
Hutan yang lebat, diiringi oleh derasnya hujan dan Guntur. Membuat suasana hutan semakin mencekam dan menakutkan.
Di hutan gelap ini, dua siluet sedang berlari dengan cepat.
"Ei-Ei, Rey kita berhasil kabur?"
"Hihihi... Sepertinya begitu, dia memang kuat. Tapi tak sekuat orang itu."
"Ei-Ei kau benar, ayo lebih cepat, kita harus melapor segera."
"Hihihi... Kau benar Ray."
Keduanya berlari semakin cepat, diantara pohon - pohon hutan. Sungguh pemandangan yang tak biasa.
Ketika mereka akhirnya berhasil keluar dari hutan. Kecepatan mereka perlahan menurun.
"Ei-Ei, Sepertinya kita benar - benar lolos ya Rey." Ray cekikikan dengan cara menjijikan.
"Hihihi... Memang, sepertinya dia bodoh." Ray mengangguk dan ikut tertawa bersama Rey.
Keduanya berhenti tertawa, dan segera berlari kembali.
Tapi, sebuah suara yang mereka kenal terdengar...
"Kabur dariku? silahkan saja..."
Sebuah suara yang tenang dan dalam, namun menusuk terdengar oleh Ray dan Rey bersaudara.
"Ei-Ei?! Apa?! Rey Lari!"
"Hiiii... Ayo lari!"
*
*
*
*
*
'Haha.. Mereka pikir kabur dariku semudah itu? Indra penciumanku cukup tajam tau."
Ren bergumam dalam hatinya, saat ini Ren sedang bergerak untuk mengejar Rey dan Ray bersaudara.
Ren dengan sengaja memperlambat kecepatan nya agar dapat bermain - main dengan mereka.
Setiap kali mereka pikir sudah lolos, Ren akan muncul dengan sengaja.
Membuat Ray dan Rey bersaudara kembali lari dengan cepat.
Meski demikian Stamina Ray dan Rey pasti memiliki batas nya. Ren sudah bisa melihat keberadaan mereka lagi. Kali ini dengan kondisi yang menyedihkan.
"Kalian puas dengan kaburnya? yah aku juga sudah bosan mengejar kalian." Ren berkata sambil muncul dihadapan kedua nya.
"Hoss.. Hoss.. Ei-Ei! Siapa kau?! kami tak ingat pernah bermusuhan denganmu?!" Ray berkata sambil menunjuk pada Ren. Nafasnya tidak teratur karena telah lari cukup lama.
"Hiiii... Ray benar!"
"Aku tidak berkewajiban menjawabnya. Tapi, kalian akan kuberikan satu kesempatan lagi. Kaburlah secepat yang kalian bisa, jika aku tidak menemukan kalian dalam waktu 3 detik. Aku akan melepaskan kalian bagaimana?" Ren berkata dengan tersenyum lebar.
"Ei-Ei kau meremehkan kami?! Rey ayo lari!"
"Hiiii.... Oke!"
Dua orang itu dengan cepat menghilang dari pandangan Ren.
"1....."
Ren menghitung, kemudian dengan cepat menghilang.
"Ketemu."
Ren dengan tiba - tiba muncul di hadapan kedua orang itu. Hanya 1 detik untuk Ren mengejar mereka berdua. Wajah Ray dan Rey menjadi pucat, orang yang ada dihadapan mereka terlalu cepat!.
"Ei-Ei! Tidak mungkin! Night Illusion!"
"Hiiii.... String Blade!"
Ray menggunakan skill nya untuk membuat ilusi. Sedangkan Rey menggunakan skill nya membuat sebuh Benang yang setajam pedang.
Melihat ini, Ren bersiap menghunuskan pedang yang ada di pinggang nya.
Setelah jarak Serangan Ray dan Rey cukup dekat dengan Ren. Ren menarik sedikit pedang nya dengan begitu cepat. Kemudian menyarungkan nya kembali.
Shing! Shing! Shing!
Tiga garis cahaya memotong udara, serangan Ray yang harusnya tidak memiliki bentuk fisik pun terbelah lalu menghilang. Sementara, serangan Ray yang sudah jelas berbentuk fisik dengan cepat menjadi potongan kecil dan hancur.
Mata kedua orang itu terbelalak, mereka sangat terkejut. Orang dihadapannya terlihat tidak mengeluarkan tebasan apapun. Namun, serangan mereka berhasil di hancurkan oleh tiga garis cahaya.
"Eii!-Ei! Must-Tahil!" Ray berteriak, mukanya berubah pucat dan ketakutan.
"Hiiiii!.... K-Kau Mo-nster!" Rey ikut berteriak sambil menunjuk Ren dengan wajah ketakutan.
"Monster? Hmm... Jika dipikir kalian ada benarnya. Tapi Sebelum itu......" Ren berbicara kemudian menjentikan jarinya.
"Blood Prison Cube" Ren melepaskan Skill khusus Ras nya.
Di sekitar kedua orang itu, kini terbentuk sebuah kubus berwarna merah transparan.
"Ei!-Ei?! Apa lagi ini?!" Ray berteriak histeris.
__ADS_1
"Hiiiii!..... Aerial Strings Blade!"
Meski Rey ketakutan, dia tetap mencoba untuk menghancurkan Kubus merah ini.
Menggunakan sebuah Skill benang miliknya, namun Benang nya tak mampu menembus kubus itu.
"Hiiii! Ray! Ini tak berhasil! mustahil! mustahil! mustahil!" Rey berteriak berulang kali.
Melihat tingkah kedua nya yang begitu menyedihkan membuat Ren tersenyum kejam. Ren menghampiri kubus itu dengan senyuman di wajahnya.
"Biar kuberikan kalian pilihan, jawab semua pertanyaanku lalu akan kubebaskan kalian. Bagaimana?" Ren bertanya dengan wajah tersenyum tulus.
"Ei!-Ei! M-mana mungki-in kami sudi memberitahumu!" Ray menolak, meski begitu wajahnya masih terlihat ketakutan.
"Hiii.... Ray benar! ja-jangan harap!" Rey bertindak sama dengan ekspresi yang sama pula.
"Begitu.... Sayang sekali. Baik, aku akan bercerita sedikit." Ren mulai bercerita.
"Biar kuberitahu satu hal..." Ren mulai melanjutkan perkataan nya.
"Kalian tahu, sebuah Ras yang bernama Blood Devil?" Ren bertanya namun tak bermaksud mendapatkan jawaban.
"Ras ini dinilai sangat lemah awalnya, tapi jika dilatih dan dikembangkan Potensi nya sangat luar biasa." Ren bercerita, tanpa menghiraukan Ray dan Rey yang memasang wajah keheranan.
"Banyak hal yang aku suka dari Ras ini, salah satunya adalah Skill tingkat tinggi nya, yaitu Blood Ruler." Ren dengan santai nya bercerita, ekspresi Ray dan Rey semakin keheranan.
"Kalian tahu? dalam sebuah Game ada seorang yang telah mencapai puncak dan satu - satu nya yang mempunyai Skill Blood Ruler ini. Kalian tentu tahu siapa bukan?" Ren kali ini bertanya dengan sungguhan, matanya menatap tajam pada Ray dan Rey.
"Glekk.. Ei-Ei, R.Styx?" Ray menelan ludah.
"Hiii.... Itu pasti R.Styx yang legendaris kan?" Rey juga mengatakan nama yang sama.
"Oh... Kalian sungguh mengenalnya, benar sekali. Dia adalah pemain yang bernama R.Styx, banyak yang tidak tahu bahkan wajahnya." Ren bercerita kembali, sambil memandangi langit yang menurunkan hujan.
"Dia itu sangat tampan, memiliki rambut yang hitam dan mata merah yang menyala." Ren berbicara namun kini berbalik ke arah Ray dan Rey. Menunjukan matanya yang merah menyala.
Ray dan Rey akhirnya menyadari hal ini. Ekspresi mereka berubah menjadi terkejut.
"Ei!-Ei! Ti-Tidak Mu-Mungkin? ka-kau R.Styx?" Ketika Ray menyadari bahwa orang yang berada dihadapannya adalah R.Styx. Wajahnya dipenuhi oleh ketakutan, Terror dari mata yang menyala merah memenuhi hati nya.
"Hiiii...! Ra-Ray, kita me-memilih la-lawan yang sa-salah." Rey memasang Ekspresi yang sama. Hatinya dipenuhi Terror yang amat menakutkan setelah melihat mata Ren yang merah menyala.
Mengetahui Ekspresi kedua orang itu, Ren berbicara kembali.
"Jangan berani - berani nya menyerah sebelum aku selesai berbicara." Ren melirik dengan tajam, mata merah nya semakin menyala. Membuat Ray dan Rey bersaudara mengangguk dengan cepat. Keringat mengucur dari seluruh tubuh mereka.
"Aku lanjutkan. Blood Ruler, seperti Namanya. Skill ini membuat seseorang bisa mengendalikan Darah. Kemampuannya sendiri hanya bisa digunakan pada individu yang lebih lemah dari pengguna nya." Ren bercerita dengan santai kembali. Meski begitu, Ekspresi Ray dan Rey tidak berubah sedikitpun.
"Apa yang kalian pikirkan jika Blood Ruler digunakan untuk membuat darah dalam tubuh seseorang mendidih?" Ren tersenyum memandangi Ray dan Rey.
"Atau membuat darah mengalir secara terbalik?" Ren semakin menunjukan senyum nya.
"Atau juga bisa, membuat darah seseorang sangat tajam dan merobek tubuh nya dari dalam? Semua itu tentu sangat menyiksa bukan?" Ren bertanya, niat Ren yang tersirat dalam kalimat ini membuat Ray dan Rey semakin ketakutan.
"Hiiiii.....! To-Tolong, kami mohon dengan sangat!" Rey mengikuti Ray dan bersujud.
"Hei.... Sudah aku katakan bukan, jangan menyerah sebelum aku selesai bercerita." Ren berbicara dengan suara dingin.
"Dengarkan, aku belum selesai berbicara." Ray dan Rey bersaudara dengan cepat mengangguk secara berlebihan.
"Semua yang kusebutkan tadi mustahil untuk di lakukan, karena sejatinya tidak mungkin menggunakan Skill yang tak ada." Ren berbicara sambil mengangguk pada diri sendiri. Mendengar ini, wajah Ray dan Rey sedikit lebih tenang.
"Tapi....." Ren tersenyum kembali.
"Itu hanya berlaku dalam Game, di dunia nyata selama itu tidak mustahil maka masih mungkin untuk dilakukan. Aku mengetahui Fakta ini beberapa hari yang lalu." Ren kembali menjelaskan.
"Maka dari itu.... Kuharap kalian tidak menyerah sebelum aku coba satu dari ketiga hal itu... He.. Hahaha!" Ren tertawa jahat dengan puas. Ren memegang kepala menggunakan tangan nya, mengingatkan pada sebuah pose tertentu.
"Ei!-Ei! Tu-Tuan! Tolong ampuni kami!"
"Hiiii... Itu benar, ampuni kami, ampuni kami."
Keduanya semakin ketakutan, seluruh tubuh mereka gemetar. Hati mereka dipenuhi oleh Terror, pikiran mereka membayangkan bagaimana Rasa sakit akan hal itu.
"Fyuh... Tenang saja, aku ini sungguh baik hati." Ren menggelengkan kepala terlihat pasrah.
"Mengalirkan darah secara terbalik? itu tidak berseni." Ren bertanya dan menjawab dengan sendirinya.
"Sedangkan untuk membuat Darah menjadi tajam dan merobek tubuh dari dalam? kalian pasti akan langsung mati." Ren kali ini terlihat sedih.
"Jadi, Bagaimana jika Mendidihkan nya? kurasa itu akan luar biasa." Ren tersenyum menatap kedua orang itu, namun senyuman Ren tidak membuat mereka bahagia sama sekali. Yang ada mereka merasakan Terror yang lebih besar.
"Sekali lagi, aku ini sungguh baik. Aku sudah menanamkan Sihir penyembuhan khusus Rasku dalam kubus itu. Jadi kalian tak akan mati dengan mudah, dan Untuk teknik yang baru kuciptakan ini....." Ren dengan sengaja memakai jeda dalam perkataan nya.
".... Akan kunamai, Temperature Blood Control."
"Kalau begitu, mari kita lakukan Eksperimen ini dengan sepenuh hati. Pertama, Akan kunaikan 100 derajat celcius" Ren mengangkat satu jarinya.
Seketika, tubuh kedua orang itu mendadak menjadi merah. Tubuh mereka juga mengeluarkan asap layaknya terbakar.
Mereka berguling - guling dalam kubus, berteriak kesakitan.
"Aahhhhh!!! Arggg!!!! Pa-Panas!!!! Sakit!! Argghh"
"Aaahhh!..... Grrrr!.... Ahhh!!"
Kulit mereka perlahan melepuh, sedikit demi sedikit. Namun, semua itu segera pulih kembali, seperti yang Ren katakan, mereka akan terluka dan segera disembuhkan.
"Sangat sakit bukan? sampai kalian melupakan kata awal yang menjijikan itu." Ren tersenyum, melihat mereka berdua kesakitan.
"Tapi.... Aku belum selesai, kali ini 400 Celcius!" Ren berkata dengan semangat.
Berbeda dengan Ekspresi Ren yang bersemangat. Wajah kedua orang itu semakin putus asa. Kali ini belum sampai beberapa detik, tubuh mereka telah melepuh dan hancur. Namun segera disembuhkan kembali.
__ADS_1
Kejadian ini terus berulang - ulang, penyiksaan yang begitu kejam ini Ren ciptakan sendiri.
"Hm? Kalian masih bisa bertahan, atau karena penyembuhanku yang hebat?" Ren memegang dagu dan bertanya pada kedua orang di dalam kubus.
Tapi keduanya tidak menjawab sama sekali, yang ada hanya jeritan kesakitan yang amat mengerikan.
"Jika aku tahu begini, lebih baik aku mencoba hal yang pertama. Soal menajamkan setiap darah dan merobek tubuh kalian dari dalam." Ren memegang dagunya, terlihat menyesal.
Ren berpikir, kemudian dirinya tersentak teringat akan suatu hal.
"Ya ampun, sejak kapan aku menjadi suka menyiksa begini?" Ren bergumam sendiri, lalu menggaruk kepalanya.
"Skill : Cancel" Ren menjentikan jarinya.
Seketika, tubuh kedua orang itu kembali Normal. Namun, Ekspresi mereka telah sepenuhnya hancur dan Kosong.
Mereka terlihat tidak jauh beda dengan tubuh tanpa jiwa. Ren yang melihat ini lagi - lagi berpikir bahwa dirinya terlalu berlebihan.
"Ya... Ampun, aku benci diriku yang selalu terbawa suasana. Jika sudah begini, aku tidak bisa mendapat informasi apapun kan?" Ren menepuk jidatnya sendiri.
"Sudahlah, aku berjanji membebaskan kalian. Semoga tenang di alam sana." Ren berjalan menjauhi kedua orang itu. Kemudian Kata - Kata Ren terdengar...
"Blood Transfer..."
Seketika, tubuh Ray dan Rey menjadi putih dan pucat. Nafas mereka sudah berhenti, nyawa mereka sudah tiada.
Sebagai gantinya, gumpalan darah besar membentuk sebuah bola di tangan Ren.
Blood Transfer, sebuah Skill yang memang ada dalam Game COTHENIC. Memungkinkan pengguna untuk memindahkan semua darah dari Target dengan seketika. Sebuah Skill Instan Kill yang hanya berguna pada lawan yang lebih lemah.
Karena Darah ini akan sia - sia jika tidak digunakan dengan baik. Ren memutuskan untuk menggunakan nya, tentu saja itu bukan untuk diminum.
Ren mengontrol darah dari Ray dan Rey.
Kemudian Darah itu terpencar membentuk sebuah lingkaran sihir yang rumit.
"Summon : Sacred Blood Beast" Ren menggigit jarinya, lalu meneteskan darahnya sendiri pada pusat lingkaran sihir.
Ketika darah Ren mengenai nya, lingkaran itu bersinar terang. Setiap huruf - huruf serta simbol rumit bergerak berputar.
Sinar itu semakin menyilaukan, dari pusat Sinar itu muncul sosok seorang Perempuan.
Perempuan yang cantik keluar dari sana, memiliki Rambut hitam, kulit seputih susu, dan tubuh yang ideal. Mata nya merah menyala sementara telinga nya runcing.
Ada suatu hal yang mengganjal dari perempuan ini, dari punggung nya terlihat sebuah sayap kelelawar berbentuk aura darah.
Ren yang melihat hal ini ikut terkejut, selama dia memainkan COTHENIC Ren belum pernah sekalipun mencoba skill ini.
Alasannya, Ren lebih memilih melakukan segala sesuatu sendiri. Juga pada waktu itu Ren berpikir bahwa yang dipanggil adalah semacam hewan yang mengerikan.
Sosok perempuan itu berjalan mendekati Ren. Menyadarkan Ren dari lamunan nya sendiri.
"Salam Hormatku, Yang Mulia True Ancestor." Perempuan itu berkata dengan suara yang merdu. Dia juga membungkuk Hormat pada Ren.
'True Ancestor? title berlebihan apa lagi ini.."
Ren menggelengkan kepalanya, meski di dunia nyata. Masih saja ada orang yang memberikan title padanya sesuka hati.
"Siapa Namamu?" Ren berkata, namun kali ini dengan Nada yang bermartabat.
"Dengan segala Hormat, saya belum memiliki Nama. Yang Mulia, jika anda berkenan berikan saya nama."
"Nama ya....... Bagaimana jika...."
"Nirlayn Mlaina..?" Ren dengan berat hati menyebutkan sebuah Nama yang aneh.
Sejujurnya, Ren tidak baik dalam memberikan sebuah Nama.
"Nir..Layn Mlaina. Saya akan mengukir Nama ini kedalam hati. Terima kasih Yang Mulia." Perempuan itu memejamkan Mata, seperti dia terberkati oleh sesuatu.
'Yang Mulia? Ugh.... Berlebihan sekali, jika aku sudah mendapatkan kembali istana mungkin tidak apa - apa, tapi ini...... Oh!'
Ren menemukan sebuah ide dalam pikirannya.
"Nirlayn, Mulai saat ini, aku memerintahkanmu untuk memanggilku Ren-sama. Perintah ini dapat berubah kapan pun aku mau." Nada Ren tidak seperti biasanya, kini ada sedikit Nada memerintah dan berwibawa di dalamnya.
"Ren-Sa-sama? Baiklah, saya akan memanggil anda Ren-sama mulai saat ini." Perempuan itu mengangguk penuh arti.
Ren merasa ragu - ragu sejenak, namun semua itu dia singkirkan. Ada masalah yang harus dia tangani untuk saat ini.
"Sebenarnya aku tidak ingin memberimu tugas saat ini. Mengingat kau baru saja dipanggil kesini." Ren mengatakannya dengan wajah sedikit menyesal.
"Jika itu keinginan Ren-sama, saya harus melaksanakan nya sebaik mungkin. Keberadaan saya memang ada untuk alasan ini."
"Bagus sekali, Tugas dariku itu cukup sederhana namun membutuhkan banyak usaha. Cari dan temukan siapapun orang yang berhubungan dengan kedua orang itu." Ren menunjuk pada mayat Ray dan Rey bersaudara.
"Akan saya laksanakan sebaik mungkin."
"Laporkan padaku jika kau menemukan sesuatu. Sekarang Pergilah."
"Ya.."
Sosok perempuan itu berubah menjadi aura merah darah. Sebelum akhirnya menghilang dari pandangan Ren.
"Huh? Hujan sudah berhenti? aku terlalu fokus pada hal ini."
Ren menatap langit yang kini sudah berhenti menurunkan hujan.
Meskipun dia tak mendapatkan informasi apapun, sebagai gantinya Ren mendapatkan seorang bawahan pertama nya.
Hal ini cukup setimpal, menjadikan penyesalan Ren sedikit berkurang.
Lagipula Ren merasa tidak enak hati meninggalkan Yarth dan Cethy di mansion itu terlalu lama.
__ADS_1
Dengan sekejap mata, sosok Ren menghilang, menyisakan sebuah udara kosong.