Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 46 : Turnamen B-1


__ADS_3

"Hidup Yang Mulia Raja!"


"Hidup!"


"Hidup Yang Mulia Ratu!"


"Hidup!"


Para warga yang telah menunggu Kedatangan Raja Esdagius langsung mengeluarkan teriakan mereka. Teriakan mereka pecah setelah Raja Esdagius muncul dari dalam Kereta bersama Ratu Rialna. Raja Esdagius keluar dengan Aura yang bermartabat, berjalan berdampingan dengan elegan bersama Ratu Rialna.


Pada saat inilah, Raja Esdagius terlihat seperti Raja yang sesungguhnya. Kenyataan tentang dia yang tunduk pada seorang Pria asing tidak mengurangi martabatnya sedikitpun.


Tidak lama setelah Raja Esdagius, muncul Pangeran Etharez yang berasal dari Kereta Kuda lainnya. Kemunculan Pangeran Etharez di ikuti oleh seorang wanita yang tidak lain adalah Putri Sylna.


"Kyaaa....! Pangeran!"


"Uhh! Pangeran tampan sekali!"


"Pangeran Etharez! lihat aku!!"


Para wanita - wanita muda segera bersorak untuk Pangeran Etharez, mereka adalah wanita yang mendambakan ketampanan yang dimiliki oleh Pangeran. Tentu saja, sorakan mereka ini mendapatkan tatapan tajam dari laki - laki yang iri pada Sang Pangeran.


"Tch... Kalian wanita hanya melihat tamp-... Itu...?! Putri Rembulan!"


"C-Cantik sekali! Bahkan jika wajah Tuan Putri ditutup, itu tidak mengurangi kecantikan nya sedikit pun!"


"Hidup! Hidup Tuan Purti Rembulan!"


Mereka para lelaki tidak menyadari diri sendiri, mereka juga bersorak sama halnya dengan para wanita.


"Pffft... Kalian Pria hanya melihat fisik saja!"


"Dasar Pria hidung belang!"


"Tidak tahu malu..!"


Suasana diliputi oleh kebisingan, sorak sorai mereka terus memenuhi seisi tempat. Pada akhirnya mereka menghentikan sorak sorai setelah para Bangsawan menghampiri Raja Esdagius.


Para Bangsawan - Bangsawan itu, menyambut Raja Esdagius dengan cara berbeda. Mereka berlutut di kedua sisi bahu Jalan, sebagai tanda penyambutan mereka sendiri.


"Yang Mulia Raja, kami senang atas kedatangan anda!"


Pernyataan itu dilontarkan secara bersamaan, seolah - olah, pernyataan itu memang telah disiapkan sebelumnya.


Menanggapi pernyataan para bangsawan, Raja Esdagius hanya tersenyum dengan penuh kebanggan. Tetapi tak lama senyum itu segera menghilang, dia menoleh ke sebuah Kereta Kuda yang terlihat tak jauh darinya.


Sikap aneh Sang Raja ini tentu mengundang perhatian para Bangsawan yang berlutut di hadapannya. Mereka mengikuti Sang Raja, mengalihkan pandangan ke arah Kereta Kuda itu.


Tetapi, para Bangsawan itu tidak menemukan apapun yang spesial di Kereta Kuda. Hanya ada seorang lelaki Demi-Human serigala yang sedang menjaga Kereta Kuda itu. Pikiran para Bangsawan kini dipenuhi oleh tanda tanya.


Seharusnya, bertanya secara langsung tanpa Izin Sang Raja adalah sesuatu yang melanggar etika kebangsawanan. Namun, seorang Bangsawan yang terlihat di usia paruh baya memberanikan diri untuk berbicara.


"Yang Mulia Raja, maafkan hamba yang bertanya ini. Namun, hamba penasaran, apa yang menarik perhatian anda?"


Respon dari Bangsawan lain tentu tidak baik, mereka menatap tajam pada Bangsawan paruh baya yang berbicara pada Sang Raja. Beruntung, Etika kebangsawanan membuat mereka tidak berani menghujat dirinya secara langsung.


"Hm...?" Raja Esdagius berbalik untuk menanggapi pertanyaan dari Bangsawan paruh baya.


"Kau cukup berani bertanya padaku, Fedel Alvadio."


Perkataan Raja Esdagius cukup menusuk, tetapi itu tidak diiringi oleh kemarahan sedikitpun. Malahan, terlihat sedikit senyum kecil di wajahnya.


"Baiklah, kau penasaran bukan? lihatlah, pintu Kereta Kuda itu terbuka. Orang yang ada di dalamnya lah, yang aku tunggu."


Sontak pernyataan Raja Esdagius ini mengundang Rasa penasaran yang begitu besar dari para Bangsawan. Semua perhatian para Bangsawan teralihkan kembali pada Kereta Kuda itu.


'Siapa orang yang ditunggu oleh Yang Mulia?' Pertanyaan itu ada di benak para Bangsawan.


Pintu Kereta Kuda telah terbuka, dari sana, muncul seorang wanita. Seorang wanita berambut hitam dan panjang terurai. Dia mengenakan pakaian berwarna biru tua, pakaian itu terlihat indah ketika dikenakan olehnya. Kecantikan dan keanggunan dari wanita itu, mengundang ketertarikan dari para Bangsawan muda.


"Apakah.. Wanita itu yang anda maksud Yang Mulia?"


"Tentu saja bukan, Fedel. Seorang pria lah, yang sedang aku tunggu."


Kemunculan wanita cantik ini menarik banyak sekali perhatian. Bukan hanya dari orang biasa, melainkan para Bangsawan juga. Bahkan beberapa orang yang akan mengikuti Turnamen seperti tertarik padanya.


'Siapa wanita cantik ini..?! apakah dia sudah mempunyai suami?'


'Kebetulan sekali, aku baru diangkat menjadi seorang penerus. Jika aku dapat menjadikannya istri, maka sempurna hidupku.!'


'Hehehe.. Dia cocok untuk menjadi Istri ketiga ku.'


Bangsawan - Bangsawan yang tertarik pada wanita itu, mulai menyerukan keinginan mereka dalam hati.


"Rajaku... Apakah Tuan Dirvaren tidak hadir...?" Ratu Rialna berbisik pada Sang Raja.


"Tuan Dirvaren tidak mungkin ingkar janji, setidaknya aku meyakini hal itu." Raja Esdagius menjawab bisikan Sang Ratu.


Tap Tap Tap

__ADS_1


Langkah kaki dari wanita itu terdengar, membuat setiap langkah nya diperhatikan oleh semua orang. Cara berjalan yang begitu terlatih dan elegan membuat para lelaki menelan ludah mereka.


"Salam Hormatku, Raja Esdagius."


Dia membungkuk ala bangsawan kepada Sang Raja, cara dia membungkuk sangat terlatih dan elegan, bahkan beberapa Bangsawan terlihat malu, dan mengakui kehebatan wanita ini.


"Nona Nirlayn, apakah Tuan Dirvaren memiliki suatu urusan terlebih dahulu.?" Raja berkata sambil tersenyum hangat pada wanita itu.


"...!?"


Semua orang terkejut oleh perkataan Sang Raja yang sopan terhadap wanita itu. Mereka yang tidak pernah mendengar Sang Raja yang menggunakan perkataan hormat kepada siapapun, bahkan lebih terkejut.


Seorang Raja umumnya tidak pernah memberi sebuah pernyataan Hormat dan Sopan pada orang biasa. Maka dari itu, semua orang menyangka, bahwa wanita yang sedang ada di hadapan Sang Raja adalah seorang yang sangat penting.


'S-Siapa dia, bahkan Yang Mulia sendiri memanggil dia Nona, apakah dia Ratu dari Kerajaan lain?!'


'Seorang Ratu? atau mungkin, Saint?!'


'Tch.. Jika begini, aku tidak bisa menjadikan dia sebagai Istri ketiga ku... Tapi, hehehe aku tidak akan menyerah.'


Bermacam - macam spekulasi dilontarkan oleh para Bangsawan dalam hati mereka masing - masing. Ada yang beranggapan bahwa wanita itu adalah seorang Saint, yang bahkan Kerajaan Aulzania tidak memilikinya.


Ada anggapan lain bahwa dia merupakan seorang Ratu dari Kerajaan lain.


"Ren-sama masih ada dalam Kereta Kuda, Ren-sama menyuruh saya untuk keluar terlebih dahulu dan bertemu dengan anda."


"Masih di dalam Kereta Kuda...? Baiklah, kita tunggu saja dirinya."


Lagi - Lagi semua orang bertanya - tanya, kali ini tentang sosok bernama Dirvaren yang diberikan sebuah pernyataan Hormat dari Sang Raja. Mereka kini hanya dapat menunggu, orang itu yang akan keluar dari Kereta Kuda.


Tidak lama suasana diliputi oleh Keheningan yang mendalam. Hanya sedikit terdengar beberapa bisikan orang - orang yang berkerumun.


Beberapa saat kemudian...


Pintu Kereta Kuda itu dibuka, seorang pria terlihat muncul dari dalam Kereta Kuda. Semua terdiam seketika setelah melihat sosok yang muncul itu, mereka hanya bisa menatap dia, tanpa berkedip sedikitpun.


Tap Tap Tap


Sosok itu berjalan, mendekati Sang Raja yang berada tak jauh darinya. Para wanita memandangi pria itu, mereka bahkan tak mampu untuk bersorak seperti pada Sang Pangeran. Para pria pun menatap, kagum terhadap sosoknya yang begitu elegan.


"Maafkan aku yang telah membuat kalian menunggu...."


Pria itu membungkuk dengan cara yang bahkan lebih sempurna dari wanita tadi. Orang - orang merasakan, bahwa dia membungkuk bukan karena kedudukannya lebih Rendah dari Sang Raja. Tetapi, untuk menghormati Raja mereka yang berada di hadapan semua orang.


"Hahaha! Tuan Dirvaren, kemanapun anda berada, Reaksi mereka selalu sama."


"Ya, aku sudah tidak peduli lagi pada mereka, sedikitpun tid-"


*


*


*


*


*


Pandangan matanya dialihkan pada seorang pria paruh baya yang sedang berlutut. Setelah memperhatikan dia dengan seksama, Ren akhirnya menyadari bahwa pria paruh baya itu adalah seorang Duke Fedel yang berasal dari Kota Ceeven.


"Hm.. Ternyata seorang Duke Fedel, lama tidak berjumpa." Ren tersenyum pada Duke Fedel.


"Oh, aku baru mengingat bahwa Tuan Dirvaren pernah ke Kota Ceeven sebelumnya kan? Pantas saja Fedel mengenal anda."


"Saya tidak menyangka, bahwa orang yang telah menolong putri saya adalah seseorang yang hebat." Duke Fedel dengan cepat beradaptasi.


"Menolong? Apa maksudnya Tuan Dirvaren?" Raja melirik sosok Ren yang tengah berdiri.


"Aku hanya membantu Putri Duke Fedel untuk mendapatkan kembali kekuatan sihirnya, bukan masalah besar." Ren menanggapi pertanyaan Sang Raja dengan tersenyum.


"Tidak Tuan Ren, pertolongan anda sangat berarti bagi Putri saya, dia kini bisa memasuki Akademi semua ini berkat anda." Duke Fedel memuji Ren dengan tulus.


"Ya ampun, lupakan itu... Aku hanya sedikit membantu saat itu, karena aku cukup bosan."


"Tuan Dirvaren, tidak kusangka, bahkan anda telah membantu Fedel dari masalahnya. Betapa luar biasa!"


Pujian dari kedua orang itu membuat Ren semakin menjadi pusat perhatian. Berbagai bisikan yang tidak mengenakan memasuki pendengarannya.


'Ini sudah melebih harapanku, mari kita paksa Raja Esdagius agar segera membuka Turnamen.'


Pupil Mata Ren melirik ke kanan dan kiri, dia berusaha memeriksa keadaan sekitarnya. Dan benar saja, beberapa tatapan yang tidak memiliki Niat baik Ren rasakan saat ini.


"Raja Esdagius, bukankah kita harus segera membuka Turnamen ini?"


"Ah! Benar, sepertinya Derrian dan Sarlyn juga telah tiba. Mari kita segera membuka Turnamen ini! semoga anda menikmati acara turun temurun kami, Tuan Dirvaren."


"Aku melupakan satu hal, aku ingin meminta Izin untuk membawa pengawalku, Rakuza." Ren menunjuk pada Demi-Human serigala yang menunggu di dekat Kereta Kuda.


"Seorang Pengawal..? Tentu saja! Tuan Dirvaren. Tidak masalah sama sekali."

__ADS_1


"Um.." Ren hanya mengangguk pada Raja Esdagius.


Rakuza kemungkinan besar masih dicari keberadaannya oleh para anggota Night Corpse. Maka dari itu, Ren tidak bisa meninggalkan dia seorang diri, itu sangat berbahaya.


"Kemari..." Ren mengisyaratkan agar Rakuza menghampiri dirinya.


Rakuza yang menyadari panggilan Ren segera bergerak mendekat dengan cepat.


"Apakah anda memanggilku?" Rakuza bertanya ragu - ragu.


"Benar, tetaplah berada di dekatku, itu akan jauh lebih aman."


"Hm.. Baiklah Tuan Dirvaren."


Mereka berdua berbicara dengan suara pelan, sehingga tidak ada satupun orang yang dapat mendengarnya dengan jelas. Mereka hanya mengira, itu adalah sebuah pembicaraan antara tuan dan bawahan.


Kemudian, Ren bersama Rombongan Sang Raja memasuki Arena Colosseum.


Sementara itu....


"Hey! Ferlin, mengapa melamun seperti itu? Apa kau masih terpesona oleh pria tadi?"


Seorang wanita yang mengenakan pakaian Akademi Aulzania bertanya pada wanita disamping nya. Wanita itu juga mengenakan pakaian yang sama, yaitu pakaian Akademi Aulzania.


'Apakah ini mimpi...? Guru Ren benar - benar ada disini?!'


Wanita itu tidak menjawab temannya, melainkan hanya berteriak suka cita dalam hati.


*


*


*


*


*


*


'Aku pernah kesini sebelumnya, tapi tidak memperhatikan setiap seluk beluknya.'


Sambil berjalan, Ren memandangi setiap sudut dari Ruangan yang sekarang dia lewati. Meski dia pernah ke tempat ini sebelumnya, tetapi dia saat itu tidak sedikitpun memperhatikan tempat ini.


'Ini dinamai Colosseum, tapi sebenarnya sangat jauh dari apa yang aku ketahui.'


Jika dilihat sekilas, mungkin ini mirip seperti Colosseum yang sama dengan di bumi. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, banyak sekali perbedaan di dalamnya. Bahkan Ren sendiri tidak dapat menyebutkan semua perbedaan yang tempat ini miliki.


Ketika memikirkan hal ini, pikiran Ren tiba - tiba mengingat suatu hal yang ingin dia ketahui. Berhubungan dengan Turnamen Aulzania yang akan dilaksanakan hari ini.


"Raja Esdagius, aku sedikit bingung mengenai keseluruhan Turnamen ini. Maukah kau menjelaskannya untukku?"


"Hm..? Jadi anda belum mengetahui nya, baiklah saya akan menjelaskan hal ini. Turnamen Aulzania..."


Sebuah acara yang diadakan selama setahun sekali. Turnamen ini dijadikan sebagai kebiasaan secara turun - temurun dari para leluhur Kerajaan Aulzania ini. Tujuan dari Turnamen ini sendiri pada awalnya hanya sebagai Hiburan.


Tetapi, setelah Akademi Aulzania didirikan, Turnamen ini dijadikan tempat para Murid tahun terakhir menunjukan bakat mereka. Apabila mereka menunjukan sesuatu yang luar biasa, bukan tidak mungkin mereka akan diangkat menjadi seorang yang berkedudukan tinggi. Seperti halnya Penyihir Kerajaan, Ksatria Aulzania, Prajurit Elit ataupun yang lainnya.


"Meski begitu, sampai saat ini... Belum ada satupun anak yang benar - benar berbakat. Mereka paling tinggi hanya mencapai seorang Penyihir Kerajaan dan Ksatria Aulzania. Tidak ada satupun bibit unggul yang akan menjadi seorang Saint."


"Saint..? Apakah mereka selangka itu?" Ren bertanya pada Sang Raja.


"Tentu saja Tuan Dirvaren, Kerajaan kami tidak memiliki seorang pun dari mereka."


'Ah aku benar - benar lupa...'


Ren menyadari, bahwa di Kerajaan ini, seorang Swordsman bahkan disebut Ksatria. Seorang Assassin masih disebut sebagai Ksatria. Bahkan seorang yang menggunakan Sihir hanya disebut Penyihir. Berbeda dari Game, setiap kemampuan memiliki Gelar mereka sendiri.


'Mungkin aku akan menyarankan hal ini nanti...'


"Baiklah Raja Esdagius, bisakah kau melanjutkan penjelasan itu.?"


"Tentu..."


Turnamen Aulzania dibagi menjadi dua bagian yang berbeda. Bagian pertama merupakan Turnamen antara para Murid Akademi Aulzania. Lalu bagian Kedua untuk para penantang beradu kekuatan satu sama lain.


Para penantang yang telah menjadi juara akan diberikan hadiah oleh Sang Raja. Mereka juga akan ditawari untuk menjadi seorang Ksatria Aulzania.


Turnamen antara para penantang dilaksanakan terlebih dahulu. Sedangkan untuk para Murid akan dilaksanakan setelahnya. Waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan Turnamen ini setidaknya satu sampai dua hari, itulah yang dikatakan Raja Esdagius.


'Begitu, aku mengerti sekarang...' Ren bergumam mengerti setelah mendengar penjelasan dari Raja Esdagius.


Penjelasan panjang lebar dari Raja Esdagius membuat perjalanan menjadi terasa lebih singkat. Saat ini, Ren telah tiba di tempat yang dikhususkan untuk Keluarga Kerajaan yaitu The King's Area.


'Tempat ini diperbaiki dengan sangat cepat..' Ren memperhatikan Ruangan ini dengan seksama.


Tempat yang telah Rusak sebelumnya kini kembali seperti semula. Bahkan, tempat duduk bagi Keluarga Kerajaan kini telah bertambah, dari yang asalnya empat menjadi lima.


"Tuan Dirvaren, aku sengaja membuatkan tempat duduk ini untuk anda!" Raja tersenyum bangga, menunjukan sebuah tempat duduk yang tidak kalah bagusnya dari milik dia sendiri.

__ADS_1


Dengan sedikit perasaan aneh, Ren duduk di tempat itu. Dan lagi, posisi dirinya duduk entah mengapa berada di dekat Putri Sylna. Ren bertanya - tanya dalam hati, apakah ini semua perbuatan sengaja dari Sang Raja, atau murni hanya kebetulan semata. Tidak ada yang tahu tentang hal ini....


__ADS_2