Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 45 : Pengikut baru dan Pembukaan Turnamen.


__ADS_3

Kutukan Rakuza telah berhasil dihilangkan, semua ini berkat Ren yang dengan cepat mengatasi nya. Rakuza, kini sangat berterima kasih pada Ren, sebuah kutukan yang selama ini mengekang dia telah sepenuhnya dihilangkan.


Kini Ren, Rakuza, Kanza dan Nirlayn sedang berada di Kamar Penginapan yang Ren sewa. Ren dengan sengaja mengajak mereka untuk berbicara di Kamar penginapan nya ini. Sebenarnya, setelah kutukan Rakuza dilepaskan, Kanza lah yang kemudian bercerita, dan ternyata dia adalah seorang suruhan yang berasal dari Ketua Guild Petualang.


Dia diperintahkan untuk mengawasi seorang pria mencurigakan, yang tidak lain adalah Ren. Lalu, mengapa Kanza menyerang Nirlayn? dia mengatakan bahwa Guild Petualang sedang bermusuhan dengan Ras Vampire. Maka dari itu, setelah merasakan bahwa Nirlayn terlihat seperti Vampire, tanpa basa - basi dia mencoba menyerang nya.


'Seorang Pria yang ceroboh...' Ren menyindir Kanza yang saat ini sedang duduk dihadapannya.


"Sekarang Rakuza, kau bisa mengatakan dengan tenang, apa harapanmu itu?"


Rakuza dan Kanza sedang duduk dihadapan Ren, tentu saja Ren duduk di tempat yang lebih baik. Layaknya seorang penguasa yang sedang mendengarkan bawahannya. Sementara Nirlayn berdiri di samping Ren, semakin membuat Kesan seorang Penguasa yang dimiliki oleh Ren.


"Tuan Dirvaren... Aku memohon padamu, bantu aku menyelamatkan Kinna, seorang teman perempuan yang aku bicarakn itu..." Rakuza menunduk pada Ren, dia sangat mengharapkan pertolongan dari Ren.


"Hm... Biar aku pertimbangkan terlebih dahulu, apa yang akan kau berikan sebagai balasan aku menyelamatkan dia?"


Ren bukanlah seorang yang berhati mulia, dia selalu mempertimbangkan segala kemungkinan dan keuntungan tindakan yang dia lakukan. Namun, bukan berarti Ren adalah orang kejam berdarah dingin, yang akan membiarkan orang baik disakiti dengan semena - mena.


"A-Aku... Akan melakukan apapun yang diperintahkan anda! maka dari itu... saya mohon untuk menyelamatkan Kinna!" Rakuza menunduk, dia sangat bersungguh - sungguh dalam melakukan permohonan ini.


Tindakan nya ini sedikit membuat mata merah Ren menyala...


"Menarik... Baiklah, jika kau bersedia untuk menjadi bawahanku. Maka akan kubantu kau menyelamatkan dia... Bagaimana dengan itu?"


Perkataan Ren membuat Rakuza merenung sesaat. Namun, beberapa saat kemudian, dia dengan tegas menunduk dan menyatakan pikirannya..


"Aku akan menjadi bawahanmu, Tuan Dirvaren.! Bahkan, aku Rela menyerahkan nyawa ini hanya untuk menyelamatkan Kinna.!" Mata Rakuza dipenuhi oleh tekad yang membara, tidak ada sedikitpun keraguan disana.


"He... Hahahah!" Ren tertawa, tangan kanan miliknya memegang kepala yang dia miliki, mengingatkan akan sebuah pose tertentu.


"Aku sangat menyukai orang yang berkemauan keras..."


Ren beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan ke arah Jendela.... Dia melirik ke belakang, sambil merentangkan kedua lengan, mata merah Ren menyala hebat.


"Aku Anryzel Dirvaren, menyatakan bahwa kalian Rakuza dan Kinna, berada di bawah perlindunganku.!"


Swooshhhh!


Sebuah Aura merah darah yang hebat kini muncul kembali dari tubuh Ren. Aura ini menyebabkan Gelombang angin yang cukup kuat menyebar ke seluruh Ruangan. Berbeda dengan Aura yang dia keluarkan sebelumnya, Aura ini tidak menyebabkan ketakutan atau keputusasaan sedikitpun.


Malahan, sosoknya kini bagaikan seorang penguasa sesungguhnya. Rakuza dan Kanza merasakan, bahwa Ren kini terlihat seperti seorang Raja. Tidak, itu terasa kurang, lebih tepat jika dikatakan, seorang Raja diantara para Raja.


Dibawah Aura yang begitu hebat, Rakuza dan Kanza menatap takjub pada Ren. Perasaan kagum memenuhi hati mereka, belum pernah sekalipun dalam hidup, mereka menyaksikan orang dengan Aura seluar biasa ini.


Ren menghentikan Aura itu, dia kini berjalan kembali ke arah Jendela. Menatap langit yang sudah sore hari, sosoknya begitu indah, wanita yang melihat ini pasti akan langsung jatuh cinta.


'Night Corpse... Apakah mereka ada hubungannya dengan Kegelapan Dunia yang Aszera katakan? Mari kita cari tahu nanti..'


*


*


*


*


*


Hari sudah menjelang malam.


Di Kamar ini, kini hanya menyisakan Ren dan Nirlayn berdua. Rakuza telah Ren perintahkan menginap di penginapan ini, untuk berjaga - jaga apabila orang - orang berjubah hitam mencari dia kembali. Merupakan sebuah kebetulan Kamar Rakuza tepat berada di samping kamar Ren saat ini.


Sedangkan untuk Kanza, dia memiliki tempat kembali sendiri, yaitu Guild Petualang. Meski dia terlihat ingin bergabung menjadi bawahan Ren, itu tidak bisa. Dia masih menjadi anggota Guild Petualang, tidak mungkin Ren mengajak dirinya.


Lalu, kini hanya tersisa Nirlayn yang ada di Kamar ini. Ren telah memesankan satu kamar yang berbeda untuknya, tetapi sebuah urusan mengharuskan Ren memberi sebuah perintah agar Nirlayn diam terlebih dahulu disini.


"Nirlayn jika kau mengganti Blood Art milikmu, senjata apa yang ingin kau tiru?"


"Saya telah memikirkan hal ini Ren-sama, karena Teknik Pedang anda yang begitu indah dan menakjubkan. Saya memutuskan untuk meniru sebuah Pedang dan mempelajari Gaya bertarung menggunakan Pedang."


"Hm.. Pilihan yang bagus... Tunggu disini."


Ren membuka Pintu menuju Inventory miliknya. Kemudian Ren memasuki Inventory itu seorang diri, menyisakan hanya Nirlayn yang menunggu di kamar itu seorang diri.


Beberapa saat kemudian, Ren muncul kembali dari balik pintu Inventory. Membawa sebuah Pedang yang disarungkan dengan indah. Pedang itu memiliki ukuran yang cukup kecil, namun tidak sekecil Rapier.


"Ini adalah sebuah Pedang, yang aku buat ketika aku pertama kali mencapai tingkat Master Blacksmith. Pedang ini memiliki kualitas yang sangat baik, memang dikhususkan untuk dipakai oleh Ras Blood Devil. Dibuat dengan sepenuh hati olehku, di sini juga terukir Namaku yang berwarna merah darah..."


Shingg!


Ren menghunuskan Pedang yang ada ditangannya. Sebuah Pedang bermata satu, berwarna perak kemerahan, Mata pedang ini bercahaya mengkilap. Nirlayn yang menyaksikan hal ini pun bergumam bahwa Pedang ini sangat indah.


"Kunamai Pedang ini dengan [Blood Rose Sword]. Waktu itu, aku tiba - tiba memberikan Nama ini, Nama yang cocok untuk seorang perempuan. Kini aku menyadarinya, semua ini merupakan takdir... Akan kuserahkan Pedang ini padamu."


Shingg!


Ren menyarungkan kembali Pedang itu, dengan perlahan dia menyerahkan Pedang nya kepada Nirlayn.

__ADS_1


"Sebuah Pedang yang sangat indah, ini akan saya jadikan Harta saya sendiri..."


Nirlayn menerima Pedang itu dengan wajah penuh kebahagiaan. Pedang yang dibuat khusus oleh Tuan nya, siapa yang tidak akan senang ketika menerima hal ini?


"Ini sudah terlalu larut, kau boleh kembali ke kamarmu sendiri..."


"Saya sangat berterima kasih, Ren-sama."


Nirlayn menunduk dalam, lalu dia berjalan pergi untuk ke kamarnya sendiri.


"Ahh... Nirlayn."


Perkataan Ren membuat Nirlayn menghentikan langkah nya dan berbalik.


"Ya, Ren-sama?"


"Mungkin, Jika ada waktu.. Aku akan mengajarimu secara langsung teknik berpedang."


Perkataan Ren hanya diiringi oleh Nada yang datar, tidak ada maksud tertentu dalam perkataannya. Tapi, hanya sebuah kalimat itu membuat wajah Nirlayn tersenyum merekah. Dia terlihat sangat bahagia, sampai - sampai ilusi Bunga - Bunga terlihat bertebaran di wajahnya.


"Dengan senang hati! Ren-sama!"


Nirlayn menunduk dengan semangat, lalu meninggalkan Kamar Ren dengan wajah yang berseri - seri. Sikapnya yang aneh inilah, yang membuat Ren memiringkan kepalanya.


"Aku tidak mengerti, wanita.."


*


*


*


*


*


Keesokan Harinya.


Tidak seperti biasa, Ren bangun lebih pagi kali ini. Dia bahkan telah mengenakan sebuah Pakaian yang menurutnya cocok dengan Acara penting hari ini. Sebuah Pakaian yang belum pernah dia kenakan sebelumnya.


Dia mengenakan sebuah Jas Blazer bergaya Modern, Jas ini berwarna hitam pekat. Dilengkapi dengan sebuah Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kanan miliknya. Sebuah set pakaian yang mustahil di temukan di Dunia ini, kecuali pemain lain seperti Ren memang memiliki Jas seperti ini.


Namun, agar tidak terlalu menarik perhatian, Ren mengenakan sesuatu yang sudah biasa ditemukan di Dunia ini. Sesuatu itu adalah sebuah Jubah yang membungkus punggung miliknya, kedua bagian kerah jubah dihubungkan oleh dua buah tali yang berada di dadanya.


"Jas ini, sedikit ketat... Tapi tak masalah."


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Suara Ren memecah keheningan diantara mereka berdua. Nirlayn segera berbalik, begitu juga dengan Rakuza.


"Ah.. Ren-sama anda akhirny-?!"


"Tuan Dirvaren, aku sengaja menunggu anda disini."


"Terserah saja, Apakah Kereta Kuda telah disiapkan?" Ren bertanya pada kedua orang itu.


"Tentu saja, Tuan Dirvaren.. Semua telah aku siapkan."


"Bagus, mari kita pergi..."


Ren berjalan terlebih dahulu, menuju tangga untuk turun dari lantai atas. Rakuza mengikutinya dari belakang, sementara Nirlayn....


"Nirlayn, apa kau akan tetap berdiri mematung seperti itu.?"


"Em?! Eh, maafkan saya Ren-sama... Saya hanya sedikit terkejut.. Oleh penampilan baru anda."


'Sedikit...?' Ren menatap aneh pada Nirlayn.


"Ayo pergi, aku harus bertemu dengan Raja Esdagius."


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki Ren yang menuruni tangga terdengar. Suara itu diikuti oleh Nirlayn dan Rakuza yang mengikuti dia dari belakang.


Sementara di Lantai bawah, ada seorang wanita yang sedang menyapu lantai penginapan. Wanita itu adalah Vinri, sebelumnya dia telah memanggil Ren sebagai paman beberapa waktu lalu. Sampai saat ini, Vinri belum mengetahui seperti apa Ren sebenarnya, karena Ren selalu memakai tudung selama memasuki ataupun keluar dari penginapan.


"Nanana... Nanana.."


Vinri terlihat sangat menikmati pekerjaan menyapu itu, dia melakukan nya sambil bernyanyi dengan gembira. Bahkan, ketika Ren dan lainnya melewati dia, tidak ada sedikitpun perhatian dia yang teralihkan.


Hanya ketika Ren membuka pintu keluar penginapan, barulah dia menyadari keberadaan Ren. Dia menoleh ke arah Ren yang membuka Pintu itu, dia menghentikan pekerjaan menyapu dan langsung menghampiri Ren.


"Anu... Siapa kamu.?"


Pertanyaan Vinri mengundang tatapan menusuk dari Nirlayn yang berada di belakang Ren. Sementara Rakuza, dia terlihat sedikit tidak mempedulikan hal kecil seperti ini.


Ren segera berbalik, untuk menghindari perselisihan antara Nirlayn dan Vinri. Saat dia menampakan wajahnya, sebuah senyum yang sedikit dipaksakan terlukis disana.

__ADS_1


"Apa kau melupakan orang yang kau panggil paman?" Ren berbicara sedikit kesal, dia masih mengingat wanita ini memanggil dirinya seorang paman.


Reaksi wanita itu sama seperti kebanyakan orang yang pertama kali memandang wajah Ren. Dia terlihat menatap wajah Ren secara terus menerus, tidak berkedip sedikitpun.


"Haa.."


Helaan napas Ren terdengar, dia telah cukup banyak mengalami hal yang sama. Apalagi kali ini, dia mengenakan suatu pakaian yang terlihat unik di dunia ini. Sudah pasti jika dia akan mendapatkan perhatian yang lebih banyak nanti.


"Biarkan dia, ayo pergi."


Dengan Mengibaskan Jubahnya, Ren kembali berjalan menuju Kereta Kuda yang telah disiapkan di depan penginapan. Di ikuti oleh Nirlayn yang masih menatap tajam pada Vinri. Lalu terakhir Rakuza, dia keluar dari penginapan lalu menutup pintu itu.


Brak!


"Eh..??!"


Suara pintu yang ditutup membuat Vinri tersadar dari lamunannya.


"S-Sia-pa i-itu..?! Kyaaa...!"


Vinri memegang kedua pipi nya yang merah menyala, dia berteriak - teriak tak jelas seorang diri. Sampai - sampai pemilik penginapan menghampiri dia dan menyiramnya dengan air.


*


*


*


*


*


'Mengapa aku memilih pakaian ini?'


Ren bertanya - tanya dalam hatinya, pakaian yang dia kenakan saat ini tentu saja akan semakin menarik perhatian banyak orang. Dia sendiri tidak mengerti, mengapa memilih pakaian yang saat ini dia kenakan.


"Apa ada sesuatu yang mengganggu anda, Ren-sama?" Nirlayn bertanya khawatir.


"Tidak ada, aku hanya berpikir... Hari ini jalan lebih ramai dari biasa." Ren berusaha menyangkal pertanyaan Nirlayn.


Meski begitu, kata - kata Ren memang benar, Jalan Kota Aulzania kini lebih padat dari biasanya. Beberapa Kereta Kuda yang terlihat mewah sedang berjalan beriringan. Ren sendiri sudah mengetahui alasan semua ini, tentu alasannya adalah Turnamen Aulzania.


"Anda benar Ren-sama, sepertinya Turnamen ini benar - benar acara yang besar."


"Aku merasa sedikit kasihan pada Rakuza.."


Di bawah matahari yang bersinar, Jalanan dipadati oleh orang - orang yang berlalu lalang. Rakuza menjadi Kusir Kereta Kuda ini, Ren bahkan membayangkan betapa tidak enaknya berada di posisi Rakuza saat ini.


"Ren-sama tidak usah khawatir, dia sendiri yang memaksa untuk jadi Kusir kan?"


"Yah....."


Beberapa saat kemudian....


Kereta Kuda milik Ren telah tiba di Colosseum Kota Aulzania. Saat ini, posisi mereka tepat berada di depan Jalan masuk Colosseum bagi Sang Raja. Permintaan Raja Esdagius sendiri yang menyuruh Ren untuk menunggu mereka disini.


Meski kemunculan sebuah Kereta Kuda ini mengundang berbagai macam pembicaraan di kalangan orang - orang.


Kemungkinan mereka semua sedang berkumpul untuk menyaksikan kedatangan Sang Raja bersama Keluarga Kerajaan lainnya.


"Raja Esdagius, kau dengan sengaja melakukan hal ini kan..."


Kekesalan terhadap Raja Esdagius yang meminta Ren untuk menunggu mereka disini, semakin bertambah. Alasan nya, karena orang - orang yang sedang menunggu bukan hanya orang biasa, melainkan Bangsawan Kerajaan juga hadir disana.


"Ren-sama, sepertinya Raja Esdagius telah tiba.."


Sorak Sorai orang - orang yang memuji terdengar, membuktikan bahwa Raja Esdagius memang telah tiba.


"Baiklah Nirlayn, kau keluarlah lebih dulu... Aku akan menyusulmu nanti."


"Ya, saya akan keluar lebih dulu."


Nirlayn beranjak keluar sesuai dengan apa yang Ren perintahkan.


'Bagus sekali, aku penasaran mengapa Nirlayn bersikap biasa saja...'


Dari dulu, sebelum Ren tiba ke dunia ini. Dia sudah mengalami betapa menyiksa nya menjadi pusat perhatian semua orang.


Sekarang, hal itu akan dia alami kembali, membuat wajah Ren sedikit suram.


Tapi... Tiba - tiba sebuah senyuman muncul di wajah Ren, tubuhnya sedikit bergetar, lalu dia tertawa seorang diri.


"Hahahaha.... Sejak kapan hal seperti ini, bisa menyiksaku."


Dengan memantapkan hatinya, dia membuka pintu Kereta Kuda dan Beranjak keluar....


[Hallo, Semoga aja dengan update kali ini, semakin banyak yang meminati karya saya yang serba kekurang satu ini..Huhuhu...

__ADS_1


Jika karya ini menghibur kalian, mohon tinggalkan beberapa penyemangat buat saya ya.. Mau koment, like atau Vote pun gak masalah hehehe....]


__ADS_2