
Tanpa diberi kesempatan untuk Menghela Napas, lagi - lagi Ren terkagum oleh Sikap Wanita itu yang selalu berubah. Ren bahkan tidak bisa membalas Pertanyaan Wanita itu, dia tidak memiliki apapun yang dapat dikatakan lagi.
Meskipun Ren diam karena dia terkagum, namun sepertinya Wanita itu tidak menganggapnya begitu. Wanita itu, menganggap Ren yang diam sebagai Bentuk Jawaban Negatif yang mengartikan bahwa Ren adalah Musuh.
Tanpa memberitahu, dia langsung bergerak cepat dan menghilang dari Pandangan. Wanita itu mungkin Menghilang dari Pandangan orang biasa tetapi tidak untuk Ren. Ren melihat dia yang bergerak lambat ke arah Punggungnya dengan Jelas. Akan tetapi, Ren sama sekali tidak memiliki Niatan untuk menghindar. Disaat ini pula, sebuah Rencana Buruk terbesit di Kepala Ren.
"Berhenti bergerak ... Atau kau akan kehilangan Nyawa." Bisik Wanita itu dengan dingin.
Dia menodongkan Jari Telunjuknya pada Leher Ren dari Arah belakang. Dapat dengan Jelas terlihat sesuatu yang bersinar menyelimuti Jari Wanita itu. Mungkin itu adalah sesuatu yang dapat mengubah Jari dia menjadi lebih Tajam atau semacamnya.
Ren hanya diam, Tubuhnya sedikit bergetar karena Ketakutan. Ren bahkan tidak berani untuk berbalik maupun bergerak, dia hanya menunggu apa yang dikatakan oleh Wanita itu selanjutnya.
"Bagus ... Sekarang, lepas Topengmu itu, mungkin kau dapat mengelabui Keturunan Kami tapi tidak untukku."
Sesuai yang diperintahkan, Ren dengan terpaksa melepas Topengnya secara Perlahan. Menampakan seluruh Wajahnya tanpa terkecuali. Meski begitu, Wanita itu masih belum melihat Wajah Ren karena dia ada dibelakang Ren sendiri.
"Sekarang ... Katakan siapa dan mengapa kau menyamar?"
Pertanyaan ini sedikit membuat Ren kebingungan untuk menjawab. Apakah dia harus berkata Jujur atau Berbohong. Akan tetapi pada akhirnya, Ren memutuskan untuk berkata Jujur karena dia ... Ketakutan.
"Aku menyamar karena Takut terlibat dengan Hal yang merepotkan." Ucap Ren.
Tidak disangka, perkataan Jujurnya malah membuat Wanita itu semakin Curiga. Sebuah Perasaan menyakitkan Ren Rasakan pada Bagian Tengkuknya.
"Jangan mencoba untuk menipu, kau tahu? Nyawamu ada ditanganku saat ini."
Ren tersentak mendengar perkataan Wanita itu, seketika Tubuhnya bergetar Hebat. Ren merasakan Ketakutan, Keputusasaan dan Kepasrahan yang Luar Biasa. Dengan Nada yang ketakutan, Ren berusaha Menjawab sebisa mungkin.
"Ma-Maafkan aku ... Tapi aku sudah berkata dengan Jujur."
"Jangan sekali - kali berbohong, di Dunia ini hanya ada segelintir orang yang mengetahui para [Continents Holder]. Namun dirimu, bahkan berpura - pura menjadi salah satu dari mereka."
Sepatah Kisah telah diketahui, dan itu membuat Ren menghentikan segala macam Sandiwara yang dia lakukan. Meski Sandiwara ini hanya untuk beberapa Waktu, namun Ren merasa bahwa semua itu telah cukup. Wanita itu yang mengaku bahwa dia mengetahui sesuatu tentang [Continents Holder] lebih dari cukup sebagai Alasan.
"Hahahaha, darimana keyakinanmu itu berasal?" Bahu Ren bergetar karena Tertawa.
Wanita itu langsung merasakan keterkejutan yang Luar Biasa atas perubahan sikap Ren yang sangat berbeda. Akan tetapi, suatu Hal yang lucu dari semua ini adalah dia sendiri, dia tidak menyadari kalau dirinya juga bersikap seperti ini sebelumnya.
"Jangan bergerak! Atau kau akan Mati!" Teriak Wanita itu dengan Tangan Gemetar.
Sangat Jelas terlihat bahwa Wanita itu mulai merasakan sedikit Panik. Dia dengan Lucunya menggertak pada Ren dengan Tangan yang Gemetar. Lalu ada Satu Kesalahan yang telah dia tunjukan ketika berada dalam Pertempuran, dan itu adalah Kehilangan Ketenangan. Andai Ren memang berniat untuk benar - benar berbuat Jahat, dia dapat memanfaatkan Kegelisahan Wanita itu dengan Mudah.
"Bukankah aku bertanya? Darimana keyakinanmu berasal." Ren berkata lalu melirik sedikit ke arah Wanita itu dengan Mata Merahnya, "Darimana kau yakin bahwa aku bukanlah seorang [Continents Holder]?"
Deg!
Sekali lagi, Jantung Wanita itu Berdetak seakan tersambar oleh Petir. Perkataan Ren barusan membuat sebuah Ekspresi yang Rumit di Wajahnya, Ekspresi Pucat yang dengan Jelas mengatakan "Apakah aku salah ...?"
Namun dia tidak tahu, apa yang sebenarnya direncanakan oleh Ren. Dia tidak mengetahui, bahwa Ren dengan sengaja berkata begitu untuk memancing dia berpikir seperti itu. Memang terkadang, Otak Ren tiba - tiba menjadi Cerdas dan Cerdik disaat - saat tertentu.
Merasa Wanita itu sudah masuk ke dalam Perangkap miliknya. Ren tidak ingin membuang kesempatan ini dan mulai melakukan Tindakan Lanjutan.
"Hm, menyedihkan."
__ADS_1
Setelah berkata, Ren secara perlahan berbalik pada Wanita itu yang masih dalam Keadaan Kebingungan. Aura Merah Darah dengan sengaja ia keluarkan bersamaan dengan Kedua Mata Merah yang menyala, membuat Intimidasi dan Tekanan yang dirasakan oleh Wanita itu begitu Besar sampai tidak bisa membuatnya Bernapas dengan benar.
"J-Jadi ..." Wanita itu bergetar Hebat, dia perlahan - lahan melangkah Mundur menjauh dari Ren. Lalu masih dengan wajah ketakutan, dia melanjutkan perkataannya, " ... A-Anda m-memang seorang [Continents Holder]?"
"Ha ... Hahahaha!" Ren tertawa dengan Keras layaknya seorang Iblis, membuat Wanita itu semakin Berwajah Pucat karena Ketakutan.
Tanpa membiarkan sedikitpun Kesempatan yang ada, Ren dengan cepat menggambar sebuah Simbol di Udara. Simbol ini merupakan Simbol yang dia gunakan dalam Game COTHENIC sebagai Identitas dirinya. Dengan Kata lain, Simbol ini memiliki arti bahwa itu adalah Ren sendiri.
"Begitu menyedihkan! Kalian bahkan dapat melupakan diriku yang merupakan seorang Pemimpin dari para [Continents Holder]. Siapa yang membuat kalian lupa, aku akan mencarinya. Dia telah berani, membuat diriku yang hebat ini dilupakan!"
Ren mengatakannya dengan semangat yang menggebu - gebu, sementara untuk Wanita itu sendiri Keberadaannya semakin menciut bahkan Hampir menjadi tidak ada. Begitu ketakutan ia sampai terasa mengecilkan diri sendiri.
"Tanamkan Simbol ini dalam Jiwamu, Simbol dari [The Blood Monarch] Anryzel Dirvaren." Ren memperjelas Simbol yang dia Ciptakan di Udara agar dapat dilihat dengan baik oleh Wanita itu. Simbol Unik yang Berwarna Merah Darah, sesuai dengan Julukannya [The Blood Monarch].
Wanita itu yang dihadapkan dengan Keberadaan yang Luar Biasa merasakan berbagai macam Perasaan. Perasaan Ketakutan, Perasaan Tidak Berguna, Perasaan Menyesal, dan Perasaan - Perasaan buruk lainnya.
Begitu Besar Perasaan itu sampai dia tidak menyadari Air Mata menetes dari Kedua Matanya. Seketika, dia Ambruk dan Berlutut pada Ren dengan sungguh - sungguh.
"M-Maafkan saya ... M-Maafkan saya."
Wanita itu terus mengulangi Permintaan Maaf dengan sungguh - sungguh. Ketulusannya dalam meminta maaf dapat terlihat dari Air Mata yang dia keluarkan. Begitu Deras dan tidak terlihat Palsu sama sekali.
"Maafkan saya ... Karena tidak dapat mengingat anda ..."
"Saya merasa begitu tidak berguna ..." Secara tiba - tiba Tangan Wanita itu Bersinar seperti sebelumnya. Ren merasakan sesuatu yang buruk dari Hal ini. Lalu Kemudian, perkiraan Ren terbukti Benar, Wanita itu dengan cepat menggerakan Tangan yang Bersinar itu sambil berkata, " ... Saya layak Mati disini!" dan mengarahkan Tangan yang dipertajam pada Lehernya.
Begitu Jarak antara Tangan dan Leher Wanita itu hanya tersisa sedikit, Dunia menjadi lambat. Tepatnya, dalam Pandangan Ren segala Hal yang ada di Dunia diperlambat.
"Ya ampun, kesalahanku, aku tidak berpikir kebohonganku akan menyebabkan dia bunuh diri." Ren memegang Kepala dan terlihat bermasalah.
"A-Apa yang anda ..." Wanita itu berhenti berkata ketika Jari Telunjuk Ren menyentuh Bibirnya. Meskipun dalam Keadaan seperti ini, Perbuatan Ren tetap saja membuat Pipi dari Wanita itu memerah.
"Jika kau Bunuh Diri, maka aku akan merasa lebih terhina. Jangan membuatku Kecewa, kau adalah satu - satunya orang di Dunia yang Pertama diberitahu siapa sebenarnya diriku ini."
Ren menghirup Napas kemudian melanjutkan kembali perkataannya ...
"Tunjukan Telapak Tanganmu ..."
Wanita itu dengan Perlahan menunjukan Telapak Tangannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Ren. Meski dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Ren, namun entah mengapa dia menurut saja pada Ren. Seakan - akan, dia telah diberikan sebuah Ilusi untuk menuruti segala keinginan Ren. Tetapi, dia juga mengetahui bahwa itu tidak benar.
"Mulai saat ini kau adalah Milikku (Bawahanku)." Ucap Ren sambil menuliskan sebuah Simbol dirinya di Telapak Tangan Wanita itu.
Ren belum melepaskan Tangan Wanita itu, dia belum selesai mengatakan semua Hal yang dia ingin katakan. Tentu tidak lucu ketika Ren melepaskan Tangan Wanita itu, dan dia mencoba Bunuh Diri kembali.
"Bernjanjilah padaku, untuk tetap Hidup." Ucap Ren dengan senyuman tulus yang dapat membuat Hati Wanita luluh seketika.
Air Mata kembali Keluar dari Kedua Mata Wanita itu dengan Derasnya. Kemudian, dia menggenggam Simbol milik Ren dengan Kedua Tangan seraya mendekapnya. Lalu Dia mengangguk bersungguh - sungguh, membuktikan bahwa dia setuju dengan apa yang Ren katakan.
"Bagus ..." Ren beranjak bangun dari Posisinya, kemudian dia kembali bertanya, "Siapa Namamu?"
"Eh?" Wanita itu mendongak ke atas sebagai bentuk Tanggapan untuk Pertanyaan Ren. Namun kali ini dia tidak curiga, dia segera mengusap Air Mata dan Beranjak Bangun juga. Dengan senyum merekah bagaikan Bunga dia menjawab, "Saya adalah Arystina Myziri, Roh tertua di Shade of Spirits ini."
Pada akhirnya segala macam bentuk Pertanyaan Ren terbukti tidak berguna. Tanpa ditanyakan, Wanita itu ... Menjawab dengan sendirinya.
__ADS_1
* * *
* * *
* * *
Dalam COTHENIC ada sebuah Ras yang memiliki Tubuh Semi-Transparan. Mereka memiliki Bentuk yang serupa seperti Manusia namun dengan tubuh yang Semi-Transparan. Sesuatu yang Unik dari mereka adalah cara mereka bergerak, mereka bergerak dengan Cara sedikit Melayang diatas Tanah layaknya sebuah Hantu dalam Dongeng.
Ras ini merupakan Satu dari Sembilan Ras Utama yang ada di COTHENIC, Mereka adalah Ras Roh.
Ren sendiri mengingat Hal ini dengan baik, seperti ciri - ciri mereka. Lalu bagaimana cara mereka berjalan, Ren mengingat semua Hal tentang Ras Roh yang ada di COTHENIC. Lalu mengapa saat ini dia merasa terbodohi? Itu karena Dua orang Ras Roh yang ada dihadapannya begitu berbeda dari apa yang digambarkan dalam COTHENIC.
Segala macam Hal tentang mereka tidak berbeda dari Manusia. Bahkan cara mereka berjalan sama dengan Manusia yaitu menggunakan Kedua Kakinya. Tubuh mereka pun sama sekali tidak Semi-Transparan.
Ketika memikirkan Hal ini lebih Jauh, Ren merasa menjadi orang yang paling Bodoh di Dunia. Karena meskipun sudah berpindah Dunia, dia masih terpaku pada Dunia COTHENIC yang masih belum pasti.
Dihadapan Dua Roh yang sedang duduk memperhatikannya, Ren selalu menghela Napas karena Kecewa. Meskipun Dua Roh itu memandangi Ren dengan Wajah yang bermasalah, namun Ren belum dapat mempedulikan mereka untuk sementara Waktu.
Dua Roh itu adalah Arystina Myziri bersama dengan Aurlin yang duduk berdampingan dihadapan Ren. Mereka berada di sebuah Ruangan tempat para Roh berdiskusi di Bangunan milik Arystina Myziri.
Berdasarkan Penjelasan dari Arystina Myziri pada Ren sebelumnya, dia mengatakan kalau Aurlin adalah Roh tertua Kedua setelah dirinya. Namun meski begitu, Usia mereka terpaut Jauh satu sama lain. Lalu setelah itu, Arystina Myziri juga menyebutkan Nama dari Pohon Raksasa, [Shade of Spirits].
"Ah, maafkan aku karena telah membuat kalian menunggu. Jadi Arystina, kau sudah mengetahui diriku mendekat ke arah Pohon ini beberapa Waktu lalu?" Ren berhenti untuk terlarut dalam Pemikirannya sendiri dan bertanya.
Sedikit Informasi, Aurlin telah diberitahu oleh Arystina tentang siapa Ren sebenarnya. Meski itu tidak sedetail seperti yang asli, namun secara Garis Besar Aurlin telah mengetahuinya.
Itulah mengapa Aurlin bisa disini bersama dengan Ren dan Arystina Myziri. Untuk berjaga - jaga, Ren telah mengikat sebuah Kontrak agar Aurlin tidak mengatakan apapun soal dirinya kepada orang yang tidak diketahui.
"Sekali lagi Yang Mulia, saya adalah Roh Hutan yang dapat mengendalikan hampir seluruh Tumbuhan yang ada di Hutan ini. Mereka dapat memberi saya Informasi terkait apa yang terjadi disekitar mereka (Tumbuhan)." Jelas Arystina.
Menuruti apa yang dikatakan oleh Arystina, sepertinya para Roh memiliki Karakteristik tertentu begitu mereka dilahirkan. Seperti Halnya Arystina yang merupakan Roh Hutan, dan Aurlin yang merupakan Roh Air. Namun, bukan berarti Roh yang dilahirkan dengan Karakteristik Element Air seperti Aurlin langsung dapat mengendalikan Air sesuka Hati. Tetap ada batasan yang harus mereka lewati untuk dapat mengendalikan Air dengan bebas.
Lalu, kemampuan mereka dalam mengendalikan Karakteristik itulah yang dijadikan sebagai Patokan seberapa Kuat mereka.
Meskipun ini sedikit melenceng dari Topik, tapi ada satu Hal yang membuat Ren bertanya - tanya dalam Hati. Pertanyaan itu adalah, Bagaimana mereka dapat melahirkan sedangkan Lelaki saja tidak ada? Namun Ren berusaha mengabaikan Hal ini untuk sekarang. Mungkin dia akan bertanya, di lain waktu.
"Aku mengerti, itu berarti kau mengetahui ada sebuah Kerajaan di dekat Hutan ini yang selalu di Invasi oleh para Monster setiap Tahunnya?"
"Bisa dikatakan seperti itu Yang Mulia."
"Baiklah, lalu kau mengetahui juga ada Tiga Makhluk Hitam yang keluar dari Portal Dimensi kan?" Ren bertaruh untuk pertanyaan kali ini.
"Saya mengetahui tentang mereka hanya sedikit Yang Mulia. Mungkin anda akan kecewa ketika mengetahui betapa sedikitnya Pengetahuan saya tentang mereka."
Ada sedikit Ketidak Percayaan diri ketika Arystina Myziri mengatakan Hal itu. Mungkin karena dia menyangka bahwa Pengetahuan Ren tentang mereka lebih besar dari dirinya? Untuk sekarang tidak ada yang dapat memastikan Hal ini.
Sementara Ren yang mendengar Jawaban ini dari Arystina memasang Ekspresi seolah dia telah menebak semua ini. Dengan percaya diri Ren berkata, "Aku hanya ingin tahu seberapa Luas Wawasanmu tentang mereka."
Senyum Licik muncul di Wajah Ren, namun tidak ada seorangpun dari Arystina maupun Aurlin yang menyadari Hal ini. Aurlin hanya diam memperhatikan sedangkan Arystina bersiap untuk menjawab.
"Ini adalah Pengetahuan Umum di Masa itu, mereka adalah para pasukan ..."
______
__ADS_1
*Catatan Author : Kalo ada Typo atau Kalimat yang tidak jelas saya mohon langsung beritahu saya. Soalnya, saya belum sempet baca dua kali dan meminimalisir Typo pada Chapter ini. Terima Kasih.
Dukungan Kalian menyemangati saya*....