
Raja Esdagius mengalami situasi yang sulit dalam menghadapi kedua utusan. Masalah tidak akan menjadi rumit andaikan orang yang datang adalah utusan biasa, tetapi dalam kasus ini mereka sepertinya membawa surat perintah langsung dari pimpinan masing-masing kekaisaran sehingga kedudukan mereka tidak bisa diremehkan.
Keberadaan surat itu membawa pengaruh besar dalam menentukan sikap yang harus diberikan oleh Raja Esdagius. Bagi utusan biasa, Raja Esdagius tidak perlu memikirkan setiap perkataan yang akan diucapkan, tapi bagi utusan yang memegang surat perintah pimpinan maka dia tidak bisa sesuka hati mengatakan sesuatu.
Kata-kata yang diucapkan kepada para utusan akan dianggap sebagai kata yang diucapkan kepada pimpinan yang mengutus mereka. Dengan kata lain, jika Raja Esdagius menghina utusan kekaisaran maka tidak ada bedanya dengan ia yang menghina sang kaisar itu secara tidak langsung.
Memang tidak akan menimbulkan masalah apabila tidak ada kesalahan sama sekali, tapi mengesampingkan kemungkinan buruk itu, Raja Esdagius merasa tertekan setelah semua.
Dan-
Di hadapan Raja Esdagius berdiri dua utusan kekaisaran yang memiliki dua pengawal di samping mereka. Setiap kali mengingat mereka berasal dari kekaisaran besar dengan kekuatan tempur beberapa kali lipat lebih kuat dari Kerajaan Aulzania, Raja Esdagius merasa sedikit takut.
Ketakutan ini didominasi oleh perasaan khawatir akan kemungkinan dua kekaisaran yang tidak akan melepaskan Kerajaan Aulzania dengan mudah. Sedangkan kemungkinan yang terburuk adalah peperangan yang akan melibatkan penduduk yang tidak bersalah. Raja Esdagius tentu tidak akan pernah berharap hal buruk itu terjadi.
Sementara Raja Esdagius sibuk membayangkan situasi demi situasi, salah satu dari dua utusan melangkah ke depan dan memberi hormat untuk memperkenalkan diri.
"Armilein Nhi Ruvilla, utusan yang diperintah oleh, Yang Mulia Kaisar Exousillia, telah tiba dan menghadap kepada Anda, Yang Mulia Raja Aulzania."
Raja Esdagius seketika terpaku pada nama keluarga yang terdapat dalam nama utusan Kekaisaran Agung, yaitu "Nhi Ruvilla" yang merupakan keluarga bangsawan paling setia pada kekaisaran. Sejarah mengatakan mereka adalah keluarga pertama sekaligus keluarga tertua yang menopang kekaisaran dari awal didirikannya Kekaisaran Agung Exousillia.
Dalam hal kedudukan, kekuasaan, dan kekuatan, Keluarga Nhi Ruvilla tentu berada di urutan kedua setelah keluarga sang kaisar itu sendiri. Meskipun Armilein bukan keluarga kekaisaran, tetapi Keluarga Nhi Ruvilla pun tidak bisa dianggap sembarangan.
Ada apa dengan Kekaisaran Agung Exousillia sampai mengirimkan putri keluarga mereka yang terkenal sebagai utusan semata? Semua pasti memiliki alasan yang tidak sederhana.
"Sebuah kehormatan bagi Kerajaan Aulzania bisa menerima tamu kehormatan seperti Anda, Nona Armilein Nhi Ruvilla."
Ya ... Armilein, dia adalah seorang perempuan. Ketika biasanya seorang utusan diperankan oleh laki-laki, maka cukup unik bagi Kaisar Exousillia untuk mengutus seorang perempuan.
"Yang Mulia tidak perlu terlalu sungkan, bagaimanapun saya tidak memiliki kedudukan setinggi itu untuk mendapatkan hormat dari Anda," ucap Armilein sopan.
Raja Esdagius mengangguk penuh kekaguman. Matanya menelaah sosok Armilein yang terlihat masih muda dan menjanjikan. Segala sikapnya, mulai dari perkataan dan gerakan tubuh sangat terlatih dan mencerminkan seorang putri.
Kemudian ketika Raja Esdagius menyuarakan kekaguman dalam hati, utusan Kekaisaran Lodysna melangkah ke depan. Utusan itu tidak membungkuk atau memberi hormat, melainkan langsung berbicara memperkenalkan diri.
"Lorei Zonio, si nomer enam menghadap padamu, Raja Esdagius."
Tidak ada kata lain yang dapat menggambarkan perasaan Raja Esdagius selain "Kesal". Sikap yang ditunjukkan oleh utusan Kekaisaran Lodysna tidak mencerminkan sopan santun sama sekali. Setidaknya, walaupun orang itu adalah utusan yang mendapat perintah langsung sang kaisar tetapi tidak sepantasnya mengabaikan formalitas di antara orang berkedudukan dalam pertemuan pertama.
__ADS_1
Ucapan yang tidak disertai rasa hormat, dan postur tubuh yang lebih tampak seperti seorang bandit daripada utusan membuat Raja Esdagius muak. Bahkan seorang pria yang dulu berkata tidak hormat dan sombong dihadapannya masih memiliki postur tubuh, ucapan, dan gerakan yang berseni di dalamnya.
"S-Suatu kehormatan juga bagi Kerajaan Aulzania dapat menerima tamu seperti Tuan Lorei ini. Mungkin hanya aku yang tidak pernah mendengarnya, atau sejak kapan Kekaisaran Lodysna memiliki Keluarga Zonio sebagai bangsawan di antara mereka?"
Raja Esdagius menahan diri untuk bersabar sebisa mungkin walaupun hatinya meronta-ronta ingin mengusir utusan yang tidak tahu aturan dan kesopanan yang bernama Lorei itu.
"Keluarga bangsawan? Sayang sekali, aku tidak termasuk keluarga manapun, kalian bisa menebak bahwa aku hanya orang biasa yang kuat."
Semua orang yang hadir di sana merasa marah dengan sikapnya, kecuali utusan Kekaisaran Lodysna itu sendiri. Derrian yang bertindak sebagai pengawal Raja Esdagius bersama dengan satu orang yang lain hendak mengambil tindakan, tetapi itu dihentikan oleh Armilein yang bersuara.
"Maaf, Tuan Loray, bukan?"
Tidak mungkin, mereka semua mendengar jelas bahwa namanya adalah Lorei, dan bukan Loray. Jadi ... Armilein pasti memiliki maksud tertentu saat memanggilnya seperti itu.
"Keh, aku tidak berharap utusan Kekaisaran Agung memiliki telinga yang bermasalah," geram Lorei tampak marah.
Sebaliknya, Armilein terlihat santai dan menerima semua itu dengan senyuman lembut yang ramah. Armilein menutup mulutnya saat dia mulai tertawa kecil sambil berbicara.
"Fufufu, maafkan aku. Aku mendengar namamu seperti Loray, dalam cerita yang diturunkan di keluarga kami, Loray adalah monster humanoid yang bermutasi. Tentu dia memiliki penampilan dan sikap yang buruk, tidak bisa dibandingkan dengan makhluk yang berakal. Aku harap, Tuan Lorei bisa memaafkannya."
Ternyata itu adalah sarkasme, bahkan Raja Esdagius dapat merasakan kemarahan Lorei dari ekspresinya yang tak karuan. Itu adalah satu kesempatan berharga jika Lorei marah sampai menggunakan kekerasan, maka dengan begitu Raja Esdagius memiliki alasan untuk mengusirnya.
"Sudahlah, kalian adalah utusan yang kuhormati. Mari kita lupakan atas apa yang terjadi barusan dan mulai membahas masalah utama."
Membiarkan kedua utusan itu saling berbicara satu sama lain tidak akan berdampak baik, Raja Esdagius tahu betul akan hal itu sehingga dirinya mengalihkan perhatian mereka kepada masalah utama.
"Oh? Yang Mulia memang bijak. Baiklah, memang itu adalah yang seharusnya."
Menatap penuh kebencian terhadap Armilein, Lorei masih belum menunjukkan sopan santun sedikitpun.
"Aku mengalah, tapi hanya untuk saat ini."
Pada pertemuan kali ini, utusan yang memiliki otoritas lebih tinggi dipersilahkan berbicara terlebih dahulu. Antara Kekaisaran Lodysna dengan Kekaisaran Agung Exousillia, sudah tentu pemenangnya adalah Armilein dari Kekaisaran Agung Exousillia.
"Saya membawa tiga pertanyaan dari Yang Mulia Kaisar, beliau berkata apabila Kerajaan Aulzania mampu memberikan jawaban yang memuaskan dari ketiga pertanyaan ini, maka Kekaisaran Agung Exousillia akan menarik diri dari permasalahan."
Raja Esdagius memberikan respon suka cita, dengan adanya pernyataan itu maka terdapat sebuah jaminan bahwa Kekaisaran Agung Exousillia akan melepaskan mereka selama jawaban itu memuaskan.
__ADS_1
"Aku berharap, Tuan Dirvaren memiliki jawaban yang memuaskan!" ungkap Raja Esdagius melalui kata hatinya.
Melihat Raja Esdagius yang tampak senang oleh sesuatu, sedikit membuat Armilein mengangkat alis karena bagaimanapun dia belum mengatakan semua yang dia ingin katakan.
"Namun seperti yang diperintahkan oleh Yang Mulia Kaisar, apabila Kerajaan Aulzania tidak bisa memberikan jawaban yang membuat beliau puas, maka tidak ada pilihan selain menganggap Kerajaan Aulzania sebagai dalang utama dari kehancuran Kerajaan Suci Sancteral."
GLEKK!
Raja Esdagius menegang saat memikirkan kemungkinan yang terburuk itu benar-benar terjadi di depan mata. Jika Kerajaan Aulzania dianggap sebagai dalang utama, maka mereka akan dianggap musuh oleh seluruh negara yang ada di benua, dan saat itu terjadi semua keluarga kerajaan ada kemungkinan untuk dieksekusi.
"Tidak, aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi! Bagaimanapun, aku mempercayai Tuan Dirvaren, dia pasti melakukan sesuatu karena dialah yang paling mengetahui kebenarannya!" seru Raja Esdagius meyakinkan diri dalam hati.
"Yakinlah, Nona Armilein. Sebagai Raja Kerajaan Aulzania, aku akan memberikan jawaban yang memuaskan."
Armilein tersenyum lalu menggangguk dan kemudian mundur selangkah. Jelas Armilein telah memberikan kesempatan bagi Lorei untuk berbicara sebagai utusan Kekaisaran Lodysna.
"Huff, aku tidak suka membicarakan ini panjang lebar. Raja Esdagius, sang kaisar memerintahkanku untuk mengumumkan kepadamu, Kekaisaran Lodysna telah yakin sepenuhnya bahwa Kerajaan Aulzania-lah yang menghancurkan Kerajaan Suci Sancteral, oleh karena itu kami akan menganggap kalian musuh mulai dari ketika pesan ini diberikan."
Armilein, Raja Esdagius, dan Derrian seketika membulatkan mata oleh pernyataan yang begitu mengejutkan. Suatu keberanian setidaknya harus memiliki batasan, walaupun Kekaisaran Lodysna memang mengganggap Kerajaan Aulzania sebagai musuh tapi bukan berarti mereka harus mengumumkannya saat itu juga.
"Tuan Lorei! Apakah tidak ada yang salah dengan pesan itu?!"
Raja Esdagius tentu tidak terima, bagaimana bisa mereka memutuskan Kerajaan Aulzania sebagai musuh tanpa mempertimbangkan banyak hal terlebih dahulu? Ini terlalu tidak masuk akal.
"Tidak ada kesalahan, dan keputusan ini tidak akan berubah apapun yang terjadi."
Armilein menutup mata sambil berpikir bahwa ternyata keputusan inilah yang diambil oleh Kekaisaran Lodysna. Armilein sempat tersenyum penuh ejekan terhadap keputusan yang begitu ceroboh ini.
"T-Tidak mungkin," ucap Raja Esdagius lesu.
Meski Raja Esdagius sangat marah dengan keputusan itu, tetapi dia tahu bahwa melakukan sesuatu terhadap Lorei saat ini hanya akan menambah dendam Kekaisaran Lodysna. Sangat mungkin bagi mereka untuk mengerahkan pasukan dan membantai Kerajaan Aulzania tanpa tersisa, apalagi kabar mengatakan kalau Kekaisaran Lodysna bertambah kuat beberapa tahun terakhir.
Saat Armilein hendak maju untuk mengambil alih pembicaraan, di saat itulah pintu menuju ruangan tempat di mana mereka mengadakan pertemuan ini terbuka. Mengikuti suara pintu yang terbuka menderu, sebuah suara berkata dengan hawa membunuh yang kuat.
"Kekhawatiran yang sia-sia, Raja Esdagius. Karena mereka sendiri telah menganggap kita musuh, mengapa tidak kita bunuh saja dia?"
Lalu-
__ADS_1
Orang terakhir yang ditunggu oleh Raja Esdagius muncul, dan secara tiba-tiba menyuarakan pendapat yang sangat briliant. Dia adalah Anryzel Dirvaren yang secara mengejutkan telah menghunuskan pedang di tangannya.