
Di Suatu Kamar, di Istana Kerajaan Aulzania.
Kamar ini dapat dideskripsikan dengan beberapa kata, yaitu sebagai Kamar yang Imut dan Bersih. Ada beberapa boneka - boneka manis yang dikhususkan untuk seorang perempuan. Tidak lupa, Kamar ini juga memiliki Ranjang tempat tidur yang tidak kalah bagus nya.
Tetapi, bukan itu keunikan yang sebenarnya dari Kamar ini.
Di Hari yang sudah mulai pagi, Mentari bersinar memasuki Kamar dan menerangi.
Terlihat seseorang sedang duduk dengan kedua lengan menyilang. Orang itu duduk dengan Elegan nya di sebelah Ranjang tempat tidur berada.
Kedua Mata dia yang menutup mengindikasikan, bahwa dia sedang berada di alam mimpi. Sebuah keanehan, melihat posisi dia tertidur sama sekali tidak membuatnya terganggu.
Seorang yang tertidur itu adalah Lelaki dengan Rambut Hitam Legam. Kulit nya yang seputih susu menjadikan kita bertanya, apakah itu hal yang mungkin dimiliki oleh seorang lelaki.? Lalu, Pakaian yang dia kenakan masih memiliki beberapa Kotoran debu yang menempel.
Sebuah Alasan yang menjadikan lelaki itu tertidur dengan cara seperti ini adalah seorang yang tidur di Ranjang. Dia adalah Putri Sylna, seorang yang menjadi anak Raja Esdagius.
Sejak kejadian kemarin, Putri Sylna selalu memanggil Nama Ren berkali - kali. Ketika itu, Ren sama sekali tidak mengerti apa alasan Putri Sylna memanggilnya. Ren hanya menenangkan Putri Sylna dengan cara menggenggam Tangan dan menjawab panggilan nya.
Meski begitu, cara itu cukup berhasil, sejenak Putri Sylna akan berhenti. Tetapi, beberapa saat kemudian dia akan melakukan hal yang sama. Itulah alasan mengapa Ren saat ini menunggu Putri Sylna di kamarnya seorang diri.
Sorot Sinar Mentari semakin menyilaukan, sebuah kebetulan besar Jendela Kamar ini menghadap ke sebelah Timur. Sinar yang menyilaukan tidak dengan sengaja mengenai Kelopak Mata Ren yang tertutup.
Perlahan - lahan, kelopak Mata itu terbuka, membuat Ren tersadar kembali ke Dunia Nyata. Dengan ketenangan yang Luar Biasa, Ren memandangi sekitarnya. Bahkan untuk orang seperti Ren akan sedikit kebingungan ketika baru bangun dari tidur.
Setelah melakukan hal itu, pandangan Ren kini terkunci pada Putri Sylna yang tertidur. Ekspresi wajah Ren terlihat sedikit rumit, di satu sisi dia ingin segera meninggalkan kamar ini, tapi disisi lain dia merasa kasihan pada Putri Sylna.
"Nah, apa yang harus kulakukan sekarang?" Ren berbicara pada dirinya sendiri.
Ren memegang dagu, dan menyilangkan kedua kaki ketika berbicara. Dia terlihat memejamkan mata dan memikirkan sesuatu.
Pada akhirnya, mata itu kembali terbuka, Ekspresi wajah Ren terlihat telah memutuskan sesuatu.
"Huff.... Mari kita lakukan itu untuk menghabiskan waktu."
Benang - Benang yang terbuat dari Mana mengambang di Udara. Benang Mana itu sendiri sangat indah, memiliki warna - warna dan bentuk yang beragam. Ren membentuk beberapa objek menggunakan Mana itu, terkadang itu membentuk Hewan. Terkadang pula itu membentuk Tumbuhan dan Bangunan.
Suatu Hal yang sangat sulit dipercaya, mengalirkan Mana saja sudah dianggap susah di Kerajaan ini. Tetapi, Ren bahkan dapat membentuk Mana menjadi objek tertentu dengan sesuka Hati. Kontrol Mana Ren yang sangat Luar Biasa lah penyebab semua ini.
Selama dipindahkan ke Dunia ini, Ren selalu melatih Pengendalian mana miliknya setiap Hari dan disetiap Waktu luang. Mungkin, andai saja orang - orang mengetahui Ren belajar semua ini satu bulan yang lalu. Maka mereka akan menganggap Ren Monster diantara para Jenius. Ren sendiri tidak mengerti, mengapa dia bisa mempelajari semua ini dengan mudah.
Awalnya dia beranggapan bahwa Hal ini sudah biasa di Dunia ini. Tetapi, setelah mengetahui bahwa orang - orang di Kerajaan ini tidak bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan. Ren menjadi sadar, bahwa dirinya sedikit tidak Normal.
Ren tidak dapat mengerti sedikitpun, apa sebenarnya Mana ini. Jika itu disebut Tenaga Dalam, jelas sangat berbeda. Lagipula, apa itu Tenaga Dalam Ren juga tidak tahu. Pengetahuan nya tentang Seni Beladiri yang berasal dari Bumi juga sangat dangkal.
Ketika Ren berpikir dengan sangat dalam dan Fokus. Sebuah Suara lembut dan lemah terdengar di telinga miliknya.
"Tu..an...Dir..va..ren."
Suara ini memecah semua Konsentrasi yang telah Ren kumpulkan. Mana - Mana yang terlukis indah di Udara langsung menghilang menjadi butiran - butiran Cahaya. Seketika wajah Putri Sylna yang lemah terlihat sedikit bermasalah.
"Maaf, T-Tuan Dirvaren." Ucap Putri Sylna penuh penyesalan.
"Yah, itu tidak masalah sama sekali."
Sebuah Senyuman tulus terlukis dengan indah di wajah Ren. Senyuman ini dimaksudkan untuk menenangkan Putri Sylna yang merasa bersalah.
"T-Tadi sangat indah... Saya s-sampai terpesona.." Putri Sylna berkata malu.
"Benarkah itu..? Aku pikir dirimu lebih Indah." Ren berkata dengan polosnya.
Sontak, perkataan Ren membuat wajah Putri Sylna memerah cerah. Dia tidak dapat berkata - kata dan hanya bisa menutup lalu membuka mulutnya secara cepat.
"A-Awaaa..!"
Putri Sylna dengan cepat menutupi wajahnya dengan bantal. Dia mengubur seluruh wajahnya itu dan tidak berani menatap Ren lebih jauh.
"Hmm...?" Ren memiringkan kepalanya.
Karena tidak dapat mengerti sedikitpun apa yang terjadi dengan Putri Sylna, Ren mengerutkan alisnya.
Dengan sebuah kebingungan di hati, Ren beranjak pergi untuk meninggalkan Kamar Putri Sylna. Dia harus segera menginformasikan Hal ini pada Raja Esdagius.
"Aku akan memberitahu ayahmu, tunggu disini sebentar." Ren memutuskan untuk tidak mempedulikan Putri Sylna lebih jauh.
Setelah berjalan beberapa saat, Ren membuka pintu kamar ini. Namun, ada sebuah perasaan berat ketika dia mendorong pintu. Ren merasakan Pintu ini lebih berat daripada sebelumnya. Dia bahkan berpikir apakah pintu ini sedang rusak atau apa.
"Apakah...... Aku menjadi lemah?"
Ren mencurigai bahwa tenaga yang dia miliki telah melemah. Buktinya pintu yang hanya sebesar ini bahkan terasa lebih berat, meski perbedaan itu hanya sedikit.
Drrrrrrrrrr!
__ADS_1
Memutuskan untuk tidak berpikir lebih jauh, Ren membuka pintu dengan paksa. Anehnya, dia merasakan sesuatu yang berat itu menghilang secara tiba - tiba ketika Ren mendorong setengahnya.
Bruk Brukk!
"Hm..?"
Sebuah suara sesuatu yang terjatuh terdengar, Ren dengan cepat melihat suara apa itu. Namun, sesuatu yang tidak dapat dipercaya terjadi. Disana, dua orang sedang terjatuh dengan keadaan menyedihkan.
"Apa yang kalian inginkan dengan mengintip disini? mana mungkin aku melakukan sesuatu kejahatan..." Ren berkata dengan wajah kesal.
Dua orang yang terjatuh itu kemudian pucat seketika. Mereka hanya bisa tersenyum dengan canggung menanggapi apa yang Ren katakan. Untuk dua orang itu, mereka adalah..... Raja Esdagius dan Pangeran Etharez.
Tap Tap Tap
"Ahh... Tuan Dirvaren, Maafkan saya. Mereka tidak dapat diberitahu, kekhawatiran mereka lah yang menyebabkan ini terjadi."
Ratu Rialna muncul dari bagian Koridor yang gelap. Dia berbicara dengan sebuah senyum bermasalah di wajahnya.
"H-Ha-ha.. Itu benar, Tuan Dirvaren bagaimana dengan Putriku?"
"Tuan Dirvaren, dia tidak apa - apa kan..?"
Raja Esdagius dan Pangeran Etharez bertanya secara bersamaan. Mereka yang sangat mengkhawatirkan Putri Sylna sepertinya bukan sebuah kebohongan. Ren mau tidak mau memaklumi sikap mereka berdua, bagaimanapun mereka adalah sosok penting di Kerajaan Aulzania ini.
"Haaa... Baiklah, tidak masalah. Putri Sylna telah sadarkan diri. Kalian bisa melihatnya sendiri."
Ren menghela napas, dengan ucapan yang berat Hati. Ren menunjuk ke arah dalam Kamar milik Putri Sylna. Raja, Ratu dan Pangeran pun segera beranjak untuk memastikan keadaan Putri mereka. Tapi, ucapan Ren selanjutnya membuat mereka berhenti berjalan sejenak.
"Oh... Ada satu hal lagi, dia sedikit aneh, aku tidak mengerti kenapa."
Ren menggelengkan kepalanya, berniat menunjukan Ketidak mengertian yang dia Rasakan saat ini.
"Ah-ha..ha, apakah anda mengatakan sesuatu yang aneh?" Raja Esdagius bertanya.
"Aneh? Kurasa... tidak." Balas Ren dengan yakin.
Namun, jawabannya ini malah membuat semua orang tersenyum Ragu - Ragu terhadap apa yang Ren nyatakan. Mereka sama sekali tidak mempercayai bahwa Ren tidak mengatakan suatu hal yang aneh.
"Ya, Saya mengerti. Kalau begitu Tuan Dirvaren, kami akan memeriksa keadaan Sylna terlebih dahulu."
Dengan senyuman penuh mencurigakan, mereka bertiga memasuki Kamar Putri Sylna. Kemudian Pintu ditutup dengan cukup keras, meninggalkan Ren seorang diri yang masih diliputi kecurigaan.
"Apa aku memang mengatakan hal yang aneh?" Ren berbicara sendiri sambil memandangi Pintu yang tertutup.
"Rusava, Raytsa, kalian disini kan?" Ren berbicara pada udara kosong.
Nada bicaranya dengan cepat berubah menjadi seorang Penguasa. Suara nya yang dalam dan dingin menggema di Koridor yang sepi. Kemudian, dua sosok dengan cepat menanggapi Panggilan Ren. Mereka langsung berlutut dihadapan Ren dengan wajah serius.
"Aku ingin kalian bertemu denganku nanti di depan istana... Jangan lupa panggil Rakuza dan Nirlayn juga." Ren memberikan titah.
"Ya, Yang Mulia." Balas Rusava
"Baik, Yang Mulia." Balas Raytsa
"Bagus, kalau begitu sampai jumpa nanti."
Ren lalu meninggalkan kedua orang itu dengan cara berjalan di Koridor. Tidak ada yang mengetahui dengan pasti, kemana tujuan dia saat ini.
*
*
*
*
Halaman Istana Kerajaan Aulzania.
Saat ini, Ren sedang membicarakan suatu hal dengan Rakuza dan Nirlayn. Hal ini berkaitan dengan Senjata - Senjata Sihir yang akan dia berikan pada Kerajaan Aulzania. Apalagi Kerajaan Aulzania sedang memulihkan diri dari kekacauan kemarin. Mereka tentu kekurangan kekuatan untuk menangani Invasi dari para monster yang akan datang.
"Rakuza, bagaimana dengan Kereta Kuda pengangkut barang yang kuminta?"
"Ya, semua telah saya urusi dengan lancar. Kereta Kuda telah siap membawa barang seperti yang anda minta."
"Bagus, Terima kasih Rakuza, Lalu Nirlayn.. Apa sesuatu yang kuberikan telah dikirim pada Fraudlin?"
"Dengan segala Hormat, saya telah mengirimkannya, Ren-sama."
"Mhm, sangat bagus.."
Ren melanjutkan perbincangan dengan mereka berdua. Kebanyakan perbicangan mereka bukanlah suatu hal yang penting. Hanya membicarakan sesuatu atau bertanya sesuatu. Tidak ada yang spesial dari hal itu sama sekali.
__ADS_1
"Dimana Kereta Kuda itu, Rakuza?"
"Saya menyuruh mereka untuk menyimpan Kereta Kuda di Penginapan Twin Lotus."
"Mhm...?" Ren memejamkan mata.
Dia terlihat memikirkan sesuatu untuk sementara. Tidak ada satupun dari Nirlayn maupun Rakuza yang berani mengganggu nya. Hanya beberapa saat kemudian, Ren kembali membuka mata.
"Baiklah, aku akan kembali ke penginapan. Rakuza, ikuti aku setelah beberapa waktu." Ren menginstruksikan sambil beranjak pergi.
"Ah! Ren-sama, dimana Tuan Rusava dan Nyonya Raytsa?" Nirlayn bertanya terburu - buru.
"Hm..? Mereka saat ini sedang kuperintahkan untuk menjaga Keluarga Kerajaan."
Ren melirik sebentar hanya untuk menjawab pertanyaan Nirlayn. Tetapi tak lama dia kembali berjalan sambil melambaikan tangan ke arah Nirlayn dan Rakuza yang ada dibelakang nya.
Rakuza dan Nirlayn tidak mengerti, mengapa Tuan mereka melambaikan tangan seperti itu.
*
~
*
Setelah sosoknya telah dipastikan menghilang dari Pandangan Rakuza dan Nirlayn. Ren kemudian bergerak dengan kecepatan penuh miliknya. Saat ini, Tujuan dia adalah Kereta Kuda Barang yang Rakuza katakan ada di Penginapan Twin Lotus.
Kereta Kuda itu sendiri akan dijadikan sebagai pengangkut Senjata Sihir yang berasal dari Ren ke Istana Kerajaan. Tentu saja saat ini Kereta itu masih kosong dan belum memiliki satupun isi. Maka dari itu, Ren berniat untuk sesegera mungkin mempersiapkan semuanya.
Dengan kecepatannya saat ini, tidak membutuhkan waktu lama bagi Ren untuk tiba di Penginapan Twin Lotus.
Suatu Kebetulan bahwa Dua Buah Kereta Kuda baru saja datang dan berhenti di depan Penginapan. Orang yang mengendarai kedua Kereta Kuda itu langsung memperhatikan Ren ketika mereka turun.
"Halo Tuan, apakah anda yang membeli Kereta ini?"
"Jika begitu, bisakah anda menyebutkan siapa yang anda suruh untuk membeli Kereta Kuda ini?"
Keduanya bertanya sesuatu yang berbeda pada Ren. Untuk pertanyaan orang yang kedua, itu memang masuk akal. Meski ini Dunia yang tidak masuk akal, tetapi kewaspaan adalah sesuatu yang harus dilakukan.
"Benar aku adalah orang itu. Seorang Pria Demi-Human Serigala yang bernama Rakuza adalah orang yang aku suruh."
Mendengar Jawaban yang diberikan oleh Ren, kedua nya saling menatap. Lalu dengan serempak mereka menggangguk satu sama lain.
"Ternyata memang anda..."
"Terima Kasih telah membeli Kereta Kuda ini."
Dua orang itu tersenyum dengan cerah, mereka lalu berpamitan pada Ren dan beranjak pergi. Setelah keduanya menghilang, Ren menghampiri Kereta Kuda dan memeriksa bagian dalamnya.
"Hoo... Lumayan besar, mungkin ini cukup?" Ren berkata sendiri.
"Mhm...? Jika tidak salah..." Ren memegang dagunya dan menutup mata.
Ren telah berjanji akan memberikan Tiga Puluh Senjata Sihir yang berkualitas tinggi. Lalu, Senjata Sihir yang lebih Rendah untuk Ksatria Aulzania yang tersisa. Setelah itu baru, Seribu Senjata Sihir Kelas Rendah untuk para Prajurit yang terpilih.
"Hm. Hm. Seharusnya aku tidak salah.."
Karena Posisi Kereta Kuda yang ada di depan Penginapan. Ren tidak mungkin mengeluarkan semua senjata yang akan diberikan secara terang - terangan. Maka dari itu, Ren terpaksa memasuki Kereta Kuda dan mengeluarkan semua Senjata disana.
"Hufff...." Ren menghela napas.
Kemudian, Ren menyodorkan lengannya ke dinding Kereta Kuda. Tetapi, Tangan itu malah menerobos masuk ke dalam sana. Dari sini terlihat jelas bahwa Ren sedang menggali Inventory miliknya.
Brak! Brak! Brak!
Ren terus menerus mengeluarkan berbagai macam Senjata Sihir. Baik itu yang berkualitas bagus maupun berkualitas biasa saja. Semua itu dia keluarkan dengan cepat, waktu yang terbatas membuat Ren tidak bisa menghitung dengan pasti Jumlah dari Senjata ini.
Brak! Brak! Brak!
Suara Keras yang berasal dari dalam Kereta Kuda membuat orang - orang yang berlalu lalang memperhatikan Kereta dengan seksama. Tetapi, tidak ada satupun orang yang mau memastikan apa itu. Kereta Kuda yang mewah dan besar ini terlihat milik seorang Bangsawan, maka dari itu mereka semua menjadi tidak berani.
Senjata yang Ren keluarkan secara sembarangan tentu saja menjadi berantakan. Terkadang, Ren harus menunda mengeluarkan yang lainnya terlebih dahulu, dan membereskan serta merapihkan senjata yang ada. Baru setelah itu dia melanjutkan mengeluarkan senjata - senjata dari Inventory miliknya.
'Hm.. Mengapa harus aku yang melakukan semua ini?' Ren berpikir dalam benaknya.
Wajah Ren terlihat Rumit, semua ini karena pertanyaan tentang mengapa harus dia sendiri yang melakukan ini ada dibenaknya. Meski demikian, dia tidak bisa membocorkan tentang Inventory ini pada siapapun. Mungkin hanya Nirlayn yang telah mengetahui hal ini.
'Ha.. Tidak mungkin aku memerintahkan Nirlayn untuk pekerjaan seperti ini.' Ren menyerah dan melanjutkan pekerjaannya.
Pada akhirnya, setelah berusaha dengan cukup keras, Ren berhasil memenuhi Kereta Kuda pertama. Selanjutnya, dia berpindah pada Kereta Kuda Kedua, meski disaat dia Keluar dari Kereta Kuda orang - orang memperhatikannya.
"Ya ampun, akan kuanggap ini sebagai caraku membersihkan sampah di Inventory."
__ADS_1
Mungkin para Bangsawan, Ksatria, Prajurit dan orang - orang yang mencari - cari Senjata Sihir dengan susah payah di Kerajaan ini akan menangis mendengar pernyataan Ren. Apalagi, perkataan Ren yang menyatakan bahwa Senjata Sihir yang mereka terus cari adalah sampah yang harus dibuang..