Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 53 : Kekacauan Aulzania : Pandangan orang - orang


__ADS_3

[POV Nirlayn]


Ren-sama, apakah orang - orang yang diceritakan oleh Pria bernama Yarth itu sangat penting bagi anda? sampai - sampai anda berubah menjadi seseorang yang terlihat berbeda seperti ini...


Mungkin jika dilihat sekilas, Ren-sama adalah orang yang dingin dan kejam. Tapi, aku mengetahui bahwa Ren-sama adalah orang yang lembut dan penyayang. Ren-sama juga sangat perhatian pada seorang bawahan sepertiku. Meski Ren-sama tidak menunjukannya secara langsung, tapi aku bisa merasakan hal itu....


Ren-sama, anda adalah... Tuan terbaik yang pernah aku miliki.


"Kalian semua, selamatkan penduduk Kota, aku akan menghadapi mereka seorang diri."


Suara Ren-sama yang begitu dingin tiba - tiba terdengar olehku yang saat ini sedang melamun. Lihat? dia adalah seorang yang peduli dan baik hati bukan? meski dalam kemarahan yang dalam, dia masih mengkhawatirkan orang - orang yang dulu pernah mengejek dan menertawakan dirinya.


Aku mengangguk dengan penuh kesungguhan pada Ren-sama. Meski Ren-sama tidak melirik ke arahku, aku meyakini bahwa Ren-sama menyadari anggukan yang sepenuh hatiku ini.


Dengan cepat aku bergerak memisahkan diri dari kelompok ini. Kanza bahkan sudah mendahuluiku untuk bergerak, Namun, aku kalah dalam hal ini merupakan hal yang wajar. Dia sendiri adalah seorang Assassin, jelas jika dalam hal kecepatan aku akan kalah.


'Oh, sepertinya aku harus ke Penginapan Twin Lotus, bagaimanapun juga, tempat itu saat ini menjadi Rumah sementara Ren-sama.'


Aku berlari menuju penginapan Twin Lotus, jika aku menggunakan kabut untuk berpindah tempat. Aku yakin, penduduk Kota ini akan menyamakan diriku dengan seekor Vampire itu.


Tunggu, bagaimana jika menggunakan [Blood Wings]? Hm.. Aku akan menggunakan itu, Vampire menyedihkan tidak mempunyai [Blood Wings] jadi aku tidak akan disamakan dengan mereka.


Aku berhenti berlari, kemudian aku menumbuhkan sepasang sayap kabut berwarna merah darah di punggung ku.


Ini adalah Skill yang dimiliki oleh Ras Blood Devil yang terhormat. Hanya saja, Blood Devil dengan tingkatan Bangsawan keatas yang bisa menggunakan nya.


Menggunakan sayap di punggung ku, aku dengan bebas terbang ke langit. Pemandangan Kota yang indah memasuki kedua mataku. Namun, sedikit disayangkan Kota ini sedang dilanda kekacauan saat ini.


Tiga Ekor kadal besar sedang menyemburkan Napas Api mereka ke berbagai tempat. Aku bertanya - tanya, mengapa Ras Kadal (Naga) seperti mereka berani menyerang pemukiman Manusia?


Bukankah mereka adalah Ras yang sangat suka membual bahwa mereka ini adalah Ras terkuat dan tidak suka menyakiti Ras lemah lainnya?


Apa yang akan dikatakan oleh Dragon Emperor ya? Jika melihat hal ini..


Hahh... Andai saja kekuatanku sebelum Reinkarnasi masih ada saat ini. Mungkin aku akan lebih berguna bagi Ren-sama, para Kadal itu pasti akan kuhabisi saat ini juga.


Tetapi, sebagai biaya dari Reinkarnasi itu sendiri, hanya sebagian kecil kekuatan kita yang akan kembali. Itu sudah menjadi ketetapan dari Ras kami.


Mari kita lupakan itu untuk saat ini...


Aku kembali terbang dengan kecepatan tinggi, menuju tempat dimana Penginapan Twin Lotus berada.


Uah... Ini sedikit menyebalkan ketika memikirkan aku yang harus menolong Wanita Penginapan yang berani menatap Ren-sama secara langsung tanpa Rasa malu.


Badum! Dururur!


Eh? Apa itu...


Colosseum Kota Aulzania, terbelah? bagaimana mungkin... Apakah ini perbuatan dari Ren-sama? semoga saja ini perbuatan Ren-sama... Aku mengkhawatirkan nya.


Saat ini, aku sedang dilanda oleh perasaan dilema yang begitu besar. Aku bingung harus memilih yang mana, antara melanjutkan pergi ke Penginapan Twin Lotus dan melaksanakan perintah Ren-sama. Atau aku harus kembali ke sisi Ren-sama dan memastikan keselamatannya.


Jika aku melaksanakan perintah Ren-sama.... dia pasti mengatakan ini padaku kan?


Nirlayn, kau sangat berguna bagiku, aku baru menyadari hal ini. Ternyata kau adalah seseorang yang penting untuk ku, maukah kau berdiri disampingku, sampai maut memisahkan kita? tapi, karena kita adalah Ras Reinkarnasi, maukah kau berdiri di sampingku, untuk selamanya?


Auwhhh! Apa yang aku pikirkan, tidak biasa nya aku memikirkan hal yang berlebihan seperti ini! Bagaimana jika Ren-sama mengetahui hal ini dan menjadi membenciku?


Aku bahkan tidak dapat membayangkannya ketika itu terjadi. Lebih baik aku mati untuk selamanya..


Tetapi jujur saja, aku sangat mengkhawatirkan Ren-sama saat ini... Bagaimana jika aku kembali dan menyelamatkannya?


Terima kasih Nirlayn, karena telah memutuskan untuk kembali kesini dan menyelamatkanku. Begitu perhatian nya dirimu, aku sangat menyesal telah mengabaikanmu selama ini...


Ya ampun, apa yang kupikirkan lagi?! lagi - lagi aku membayangkan Ren-sama berkata seperti itu dengan wajah tersenyum miliknya.


Sudah - Sudah, ayo lupakan itu dan pergi ke Penginapan Twin Lotus saja.... Ini tidak baik untuk kesehatanku...


Beberapa saat kemudian....


Penginapan Twin Lotus terlihat dari atas langit dimana aku sedang terbang saat ini.


Tempat itu kini dikelilingi oleh para Undead yang berusaha untuk menerobos masuk.


Dinding - Dinding Penginapan sendiri hampir berhasil dihancurkan oleh para Undead yang terus menerus menyerang nya.


Beruntung sekali aku tepat waktu....


Aku terjun mendarat dengan kecepatan tinggi, menyebabkan sebuah Ledakan kecil ketika kakiku mengenai Jalan yang ada di depan Penginapan. Para Undead - Undead itu seketika menolehkan pandangan nya padaku.

__ADS_1


"Apa? Jangan menatapku dengan wajah kalian yang menjijikan itu...."


Melihat mereka membuatku merasa mual, aku jadi ingin melihat wajah Ren-sama untuk mengobati Rasa mual ini....


Aku memutuskan untuk mengakhiri ini dengan cepat. Meski aku enggan menggunakan Blood Art berbentuk Cakar kembali. Tapi apa boleh buat, aku tidak mempunyai cara lain untuk menyerang saat ini.


"Haahhh....."


Syuutttt!


Dengan kecepatan tinggi, aku melesat ke arah para Undead itu. Berlari sambil mengelilingi mereka, tentu saja aku mencabik - cabik tubuh mereka yang membusuk itu ketika aku melakukannya.


Shrat! Shrat! Shrat! Shrat!


Undead - Undead menjadi potongan daging busuk seketika. Ini adalah teknik menghabisi musuh sekaligus yang aku punya. Tetapi, ini hanya berguna untuk musuh yang sangat lemah seperti para Undead ini.


"Baiklah, saatnya kembali ke sisi Re-"


Badummm!!!!


Dururururu!


Lagi...? bahkan kali ini ledakan yang terjadi lebih besar dari yang tadi. Getaran yang disebabkan nya juga lebih hebat. Apa yang terjadi?


Tapi.... Jarak ledakan ini, bukan berasal dari Colosseum, melainkan suatu tempat yang cukup jauh dari sini...


*


*


*


*


*


[POV Arnicko]


Sebagai seorang yang menjadi pemain terkuat ke-18 secara keseluruhan di COTHENIC. Tentu aku mengenal Nama yang sangat terkenal itu, R.Styx.


Ketika Kanza yang merupakan seorang Assassin terbaik di seluruh COTHENIC melaporkan padaku bahwa dia bertemu dengan R.Styx yang legendaris. Aku tidak mempercayai perkataan nya sedikit pun.


Untuk membuktikan kebenarannya, aku memerintahkan Kanza agar meminta R.Styx ini menemuiku Hari ini.


Begitu terkejutnya aku, ketika Kanza membawa seorang lelaki dengan wajah yang sangat tampan ke Mansion tempat tinggalku.


Aku mengenali sosoknya itu, seorang yang mengeluarkan Aura Misterius, dari seluruh ciri - ciri yang dia keluarkan, dia memang sangat mirip dengan R.Styx yang ada di COTHENIC.


Meski Sang Legenda R.Styx selalu menutupi wajahnya saat di depan umum. Namun, ciri - ciri fisiknya masih dapat diketahui.. terutama Rambut hitam legamnya yang khas.


Saat itulah, aku memiliki secercah harapan, untuk menghadapi masalah serius yang sedang aku hadapi. Masalah serius itu berkaitan dengan terbunuh nya para pemain yang masih lemah dan tidak dapat melindungi diri mereka sendiri.


Pembunuh mereka tidak lain adalah orang yang berasal dari Kelompok Night Corpse, aku yakin itu. Mereka dengan semena - mena membunuh anggota - anggota yang ada di bawah perlindunganku.


Aku tidak dapat berbuat banyak, meski aku berada di urutan ke-18 perbedaanku dengan yang lain cukup jauh. Aku tidak dapat mengatasi Night Corpse seorang diri.


Semua keputusasaan itu bertambah ketika aku mendengar bahwa pemimpin Moon Alliance berkhianat dan memihak Night Corpse yang terkutuk. Zenzu, dialah orang itu, karena dirinya begitu ketakutan akan dibunuh oleh pemimpin Night Corpse, dia menjadi bagian dari mereka.


Yarth menerangkan bahwa Zenzu dengan sesuka hati menyerahkan nyawa orang lain demi melindungi diri sendiri. Hatiku marah, jiwaku terbakar, otakku mendidih ketika memikirkan betapa Kejamnya dia.


Namun, keputusasaan berada di puncaknya ketika aku memikirkan, betapa tidak berguna nya aku. Betapa lemahnya aku, dan betapa tidak berdaya nya aku.


Pada saat itulah, R.St- Tidak, Tuan R.Styx yang Legendaris itu mengeluarkan Aura yang mengerikan. Semua emosi - emosi Negatif tersorot di matanya ketika mendengar Kisah pengkhianatan Zenzu dan Kekejaman Wanita Necromancer itu.


Anehnya, meski Aura yang dia keluarkan mengerikan, entah mengapa itu menghentikan segala keputusasaan yang ada di hatiku. Tuan R.Styx bagaikan secercah Cahaya Harapan di kala kegelapan menimbulkan keputusasaan.


Setelah kejadian ini, aku berjanji akan memohon pada Tuan R.Styx, untuk menjadi pemimpin kami semua....


*


*


*


*


*


[POV Raja Esdagius]

__ADS_1


"Jangan berani kau menyentuh Putriku!"


Putriku, Sylna saat ini sedang dalam bahaya. Namun, apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya? tidak ada. Aku hanya mampu untuk berteriak putus asa.


Berharap agar Putriku satu - satu nya dapat menerima keajaiban dan selamat. Aku menyesali segala kelemahanku ini, aku hanya seorang Raja yang tak bisa melindungi Putri nya sendiri. Betapa menyedihkannya hal ini....


Teriakanku ini malah membuat Wanita terkutuk itu menyeringai bahagia...


"Menjauh darinya!"


"Sialan! Kurang ajar! Brengsek!"


Bukan hanya aku, Etharez Putraku juga merasakan kemarahan yang sama. Lebih tepatnya, mungkin kemarahan pada diri sendiri yang tak bisa melindungi orang yang kita sayangi.


"Ehehehe, aku menyukai teriakan kalian~"


Wanita Terkutuk itu mengangkat Putriku dengan cara yang kejam. Putriku menangis terlihat sangat ketakutan, belum pernah aku menyaksikan Putriku menangis seperti ini..


Membuat, hatiku sangat terasa sakit.... Sial! Sial! Sial! mengapa ini harus terjadi pada Putriku?!


"Aku akan menjadikan nya Koleksiku saat ini juga..."


Wanita Terkutuk itu tersenyum menakutkan, dari tangannya muncul sebuah kabut ungu yang menyeramkan.


Apa maksudnya dengan menjadikan Putriku Koleksi? Maksudmu... Kau ingin menjadikan Putriku Mayat Hidup?


Sialan..! Jangan Putriku! Dimana keadilannya?!


Putriku masih belum menikmati kehidupannya... Dia adalah seorang penyendiri, dia tidak memiliki seorang pun teman.


Setiap hari dia selalu bersedih, dan terlihat murung.


Dimana keadilan kalian, dewa?! kalian hanya mempermainkan putriku!


Mengapa dia?! bukan aku! aku bersedia menggantikan Putriku... Jadi tolong...


Ak-Aku Mohon... Siapa saja... Tolong, selamatkan Putriku... Se-Selamatkan Putriku...


Hiks.... Hiks... argghh!


Aku tidak dapat menahan ini lagi.... Jika sesuatu yang buruk terjadi pada Putriku... Aku tidak akan memaafkan kalian, dewa!


Rialna, Etharez, Sylna, maafkan aku karena telah gagal untuk menjadi seorang Ayah yang seharusnya melindungi kalian.


Lebih baik, aku terjerumus ke dalam Neraka, daripada harus menyaksikan penderitaan Putriku lebih lama....


Badummm!


Durururu!


Eh? Ledakan apa itu..? Apa Putriku selamat? Cepat menyingkitlah Debu sialan!


"Kematian, bahkan tidak cukup bagi kalian...."


Suara ini..... Putriku?! Dia... selamat.


Syukurlah, Syukurlah.... Terima kasih...


Kau adalah penyelamat kami, Tuan Dirvaren....


Tidak, aku tidak boleh kehilangan kesadaran disini.. Aku H-Harus memastikan, Putriku baik - baik saja....


"Blood Ruler : Multi Blood Prison Cube."


Perasaan ini.... Kehangatan ini, semua lukaku, sembuh?


Sekali lagi... Aku bersyukur kepadamu... Tuan Dirvaren.


Kubus merah ini terasa seperti.... Kasih sayang dari Dewa... sesungguhnya.


..........


*Catatan Author :


Halo~ saya yakin kalian merasa bosan di chapter ini, saya juga merasakan hal yang sama kok. Tapi, mungkin kalian bertanya, mengapa saya menulis chapter ini?


Tidak ada alasan khusus, murni untuk menunjukan sudut pandang karakter lain di tengah kekacauan Kota Aulzania.


Sampai jumpa dan terima kasih*~

__ADS_1


__ADS_2