Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 133 : Merasa Kesulitan


__ADS_3

Bunyi pintu yang ditutup terdengar menderu, mendramatisir keadaan saat Ren pergi meninggalkan ruang takhta. Kini mereka yang menunduk untuk memberi hormat kepergian mulai bersikap biasa kembali.


"Baik." Raytsa memecah keheningan sambil berdiri menghadap semua orang. "Terima kasih semuanya, berkat kerja sama kalian, Yang Mulia terlihat senang dan tidak berpikir sesuatu yang tidak perlu."


Sebelum mereka menghampiri Ren di ruang takhta, Raytsa sempat bertanya tentang keputusan masing-masing. Raytsa sendiri merasa bahwa kebenaran tentang Ren bukan masalah sama sekali.


Tidak ada alasan khusus mengapa Raytsa berpikir demikian, sebab kesetiaannya tidak sekecil itu sehingga mudah untuk digoyahkan. Selama Ren bukan keberadaan jahat yang mengancam dunia, dia masih akan tetap mengikutinya.


"Mari kita akhiri sampai disini, tidak baik untuk berdiam diri di ruang takhta tanpa ada Yang Mulia di dalamnya."


Ucapan Rusava memang benar, demi menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, mereka semua tidak boleh berlama-lama di sana.


"Uhm, aku setuju, sebaiknya aku juga meninjau ruangan di belakang istana yang dimaksud oleh Yang Mulia."


Raytsa berpamitan kepada semua orang. Kemudian dia pergi meninggalkan ruang takhta untuk melakukan peninjauan terhadap sebuah tempat yang telah diberikan kepadanya.


"Aku tidak tahu harus melakukan apa. Bagaimana denganmu, Indacrus?"


"Tidak ada yang bisa kulakukan untuk saat ini selain berjaga di depan istana. Kau mau ikut?"


"Tentu, mengapa tidak?"


Indacrus keluar dengan diikuti oleh Avrogan. Melihat kedua [Beast Servant] Legendaris itu seperti hewan yang tersesat membuat beberapa orang yang tersisa tersenyum masam.


"Semua orang memiliki kegiatan masing-masing ya? Nirlayn, setelah ini apa yang akan kau lakukan?"


"Mungkin berlatih, tetapi aku tidak tahu harus mulai berlatih darimana, Arystina."


"Eh, kalau begitu bolehkah aku ikut denganmu? Aku tidak bisa membantu tapi aku bisa menyemangatimu."


"Aku tidak keberatan, malah dengan senang hati aku menerimanya."


"Ya, mari pergi sebelum hari semakin larut."


Dua perempuan itupun pergi. Saat ini yang tersisa hanya tiga orang saja yaitu Rakuza, Kina dan Rusava. Ketiga orang ini sama-sama merasa bingung harus melakukan apa.


"Hahh ... Rakuza, aku akan pergi mengikuti Raytsa. Sebaiknya kau beristirahat di kamar yang telah disiapkan."

__ADS_1


"Ah, baik."


Rusava meninggalkan dua orang yang tersisa dalam keheningan. Tidak ada kehidupan lain selain Rakuza dan Kina. Ruangan yang sangat luas dan besar itu terasa sepi ketika diisi oleh mereka berdua.


"Aku lelah, mungkin memang harus beristirahat."


"Benarkah? Ya, aku juga sama. Mari kembali ke kamar kita masing-masing."


Sebagai dua orang terakhir, mereka berdua mengikuti semua orang dengan meninggalkan ruang takhta, membuat ruangan yang luas itu benar-benar sepi dan kosong tanpa kehidupan.


............


Beberapa menit setelah meninggalkan ruang takhta, kini seorang pria bermata merah yang tidak lain adalah Ren sedang berdiri diam di hadapan sebuah tangga yang menurun.


"Apakah semuanya masih sama?"


Dalam game ada sistem keamanan yang terpasang di setiap jalan yang akan dilalui menuju ruang harta, termasuk tangga didepan. Ren bertanya-tanya, apakah saat ini di dunia lain sistem keamanan tersebut masih berlaku?


Untuk memastikannya memang tidak bisa menggunakan pemikiran yang menduga-duga, melainkan harus memeriksanya dengan kemampuan Persepsi Mana.


Persepsi Mana diaktifkan. Ren menerima segala informasi yang sangat detail dalam radius beberapa puluh meter, termasuk tangga menurun yang dimaksud.


Peningkatan gravitasi sendiri akan secara bertahap naik. Hal itu akan menghasilkan tekanan dan penghancuran tubuh yang bertahap pula. Sehingga orang yang mengalaminya akan merasakan kesengsaraan hingga kematian menjemputnya.


Itulah alasan utama mengapa tangga ini dinamai dengan sistem keamanan pertama, [Tangga Kesengsaraan].


Hanya ada satu cara untuk melewati tangga ini, yaitu menghindari setiap Lingkaran Sihir yang terpasang pada anak tangga. Jadi dapat dipastikan orang yang berusaha melewatinya harus memiliki kemampuan Persepsi Mana yang baik.


Bagi Ren sendiri tantangan yang pertama ini tidak begitu berarti karena hanya dalam beberapa saat dia telah menuruni semua anak tangga tanpa merasa kesulitan sama sekali.


Pada akhirnya, semua sistem keamanan dan cara melewatinya telah diketahui oleh Ren sehingga tidak mungkin dia merasa kesulitan. Terkecuali kalau ada suatu hal yang istimewa seperti perubahan dari sistem keamanan itu sendiri.


Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Ren melewati semua sistem keamanan yang ada, karena sistem keamanan itu masih tetap sama seperti yang ada dalam ingatan Ren.


"Nah, semuanya memang masih tetap sama dan aku memang mengharapkannya tapi ... bagaimana dengan ini?"


Ren berada di tempat yang memiliki bentuk melingkar. Pada bagian dinding terdapat berbagai macam relief yang belum pernah dilihat olehnya.

__ADS_1


"Mengapa ini berbeda dari terakhir kali?"


Jika ingatan Ren tidak terganggu, seharusnya tempat ia berada saat ini adalah tempat biasa dimana gerbang ruang harta ada disana. Namun sekarang semua itu telah berubah seakan-akan istana ini bukan miliknya.


"Tidak ada pilihan, mari kita coba cari sebuah cara untuk mengungkap apa sebenarnya yang sedang terjadi."


Ren memejamkan mata untuk memfokuskan diri dalam Persepsi Mana sehingga semua detail yang terlewat diharapkan bisa diketahui olehnya. Tidak lupa, dia juga memfokuskan titik pusat Persepsi Mana hanya untuk di ruangan tersebut.


Persepsi Mana kembali diaktifkan. Segala macam informasi mengenai ruangan tersebut mengalir deras ke dalam otak Ren, dari informasi yang tidak penting sampai yang terpenting sekalipun.


"Ini adalah sebuah ... segel?"


Berdasarkan pola mana yang terbaca di seluruh ruangan, itu menyatakan bahwa dalam ruangan tersebut terpasang sebuah sihir. Namun berdasarkan rangkaian sihirnya, itu adalah sesuatu yang berbeda dari sihir biasa.


Sihir tersusun atas semua elemen yang ada, yaitu api, air, tanah, angin, cahaya dan kegelapan. Keenam elemen yang tersusun itu menciptakan sebuah elemen baru yang tidak diketahui.


Ren belum bisa memastikan apakah ini sihir, skill atau semacam segel tertentu. Untuk sementara ini Ren akan menamai sihir atau segel ataupun skill yang menjadi penghalang ini sebagai [Unknown Seal].


Satu hal lagi, yang pasti ruangan ini bukan dibuat berdasarkan ilusi atau jebakan tetapi memang ruangan yang ada dalam istana. Dengan kata lain, satu-satunya yang berubah dari Istananya adalah keberadaan ruang ini yang menjadi sebuah penghalang bagi siapapun yang ingin memasuki ruang harta.


"Apakah tidak ada cara untuk membukanya?"


Terdapat titik pusat dari semua itu yakni berada di pusat ruangan yang melingkar. Jika dilihat sekali lagi, disana memang terdapat sebuah lubang berbentuk aneh. Kemungkinan besar untuk membatalkan [Uknown Seal] membutuhkan sebuah kunci.


Namun dalam sepengetahuan Ren, dia tidak memiliki benda yang mirip dengan lobang aneh itu. Bahkan jika dia lupa, sesuatu yang penting pasti akan segera diingatnya, kecuali jika memang benda itu tidak dia miliki.


"Ya ampun, padahal kesenanganku sedang memuncak. [Unknown Seal] ini merusak suasana saja."


Ren menggerutu seraya menggaruk-garuk kepala yang sama sekali tidak terasa gatal. Kekesalan sedikit muncul dihatinya, tetapi perasaan itu segera dibuang karena memang tidak ada cara untuk melampiaskan kekesalan tersebut.


"Aaahhh!" teriak Ren kesal.


Ren mengambil secarik kertas dari Inventory, lalu menggambarkan semua pola mana dan rangkaian sihir yang terdapat dalam ruangan tersebut. Mungkin dengan membuat salinan seperti ini, dia akan menemukan petunjuk di luar.


"Kalau pada akhirnya begini, lebih baik aku tidak usah terburu-buru tadi!"


Ren angkat tangan dan memutuskan untuk kembali. Mungkin dia terlihat mudah menyerah, tetapi menilai dari [Unknown Seal] yang sangat rumit dan mustahil untuk dikendalikan, sikapnya terasa cukup wajar.

__ADS_1


"Oh? Bagaimana dengan merusaknya?" Ren sedikit tertegun tapi tak lama dia menggelengkan kepala."Tidak, itu terlalu berisiko."


Ren melangkahkan kaki dengan tangan yang hampa. Tujuannya kali ini benar-benar tidak sesuai rencana, dan itu sedikit merusak suasana hatinya yang sedang baik.


__ADS_2