Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 56 : True Ancestor - Rusava dan Raytsa


__ADS_3

Lingkaran Sihir berukuran Besar dengan cepat tercipta. Sebuah pemandangan unik, ketika melihat Darah yang melayang di udara perlahan turun ke Tanah dan membentuk Lingkaran Sihir ini.


Merah Darah, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Warna dari Lingkaran Sihir ini. Lalu, bagaimana orang - orang bisa mengetahui Warna Merah Darah? Bukankah suasana yang ada di Arena sedang Gelap?


Jawabannya hanya satu, Lingkaran Sihir mengeluarkan Cahaya, namun Cahaya itu tidak redup maupun terlalu terang.


Lingkaran Sihir berskala besar berputar dengan perlahan, begitu misterius ketika itu dilihat. Perasaan merinding segera menghampiri para orang - orang yang hadir. Mereka dengan cepat menjauhi Lingkaran Sihir karena merasakan perasaan tidak mengenakan dari dalam Lingkaran Sihir itu.


"A-Apa ini..?" Derrian berbicara sendiri, berusaha menanyakan apa yang terjadi di hadapannya.


"E-Entah mengapa tubuhku Gemetar??" Seorang Ksatria Aulzania berkomentar tentang apa yang ia Rasakan.


"Seorang Summoner?" Arnicko bahkan keheranan melihat sesuatu yang seperti ini.


"Tidak ketua, berdasarkan dari bentuk dan ukiran - ukiran yang ada dalam Lingkaran Sihir tersebut. Itu bukan Skill yang berasal dari Job Summoner..." Kanza secara tiba - tiba muncul dan memberi penjelasan.


"Apa maksudmu, dan darimana kau tahu hal itu?" Arnicko bertanya kembali, kali ini dia tidak mempercayai Kanza yang ada di sisi nya.


"Ketua, apa kau tahu tentang Ras Blood Devil yang dilupakan dan hampir tidak dapat ditemui dimanapun?" Kanza menunjuk pada sosok Ren yang tengah berdiri ketika memastikan hal ini.


"Tentu saja... Aku menerima Informasi bahwa Ras mereka telah punah." Arnicko mengangguk pada Kanza.


"Tepat, seharusnya memang seperti itu.. Lalu, darimana Nirlayn berasal jika Ras Blood Devil telah punah?"


"Ma-Maksudmu... Dia berasal dari pemanggilan seperti ini? Bagaimana bisa...."


"Ya, Tapi kita lihat saja.. Apa yang akan keluar dari Lingkaran Sihir itu nanti."


Kanza dan Arnicko tidak melanjutkan pembicaraan, mereka saat ini hanya Fokus menatap pada Lingkaran Sihir dan Ren yang sedang berdiri.


Lingkaran Sihir masih dalam tahap penyempurnaan. Darah yang melayang di udara perlahan semakin berkurang, sedangkan Lingkaran Sihir yang ada di tanah Arena semakin sempurna.


Ketika Lingkaran Sihir mencapai tingkat kesempurnaan. Itu semakin mengeluarkan Aura yang misterius dan begitu mencekam. Semua orang semakin menjauhi Lingkaran Sihir karena perasaan yang tidak mengenakan darinya.


Berkebalikan dengan semua orang, sosok Ren malah mendekati Lingkaran Sihir. Dia melakukan sebuah gerakan yang unik namun sudah terasa biasa, gerakan itu adalah menggigit ibu jari. Membuat Darah menetes keluar dari luka bekas gigitan dia sendiri.


"[Summon : Sacred Blood Beast]."


Clak


Darah jatuh tepat mengenai bagian Lingkaran Sihir yang bercahaya. Setelah itu, Lingkaran Sihir berputar semakin cepat dan cepat. Sampai pada akhirnya, Lingkaran Sihir mengeluarkan sebuah Ledakan Cahaya yang memenuhi seluruh Arena. Mungkin, Ledakan ini dapat dilihat oleh orang - orang yang ada di seluruh Kota.


Ledakan Cahaya semakin meredup dan meredup, perlahan - lahan, dan sedikit demi sedikit....


Cahaya dan Lingkaran Sihir telah hilang sepenuhnya. Pandangan orang - orang kini menjadi jelas kembali. Di Pusat Lingkaran Sihir sebelumnya, dua sosok sedang berdiri dengan tenang.


Sosok yang pertama adalah seorang lelaki, dari penampilan yang dia miliki. Setidaknya lelaki ini berumur 20 Tahun. Paras nya yang tampan dapat disandingkan dengan ketampanan dari seorang Ren. Rambut yang dia miliki berwarna merah darah, namun ada sedikit warna hitam di setiap ujung Rambutnya. Kulit nya putih pucat, seakan dia tidak memiliki darah sedikitpun. Pakaian yang dia kenakan adalah sebuah Jas dan Kemeja Fantasi. Sosok dirinya dapat di gambarkan dengan beberapa kata, yaitu Indah, Elegan serta Misterius.


Lalu sosok yang berdiri di samping nya, dapat dikatakan sebagai Kecantikan yang luar biasa. Seluruh bagian wajahnya dimulai dari, Hidung, Mata, Mulut, Alis, Dagu dan Pipi nya itu begitu sempurna. Sebuah Kecantikan yang disatukan bersama dengan Keindahan. Wanita ini memiliki Rambut dan Pakaian yang terlihat sama dengan lelaki yang ada di samping nya.


Kedua orang ini memasang Ekspresi tenang ketika mereka berdiri dengan tenang pula. Kedua Bola mata mereka bergerak - gerak, seakan mencoba memahami situasi yang terjadi.


Pandangan Mata kedua nya terhenti, ketika mereka melihat sosok Ren yang berdiri dihadapan mereka. Seketika, tatapan mereka menjadi mengejek, dan Ekspresi mereka menjadi sombong.


"Kupikir kau seorang True Ancestor karena dapat membangkitkan kami yang hebat. Tapi... Aku kecewa, kau hanya seorang tikus." Lelaki itu berbicara, dari sorot mata nya sangat jelas bahwa dia mengatakan itu pada Ren.


"Dirimu benar Rusava, tikus ini sepertinya seorang yang memiliki keberuntungan tinggi karena dapat memanggil kita." Wanita itu berbicara dengan sinis.


Semua orang merasakan hal yang sama dari kedua orang ini. Perasaan ditekan memenuhi Hati semua orang. Sangat jelas bahwa kedua orang ini sangat Kuat, bahkan hanya dengan Aura biasa dari mereka bisa membuat semua orang merasakan Napas mereka menjadi sesak.


Brukk!


Sebuah suara memecah keheningan dan kesunyian yang ada di Arena. Mereka dengan segera mengalihkan pandangan pada asal suara.


"T-True A-Ancestor...?! Yang Mulia... R-Rusava dan R-Raytsa?" Nirlayn berbicara terbata - bata, dirinya terjatuh dan menatap tak percaya.


Mendengar Nirlayn yang berbicara, kedua orang itu pun memasang wajah tertarik. Mereka menatap Nirlayn dengan senyuman penuh kesombongan.


"Hoo... Seorang Keturunan dengan tingkat Raja? Sebutkan Namamu." Rusava berbicara, Nada bicaranya tentu saja memerintah.


"Jangan terlalu kasar pada Wanita Rusava... Wanita yang cantik, dari keluarga mana kau berasal?" Raytsa bertanya penasaran.


Mereka telah sepenuhnya mengabaikan Ren, seorang yang membangkitkan mereka sendiri. Sementara Nirlayn, dia masih terkejut atas apa yang dilihat oleh kedua matanya. Dengan suara yang terbata - bata Nirlayn menjawab..


"Nama saya... N-Nirlayn Mlaina, saya lupa dari K-Keluarga mana saya berasal."


Jawaban Nirlayn membuat Wanita yang bernama Raytsa itu sedikit keheranan. Namun, itu segera menghilang ketika lelaki disamping nya, Rusava mengingatkan.


"Raytsa, apa kau lupa? tingkat Leluhur kebawah akan kehilangan ingatan dan kekuatan mereka ketika bereinkarnasi..." Rusava menjelaskan, entah mengapa Nada bicara dia pada Raytsa terdengar halus.


"Oh, kau benar Rusava... Aku lupa." Raytsa tersenyum manis pada Rusava.


Kedua orang itu saling bercanda seperti seorang pasangan yang Romantis. Mereka benar - benar tidak menghiraukan tempat dan suasana. Mereka bahkan tidak menyadari, ada seseorang yang telah mereka hiraukan dengan wajah suram saat ini...


"Apa kalian sungguh melupakan aku yang telah membangkitkan kalian?"


Sebuah Suara dingin menyela pembicaraan antara Rusava dan Raytsa. Kedua orang itu langsung berbalik dengan tatapan tajam. Jelas mereka tidak suka ada yang mengganggu pembicaraan mereka.


"Siapa yang menyuruhmu bicara?" Rusava menatap dengan kemarahan.


"Rusava, bagaimana jika kita beri dia sedikit pelajaran?" Raytsa pun menatap dengan hina.


Perkataan mereka hanya membuat senyum menantang terlukis di wajah Ren.


"Menarik, ini sungguh menarik... Baru kali ini aku melihat seorang yang tak mengetahui caranya berterima kasih.."


Perkataan Ren membuat Rusava dan Raytsa terkejut. Lebih tepatnya, terkejut dalam artian sesuatu yang berbeda. Rusava bahkan tampak ingin tertawa dengan perkataan Ren yang satu ini.


"Raytsa, ini pertama kali aku melihat tikus yang sombong, apalagi dia hanya orang biasa Gahahah! Tidak ada lelucon yang bisa membuatku tertawa lebih dari ini...!"


Tawa Rusava menggema di seluruh Arena, meski dia tertawa dengan terbahak - bahak, ada suatu kebencian yang terkandung di dalamnya.


"Benar sekali Rusava, Hihi... biar kuberitahu anak ingusan sepertimu... Kami para Leluhur Sejati memang seharusnya dihidupkan oleh Blood Devil biasa seperti kalian!."Dengan wajah yang sinis, Raytsa berbicara keras pada Ren yang tak jauh darinya.


"Aku.. adalah Rusava Wratherlord seorang yang menyandang gelar [True Ancestor of Wrath]."


"Apakah kau ingin mengetahuiku juga? Hihi... Aku adalah Raytsa Gridelnia, seorang yang menyandang gelar [True Ancestor of Greed]. Salam Kenal keturunan."


Rusava dan Raytsa mengatakannya dengan penuh kebanggaan. Hal itu diikuti oleh Tekanan yang luar biasa yang mereka keluarkan. Seluruh orang yang ada di Arena seketika berlutut di bawah Tekanan luar biasa ini.


Begitu juga dengan Ren, dia berlutut dengan wajah penuh ketakutan. Seluruh wajahnya dipenuhi oleh keringat dingin, sampai - sampai tanah yang ada di bawahnya dibasahi oleh keringat itu.

__ADS_1


"Sebenarnya, kami sedikit berterima kasih padamu... Tetapi karena kau sombong dan tak mengetahui dimana tempatmu. Maka terima lah hukuman dari kami!" Rusava mengatakannya sambil berjalan mendekati Ren.


"Tapi Rusava, bukankah dia um... Cukup tampan?" Raytsa terlihat ragu - ragu mengatakannya.


"Apa..? Jadi kau memihak dia daripada suamimu sendiri?" Rusava berbalik pada Raytsa..


"Hihi.. Aku becanda, jangan dimasukan ke hati." Raytsa menunjukan sikap yang tampak seperti anak kecil.


"Tch.. Dasar wanita.."


"Hey Nak, biar kuperlihatkan padamu, sebuah Teknik yang hanya dimiliki oleh para Blood Devil kelas tinggi... [Blood Art : Scythe]."


Dalam keadaan yang masih berlutut, semua orang yang belum pernah menyaksikan Skill Blood Art menjadi terkejut. Bukan hanya skill yang tidak mereka ketahui, para orang - orang pun kebingungan dengan Ras yang disebut Blood Devil ini.


"Apa.. itu?"


"Senjata Darah?"


"Me-Menakutkan!"


Melihat hal ini juga, wajah Ren terlihat semakin putus asa. Dia terus menatap pada Rusava dengan tatapan memohon ampun. Dengan suara yang putus asa pula... Ren berkata.


"Y-Yang.. Mulia, maafkan aku..!"


"Aku akan memaafkanmu, tetapi setelah kau mengalami setidaknya satu kali kematian!"


Menggunakan sabitnya, Rusava menyerang ke arah leher Ren. Berniat untuk memberikan Hukuman mati dengan cepat. Rusava tersenyum percaya diri ketika melakukan hal ini.


Beberapa detik kemudian.....


Senyum itu menjadi beku, sesuatu yang mustahil untuk dipercayai nya terlihat di depan mata. Ren yang seharusnya terpenggal, malah menampakan sebuah senyum di wajahnya.


Sabit besar milik Rusava, tertahan oleh Leher Ren. Serangan itu hanya menyebabkan sebuah Goresan kecil pada Leher Ren, sedikit Darah kemudian mengucur dari Luka tersebut.


"Jangan terkejut seperti itu, Yang Mulia. Aku hanya sedikit bercanda tadi...." Ren menampakan senyum menantang.


Dengan tangan kosong nya, Ren memindahkan Sabit besar dari lehernya. Membuat Rusava sedikit kehilangan keseimbangan, Rusava langsung melompat mundur menjaga jarak aman.


Ren bangun dari posisi menyedihkan palsu miliknya. Dengan wajah tanpa Dosa dia menatap kedua orang itu dengan senyuman Gembira.


Pluk! Pluk!


"Fyuh... Tadi aku hanya sedikit berakting, jangan terlalu percaya diri."


Ren menepuk - nepuk Pakaian nya untuk membersihkan debu dari Arena yang menempel disana.


Tindakan Ren membuat Raytsa menaruh sedikit kewaspadaan. Dia terlihat segera menyiapkan kedua tangan nya untuk menyerang.


"Rusava, kau hanya bercanda ketika melakukan serangan itukan?"


"HaHa, Tentu saja... dia hanya sedikit lebih kuat dari perkiraanku. Dia harus berada di tingkat Raja untuk menahan seranganku tadi." Rusava tersenyum percaya diri.


"Apa benar beg-"


"Benarkah itu? Bagaimana jika bertanding dan membuat kesepakatan. Jika kalian berdua menang, aku akan tunduk pada apapun perintah dari kalian. Sedangkan jika aku menang, maka kalian akan menjadi bawahanku, pertaruhan yang cukup bagus kan?"


Durururur!


"Raytsa, mari kita beri dia pelajaran akan Rasa ketakutan yang sesungguhnya.."


"Aku setuju, Rusava.."


Rusava menyiapkan pose untuk bertempur dihadapan Raytsa. Dari sini, sudah terlihat bahwa Raytsa adalah seorang Penyihir (Magus) sedangkan Rusava adalah penyerang jarak dekat.


"Ada yang menyebut bahwa aku tidak bisa menggunakan sesuatu seperti inikan? [Blood Art : Sword]."


Ren menciptakan sebilah Pedang di tangan nya. Sebuah Pedang yang hampir sama dengan Pedang Nuxuria hanya saja ada beberapa perbedaan disana.


Kedua orang itu tentu saja sedikit terkejut melihat hal ini.


"Nah mari kita mulai..." Ren memberi sebuah Instruksi untuk dimulai nya pertandingan.


Tanpa perlu waktu, Rusava sudah menghilang dari pandangan Ren. Ekspresi Ren bahkan sedikit terkejut ketika melihat ini. Dia merasakan bahwa Rusava adalah musuh tercepat yang pernah dia lawan di Dunia ini.


Bamm!


Dengan kecepatan yang luar biasa, Rusava telah menyerang Ren dengan sebuah tendangan menyamping. Tentu saja serangan itu berhasil Ren tahan di saat - saat terakhir.


"Ini seranganku yang asli...!" Rusava berteriak.


Shinggg!


Sabit Besar bergerak dengan cepat, meninggalkan sebuah Garis Cahaya merah di udara. Ren menghindari serangan ini dengan sebuah manuver ke arah belakang.


Dragg!


Tanah hancur ketika sabit mengenai nya, serangan dari Rusava gagal mengenai Ren. Meski itu dilakukan dengan kecepatan yang luar biasa, tetapi Penghindaran yang dilakukan Ren masih lebih unggul.


"[Evil Blood Spirit]."


Suara Raytsa terdengar oleh Ren. Disaat yang bersamaan, Ren merasakan suatu serangan yang mengandung mana hebat mendekat ke arahnya dengan cepat.


Belum sempat Ren menghindar, sesuatu yang mirip dengan bola - bola kabut berekor mengepung Ren dari berbagai arah. Bola - Bola kabut itu bergerak dengan sangat cepat, tidak membiarkan ada satupun celah untuk kabur.


Ren hanya menatap hal ini dengan diam, dia melihat sekeliling untuk memastikan sihir macam apa ini. Tapi, perhatiannya ini segera teralihkan oleh sebuah suara...


"[Shadow Step : Magic Cancellation]!."


Suara Kanza tiba - tiba terdengar disana, tidak lama setelah itu beberapa Garis - Garis Cahaya memotong setiap sisi Sihir yang mengepung Ren dari berbagai arah.


Sihir dengan seketika menghilang ketika menerima serangan dari Kanza. Ren yang menyadari bahwa Kanza mencoba menolong nya mengangkat alis.


"Hei Kanza, apa yang kau lakukan?"


Ren bertanya, seakan mencoba menegaskan bahwa dia tidak memerlukan bantuan sedikitpun. Namun, Kanza segera menampakan diri dengan melompat keluar dari bayangan.


"Tentu saja membantu anda, Tuan Dirvaren." Kanza tersenyum dengan bangga.


"Aku tidak memerlukan hal i-.... Lupakan lah, menjauh dari sana."


"Eh..?!" Kanza tidak mengerti.

__ADS_1


Dia pada akhirnya menyadari setelah sebuah Sabit Besar berusaha memotong kepalanya.


Begitu cepat, sampai - sampai Kanza tidak dapat bereaksi tepat waktu.


Clankk!


Sabit Rusava berhasil ditahan oleh Ren menggunakan Pedang nya. Kanza begitu terkejut, keringat mengalir di dahinya setelah menyadari jika Ren telat sedikit saja, maka dia akan kehilangan nyawa.


"Hei, dia tidak memiliki urusan, mengapa kau menyerang nya?" Ren bertanya pada Rusava.


"Hahha! Menarik, aku hanya ingin menguji seseorang yang bisa membatalkan Sihir Raytsa."


Tap Tap Tap


Rusava melompat mundur kembali...


Rusava mengacungkan Sabit nya ke atas, melakukan sebuah persiapan untuk menyerang.


"Cobalah untuk menerima serangan kecil dariku ini...[Scythe Technique : Hell Fire]."


Boshh!


Api Hitam yang mengerikan muncul dari Sabit Rusava. Api Hitam itu begitu panas, terbukti oleh semua orang yang berjarak cukup jauh darinya bahkan merasakan panas yang luar biasa. Api ini menyebabkan sebuah Hembusan angin yang besar, penyebab mengapa ada angin yang berhembus tidak ada yang mengetahuinya.


Dibalik udara yang menjadi panas ini, Ren berdiri dengan tenang menatap pada Sabit yang mengeluarkan Api Hitam membara. Rambut Hitam nya diterpa oleh Angin yang berhembus dengan kencang.


"Kanza, cepat pindahkan orang - orang dari sini. Serangan itu berbahaya..." Ren menginstruksikan dengan tenang.


"Um... Baiklah." Kanza menjawab sambil melompat ke dalam bayangan.


"Kau yakin? menolak satu - satu nya bantuan yang kau miliki...?"


"Jangan sungkan, aku memang tidak membutuhkan bantuan dia untuk melawanmu."


"Haha... Masih berbicara sombong ya, Raytsa Tambahkan apimu.. Biar dia merasakan betapa pedihnya api kita ini."


"Baiklah Rusava, tapi apa tidak apa? banyak orang disekitar sini..."


"Tenang saja, dan lakukan.."


"Ya, Ya, Aku mengerti... [Ancient Blue Flame : Enhancement]."


Sebuah Api Biru yang membara tiba - tiba muncul dalam Sabit milik Rusava. Api Biru membara bersama dengan Api Hitam. Membuat sebuah pemandangan yang menakjubkan di tengah malam yang Gelap.


Suhu di Arena menjadi dua kali lipat lebih panas dari sebelumnya. Jika ada orang biasa yang berada di sekitar api ini, kulit mereka pasti sudah terbakar habis. Beruntung, semua orang telah melarikan diri, sehingga Panas dari Api ini tidak menimbulkan Korban sedikitpun.


"Ini adalah serangan kombinasi kami, kita lihat apa kau masih dapat bertindak sesombong ta-?" Rusava pada awalnya berkata dengan percaya diri, gambaran Ren yang ketakutan sudah terbayang di benak nya.


Tapi, sikap Ren yang masih dengan tenang menatap nya ini sama sekali tidak dia harapkan. Bahkan pemikiran tentang beberapa kemungkinan muncul di benak Rusava.


'Apa orang ini sangat kuat? hingga dia begitu percaya diri?'


'Ataukah dia memiliki semacam artefak pertahanan?'


'Tidak, bisa saja dia hanya menggertak.'


Rusava menggelengkan kepala miliknya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Terima ini..!"


Sabit yang diselimuti oleh dua Api yang berbeda, diayunkan lurus menuju Ren. Kemudian, Bilah Api yang besar bergerak menuju Ren, membuat udara semakin memanas ketika itu semakin dekat.


Dwoosssshhhh!


"Aku ingin tahu, mengapa kalian selalu membuat serangan yang begitu lama seperti ini. Jika aku berniat, aku bisa menyerang kalian sejak tadi sebenarnya.." Ren mengatakannya sambil terlihat kebingungan.


Bilah Api Membara yang memiliki Dua warna berbeda, yang bergerak ke arahnya bahkan tidak dia hiraukan. Dari Ekspresi nya, seakan dia mengatakan 'Api Kecil ini akan padam bahkan jika aku tiup'.


"Ya, Jujur saja, Api Kalian ini begitu menyeramkan..."


Wosshhh


Pedang yang Ren Gunakan mengeluarkan sebuah Api yang membara. Murni hanya Api biasa yang dapat ditemui dimana saja, berbeda dengan Api milik Rusava dan Raytsa.


Api itu sendiri tidak terlalu besar, hanya memenuhi seluruh Bilah Pedang. Ren bermaksud untuk menahan serangan Rusava dan Raytsa menggunakan Api ini.


Jika dipikirkan dengan Logika, Api sebesar ini tidak mungkin dapat mengalahkan Api milik Rusava dan Raytsa. Tapi...


Ren melakukan Dua Tebasan menyilang secara diagonal. Tebasan ini menciptakan Dua Bilah Pedang Api yang menyilang, dengan cepat itu bergerak menuju ke arah Api milik Rusava dan Raytsa.


Boooommmm!


Dua Serangan saling berbenturan, yang kemudian menghasilkan Ledakan yang Intens. Dapat dipastikan, seluruh Colosseum akan Hancur jika Ledakan ini mengenainya. Tidak, mungkin Kota Aulzania akan terdampak jika Ledakan ini mengenainya. Tapi, Ledakan ini tertahan hanya sebatas di Arena saja. Sebuah Dinding Transparan berbentuk Kubah menahan mereka.


Semua yang ada dalam Kubah itu menjadi Hangus, Tanah Arena menjadi Hitam karena terbakar.


Rusava dan Raytsa begitu terkejut, hanya dua serangan kecil milik Ren dapat menahan serangan Kombinasi mereka. Meski itu bukanlah serangan terkuat mereka, tetapi itu masih tetap tak bisa dipercayai oleh mereka.


"Guhk! Rusava apa yang terjadi?!"


"Hati - Hati Raytsa! Dia telah menghilang...!"


Rusava menggunakan Persepsi mana miliknya untuk mengetahui dimana Ren berada. Namun, Persepsi itu saat ini menunjukan tidak ada siapa - siapa di Arena. Kabut yang berasal dari dampak Ledakan memenuhi seluruh Arena, membuat pandangan Rusava tidak dapat memastikan keberadaan Ren.


"Aku pikir kalian akan dapat menunjukan sesuatu yang melebihi ini... Tapi, aku kecewa."


Suara dingin yang menggema muncul, sontak saja ini membuat Rusava dan Raytsa menjadi lebih waspada.


"Ada apa..? Aku disini."


Suara yang dingin terdengar kembali, bersamaan dengan Aura yang begitu luar biasa dirasakan oleh Rusava dan Raytsa.


Aura itu merupakan Aura seorang penguasa, Rusava dan Raytsa bergetar di bawah Aura yang luar biasa ini.


"A-Aura ini... R-Rusava."


"Ba-Bagaimana mungkin..? Seorang yang m-melebihi T-True Ancestor?"


Kabut dengan cepat menghilang, itu terdorong oleh Aura yang begitu Luar Biasa. Saat itulah seorang yang mengeluarkan suara dingin terlihat, dia sedang terduduk disebuah Singgasana yang berwarna merah darah.


Dengan senyum penuh kekecewaan, dia berbicara...

__ADS_1


"Seorang seperti kalian belum cocok untuk memberontak padaku..."


__ADS_2