
Menyertai kepulan asap dan hancurnya seluruh Kota Zarisma, semua orang memutuskan untuk mundur karena menganggap situasinya sudah cukup berisiko.
Dipimpin oleh Avrogan yang membawa Ren di atas pangkuan Nirlayn, lalu Indacrus menyusulnya dengan membawa Arystina bersama Kina. Setelah itu Rusava yang membawa Rakuza seperti sebuah barang, dan Raytsa yang terbang di sampingnya.
Sebenarnya melihat Rakuza yang dibawa oleh Rusava seperti barang membuat orang-orang cukup bersedih dan kasihan. Namun tidak ada yang bisa mereka lakukan karena tidak mungkin meninggalkan Rakuza seorang diri disana.
Seseorang yang paling merasa kasihan adalah Kina, dia terus-menerus menatap Rakuza dengan perasaan khawatir dan dilema. Sampai-sampai hal itu membuat muncul pertanyaan dalam hatinya, apakah ia harus menggantikan Rakuza untuk dibawa oleh Rusava?
Hingga di suatu titik ketika Rakuza terlihat sangat kelelahan, perasaan kasihan Kina memuncak dan membuatnya tanpa sadar berkata pada Rusava.
"Tuan tolong, biarkan aku saja yang dibawa seperti itu, Rakuza terlihat sangat kelelahan."
Rusava menanggapinya dengan wajah heran sekaligus sedikit terkagum. Wanita yang bernama Kina ini ternyata cukup baik sampai rela menggantikan temannya agar tidak menderita.
"Aku tidak peduli siapapun yang aku bawa, sebaiknya kau bertanya pada orangnya sendiri."
Kina memalingkan pandangan pada Rakuza yang lesu, kemudian membuat isyarat kata agar Rakuza menyetujuinya.
"Tidak, lelaki macam apa yang membiarkan seorang perempuan dalam kondisi yang menyedihkan," balas Rakuza secara lesu tapi penuh tekad.
Rakuza mengangkat lengannya lalu memberikan satu ibu jari pada Kina, setelah itu dia tidak sadarkan diri karena tidak kuasa menahan rasa mual dan pusing yang dialaminya.
Kina menghela napas kecewa karena tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
Suasana hening tercipta di antara mereka semua, Raytsa yang sedikit merasa tidak nyaman dengan itu berusaha mencari topik untuk diperbincangkan.
"Makhluk hitam apa itu sebelumnya?"
Jarak antara mereka tidak terlalu jauh sehingga mereka masih dapat mendengar perkataan Raytsa.
"Aku setuju, mereka adalah makhluk aneh yang baru pertama kali ini aku melihatnya."
Rusava memancarkan ekspresi penasaran di wajahnya.
"Sensasi saat aku membunuhnya, tidak terasa seperti membunuh makhluk hidup."
Orang-orang malah akan penasaran bagaimana sensasi membunuh makhluk hidup yang dikatakan oleh Rusava. Namun dengan bijak, orang yang penasaran itu lebih memilih diam daripada mempertanyakannya.
"Saat petirku menyambar mereka, tidak ada perasaan membunuh makhluk hidup, perasaan itu memang sama."
"Begitu pula denganku. Saat menghancurkannya, mataku tidak melihat sedikitpun perasaan dalam diri mereka semua."
Sekali lagi mereka semua terdiam dan merenungkan pemikiran-pemikiran yang telah dilontarkan masing-masing orang terhadap makhluk hitam tersebut.
"Ehm, untuk sekarang mari pendam baik-baik pemikiran kita semua. Mari membahas ini lagi bersama dengan Yang Mulia nanti."
Tidak ada pertentangan, mereka semua setuju atas saran Raytsa.
__ADS_1
______________________ ______________________
_______________________\ /_______________________
Sementara itu ....
Ren yang tidak sadarkan diri kembali mengalami sebuah mimpi bersama dengan seorang pria yang terlihat mirip dengannya.
"Hanya dua orang dan kau sudah tidak sadarkan diri? Pffft, ini adalah lelucon paling lucu yang pernah aku ketahui!"
"Diam, ini tidak ada urusannya denganmu. Lagipula, siapa dirimu? Mengapa kau terus-menerus muncul? Bahkan kali ini, kau lebih menjengkelkan daripada sebelumnya!"
"Siapa itu aku, sebenarnya tidak cukup penting, kau bahkan boleh menganggapku sebagai orang yang menonton kehidupanmu." Pria itu menyeringai dan bicara, "Namun ada satu hal yang pasti, kau sangat lemah hingga pingsan dengan cara yang menyedihkan! Pffft, hahahaha!!"
Jika ini adalah kenyataan, mungkin sudah muncul beberapa urat yang meregang di kening Ren sebagai bukti betapa mengesalkannya pria itu. Sayang sekali, di dunia yang entah apa ini Ren tidak memiliki kehendak sedikitpun dan hanya bisa pasrah mendengar ejekan pria tersebut.
"Hahahaha ... ini sangat lucu, pffftt hahahahaha ... baiklah, aku berhenti, huff."
"Sudah puas menertawaiku?"
"Tidak, sebenarnya belum, tapi aku tidak memiliki pilihan lain karena waktu yang sangat-sangat terbatas."
Ingin sekali Ren memukul orang yang mengatakan dia tidak memiliki banyak waktu tetapi dia sendiri yang membuang-buang waktu dengan tertawa mengejek dihadapannya.
"Jika memang begitu, aku heran mengapa kau tidak mengatakan maksud dan tujuanmu dari awal."
"Kau terlihat tidak merasa bersalah sama sekali."
"Benarkah? Mungkin memang benar, tapi kau harus bertahan denganku karena kedepannya aku pasti akan muncul kembali."
Apa maksudnya dengan itu? Seakan Ren tidak memiliki pilihan lain kecuali menerima kedatangannya dengan lapang dada. Bahkan Ren tidak tahu apakah sosok ini akan membawa dampak baik atau malah dampak buruk kepadanya.
"Tch, apa boleh buat. Apa yang ingin kau katakan padaku?"
"Ah, kau benar menanyakan-nya karena waktuku tinggal sedikit lagi. Hanya pesan singkat ..." Sosok pria itu lalu memudar, dan saat dia semakin memudar ia lantas berbicara, "Berlatihlah, karena setengah dari pecahan jiwa tidak harus menghalangimu."
Saat sosok pria itu telah menghilang sepenuhnya, Ren hanya memandang dengan perasaan bingung yang berkecamuk dalam hatinya. Apa itu setengah jiwa dari pecahan? Mengapa pria tersebut mengatakan itu padanya?
Namun saat Ren dalam perenungan, serta berharap agar dirinya kembali ke dunia nyata untuk melihat keadaan para bawahannya, sosok pria itu muncul kembali dengan tersenyum sambil mengatakan sesuatu yang ternyata lupa untuk dikatakan.
"Oh ya, jangan menggunakan kekuatan itu terlalu berlebihan. Seberapa besarpun manamu tidak akan mampu menahannya jika belum terbiasa. Itu adalah pesanku, selamat tinggal!"
"Hah?"
Ren dibuat seperti orang bodoh oleh tindakan pria itu yang konyol. Ren mematung dengan mulut yang sedikit terbuka sampai ia tersadar dan membuka mata ternyata dia telah kembali ke dunia nyata.
"Ah, dimana ini?"
__ADS_1
Ren melihat dirinya berada di atas kasur yang nyaman. Meski sempat sedikit kebingungan tetapi Ren sadar bahwa kamar dimana ia berada itu bukan tempat yang asing, melainkan salah satu kamar tamu di Bloody Palace of the Monarch.
"Tubuhku bersih, dan pakaianku bersih. Apakah salah satu dari mereka yang melakukannya?"
Sebenarnya, tidak masalah siapapun yang membersihkan tubuh Ren dan mengganti pakaian. Namun, Ren sedikit khawatir salah satu dari mereka telah mengetahui aset terpenting miliknya.
"Buruk, aku mengira sesuatu semacam ini tidak akan pernah terjadi."
Ren menggelengkan kepala sambil mencoba untuk mengesampingkan hal itu. Ren lalu memeriksa kondisi tubuhnya. Puas dengan keadaan tubuh yang baik-baik saja membuat Ren menghela napas lega sambil tersenyum kembali.
Ren mulai bangkit dari kasur dan berjalan menuju jendela kamar, lantas membuka jendela tersebut. Angin langsung berhembus memasuki kamar dan menerpa sebagain rambutnya.
"Yah ini memang benar Istanaku."
Masalah belum sepenuhnya usai tetapi ketika merasakan suasana yang damai ini, Ren merasakan semua masalah dan bebannya hilang untuk sesaat.
-TokTokTok-
Pintu kamar diketuk dan terbuka dari luar, semua orang kecuali Avrogan dan Indacrus masuk dengan cukup terburu-buru. Hampir semuanya mengatakan hal yang sama, yaitu mengucapkan rasa syukur karena Ren baik-baik saja.
"Senang melihat Anda sehat kembali, Yang Mulia," ucap Raytsa.
"Sudah saya duga bahwa sesuatu seperti itu tidak akan berdampak apapun pada Anda, Yang Mulia," ucap Rusava.
"Syukurlah Anda baik-baik saja, Ren-sama."
Nirlayn mengucapkan rasa syukur yang terlihat tidak memiliki kebohongan sama sekali.
"Yang Mulia, bagaimana dengan sebuah minuman segar?"
Sedangkan dengan anehnya, Arystina menawarkan satu gelas minuman berbahan dasar buah yang dibawa olehnya.
Di sisi lain, Rakuza terlihat ingin mengucapkan hal yang sama akan tetapi diurungkan karena sadar bahwa Kina ingin mengucapkan terima kasihnya terlebih dahulu.
Untuk itu Rakuza mempersilahkan serta mendukung Kina agar dia berani untuk segera mengucapkannya.
"Hei, Kina ... mengapa tidak kau ucapkan saat ini juga?"
"Um, baiklah ...."
Kina menghadap dengan perasaan malu dan takut terhadap Ren. Dia lalu menunduk serta menarik napas dalam-dalam untuk kemudian berkata dengan terbata-bata.
"T-terima kasih atas pertolongan Anda!"
Semua orang lalu tersenyum satu per satu, tak terkecuali diri Ren sendiri.
"Berterima kasihlah kepada Rakuza karena dia sendiri yang telah menyelamatkanmu."
__ADS_1