangkan. Lalu Ren menopang dagu menggunakan tangan kanan miliknya.
Sosok Ren yang duduk begitu Elegan layaknya seorang Raja yang sesungguhnya.
"Dengarkan hal ini, Esdagius."
Suara Ren begitu tenang dan dalam, berbeda dari Suara Ren yang sebelumnya.
"Apa yang kau Katakan pada Yang Mulia?!" Pangeran pertama tidak terima Ren memanggil Nama Sang Raja tanpa penghormatan sedikitpun.
"Rajaku..." Ratu menatap Sang Raja dengan khawatir.
"Tenanglah kalian berdua...." Raja menenangkan keduanya. Meski dirinya sedikit cemas, Harga diri seorang Raja masih menempel di hatinya.
"Apa yang kau inginkan....?" Raja menatap Ren yang duduk di singgasana.
"Hm... Sebelum itu, Gunakanlah mata unikmu terlebih dahulu."
"Apa...? Apa.. yang kau maksud?"
"Tidak usah bagimu untuk berpura - pura. Bagiku, merasakan suatu hal yang aneh dari matamu itu sangat mudah..."
Ren menunjuk pada kedua mata Sang Raja yang memiliki pupil berwarna Emas.
"Grg..... Bagaimana bisa...." Raja terlihat menyerah, kedua matanya kini mengeluarkan Cahaya Keemasan.
"Bagus, akan aku mulai kisah ini dari ketika aku sampai di Kota Rondelia..."
Ren mulai menceritakan kisahnya, dari awal dia sampai di Kota Rondelia. Lalu, tentang putri duke yang menindas orang lemah. Kemudian pertemuan nya dengan Rin-Yu, sampai pada malam dimana Kota Rondelia diserang oleh sekelompok orang yang misterius.
Ren bercerita dengan penuh kesungguhan, setiap detail dia katakan dengan jelas.
Seolah - olah, kejadian itu baru saja Ren alami. Ren terlihat seperti pendongeng yang luar biasa ketika menceritakan hal ini.
"Kesimpulannya, aku adalah orang yang menyelamatkan Kota Rondelia."
"Selesai..." Ren mengakhiri Cerita dengan senyuman.
"O-Omong Kosong! Penjahat sepertimu sudah pasti pandai berbual! aku tidak mempercayai sedikitpun ceritamu itu!" Pangeran Etharez membentak tidak terima.
"Anakku...!" Raja berteriak Marah.
"Jaga bicaramu itu! Dia sama sekali tidak.... Berbohong." Raja mengatakan ini dengan wajah putus asa.
"Rajaku?! Bagaimana.....mungkin." Sang Ratu pun menutup mulutnya dan berteriak tak percaya.
"Benar Yang Mu- Tidak, Ayah! Itu tidak mungki-"
"Diam! Apakah kalian meragukan [Eye of Truth] Milikku yang merupakan berkah dari dewa..?" Raja membentak keduanya, lalu menunjukan kedua mata yang bersinar miliknya.
Ratu dan Pangeran pun terdiam, tidak memiliki pilihan selain mempercayainya. Tidak mungkin bagi Keduanya untuk mendustakan [Eye of Truth] yang merupakan berkah dari Dewa.
Prok.
"Ck.Ck. Pertengkaran keluarga itu tidak baik, kunci kebahagiaan salah satunya adalah keharmonisan keluarga."
'Apa yang pria ini katakan?' Semua orang memikirkan hal yang sama atas perkataan aneh Ren yang tiba - tiba. Perkataan Ren merupakan kebenaran, tapi tidak cocok dengan suasana yang ada saat ini.
"Pfft Hahah... Gagal ya, padahal aku berusaha mencairkan suasana suram saat ini." Ren tertawa, hanya dirinya yang tertawa.
"Aku, ingin menanyakan sesuatu.." Raja terlihat suram.
"Oh, apa itu?"
"Siapa dirimu sebenarnya..?"
"Heh.... Siapa yang tahu.?" Ren terlihat berkata dingin, dirinya menatap Sang Raja dengan serius.
"Baiklah...." Ren berdiri dari singgasana nya, dia berjalan lalu berhenti dan menatap Langit yang cerah.
"Jadilah bawahanku, maka aku akan memberitahumu..."
Sontak, semua orang yang mendengar hal ini sangat terkejut. Seorang lelaki ingin menjadikan Raja sebagai bawahannya, bahkan dalam mimpi mereka tidak pernah memikirkan hal ini.
"Be-Beraninya kau!" Pangeran berteriak marah, urat - urat yang ada di kepalanya terlihat menonjol. Menandakan bahwa dia memang benar - benar marah saat ini.
Sang Raja mengeluarkan keterkejutan yang sama. Meski Harga dirinya sudah direndahkan sejauh ini, tetapi pengalaman menjadi seorang Raja membuatnya masih bisa berpikir dengan dingin.
"Haa... Apa kau gila? Menjadi bawahanmu berarti kau ingin merebut takhta dan menjadi Raja Kerajaan Aulzania ini?" Raja bertanya dengan tenang.
"Rajaku..." Sang Ratu terlihat khawatir, dia cemas Sang Raja akan menyerahkan takhta pada seorang yang tidak diketahui ini.
"....." Perkataan Sang Raja membuat Ren tak dapat berkata - kata. Wajahnya terlihat keheranan, dalam ekspresinya terlihat jelas bahwa dia bergumam 'Apa yang dia bicarakan?' dalam hatinya.
"Pfft... Hahaha... Hal bodoh macam apa lagi yang kau pikirkan! aku tidak habis pikir... Bagaimana mungkin aku ingin menjadi Raja ditempat Kecil seperti ini?" Ren tertawa mengejek Sang Raja.
"Grgg... Apa maksudmu...?" Raja pun kini tidak bisa menahan kekesalannya.
"Sudah cukup ayah! dia hanya mempermainkan kita!"
Tak!
Ren menjentikan jarinya....
"Kalau begitu.... Rialna Asdeen Ri Aulzania, Etharez Hilren Ri Aulzania, Fraudlin Hurgart. Lalu..."
"Esdagius Losgan Ri Aulzania, Perhatikanlah dengan mata kalian baik - baik.... Inilah, sosokku yang sebenarnya...!"
Swoosshhhh!!
Sebuah angin kencang tiba - tiba muncul, membentuk sebuah pusaran dengan Ren sebagai pusatnya. Kemudian, kabut merah darah keluar dari tubuh Ren, kabut itu mengikuti pusaran dalam bentuk benang - benang yang indah.
Ketika benang - benang merah darah itu mengenai kulit Ren. Kulit itu akan mengelupas, menampakan sebuah Kulit yang seputih susu di dalamnya.
Beberapa saat kemudian, Angin itu berhenti, kabut itu menghilang. Menyisakan hanya seorang Ren yang masih berdiri di tempat yang sama. Tetapi, sosoknya telah benar - benar berbeda...
Rambutnya berubah menjadi hitam mengkilap. Matanya berubah menjadi merah menyala. Kulit yang seputih susu kini terlihat disana. Wajah Ren yang sebelumnya terlihat buruk kini berubah menjadi seorang lelaki yang sangat tampan. Pakaian yang Ren kenakan telah berganti, menjadi sebuah pakaian yang elegan berwarna hitam.
Jika dibandingkan, wujud Ren kali ini dengan yang sebelumnya. Bagaikan sebuah langit dan bumi.
__ADS_1
Semua orang tertegun, menatap sosok Ren yang telah berubah. Mereka semua terpesona, takjub dan terpikat oleh sebuah sosok yang bisa disebut mahakarya di hadapan mereka.
Dag Deg!
"Guhkkk...." Raja terbatuk secara tiba - tiba.
Menyadarkan semua orang yang masih terpana oleh sosok Ren yang berubah.
"R-Rajaku...?!!" Ratu berteriak ketika menyadari Sang Raja yang terjatuh pingsan dalam kubus merah.
"Ayah! Ayah! apa yang terjadi?! Keluarkan aku dari sini!"
Dang! Dang!
Kubus merah mengeluarkan suara yang berat ketika itu dipukul oleh Sang pangeran. Dia berusaha untuk menghancurkan kubus merah walaupun itu semua sia - sia.
*
*
*
*
*
*
"Anakku Esdagius, kamu kesulitan tidur lagi?"
Seorang wanita yang cantik terlihat sedang duduk di samping sebuah Ranjang yang mewah. Dia berbicara pada seorang Anak kecil tampan yang sedang terbaring di Ranjang itu dengan mata terbuka.
"Ibunda, maukah Ibunda menceritakan kisah agar aku bisa tertidur?"
Anak Kecil itu terlihat merajuk, pada seorang wanita yang tidak lain adalah ibunda nya sendiri. Menanggapi Rajukan putra nya, wanita itu hanya tersenyum dengan lembut. Sebuah senyum dari seorang ibu yang benar - benar menghangatkan jiwa.
"Tentu saja, bagaimana jika Ibu menceritakan sebuah kisah baru?"
"Kisah ba-ru...?" Esdagius kecil itu memiringkan kepalanya dengan lucu.
"Um.. Ibu mulai ya.."
Beribu - ribu tahun yang lalu, ketika dunia ini sedang dalam masa yang damai. Sebuah portal Ruang waktu dan dimensi tiba - tiba terbuka. Ras yang tidak diketahui muncul dari dalam Portal itu. Sebuah Ras yang kejam dan tidak memiliki belas kasihan.
Mereka dengan semena - mena mengacaukan seluruh dunia. Menindas seseorang yang lemah, dan menyiksa siapapun orang yang mencoba untuk melawan. Mereka menganggap orang selain yang berasal dari Ras mereka adalah sampah semata.
Pada saat itu Dunia dilanda kekacauan yang hebat, pertumpahan darah dimana - mana.
Zaman dimana ini terjadi juga disebut sebagai Era kekacauan dan Kelahiran.
"Ibunda, aku mengerti jika itu kekacauan. Tapi apa maksudnya dengan Kelahiran?" Esdagius kecil bertanya pada ibunda nya.
"Kau akan mengerti setelah mendengar kisah ini sampai selesai.. Ibu lanjutkan ya. "
Sembilan Ras asli dunia ini, yaitu Manusia, Elf, Dwarf, Demi-Human, Malaikat, Peri, Roh, Naga, dan Iblis berusaha dengan sebaik mungkin untuk melawan. Tetapi, kekuatan dari Ras baru itu terlalu kuat, sembilan Ras yang bersatu bahkan tidak bisa mengalahkan mereka.
"Ehh?? Bukankah itu terlalu tidak adil, Ibunda?"
"Benar, itu tidak adil anakku. Tapi..."
Melihat derita yang dialami Ras asli dunia ini, para dewa tidak tinggal diam. Para dewa memberikan berkah pada pemimpin setiap Ras yang ada. Mereka diberikan berkah... sebuah Mahkota.
"Mahkota..?" Esdagius kecil terlihat bingung.
"Benar anakku... sebuah Mahkota."
Mahkota yang diberikan oleh Dewa bukanlah Mahkota biasa. Melainkan, sebuah segel terukir yang ditanamkan pada jiwa setiap pemimpin Ras. Segel terukir ini disebut dengan...... [The Crown Of Continents].
"Clown?" Esdagius kecil menggigit lidahnya.
"Haha.. Kamu salah anakku, yang benar adalah Crown."
[The Crown Of Continents] diberikan oleh Dewa bersama dengan Hak memerintah sebuah benua. Sembilan benua yang dipimpin oleh sembilan Ras yang berbeda. Para orang - orang yang memegang [The Crown Of Continents] disebut dengan sebutan [Continents Holder, The Monarch].
Setelah sembilan pemimpin Ras menjadi seorang Monarch, mereka memiliki kekuatan yang amat besar. Kekuatan yang sanggup melawan Ras baru yang menginvasi dunia ini.
Pertempuran antara Sembilan Monarch dengan Ras baru yang menginvasi berlangsung sangat lama. Sebelum akhirnya... Raja dari Ras baru itu muncul ke dunia ini, bahkan dengan Anugerah dari Dewa, sembilan Monarch masih belum cukup untuk mengalahkan seorang Raja dari Ras baru itu.
Dunia dilanda keputusasaan, saat mengetahui bahwa Sembilan Monarch bahkan dikalahkan. Harapan semua orang akan kehidupan telah terputus, mereka hanya pasrah menerima kematian yang akan mendatangi mereka.
"Lalu, bagaimana kita masih hidup saat ini ibunda?" Esdagius kecil bertanya lagi pada ibundanya.
"Kamu memang pintar anakku..."
Pada saat Populasi dari Sembilan Ras telah berkurang bahkan hampir mendekati punah.
Para Monarch berdoa sekali lagi pada Dewa, mereka mengharapkan sebuah keajaiban baru dari Sang Dewa.
Saat itulah, seorang yang misterius tiba - tiba muncul di dunia ini. Orang itu memiliki kekuatan yang dahsyat, satu per satu Ras baru yang menginvasi dunia dihabisi. Sampai pada saat dimana hanya tersisa Sang Raja dari Ras baru.
Keduanya bertarung dengan sengit, dikatakan, Gunung hancur, Laut terbelah, dan Tanah Bergoncang saat mereka bertarung. Menggambarkan betapa luar biasa dan dahysat nya pertarungan mereka.
"Siapa yang memenangkan pertarungan itu, ibunda?"
"Beruntung, Pertarungan itu dimenangkan oleh sosok misterius."
Ketika Ras baru telah dikalahkan sepenuhnya. Dunia penuh dengan suka cita, orang - orang menangis bahagia karena kedamaian yang sudah hilang sejak lama telah kembali. Sembilan Ras yang ada, sangat berterima kasih pada Sosok yang mengalahkan Ras baru. Sosok itupun memutuskan untuk menetap di dunia ini, Sosok itu menamai dirinya sebagai Ras... Vampire.
"Eh?! Vampire?! bukannya mereka adalah Ras yang dibenci karena suka berbuat semena - mena?" Esdagius kecil terkejut.
"Hahaha... Ayah dan Anak pun pasti memiliki perbedaan Anakku, sama halnya dengan para Vampire itu. Dulunya mereka adalah Ras yang dihormati dan terpuji. Ras Vampire sekarang kebanyakan hanya menyombongkan prestasi leluhurnya dimasa lalu..."
"Ehh.... Aku tidak mengerti sama sekali Ibunda. Lalu, kemana perginya para Monarch itu..?" Esdagius kembali bertanya.
"Tidak ada yang mengetahui dengan pasti kemana perginya mereka. Yang jelas, mereka masih dipercaya hidup sampai saat ini..." Wanita itu tersenyum pada Anaknya, dia lalu mengelus kepala anaknya yang sedang tertidur itu.
"Esdagius Anakku, kau diberkahi sebuah mata yang Unik dari Dewa. Ibunda yakin, suatu saat dirimu akan menemuka Monarch itu..."
"Apa hubungannya itu dengan Mata ku?"
"Ketika kau sudah besar, kau akan mengerti..... Sudah - sudah, cepat tidur."
Wanita itu beranjak pergi menuju keluar kamar ini.
"Oh.. Ibu melupakan satu hal, jangan ceritakan ini pada siapapun kecuali pada Keluarga Utama kerajaan..."
__ADS_1
Wanita itu kemudian menutup pintu, meninggalkan Esdagius kecil seorang diri yang terlihat kebingungan.