Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 105 : Kanza di Kota Perbatasan


__ADS_3

Kota Perbatasan Ordenz


Kelompok Kanza yang terdiri dari Kanza, Erfila serta Ritter tiba di Kota Perbatasan Ordenz pada pagi hari ini. Sebelum melanjutkan perjalanan, mereka beristirahat terlebih dahulu untuk memulihkan stamina yang telah terkuras dalam perjalanan sebelumnya.


Mereka bertiga singgah di sebuah rumah makan yang sederhana namun berkualitas, memesan berbagai macam hidangan untuk mengisi perut yang telah kosong. Seraya menikmati hidangan yang telah disediakan mereka bertiga mulai membicarakan berbagai hal, tapi inti dari pembicaraan itu adalah masalah yang dialami oleh Erfila dan Kerajaan Efidoxia.


Erfila Lercuela Ni Efidoxia adalah Putri dari Raja Efidoxia, Koulzar Lercuela Ni Efidoxia dan merupakan anak tunggal darinya. Sejak kecil nasib Erfila sudah ditentukan oleh Raja Efidoxia, sebagai anak tunggal dia harus bisa memimpin Kerajaan Efidoxia di masa depan.


Kepribadian, Etika dan Kekuatan, Erfila harus bisa mempelajari semua itu agar nantinya dapat menguasai Kerajaan Efidoxia dengan baik walaupun dia seorang Wanita. Namun kasus dimana seorang Wanita menjadi Pemimpin dari suatu Kerajaan atau Kekaisaran itu sangat langka dan sering dikaitkan dengan kehancuran.


Oleh karena itu, banyak pihak yang menentang keputusan Raja Efidoxia dalam menjadikan Erfila sebagai Pemimpin Kerajaan. Sebagai ganti dari Penentangan, mereka mengusulkan sebuah Ide dimana Erfila harus menikah dengan seorang Pangeran dari Kerajaan lain yang nantinya, Pangeran itu akan dijadikan sebagai penerus takhta dari Kerajaan Efidoxia.


Raja Efidoxia tentu menentang keras usulan ini, tidak hanya mengorbankan kebahagiaan Erfila, tetapi usulan ini juga melanggar Tradisi dan Aturan karena menjadikan orang luar sebagai seorang Raja. Namun satu per satu, pihak yang menentang keputusan Raja Efidoxia semakin bertambah, sampai-sampai separuh dari orang berpengaruh di Kerajaan Efidoxia menjadi penentang keputusannya.


Penentangan adalah bibit dari pengkhianatan, tanpa adanya kesepakatan maka hal itu sudah dapat dipastikan. Kerajaan Efidoxia kemudian dibagi menjadi dua kubu, yang pertama adalah kubu penentang dan yang kedua adalah kubu pembela.


Semakin hari, kubu penentang semakin membesar sampai mencapai titik dimana kubu penentang lebih besar dari kubu pembela. Kenyataan pahit ini menyebabkan Raja Efidoxia terpojok, dan dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat berat. Lalu, tibalah saat dimana Raja Efidoxia akan mengumumkan keputusan yang telah dia buat.


Raja Efidoxia pun mengumumkan keputusan kalau dia akan mengikuti usulan dari para penentang. Kubu penentang pun tersenyum penuh kemenangan dan kubu pembela hanya bisa menerima keputusan dari Raja Efidoxia.


Singkat cerita, semua orang mengira, bahwa keputusan dari Raja Efidoxia akan mengakhiri perselisihan antara dua kubu yang berbeda. Namun semua tidak sesederhana yang diperkirakan, meski Raja Efidoxia telah menerima usulan dari kubu penentang, tapi pada dasarnya kubu penentang adalah para pengkhianat.


Beberapa hari setelah pengumuman keputusan, Raja Efidoxia dibunuh dan ditemukan oleh Ratu Efidoxia dalam keadaan tak bernyawa. Lalu, seolah memanfaatkan kesempatan ini untuk menyingkirkan semua halangan, orang-orang yang menjadi kubu pembela dituduh sebagai dalang dari pembunuhan Raja Efidoxia oleh kubu penentang.


Tuduhan itu diperkuat oleh sebuah alasan yang dinyatakan oleh kubu penentang bahwasannya kubu pembela tidak terima dengan keputusan Raja Efidoxia dan berakhir dengan membunuhnya.


Pada mulanya Erfila tidak memihak kubu manapun, dia adalah pihak Netral yang akan menerima keputusan apapun yang diambil oleh Raja Efidoxia. Namun karena ayahnya telah dibunuh, dan Erfila sangat yakin bahwa dalang dibalik semua ini adalah kubu penentang, maka dirinya memihak pada kubu pembela dan mencoba membalik tuduhan untuk menyingkirkan para pengkhianat.


Perselisihan antara kedua kubu pun kembali terjadi. Kubu pembela yang berusaha mempertahankan Kerajaan mereka dari para pengkhianat dan kubu penentang yang berusaha mengambil alih Kerajaan. Keduanya saling menentang satu sama lain, dan tidak dipungkiri saling bertarung satu sama lain.


Menyebabkan Kerajaan Efidoxia kacau dan berada diambang kehancuran.


"Namun pada akhirnya, kubu pembela, kalian kalah 'kan?" Kanza menyela Erfila.


Ekspresi sedih ditampilkan Erfila saat mengangguk lemah pada Kanza. Ritter Zorrano juga sepertinya tidak dapat berbuat apa-apa sebagai seorang pengawal pribadi dari Putri Efidoxia ini.


'Sungguh pria yang tidak dapat diandalkan.' Pikir Kanza.


"Huh ... Ngomong-ngomong, meski kubu penentang ini lebih besar dari kubu pembela, kalian harusnya tidak akan kalah semudah itu 'kan?"


Kanza merasa ada yang aneh, ketika Erfila menyebutkan bahwa kekuatan kubu penentang yang berada sedikit diatas kubu pembela. Namun kenyataan kalau kubu pembela telah dikalahkan hanya dalam hitungan hari itu tidak masuk akal.

__ADS_1


'Kecuali ...' Kanza menebak-nebak.


"Mereka memiliki bala bantuan yang kuat." Ucap Erfila lirih.


'Sudah kuduga ...'


Beberapa pengkhianatan yang terjadi di Dunia selalu memiliki pihak luar sebagai dalang utamanya. Sekarang masalah yang harus diketahui oleh Kanza adalah, siapa dalang dibalik pengkhianatan ini?


"Apa kau tahu pihak mana yang membantu kubu penentang ini?"


Erfila menatap dengan pasrah, lalu menggelengkan kepala perlahan, "Aku tidak tahu." katanya.


Berbanding terbalik dengan pikiran kanza yang mengharapkan jawaban dari Erfila, seorang yang menjawab harapan Kanza malah Ritter Zorrano, pengawalnya.


"Mereka ..." Ritter Zorrano menatap benci pada udara kosong seraya mengepalkan tangannya, "... Kekaisaran Lodysna."


Erfila langsung menatap Ritter dengan penuh penasaran, "Ritter, darimana kau tahu itu?"


"Ehm, itu Nona ..." Ritter memalingkan tatapan dari Erfila yang penasaran, entah mengapa dia terlihat gugup saat ditatap oleh Erfila seperti itu.


"Saya tahu dari Zirah yang orang itu kenakan. Zirah itu memiliki lambang yang sama dengan pasukan khusus dari Kekaisaran Lodysna." Jelas Ritter.


Alih-alih mengerti, Erfila malah menatap Ritter semakin penasaran, "Darimana kau mempelajari Kekaisaran itu sampai tahu lambang pasukan mereka? Setahuku, kau belum pernah mempelajari sesuatu tentang mereka."


"Oh?" Kanza menyipitkan mata seraya menatap Ritter. Namun semua itu langsung dihilangkan oleh Kanza.


"Tidak masalah mau itu Kekaisaran Lodysna atau apapun, aku masih tetap akan membantu kalian untuk mewakili Pahlawan Aulzania." Kanza berkata penuh percaya diri.


Erfila yang mendengar perkataan Kanza yang penuh kepercayaan diri berterima kasih seraya membungkuk dengan tulus. Tidak lupa, Ritter mengucapkan hal yang sama meski dengan cara yang sedikit berbeda.


Pembicaraan mereka berlanjut sampai ke tahap dimana Kanza bertanya, tentang siapa sebenarnya orang yang mengenakan Zirah berlambang Kekaisaran Lodysna ini, dan seberapa kuatnya dia?


"Namanya adalah Ernens, pria yang menyebut dirinya sendiri sebagai [Heavenly Guardian]." Jawab Erfila.


Begitu Erfila mengatakan siapa sebenarnya pria itu, Kanza membulatkan mata lebar-lebar karena keterkejutan yang besar. Keterkejutan Kanza disebabkan oleh dua alasan, pertama adalah [Heavenly Guardian] dan kedua adalah [Ernens].


'Ernens the Heavenly Guardian, tidak aku sangka dia ada dan masih hidup di Dunia ini.' Benak Kanza berbicara.


Ernens, dia adalah seorang pemain yang berada di peringkat ke-13 dalam seluruh COTHENIC. Seperti yang dikatakan oleh Erfila, Ernens memiliki job [Heavenly Guardian] yang merupakan Job Spesial dari seorang Tank.


Dikarenakan seseorang yang menyebalkan seperti dia mendapatkan Job Spesial yang langka, orang-orang menjadi iri sekaligus membenci dirinya. Iri dan benci dari orang-orang itu malah membuat ketenaran dirinya semakin melonjak, namun tentu saja dalam hal yang buruk.

__ADS_1


'Tch, kemunculan yang sangat tiba-tiba.' Kanza protes dalam Hatinya.


Seorang Assassin seperti Kanza tidak akan diuntungkan ketika melawan seorang Tank seperti Ernens. Terlebih lagi, [Heavenly Guardian] yang Kanza tahu adalah Job yang menyebalkan, dimana Job ini tidak hanya memberikan Skill pertahanan tapi juga memberikan Skill penyerangan.


Raut wajah Kanza berubah menjadi serius ketika memperhitungkan kemenangan yang dapat diraih olehnya. Keseriusan Kanza ini membuat Erfila dan Ritter kebingungan, dan lebih memilih diam menyaksikan.


'Setelah semua, aku memiliki kemungkinan menang 80% jika hanya melawan Ernens seorang diri. Namun, sudah pasti ada orang yang mengganggu, dan 50% adalah kemungkinan menangku jika melawan mereka semua.'


Tidak menutup kemungkinan pula disana ada pemain lain yang tidak kalah kuatnya dari Ernens. Sehingga, Kanza hanya bisa memperkirakan kemungkinan menangnya adalah 50-50 % jika itu menyangkut musuh yang belum diketahui.


"Aku bertanya, apa dia adalah lelaki dewasa yang memiliki rambut putih dan disisir ke belakang dengan wajah yang super menyebalkan?" Kanza tiba-tiba bertanya.


"Humm? Bagaimana anda tahu?" Erfila memiringkan kepalanya.


Sedangkan Ritter, dia malah menatap dengan kecurigaan pada Kanza, "Apa dia ada hubungannya denganmu?"


Kanza menahan tawa ketika Ritter mencurigai dirinya seperti itu. Dalam hati, Kanza bersumpah meski Dunia hancur dia tidak akan pernah menjalin hubungan, dengan seseorang yang menyebalkan seperti Ernens.


"Kau bercanda? Aku membenci dirinya, dia bagaikan musuh bebuyutanku! Makanya aku terkejut ketika mendengar Namanya itu."


Kanza adalah salah satu dari orang yang membenci Ernens tanpa harus bertemu dengannya. Jadi dapat dikatakan, Kanza membenci Ernens itu hanya karena perkataan orang-orang yang menyebut betapa menyebalkannya Ernens. Bukan karena Kanza pernah bertemu dengan Ernens atau Ernens pernah melakukan sesuatu yang menyebalkan dirinya.


Sementara Kanza tertawa dalam hati, Ritter memperhatikan Kanza dengan seksama, tapi setelah beberapa saat, Ritter tidak menemukan sedikitpun kebohongan dalam diri Kanza. Lantas, Ritter menyudahi tatapan curiganya pada Kanza dan kembali tenang.


Kanza menghela napas dan menampakan Mata yang dipenuhi tekad, "Tidak peduli apakah dia Ernens atau Gen-x sekalipun, selama itu bukan R.Styx aku tidak akan takut melawannya."


Disaat Kanza mengatakan itu, Erfila dan Ritter terdiam karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Kanza. Namun, diam mereka juga dibarengi dengan pikiran, tentang siapa dua orang yang disebut Kanza sebelumnya selain Ernens.


"Tidak usah dipikir- ..."


'Kanza.'


Suara Ren yang memasuki Kepala membuat Kanza tiba-tiba tersentak. Bagaimana bisa orang yang seharusnya jauh di Kota Aulzania dapat berbicara dengannya? Kanza tidak mengerti. Namun Kanza juga menyadari, suara Ren yang berbicara ini bukanlah Ilusi ataupun semacamnya.


'Apakah Tuan Dirvaren ada disekitar sini?' Kanza bertanya-tanya, dan memutuskan untuk mencarinya.


"Ugh, aku sudah menahan ini daritadi. Izinkan aku untuk buang air sebentar." Ucap Kanza seraya beranjak dengan tersenyum canggung.


Kanza berjalan keluar dari rumah makan, meninggalkan Erfila dan Ritter yang masih diam di dalam. Tanpa basa-basi, Kanza seketika menyelam ke dalam bayangan, dengan Persepsi Mana yang ditingkatkan dua kali lipat dalam bayangan, Kanza berharap dapat menemukan Ren lebih cepat.


"Eh? Apakah anda ini seorang pemantau?!"

__ADS_1


Kanza sedikit protes ketika menemukan keberadaan Ren yang ada di bangunan tertinggi Kota ini. Tidak lupa, sebuah pertanyaan pun muncul di benak Kanza, tentang bagaimana cara Ren mengirimkan suara dari jarak yang sejauh itu?


Setelah beberapa saat bergerak dalam bayangan, Kanza tiba disana dan langsung keluar dari dalam bayangan seraya berkata, "Anda memanggilku?"


__ADS_2