Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 47 : Turnamen B-2


__ADS_3

Di Tengah Arena Colosseum Kota Aulzania.


Seorang Ksatria Wanita yang mengenakan Zirah perak mengkilap, sedang berhadapan dengan seorang yang akan dia hadapi. Musuh perempuan itu adalah seorang pria dengan Zirah yang hanya menutupi separuh tubuhnya. Menampilkan bagian perutnya yang sangat berotot dan kekar.


"Dimana Keadilan mereka, mengapa lawan pertamaku adalah seorang wanita cantik sepertimu." Pria itu berbicara pada Ksatria Wanita yang ada di hadapannya, tentu saja dia menggunakan Nada yang meremehkan.


"Inilah mengapa aku membenci kalian para lelaki yang hanya bisa meremehkan seseorang." Ksatria Wanita itu menatap tajam pada pria yang menjadi lawannya.


"He..Hahahah! Jangan sombong dulu wanita kecil, hanya karena dirimu wanita cantik bukan berarti aku akan berbelas kasihan padamu!" Pria itu tertawa penuh ejekan.


"Heh, Berteriak lah sesuka hatimu..." Ksatria Wanita itu hanya membalas ejekan dengan nada yang dingin.


Pembicaraan mereka tidak berlanjut, itu karena pertarungan akan segera dimulai. Seorang pria yang menjadi Juri telah menghitung mundur sebagai tanda pertarungan akan dimulai.


"Tiga, Dua, Satu... Mulai!"


Pria bertubuh kekar segera berlari menuju ke arah Ksatria wanita itu dengan sebuah Pedang Besar ditangannya. Pergerakannya tidak terlalu cepat, beban yang dia bawa tentu saja memperlambat kecepatan miliknya.


Dum!


Pria itu mengayunkan Pedang nya ke arah Ksatria wanita itu, tetapi Serangan yang dia lancarkan berhasil dihindari. Hasilnya, serangan itu mengenai tanah dan menyebabkan Retakan yang cukup besar.


Pria itu terlihat sedikit terkejut, karena serangan yang dia lancarkan berhasil dihindari. Namun, dengan segera dia mengejar Ksatria Wanita yang menghindar dengan melompat mundur.


"Hei Hei! Apa kau hanya bisa menghindar hah? hahaha!" Pria itu tertawa, seakan dia telah kehilangan akal miliknya.


Dum! Dum! Dum!


Dengan membabi buta, dia terus mengayunkan Pedang besar miliknya. Meski semua serangan dia berhasil dihindari, tidak ada tanda - tanda dia akan menghentikan serangan nya itu.


Dum! Dum!


Suara berat yang dihasilkan oleh benturan Pedang miliknya dengan tanah membuktikan bahwa kekuatan yang dia keluarkan bukan main. Setiap benturan menghasilkan Retakan dan Awan debu yang menghalangi pandangan.


"Jangan terus lari! wanita kecil! hahahah!"


Swooshh!!


Kali ini dia mengayunkan Pedang secara Horizontal, tetapi serangan itu justru membuat dirinya terkejut. Wanita itu tiba - tiba menghilang dari pandangannya.


"Apa..?!"


Sebuah Aura membunuh yang dingin dan hebat pria itu Rasakan.


Trank!!


Tebasan Horizontal yang sangat cepat datang dari arah samping. Serangan itu berhasil ditahan oleh Pedang Besar milik pria itu disaat - saat terakhir. Jika telat satu detik saja maka pria itu akan kehilangan kepala miliknya.


"Hmm..? Lumayan juga kau pria kekar."


Wanita itu langsung melompat mundur dengan indah sesaat setelah menyerang pria itu. Dari perkataan yang dia lontarkan, terlihat jelas bahwa dia belum serius sedikitpun.


"Ha-Haha... Kau juga, seranganmu cukup cepat."


Pria itu masih tetap berusaha bersikap sombong. Kenyataannya, dia saat ini sedang merasakan seluruh tubuhnya sedang menggigil.


"Oh, Benarkah itu..? Mari kita coba, apakah kau bisa menahan ini!"


Ksatria Wanita melesat ke arah pria kekar dengan sebuah Pedang kecil di tangannya. Tubuh Ksatria Wanita bercahaya ketika dia berlari, membuatnya terlihat seperti sebuah Cahaya yang bergerak cepat di Arena.


"Cepat sekali..!"


Pria kekar hanya bisa mematung, berusaha melihat pergerakan Ksatria wanita yang begitu cepat. Sayang nya, sebesar apapun Pria kekar berusaha, dia masih tetap tak bisa melihat pergerakan Ksatria wanita.


"Gahh..?!"


Pria kekar berteriak, bagian tubuhnya yang ditutupi Zirah terkena tebasan yang sangat cepat dari Ksatria wanita itu.


Garis - Garis Cahaya dengan cepat bergerak menebas Pria kekar itu. Setiap tebasan dari Ksatria Wanita tidak mengenai bagian Vital Pria kekar, seakan - akan dia memang sengaja mempermainkan musuhnya.


"Argh?!....Argh! Si-Sialan kau!!"


Badum!!


Sebuah Aura hebat dikeluarkan oleh Pria kekar, menyebabkan sebuah ledakan Gelombang Kejut yang menerpa seluruh Arena. Ksatria Wanita mau tak mau terkejut, dia terpental mundur oleh Gelombang Kejut yang pria kekar itu keluarkan. Dia dengan cepat memperbaiki postur tubuhnya dan melompat mundur menjauhi Pria kekar.


*


*


*


*


"Berserk Mode? Sudah Kuduga.." Ren berkomentar.


Berserk mode hanya dimiliki oleh Job yang menyandang Nama Berserker. Diantara Job yang menyandang Nama ini, salah satunya adalah yang digunakan oleh Pria Kekar itu, Job yang dia miliki adalah.... Berserker Warrior.


Job yang menitik beratkan pada Kekuatan, semua skill yang dimiliki Job ini menyerang secara membabi buta. Tidak ada Strategi, Tidak ada perhitungan, Murni hanya mengandalkan kekuatan yang besar. Cocok bagi orang - orang yang menyukai hal yang barbar.


Sementara untuk Berserk Mode sendiri, merupakan suatu Skill Pasif yang dimiliki oleh Job yang menyandang Nama Berserker. Dia akan aktif dengan sendirinya ketika Kondisi pengguna berada diantara hidup dan mati.

__ADS_1


"Tapi, pria itu sama sekali tidak sekar-... Tidak, tunggu, ternyata begitu..." Ren mengangguk sendiri.


Setiap luka yang diterima oleh Pria kekar mengalami Pembekuan, dimana meski sekecil apapun luka yang dia terima. Efek pembekuan akan menghentikan peredaran Darah miliknya, dan malah menyebabkan luka dalam yang serius.


"Ksatria Wanita itu, adalah Elemental Knight kan? ini.. Menarik." Wajah tampan Ren dipenuhi oleh senyuman.


*


*


*


*


*


Pria Kekar memasuki Mode Berserk miliknya, membuat tubuhnya dipenuhi oleh Aura yang mengerikan. Matanya terlihat kosong, membuktikan bahwa dia benar - benar memasuki Mode Berserk.


"Teknik mengerikan seperti ini, sama sekali tidak memiliki keindahan.." Ksatria wanita itu berkomentar dengan nada yang mengejek.


Pria Kekar tidak mempedulikan perkataan Ksatria Wanita, dia malah memegang Pedang besar dengan kedua tangan miliknya. Kemudian dia melakukan ancang - ancang untuk melakukan serangan.


"Grgggaaahh! [Raging Tornado]!" Pria kekar berteriak kencang.


Pria kekar memutar tubuhnya dengan cepat, menyebabkan Tebasan Pedang besar layaknya sebuah Tornado. Serangan miliknya menyebabkan Gelombang angin yang besar, bahkan kini terlihat seperti Tornado yang sesungguhnya.


Para Penonton yang menyaksikan pertandingan merasakan hati mereka berdebar - debar. Serangan ini begitu luar biasa di mata mereka.


Berbeda dengan para Penonton, Ksatria Wanita masih menatap serangan Pria Kekar dengan tenang. Meski Jarak keduanya kini semakin mendekat.


"Serangan ini, cukup kuat.. Kau layak untuk mendapatkan sebuah Teknik spesial milikku." Ksatria Wanita itu tersenyum.


Ksatria wanita berjalan dengan tenang menghampiri Serangan dari Pria kekar.


"Akan kutunjukan, kekuatan yang indah dan berseni padamu..... Haaa... [Ice Dance: The Ice Sword of Destruction]."


Sebuah Aura dingin keluar dari tubuh Ksatria Wanita muda, menyebabkan Tanah yang ada di sekitarnya menjadi beku.


Kemudian, Ksatria Wanita itu bergerak.... Gerakannya cepat, namun disisi lain terasa begitu lambat. Bagaikan sebuah Tarian Pedang yang begitu indah, Garis Cahaya yang meliuk - liuk tercipta di udara. Setiap Gerakan yang dia tunjukan menyebabkan Tanah membeku.


Lalu, Tarian Pedang yang ditunjukan oleh Ksatria Wanita diakhiri dengan sebuah Serangan yang tak kalah indahnya. Serangan yang menebas lurus ke arah langit yang cerah.


Serangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Duri Es yang tak terhitung Jumlahnya muncul secara tiba - tiba, membentuk serangkaian Gunung Es kecil yang meruncing ke arah Tornado milik Pria kekar.


Badumm!!


Kedua Serangan berbenturan, meledak dengan Dahsyat dan menyebabkan Gelombang Kejut yang dirasakan bahkan oleh Penonton.


Kabut Es menghalangi pandangan Penonton yang menyaksikan Pertandingan. Mereka sangat Penasaran siapa yang keluar sebagai pemenang pertandingan ini.


"Kabut ini menghalangi saja!"


"Lihat! Lihat itu, kabut mulai menghilang!"


Kabut mulai menghilang seperti yang dikatakan oleh penonton. Di Arena yang luas, kini dipenuhi oleh duri - duri es yang menjulang ke langit.


Disana.... Pria kekar terkurung dalam Duri Es dengan keadaan yang menyedihkan. Sementara Ksatria Wanita masih berdiri dengan tegap, menatap Pria Kekar yang telah dia kalahkan.


"Pemenangnya adalah, Nona Ilvina Alrunin!"


"Wooo...!"


"Luar biasa..!"


"Hebat sekali..!"


Para Penonton mulai bersorak pada Ksatria wanita yang keluar sebagai pemenang pertandingan kali ini.


*


*


*


*


*


"Rakuza, bagaimana menurutmu.?" Ren bertanya pada sosok Rakuza yang berdiri di samping tempat duduk miliknya.


"Hm.. Menurutku, dia kuat, lagipula dia memiliki Job spesial dari Elemental Knight yaitu Sword Ice Dancer. Jika aku bertanding dengannya, kemungkinan aku menang hanya 50% Tuan Dirvaren."


"Seseorang yang cukup kuat bukan? di Kerajaan ini bahkan aku hanya menemukan Derrian yang setara dengan dia." Ren melirik ke arah Derrian yang menjaga Sang Raja di samping nya.


Kedua peserta yang bertanding adalah seseorang yang cukup kuat. Ren tidak pernah menemukan seseorang yang memiliki Job Spesial di Kerajaan ini selain Derrian. Hal ini juga menimbulkan sebuah Pertanyaan besar di benak Ren.


"Raja Esdagius, mereka cukup kuat bukan? apakah di setiap Turnamen seseorang yang menarik seperti ini muncul?"


"Mhm? Saya juga penasaran akan hal ini Tuan Dirvaren. Mereka berdua kuat, selama saya menjadi Raja, baru kali ini mendapatkan peserta sekuat ini." Raja pun menjawab Ren dengan kebingungan.


"Yah, jika peserta seperti ini setiap tahun ada, maka saya akan berusaha untuk merekrut mereka sebisa mungkin.." Raja menghela napas.

__ADS_1


"Aku mengerti..." Ren menutup matanya seolah memikirkan sesuatu.


'Sebuah Kebetulan bukan? sepertinya Takdir mempermainkan aku lagi...'


Ren menghela napas, kemudian dia menyilangkan kaki miliknya. Dia menggunakan pose menahan dagu seperti yang biasa dia lakukan ketika memikirkan sesuatu.


"T-Tuan Dirvaren? apakah anda tidak menikmati a-acara ini..?"


"Hm..? Tidak apa - apa, sebaliknya malah aku menikmati Acara ini, Tuan Putri." Ren membalas sebuah pertanyaan tiba - tiba ini.


"Sylna.... Tidak biasanya dirimu bertanya pada orang asing." Raja tersenyum hangat pada Putrinya.


"A-Ah?! B-Bukan... Seperti itu, ayah.." Putri Sylna menjawab dengan terbata - bata, wajahnya menampilkan sesuatu yang berwarna merah cerah.


Pertandingan kemudian berlanjut....


Hanya saja, setelah Pertandingan yang sebelumnya, Tidak ada sesuatu yang menarik perhatian Ren. Peserta yang bertanding hanyalah orang - orang yang tak memiliki keistimewaan apapun di mata Ren.


'Um..? Sebuah mana yang tak asing...'


Ren mendeteksi mana dari seorang yang telah dia kenali. Meski dia menyembunyikan hawa keberadaan miliknya, tetapi itu tidak berhasil menghindari pendeteksian milik Ren sendiri.


"Raja Esdagius, aku mohon untuk undur diri terlebih dahulu. Ada urusan yang akan kulakukan sebentar.." Ren mengatakannya sambil beranjak dari tempat duduk.


"Apa anda merasa bosan? Baiklah, saya tidak keberatan.." Raja mengangguk menandakan bahwa dia mengerti.


*


*


*


*


*


*


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki Ren bergema di sebuah lorong Colosseum. Dia berjalan dengan santai di Lorong ini, tidak ada sedikitpun tanda buru - buru.


Setelah mencapai sebuah tempat yang sepi dan cukup tertutup. Ren menghentikan langkahnya, kemudian dia bersandar pada dinding yang ada disana. Tentu dengan kedua lengan yang disilangkan seperti biasa.


"Keluarlah, aku mengetahui kau disana... Kanza."


Ren berbicara pada bagian gelap yang ada di tempat itu. Tak lama setelah dia berbicara, sebuah sosok tiba - tiba muncul disana...


"Bagaimana mungkin... aku bahkan telah menggunakan kamuflase terbaik dari Job yang aku miliki." Kanza mengeluarkan senyum lelah di wajahnya.


"Kau harus berlatih untuk menyembunyikan mana milikmu... Lalu, ada urusan apa kau kemari?"


"Kamuflase menggunakan mana agar dapat diaktifkan, bagaimana mungkin aku dapat menyembunyikan nya..?" Kanza terlihat kebingungan dengan saran dari Ren yang satu ini.


"Tapi... Jika Tuan Dirvaren mengatakan hal itu, berarti itu mungkin untuk dilakukan kan?" Kanza memegang dagunya, berusaha memikirkan apa yang dikatakan oleh Ren.


"Baiklah, aku akan pergi.."


"T-Tunggu! aku kesini untuk memberitahu bahwa Ketua Guild ingin bertemu dengan anda." Kanza menghentikan Ren yang akan beranjak pergi.


"Hanya itu...?" Ren menyipitkan matanya.


"Ugh... Luar biasa, anda bahkan mengetahui ada sesuatu yang ingin aku katakan."


"Lalu, apa yang ingin kau katakan itu..?" Ren kembali bersandar.


"Ini tentang kejadian semalam ketika aku kembali dari Penginapan Tuan Dirvaren. Aku menemukan beberapa orang aneh di Colosseum ini. Mereka dengan sembunyi - sembunyi menempelkan beberapa Kristal Hitam yang terlihat sedikit menyeramkan..."


"Mereka tidak menyadari keberadaanmu...?"


"Tentu saja tidak, oleh sebab itu pula aku berhasil membawa informasi ini pada anda."


"Kau.... ternyata cukup hebat." Ren menatap tak percaya pada Kanza yang sedang menjelaskan.


"Apakah anda sedang mengejekku? meski terlihat begini, aku adalah seorang Assassin terbaik di Guild Petualang."


"Hm..? Kau tidak bermimpi kan?" Ren semakin meragukan perkataan Kanza.


"Tidak, aku mengatakan kenyataan. Hanya saja, kemampuan anda terlalu abnormal." Kanza menggelengkan kepalanya seolah dia telah lelah mengenai kemampuan Ren yang abnormal itu.


"Aku anggap itu sebagai pujian... Terus terang, mengapa kau melaporkan hal ini padaku?"


"Ini semua untuk membuktikan kemampuanku! Bagaimana Tuan Dirvaren, apakah anda sekarang mempertimbangkan aku untuk menjadi pengikut anda?" Kanza berbicara penuh harap.


"Begitu, sayang sekali, aku sudah menyadari ada beberapa Kristal aneh yang terpasang di seluruh bangunan ini. Jadi, permintaanmu akan kutolak... Dan lagi, kau masih menjadi anggota Guild Petualang." Ren memutuskan harapan Kanza dalam sekejap mata.


"Kuanggap urusanmu telah selesai, aku akan mengunjungi Guild Petualang nanti. Sampaikan pada Ketua mu itu untuk menungguku..." Ren mengatakan hal ini sambil beranjak pergi.


Kanza hanya bisa melamun, harapan dia ditolak dalam sekejap mata. Dia harus berpikir lama sebelum mencerna semua perkataan yang Ren lontarkan...


"Ah.. Baik.!"

__ADS_1


Penolakan Ren justru membuat tekadnya untuk menjadi pengikut Ren semakin besar.


Kemudian, Kanza dengan cepat menghilang kembali ke dalam kegelapan, tujuan dia selanjutnya adalah Guild Petualang. Pesan yang diberikan oleh Ren harus segera dia sampaikan.


__ADS_2