Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Chapter 66 : Gelar Pahlawan


__ADS_3

Dalam Ruang Takhta Istana Kerajaan Aulzania, sebuah Karpet berwarna merah membentang lurus dari Pintu Masuk Ruang Takhta sampai dihadapan Singgasana. Sebutan mewah dan berkualitas sangat cocok untuk menggambarkan bagaimana keadaan Karpet merah besar ini. Dengan Dihiasi oleh Motif - Motif seperti benang yang saling terikat berwarna emas mengkilap, menambah kesan kemewahan nya.


Diatas Karpet merah yang membentang lurus tersebut, para Ksatria Aulzania berbaris. Membentuk dua buah Garis yang lurus di kedua sisi Karpet. Barisan mereka yang rapi membuktikan bahwa mereka adalah Ksatria yang terlatih.


Masing - masing dari Ksatria memegang sebuah Tombak yang dilengkapi oleh Bendera. Sebuah Lambang Kerajaan Aulzania terpampang dengan Jelas pada setiap Bendera yang ada. Bendera ini sendiri didominasi oleh Warna Biru Tua, dengan lambang Kerajaan Aulzania yang dijahit dengan Warna Emas mengkilap.


Pada bagian atas Ruang Takhta sendiri, terdapat sebuah Barang yang dapat digambarkan sebagai Alat Penerangan dari Ruang Takhta dikala malam telah tiba. Meskipun begitu, Barang ini cukup berbeda dari Lampu yang ada di Bumi. Barang ini lebih terlihat seperti Ornamen dari berbagai macam Kristal bersinar yang dirangkai menjadi sebuah Alat penerangan.


Sebagai Ruang Takhta yang memang dari awal sudah menjadi tempat yang megah. Keberadaan Alat Penerangan ini memperindah sekaligus mempercantik Ruang Takhta sendiri. Dapat dikatakan, mungkin ini adalah salah satu Hiasan terbaik yang ada di Ruang Takhta Kerajaan Aulzania.


Tidak cukup sampai disitu, beberapa orang yang mengenakan Pakaian mewah berdiam diri di belakang para Ksatria Aulzania. Mereka adalah para Bangsawan yang berasal dari Seluruh Kerajaan Aulzania ini. Keberadaan mereka membuktikan betapa penting nya acara yang akan diadakan disini.


Raja Esdagius, sebagai orang tertinggi yang memerintah seluruh daratan dan lautan Kerajaan Aulzania, dia duduk diatas singgasana dengan megahnya. Dirinya ditemani oleh Sang Ratu bersama dengan Kedua anaknya.


Semua orang yang hadir di Ruang Takhta ini terlihat sedang menunggu sesuatu. Terbukti dari Ekspresi Raja Esdagius yang terlihat mencemaskan sesuatu. Keheningan dalam Ruangan ini juga memperkuat Bukti tersebut.


Penantian mereka yang sudah cukup lama akhirnya terbayarkan. Pintu Masuk Ruang Takhta sendiri mulai bergerak dan mengeluarkan Suara. Mereka yang hadir disini seketika mengalihkan pandangan mereka pada Pintu Besar itu.


Secara perlahan, Pintu mulai terbuka semakin lebar. Keheningan yang ada dalam Ruang Takhta membuat Suara dari Pintu yang terbuka terdengar dengan Jelas. Setelah Pintu terbuka secara sepenuhnya, tampaklah beberapa orang disana.


Orang yang telah muncul dari balik Pintu berjumlah lima orang. Dengan dipimpin oleh seorang Pria Berambut Hitam dan Bermata merah menyala. Dia adalah Anryzel Dirvaren, bersama dengan para bawahannya.


Anryzel Dirvaren, sosoknya memimpin keempat orang lain yang ada di belakangnya. Meski terlihat tenang dan diam, ada sedikit keterkejutan pada Ekspresi Wajah yang Ren miliki. Mata dia yang melirik ke kiri dan kanan memperjelas keadaan dia saat ini yang sedang mencari tahu apa yang terjadi.


Setelah Pintu terbuka dan Ren memasuki Ruang Takhta, keheningan masih menyelimuti suasana. Bahkan untuk Sang Raja sendiri, dia hanya menatap penuh kecemasan pada Rombongan Ren yang berdiam diri dan mencerna situasi saat ini.


Menyadari apa yang dilakukannya saat ini membuat cemas seluruh orang yang hadir disini. Ren menghentikan tindakannya yang terlihat waspada dan memperhatikan sekitarnya itu. Ren memberikan sebuah Isyarat tangan untuk memberi tanda pada orang dibelakang nya. Isyarat itu sendiri mengandung arti bahwa mereka harus berjalan kembali.


Ren melanjutkan langkah diatas karpet merah yang mewah. Keempat orang itu juga dengan segera mengikuti langkah kaki Ren yang mulai berjalan kembali.


"Berikan Hormat kalian!"


Raja Esdagius meneriakan sebuah Kalimat secara tiba - tiba. Pada saat inilah, para Ksatria Aulzania membuat pergerakan yang cukup mengejutkan. Secara serempak, mereka berlutut dan memberikan Hormat pada Ren yang sedang berjalan.


Yang lebih mengejutkan dari semua ini adalah, para Bangsawan juga melakukan hal yang sama dengan Ksatria Aulzania. Mereka berlutut pada Ren tanpa memberikan Protes sedikitpun.


Rombongan Ren akhirnya tiba dihadapan singgasana. Secara langsung mereka menghadap pada Raja Esdagius dan Keluarga nya. Ren mencoba memastikan sesuatu dengan cara melihat ke kiri dan kanan. Setelah itu, Ren membalikan kembali tatapannya pada Raja Esdagius.


"Apa maksud dari semua ini?" Ren menatap tajam pada Raja Esdagius.


Dari Pernyataan nya ini, Ren jelas belum mengetahui apapun tentang ini. Maksud dari Raja Esdagius yang mengadakan acara besar ini dan apa sebenarnya Pahlawan yang dia bicarakan. Ren belum mengetahui semua itu sedikitpun.


Dibawah tatapan tajam dan tekanan yang dikeluarkan oleh Ren. Raja Esdagius menjadi pucat, dengan terburu - buru dia menjelaskan apa yang dia maksud dengan semua ini.


"M-Maafkan saya yang tidak memberitahu anda sebelumnya. Namun, saya berniat ingin memberikan sebuah Hadiah sekaligus kejutan untuk anda!"


Sikap Raja Esdagius yang sebelumnya bermartabat sekarang telah menghilang. Kecemasan, itulah yang sedang dia rasakan saat ini. Cemas akan kemarahan dan kemurkaan dari penyelamat Kerajaan nya.


Beruntung, setelah mendengar penjelasan dari Raja Esdagius. Ekspresi Ren sedikit melunak, sepertinya dia menerima semua alasan dan penjelasan yang diberikan oleh Sang Raja.


"Meski begitu Raja Esdagius, aku mengerti keinginanmu untuk membuat sebuah Kejutan. Namun, mengapa harus menjadi Pahlawan?"


Semua orang yang hadir disana kecuali Rombongan Ren saling memandang satu sama lainnya. Mereka seperti kebingungan atas pertanyaan Ren yang satu ini.


"Pahlawan adalah Gelar yang menurut kami paling cocok untuk anda! Pahlawan adalah seseorang yang begitu dihormati, dimanapun mereka berada, mereka selalu disanjung dan diperlakukan dengan sangat baik. Singkatnya, Pahlawan adalah Gelar tertinggi bagi seorang penyelamat!"


Raja Esdagius menjelaskan dengan semangat yang tinggi. Sikap nya ini sangat tidak cocok dengan penampilan dan usia nya yang terbilang sudah cukup tua. Meski begitu, tidak ada satupun dari orang yang hadir menertawakan sikapnya ini.


"Tunggu sebentar, kami katamu? Ini sedikit mencurigakan ...."


"A-Ahahahaha, yah ... Sebenarnya, kami semalaman mencari sebuah Gelar yang cocok untuk anda. Oh! Saya tahu, bagaimana jika anda yang memilih sendiri diantara Gelar yang telah kami kumpulkan?"

__ADS_1


Seketika, Ren langsung menatap aneh pada Raja Esdagius. Dalam benaknya, hanya ada pikiran betapa anehnya Raja Esdagius saat ini. Apa karena Raja Esdagius yang sangat berterima kasih? Atau karena Raja Esdagius yang sangat menghormati? Ren tidak tahu. Alasan mengapa Raja Esdagius dengan sendiri melakukan sesuatu yang merepotkan seperti mengumpulkan Gelar, Ren tidak tahu.


"Hm ... Aku tidak mengerti mengapa kalian melakukan hal yang merepotkan seperti itu ... Ya ampun, baiklah sebutkan semua Gelar itu, dan biarkan aku memilihnya."


Ren menyerah, jika saat ini dia masih menolak semua yang dilakukan oleh Raja Esdagius. Itu akan sangat tidak baik dan menghancurkan hubungan mereka. Maksudnya, Ren merasa kasihan dan tidak dapat menolak keinginan baik dari Raja Esdagius, lagipula semua ini tidak terlalu merugikan dirinya.


"Ehm! Terima kasih, Baiklah saya akan mengurutkan Gelar tersebut. Dimulai dari [Malaikat Penyelamat] [Penyihir Agung] [Ksatria Suci] [Malaikat Ketampanan] [Petapa Bijak] [Pembasmi Kegelapan] [Penyelamat Bersayap] [Ksatria Pedang tertinggi] [Pemusnah Naga] [Raja Kebijaksanaan] dan [Pahlawan]."


Seketika, Ekspresi Ren menjadi beku, dia sangat terkejut mendengar semua Gelar yang dikatakan oleh Raja Esdagius. Semua Gelar yang diberikan oleh Raja Esdagius sangat menjijikan dimata Ren.


Plak!


Ren menampar dahinya sendiri, dia tidak dapat mengerti, mengapa Raja Esdagius memberikan Gelar semacam itu pada dirinya.


"Ya ampun, ada apa dengan Gelar - Gelar itu? Apalagi [Malaikat Ketampanan], siapa yang menyarankan Gelar semacam itu padaku?!"


"Um ... Maafkan saya, tapi kami berjanji untuk tidak membeberkan siapa yang menyarankan Gelar - Gelar itu ...."


"Baiklah - Baiklah, aku menyerah, lebih baik aku menerima Gelar Pahlawan daripada yang lainnya. Tolong jauhkan aku dari Gelar [Malaikat ketampanan] ini."


"Maaf menyela Ren-sama, tapi saya Rasa semua Gelar itu cocok untuk anda." Nirlayn mengeluarkan suara.


Raja Esdagius dan Keluarganya serta beberapa orang yang hadir disana langsung menatap Nirlayn dengan mata yang berbinar.


Mereka tanpa sadar mengangguk dengan cepat menyetujui apa yang dikatakan oleh Nirlayn.


"Ha, Apa kau serius Nirlayn?"


Ren langsung berbalik pada Nirlayn dan menatapnya dengan tidak percaya. Sayang nya, Nirlayn mengangguk dan menghancurkan harapan Ren yang mengharap bahwa dia salah mendengarnya. Perasaan Ren semakin diliputi keanehan, saat Rusava dan Raytsa mengeluarkan pendapat mereka.


"Saya Rasa, semua Gelar itu cocok dan malah dirasa kurang untuk anda Yang Mulia." Ucap Raytsa.


"Mungkin, Gelar yang lebih tinggi sangat cocok untuk anda?" Ucap Rusava.


"Aku tidak mengerti lagi ...." Ren menggelengkan kepalanya.


"Cukup kalian semua, aku memilih Pahlawan saja. Itu lebih baik daripada Gelar yang lain."


Orang - orang dengan mata yang berbinar tadi langsung kehilangan semangat dan mengeluh. Keputusan Ren yang hanya memilih Gelar Pahlawan membuat perasaan mereka sedikit kecewa.


"Ya, Tenang semua! Ehm ....!"


Raja Esdagius akan memulai pidato yang telah disiapkan sebelumnya.


"Sebagai Raja Kerajaan Aulzania ini, aku selalu mengharapkan kedamaian dan kemakmuran bagi siapapun yang ada di Kerajaanku!"


"Maka dari itu, seseorang yang telah menyelamatkan kedamaian dan kemakmuran itu sangat berjasa bagi Kerajaan ini."


"Dengan Gagah berani, menyelamatkan seluruh Ibukota, dengan tanpa sedikitpun ketakutan, menghancurkan pengacau kota, dan tanpa belas kasihan, dia memusnahkan mereka."


"Meskipun tidak hanya seorang diri dalam menyelamatkan Kerajaan Aulzania ini, banyak dari para pemberani lainnya yang ikut membantu menyelamatkan Penduduk dari Kekacauan. Namun, dari besar nya pengorbanan, dialah yang terbesar dan paling berjasa."


"Atas perintahku sebagai Raja, aku ingin kalian para Ksatria dan Bangsawan yang ada disini menjadi saksi, akan lahirnya seorang Pahlawan."


"Dengan Otoritasku sebagai Raja, aku ingin kalian menyaksikan dengan seksama, seorang yang menjadi Pahlawan dari Kerajaan Aulzania ini. Mulai saat ini, Tuan Anryzel Dirvaren akan menjadi Pahlawan Kerajaan Aulzania untuk selamanya dan akan menjadi sejarah yang baru!"


Bruk! Bruk!


Para Ksatria Aulzania langsung berdiri dari posisi mereka berlutut. Mengacungkan Bendera Kerajaan Aulzania ke atas dengan serempak.


"Permintaan kami semua, mohon anda menerima Gelar ini dengan berbangga diri, apakah anda menerimanya Tuan Dirvaren?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus menjawab apa, namun aku tidak memiliki pilihan lain selain menerima Gelar ini."


Prok! Prok! Prok!


Para Bangsawan pun ikut berdiri dan mulai menepukan tangan mereka. Lahirnya seorang Pahlawan di Kerajaan mereka sudah lama tidak terjadi. Itu hanya ada dalam sejarah dan tidak pernah terdengar kembali untuk sekian lama.


"Dengan begini, sekarang anda telah menjadi Pahlawan Kerajaan kami Tuan Dirvaren."


Raja mengatakannya dengan bangga, sikapnya ini menunjukan seolah dia sendiri yang telah menerima Gelar ini.


"Haahhh ... Hari ini, aku mengeluh lebih banyak dari biasanya."


Ren sendiri tidak menyangka sedikitpun, bagaimana bisa dia yang awalnya berniat bekerja sama sekarang menjadi seorang Pahlawan. Ini melenceng dari tujuan dia sebenarnya untuk mencari kebenaran dari semua ini. Lagipula, Ren sama sekali tidak memiliki Niat sedikitpun menjadi Pahlawan.


'Sesuatu seperti Pahlawan seharusnya menjadi tugas dari Karakter Utama kan? Lagipula harusnya seorang Pahlawan memiliki sikap baik hati dan terpuji, tidak seperti diriku.'


Ren kembali memperhatikan suasana yang meriah disekitarnya. Hanya saat ini, Ren menyadari ada beberapa orang yang dia kenal di Ruangan ini. Beberapa orang itu diantaranya adalah Duke Fedel dan Keempat wanita yang dia temui bersama Kanza dua hari yang lalu. Di sebuah Pesta yang diadakan oleh Raja Esdagius sendiri.


Ini juga menjadi sebuah alasan mengapa Ren keheranan atas tindakan yang dilakukan Raja Esdagius. Baru beberapa hari Kerajaan dia mengalami kekacauan, dia langsung melakukan acara seperti ini. Belum lagi, beberapa hari kedepan, akan terjadi Invasi dari para Monster. Seharusnya Raja Esdagius membuat persiapan untuk hal itu.


'Oh, terserah lah.'


Ren menyerah memikirkan semua ini, lagipula dia berpikir bahwa yang mengetahui Gelar ini hanya para Bangsawan ini. Orang - orang diluar sana belum mengetahui dengan pasti seperti apa wajahnya. Ren juga bisa menggunakan penyamaran saat berjalan - jalan walaupun itu cukup merepotkan dirinya.


'Tidak mungkin mereka mengumumkan ciri diriku kan? Aku berharap mereka tidak melakukannya.'


*


*


*


*


*


*


"Nona, saya mendapat informasi bahwa keadaan semakin kacau."


Dalam Kereta Kuda yang tidak dapat dikatakan mewah sedikitpun, seorang lelaki yang mengenakan Jubah berkata pada seseorang di sebelahnya.


"Aku tahu itu, apakah tidak ada cara lain selain meminta pertolongan?" Suara lembut dari seorang Perempuan keluar dari orang berjubah di sebelah lelaki itu.


"Sayang sekali Nona, tidak mungkin. Saya sangat menyesal akan ketidakmampuan saya ini."


"Tidak apa, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Ini semua juga karena keegoisan diriku."


"Anda tidak perlu berkata seperti itu Nona. Sudah sepantasnya anda mempunyai hak untuk memilih sesuatu."


"Benarkah itu? Aku mulai meragukannya saat ini ...."


"Nona ... Oh, sepertinya kita hampir tiba Nona. Lihat, ada Gunung yang menjadi tanda disana."


"Hm? Kau yakin itu Gunung nya?"


"Saya sangat meyakini hal tersebut Nona."


"Um. Um. Itu lebih baik jika kita lebih cepat."


" Ya, Nona."

__ADS_1


Kereta Kuda yang mereka tumpangi sedang berjalan di sebuah Padang Rumput yang terbuka. Itulah mengapa mereka bisa melihat Gunung yang berada cukup jauh. Berdasarkan dari arah yang ditempuh oleh mereka, saat ini mereka berdua sedang menuju ...


Kota Aulzania.


__ADS_2