
Orang-orang mulai berkerumun untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Atas kesaksian seseorang, dia berkata telah melihat seorang pria yang melompat dari bangunan yang tinggi, lalu pria itu tiba-tiba terjatuh, dan akhirnya menabrak tanah dengan posisi badan yang telungkup.
Semua orang merasa penasaran, apa sebenarnya motif di balik terjatuhnya seorang pria di tengah jalan ini. Apakah itu pembunuhan? Kecelakaan? Atau mungkin pria tersebut mengalami beban pikiran yang sangat berat hingga memutuskan bunuh diri? Setiap orang memiliki spekulasinya masing-masing.
Tertarik oleh kerumunan yang semakin membesar, seorang laki-laki yang berusia tua mendatangi kerumunan yang sama. Orang-orang yang berkerumun seketika menyingkir ketika melihat dirinya datang karena mereka tahu bahwa lelaki tua tersebut adalah seorang dokter.
Dokter tua langsung memeriksa kondisi pria yang terjatuh setelah berhasil menerobos kerumunan. Bersusah payah dia memeriksa, tetapi bahkan dengan kemampuannya sekalipun belum dapat mengidentifikasi dengan pasti, terkait kondisi tubuh pria itu yang sesungguhnya.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya seseorang yang bersaksi.
Dokter itu berdiri dengan lesu, lantas menjawab, "Aku sudah berusaha semampunya. Sementara kondisi pria ini begitu aneh, tangannya masih berdenyut, napasnya pun masih berjalan, tetapi sirkulasi mana dalam tubuh benar-benar terhenti."
"Tidak ada bekas luka?" tanya seseorang yang berkerumun.
"Sama sekali tidak."
"Kira-kira kapan dia siuman?"
"Sebagai seorang dokter aku malu mengatakannya, tapi kondisinya ini begitu membingungkan, sangat sulit untuk ditebak."
Ketika dokter itu menyuarakan ketidak tahuannya, sebuah siluet hitam muncul di belakang dokter itu, berdiri diam tanpa sepengetahuan orang-orang.
Setelah mengalami perdebatan panjang dengan sosok yang bernama Ahn, Ren mendapatkan kesadarannya kembali. Akan tetapi, seperti yang telah dia duga, hal yang paling tidak diinginkan telah berubah menjadi kenyataan.
Di mana martabatnya sebagai seorang Continents Holder jika melompat dari ketinggian yang sedikit saja sudah terjatuh?
Mereka telah berkerumun, bahkan memanggil seorang dokter karena dirinya, tidak ... mungkin karena ulah Ahn yang memanggilnya secara mendadak, maka itu lebih tepat untuk dikatakan.
"Apa yang sulit untuk ditebak?" tanya Ren mengejutkan semua orang.
Baik dokter tua maupun orang-orang yang berkerumun terkejut setengah mati atas suara yang muncul secara tiba-tiba. Karena suatu alasan, mereka tidak menyadari bahwa pria yang tergeletak itu kini telah tersadarkan diri.
"E-eh? Eeehhh?!" Dokter itu terperanjat.
Adapun Ren hanya terdiam memperhatikan kelakuan dokter tua yang bertingkah konyol.
"K-kau, kapan kau tersadar?!" tanya dokter itu dengan muka yang masih pucat.
Tidak ada tanda-tanda pergerakan, hawa kehadiran, maupun pembelokkan aliran mana karena kehadiran seseorang. Dokter itu, dan semua orang di sana benar-benar kehabisan akal untuk mengerti bagaimana caranya pria di hadapan mereka bisa bangun tanpa disadari sedikitpun.
Sedangkan Ren yang merupakan objek utama penyebab mereka kehilangan akal merasa bahwa berdiam diri hanya akan membuang-buang waktu. Seseorang yang patut disalahkan adalah Ahn, jadi dirinya tidak memiliki kewajiban untuk meladeni mereka lebih lama.
"Aku tidak apa-apa, maaf telah membuat kegaduhan, karena itu aku akan pergi."
Ren berjalan melewati dokter tua, lalu kerumunan yang berkumpul, dan berhasil keluar dari lingkaran yang dibuat orang-orang. Sambil berjalan dia masih berpikir tentang perkataan Ahn, apakah semua yang dikatakan Ahn itu adalah kenyataan?
"Tetap saja perkataannya tidak menjelaskan mengapa aku terpanggil ke dunia ini."
Semua orang menatap punggung Ren dalam keadaan diam. Mereka kagum sekaligus heran, tentang bagaimana sikap orang itu yang begitu acuh seolah tidak peduli dengan apapun yang ada di sekitarnya.
Ren membersihkan tubuhnya dari debu, mulai dari pakaian sampai ke rambut hitamnya yang tampak terkotori oleh tanah. Dia bergerak dengan cepat ke tempat Nivania berada, entah berapa lama waktu yang sudah terlewati, tapi dirinya berharap kejadian itu tidak menghabiskan waktu terlalu lama.
............
Kegaduhan yang ditimbulkan akibat pertempuran Nivania melawan para penjahat tampaknya sudah mencapai telinga para Ksatria Aulzania. Atas laporan para warga, Ksatria Aulzania langsung meluncur ke tempat kejadian, tetapi begitu mereka sampai yang terlihat hanyalah sisa-sisa pertempuran.
Beberapa bangunan menjadi korban dalam pertempuran itu, sedangkan penduduk yang tahu akan adanya pertempuran sudah melarikan diri dari awal sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Ksatria Aulzania yang menghampiri tempat kejadian itu berjumlah sepuluh orang dengan tujuh ksatria laki-laki dan tiga orang ksatria perempuan. Mereka adalah Ksatria Aulzania tingkat rendah jika diukur berdasarkan kekuatan, meski begitu mereka awalnya percaya diri bisa mengatasi masalah, akan tetapi setelah mengamati kebenarannya, kepercayaan diri mereka seketika menciut.
Sembilan orang pria berbadan kekar, bertampang sangar, dan berpenampilan buruk yang tergeletak dalam kondisi terluka parah memiliki kekuatan di atas mereka. Bahkan di antara sembilan orang itu, yang terlemah setara dengan yang terkuat dalam kelompok sepuluh Ksatria Aulzania.
"Apa-apaan ini ... siapa yang mengira kalau penjahat-penjahat ini sangat kuat!" gerutu seorang laki-laki muda yang menggunakan dua pedang sebagai senjata.
Dia adalah Ksatria Aulzania yang terkuat dalam kelompok, seorang anak tunggal yang berasal dari keluarga bangsawan baron di Kerajaan Aulzania. Namanya adalah Esge Sithofulen, laki-laki yang tidak berbakat tapi telah berjuang sangat keras sehingga dirinya bisa memasuki jajaran Ksatria Aulzania.
"Aku tahu perasaanmu, kekuatan mereka memang berada di atas kita semua," sahut Elsa, kekasih dari Esge Sithofulen yang berasal dari rakyat biasa, namun memiliki bakat yang tinggi.
Mereka bersepuluh pun segera bertindak sebelum para penjahat itu memulihkan diri. Sembilan penjahat itu ditangkap, lalu diborgol menggunakan rantai khusus yang mengunci sebagian besar kekuatan mereka agar tidak dapat melarikan diri.
Terakhir, mereka menghampiri seorang perempuan yang pingsan dalam keadaan duduk. Elsa yang cukup mahir dalam sihir penyembuhan memeriksa kondisinya, dan memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja. Perempuan itu hanya kehabisan mana sehingga dia kelelahan dan pingsan.
Esge lalu memerintahkan delapan orang lain untuk memeriksa ke dalam bangunan yang hancur karena dia memiliki firasat bahwa semua ini berasal dari tempat itu. Esge juga bertanya pada beberapa orang saksi yang sebelumnya melihat pertempuran itu secara sekilas.
"Kau yakin perempuan yang pingsan itu menghadapi semuanya sendirian?" Esge bertanya tidak percaya.
"Betul, Tuan. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tidak ada yang membantunya, dan perempuan itu sendiri bertarung dengan cara yang luar biasa! Aku berani bersumpah."
__ADS_1
Melihat tidak ada tanda-tanda kebohongan, Esge hanya bisa mempercayainya untuk sementara waktu. Jika memang yang dikatakan saksi itu benar, maka perempuan itu pasti memiliki kekuatan yang besar. Setidaknya, ada kemungkinan bahwa perempuan itu adalah pendekar tersohor, atau seorang pengelana yang telah memiliki banyak pengalaman.
"Baiklah, aku mempercayaimu. Terima kasih, kau boleh pergi."
Esge lalu mendekati Elsa yang sedang memeriksa kondisi perempuan itu secara berkala karena ditakutkan terjadi sesuatu yang buruk. Reputasi Ksatria Aulzania akan menjadi rusak jika mereka bahkan tidak bisa menangani korban yang terluka.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Esge pelan.
"Masih normal, tidak ada hal yang aneh."
"Syukurlah, ini akan sangat memalukan jika kita bahkan tidak bisa menangani masalah ini."
Namun Elsa secara tiba-tiba berkata, "Oh? Lihat, matanya bergerak!"
Elsa dan Esge seketika mendekatkan diri mereka, melihat dengan seksama kondisi perempuan itu yang kemungkinan besar akan segera tersadarkan diri. Selang beberapa waktu, perempuan itu benar-benar membuka mata, dan terkejut ketika melihat dua orang di depannya adalah orang yang berbeda dari yang diharapkannya.
"E-Ehh, siapa kalian?"
Esge dan Elsa saling menatap satu sama lain. Mereka berdua kemudian memperkenalkan diri dengan cara yang layak.
"Aku adalah Ksatria Aulzania generasi termuda, Esge Sithoful dari keluarga Baron Sithoful."
"Aku juga berasal dari Ksatria Aulzania generasi termuda, Elsa."
Setelah memperkenalkan diri secara singkat, Esge lalu pergi untuk mengambil air minum dan memberikannya kepada Nivania.
"Terima kasih, jadi kalian adalah Ksatria Aulzania, ya? Aku benar-benar tertolong apabila kalian memeriksa bangunan di sebelah sana. Beberapa orang pria yang aku lawan adalah bagian dari penjahat yang melakukan kejahatan serius berupa perdagangan budak yang telah dihapuskan oleh kerajaan ini sejak lama."
"Apa! Perdagangan budak!?" balas keduanya terkejut.
Nivania mengangguk dan menjelaskan lebih rinci. "Ya, aku menemukan beberapa orang perempuan yang dikurung dalam kandang besi di bawah tanah bangunan itu. Jika bukan untuk perdagangan budak, maka hal apa lagi yang mampu menjelaskan apa yang aku lihat?"
Wajah Esge lalu memerah karena marah, "Kurang ajar! Ternyata ada hal yang seperti ini di Kota Aulzania kita, berani-beraninya mereka melakukan hal yang keji seperti itu!"
Perdagangan budak, memiliki budak, atau sesuatu yang berhubungan dengan budak telah dihapuskan dari Kerajaan Aulzania sejak dahulu kala, dan kini statusnya sudah menjadi kejahatan yang serius. Sebagai hukuman atas perilaku keji tersebut, orang yang melanggar akan dihukum mati, dan diperbolehkan untuk membunuh mereka di tempat jika kejahatan itu melibatkan banyak budak sekaligus.
Esge diliputi oleh amarah yang sangat besar, dia meminta agar seluruh penduduk yang berada di sekitar untuk pergi. Setelah melakukan itu, Esge tanpa ampun memenggal satu per satu kepala para penjahat. Tidak ada ampunan, atau belas kasih bagi mereka yang mempermainkan kehidupan orang lain, dapat mati tanpa menderita lebih banyak pun merupakan sebuah pengampunan yang paling tinggi.
"Orang-orang keji, tebuslah dosamu di kehidupan selanjutnya."
Nivania dan Elsa hanya bisa mengeluarkan ekspresi canggung setelah melihat itu semua. Bagaimanapun, mereka berpikir bahwa tindakan Esge tidak berlebihan dan masih dalam tahap peraturan di Kerajaan Aulzania.
Bersama Elsa, Nivania sedikit demi sedikit menceritakan apa yang terjadi dengan menutupi bagian Aura of Light Blessing karena dikhawatirkan Elsa akan tahu bahwa dirinya adalah seorang Saint. Elsa yang mendengar itu hanya bisa merespon kagum atas kehebatan Nivania yang mengalahkan semua orang itu sendirian.
"Kamu benar-benar mengalahkan mereka seorang diri? Itu sangatlah hebat!"
"Tidak, tidak, tidak ... sebenarnya ada seseorang yang membantuku di saat terakhir."
Elsa memiringkan kepala meminta penjelasan. "Maksudnya?"
"Seharusnya ada sepuluh penjahat yang aku lawan. Di saat terakhir, aku hampir dikalahkan olehnya, tetapi seorang teman menyelamatkanku."
Elsa masih dengan rasa penasaran sekali lagi bertanya, "Siapa temanmu itu? Apakah dia kuat?"
Nivania dengan lembut tersenyum. Dia mengingat bahwa orang itu bukan lagi kuat, tetapi sudah termasuk ke dalam golongan orang dengan kekuatan yang abnormal.
"Dia kuat ... mungkin sangat kuat, atau lebih kuat dari apa yang aku bayangkan."
Seolah-olah kalimat Nivania adalah sihir pemanggilan, orang yang sedang mereka bicarakan pun mendekat dengan langkah yang tidak disadari. Dia turut masuk dalam pembicaraan tanpa melihat suasana, dan tanpa rasa sungkan sedikitpun.
"Terima kasih pujiannya," ucap Ren sambil tersenyum di dekat mereka.
Satu, dua, dan tiga, membutuhkan waktu tiga detik bagi mereka berdua untuk mencerna informasi tentang kedatangan Ren yang begitu tiba-tiba. Setelah itu, mereka hampir melompat dan menghunuskan senjata saking merasa terkejutnya.
"Ahhh! Hantu!!"
"Ren! Kau mengejutkanku!!"
Melihat reaksi mereka yang secara alami sangat lucu, membuat Ren dengan spontan tertawa sampai memperlihatkan giginya. Ini adalah hiburan yang lumayan, setelah ia dibuat pusing oleh kenyataan sampai dirinya merasa sedikit frustasi.
"Pfft-hahaha!"
Elsa yang masih merasa terkejut langsung berteriak kesal, "Siapa kau beraninya mengejutkan kita berdua?!"
Namun Nivania dengan tanggap meluruskan kesalahpahaman di antara mereka bertiga. "Tunggu, ini adalah teman yang aku bicarakan tadi."
Seketika itu pula emosi Elsa mendadak surut, dia dengan patuh memperhatikan penampilan Ren sambil sedikit demi sedikit mulai teringat akan sosok seseorang.
__ADS_1
"I-ini ... temanmu?" Elsa bertanya seraya merasa gelisah.
Pasalnya, dia teringat akan sosok yang dihormati oleh sang raja. Seseorang yang mampu mengalahkan seluruh Ksatria Aulzania dengan mudah, dan merupakan pahlawan bagi Kerajaan Aulzania itu sendiri.
"Ya, dia adalah Anryzel Dirvaren. Seharusnya, dia cukup terkenal di kota ini bukan?"
DAM!!!
Gerakkan Elsa seketika menjadi kaku, jantungnya seakan berhenti berdetak, dan dirinya merasa seperti disambar petir setelah mengetahui bahwa pria itu benar-benar Pahlawan Aulzania.
"A-aku ... aku."
Sebelum Elsa mampu menyelesaikan ucapannya, sembilan orang Ksatria Aulzania yang lain, termasuk Esge telah kembali dari ruang bawah tanah bangunan yang rusak.
Sesaat Esge dan yang lain terdiam saat melihat Ren berada di dekat Elsa dan Nivania, tetapi beberapa detik kemudian mereka segera berlari untuk menghampiri Ren dengan wajah yang berkeringat.
"T-Tuan Pahlawan, apa yang Anda lakukan di tempat ini? Apakah Anda memiliki keperluan?" Esge mewakili orang lain untuk bertanya.
Ren memperhatikan mereka, dan segera sadar bahwa sepuluh orang di sana termasuk wanita yang bersama Nivania adalah ksatria kerajaan.
"Ah, Ksatria Aulzania 'kah? Meskipun kalian adalah orang-orang terpilih yang katanya merupakan pasukan terkuat kerajaan, bukankah respon kalian terhadap kejahatan begitu lambat?" sindir Ren dengan nada yang sedikit mencela.
Tidak ada yang mampu protes, dan melakukan pembelaan terhadap sindiran Ren yang begitu tepat sasaran. Alhasil karena tidak ada yang mampu berbicara, Ren melanjutkan protesnya terhadap Ksatria Aulzania secara langsung.
"Kalian tahu? Karena keterlambatan kalian, hampir saja temanku ini terbunuh. Aku memang sedikit bersalah karena terlalu menganggap remeh musuh, tetapi kejahatan ini pada hakikatnya berada di kota yang seharusnya kalian lindungi. Dan andaikan sesuatu yang buruk terjadi kepada temanku, percayalah tidak ada hal baik yang akan datang pada kalian di masa depan."
Esge menunduk karena merasa sangat malu, begitu pula semua Ksatria Aulzania yang ada di tempat itu. Mereka mulai mempertanyakan kembali, apakah mereka memang pantas berada di jajaran ksatria terhormat kerajaan?
"Untuk saat ini, aku tidak akan mempermasalahkannya. Beruntung Kerajaan Aulzania ini memiliki hubungan baik denganku, sehingga aku hanya mengingatkan kalian untuk menjalankan tugas dengan lebih baik ke depannya. Jangan lupa juga untuk terus berlatih agar kekuatan kalian cukup untuk menerima beban dari tanggung jawab yang kalian pikul."
Ksatria Aulzania mulai merasa tercerahkan, meskipun perkataan Ren sebelumnya sedikit melukai hati, tetapi ada maksud yang sangat baik di balik perkataannya itu. Di mata mereka, Ren yang berkata demikian tampak seperti panutan yang berusaha mengajarkan mereka agar menjadi ksatria yang layak untuk disebut sebagai ksatria.
Untuk itu, Esge mengeluarkan air mata haru, lalu bersumpah, "Terima kasih atas bimbingan Anda, Tuan Pahlawan! Saya bersumpah, mulai dari detik ini kami akan menjalankan tugas kami dengan lebih baik lagi agar tidak mengecewakan orang-orang!"
Nivania yang menyaksikan drama menyenangkan itu merasa ingin tertawa, tetapi dia menahannya sebisa mungkin.
Ren juga merasa bahwa kata-katanya ini sudah melebihi batas. Dia bukan pelatih maupun motivator sehingga memutuskan untuk segera berhenti memberikan kata-kata lebih jauh.
"Hm. Lalu bagaimana dengan situasinya?"
Esge bangkit dengan penuh semangat lalu menjelaskan, "Saya menemukan total lima belas orang perempuan yang dikurung di bawah tanah, dan satu orang wanita yang kemungkinan berkomplot dengan penjahat sehingga saya langsung menghukumnya di tempat."
"Lalu?" Ren tahu bahwa masih ada sesuatu yang lain.
Sesaat Esge berpikir apakah harus memberitahukan semuanya tanpa se-izin dari sang raja atau atasan, tetapi ketika dia mengingat sang raja bahkan menghormati Pahlawan Aulzania, dia membuang jauh-jauh pertimbangan itu dan memberitahukan semuanya tanpa pikir panjang.
"Beberapa dokumen ditemukan di sana. Itu adalah bukti permintaan untuk budak perempuan dari seorang pedagang budak di Kekaisaran Lodysna. Rinciannya, pedagang itu meminta budak perempuan yang berusia 15 - 20 tahun yang masih dalam keadaan perawan."
"Kami juga menemukan bahwa mereka dikurung dalam kandang besi yang tangguh. Kandang besi itu tidak bisa kami hancurkan dengan kekuatan kami saat ini. Sedangkan untuk kuncinya, kami tidak dapat menemukannya di manapun."
Ren memegang dagu dan berkata, "Aku mengerti, tolong minggir sedikit."
Semua orang dengan patuh menyingkir dari jalannya sehingga Ren dapat berjalan dengan bebas menuju bangunan yang telah rusak. Dia kemudian menggunakan sihir tanah untuk mengangkat bagian atas bangunan yang telah rusak, lalu membuatnya mengambang di udara.
Ksatria Aulzania memberikan respon kagum ketika melihat kemampuan Ren dalam menggunakan sihir. Bahkan mereka sangat ragu, jika penyihir terkuat kerajaan mampu melakukan hal yang sama.
"Benar-benar tidak bisa menganggap remeh masalah kecil."
Ren berkata-kata sambil menuruni tangga. Kemudian dari kejauhan, Nivania berlari untuk mengikutinya karena dia masih khawatir terhadap kondisi Vinri yang beberapa saat lalu terlupakan.
Mereka berjalan beriringan menuruni tangga, dan akhirnya sampai di tangga terakhir, di depan pintu besi berkarat yang sudah terbuka. Tanpa menunggu, Ren dan Nivania masuk untuk memeriksa keadaan di dalam ruangan.
"Suram sekali," kata Nivania.
"Begitu 'kah? Lalu bagaimana perasaan mereka yang terkurung di tempat seperti ini ya?" Ren tersenyum pahit.
Para perempuan yang terkurung menyadari kedatangan mereka, dengan mata yang mengeluarkan air mereka berteriak meminta tolong walaupun mulut, kaki, dan tangan berada dalam kekangan.
Ren lalu melepaskan satu per satu dari mereka dengan cara membengkokkan besi yang menjadi kurungan tersebut menggunakan tangan. Lalu Nivania yang di belakang bertugas untuk menenangkan mereka semua, hingga sampailah mereka berdua di kurungan yang terakhir.
"Sungguh, perempuan menyebalkan ini bernasib sial."
Vinri yang telah mereka cari sedang tergeletak tak berdaya dalam kurungan. Kondisinya dengan yang lain sama, yaitu dalam keadaan terkekang kaki, tangan, dan mulut.
Ren sekali lagi merusak kurungan itu menggunakan tangan, tetapi kali ini dia mempersilahkan Nivania untuk menolong Vinri. Dari awal Nivania-lah yang telah berjuang, dan perjuangan itu harus diakhir olehnya sendiri.
Vinri-pun berhasil disadarkan, lantas mereka semua keluar bersama. Beberapa korban yang terkena serangan mental langsung dibawa oleh Ksatria Aulzania untuk diberikan perawatan, sementara beberapa yang lain memutuskan kembali ke rumah dengan di antar oleh para ksatria.
__ADS_1
Vinri sendiri memilih untuk kembali ke penginapan. Dia langsung meminta maaf kepada pemilik penginapan, Nivania, dan Ren karena telah merepotkan mereka semua. Vinri juga berterima kasih sedalam-dalamnya karena telah ditolong oleh mereka dari mimpi yang sangat buruk.