Crown Of The Nine Continents

Crown Of The Nine Continents
Bloods 9 - Sepertinya Masalah Terus Datang?


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan manajer cabang, Anryzel mendapati pelayan tadi masih dalam keadaan terpuruk. Hal yang terlihat dari wajah pelayan tersebut hanya ketakutan dan keputusasaan. Membuat Anryzel merasa kasihan karena seorang gadis kecil seperti pelayan itu harus mengalami nasib yang sial.


"Jangan khawatir, manajer tidak akan marah," ujar Anryzel.


Anryzel tetaplah Anryzel, meskipun dalam perasaan kasihan, tapi sikapnya masih dingin dan tampak tidak peduli. Bahkan saat berusaha menenangkan pelayan itu dengan perkataan, Anryzel langsung meninggalkan pelayan itu ditempat tanpa mengatakan hal yang lain.


Setibanya di luar perusahaan Byurlin, Anryzel merasa bingung dengan tujuan selanjutnya. Sekarang dia merasa butuh istirahat, tapi di saat yang sama dirinya merasa ingin memakan sesuatu. Oleh karena itu, Anryzel memutuskan untuk mencari makanan terlebih dulu sebelum mencari tempat tinggal.


"Makanan dunia ini, apakah sama dengan di Bumi?" Anryzel bertanya-tanya dalam hati.


Anryzel bergerak menyusuri jalanan Kota Ceeven seraya berharap menemukan sebuah tempat yang menjual makanan. Namun setelah berkeliling cukup lama, dirinya hanya menemukan sebuah toko pinggir jalan yang menjual satu jenis makanan berupa daging panggang. Aroma yang dikeluarkan oleh daging panggang itu cukup menggoda, sehingga Anryzel memutuskan untuk mampir dan bertanya-tanya.


Penjual daging panggang itu adalah seorang wanita tua, dari penampilan memang sedikit lusuh, tapi sorot mata yang sayu membuatnya terlihat seperti seseorang yang baik dan ramah.


"Berapa harganya?" tanya Anryzel spontan.


Wanita tua itu memerhatikan Anryzel dengan seksama, dari atas kepala hingga ujung kaki. Wanita tua itu merasa sedikit ragu dan curiga, karena seseorang yang terlihat seperti bangsawan datang ke tempatnya yang lusuh.


"Satu koin tembaga untuk sekerat dagingnya, Tuan."


Anryzel mengerutkan dahi, sebenarnya dia tidak tahu seberapa besar satu koin tembaga itu. Lagipula saat ini, dia tidak memiliki koin lain selain koin emas yang diberikan oleh Rezhuan sebagai hasil dari penjualan liontin.


"Begitu. Apa nenek menerima pembayaran dengan koin emas?" tanya Anryzel dengan tak acuh.


Mendengar hal itu membuat wanita tua terkejut bukan main. Tidak ada yang salah dengan pembayaran menggunakan koin emas, tetapi untuk mengembalikan sisa uangnya, wanita tua butuh waktu selama tiga bulan untuk mengumpulkannya.


"Maaf, saya tidak memiliki koin sebanyak itu untuk dijadikan kembalian, Tuan. Apa Tuan tidak memiliki koin yang bernilai lebih kecil?" ungkap wanita tua tersebut.


Anryzel memegang dagu seraya berpikir, "Apakah koin emas bernilai setinggi itu? Baiklah, aku tidak memiliki koin yang lebih kecil, lantas bagaimana caraku mendapat sekerat daging ini?"


Setelah berpikir cukup lama, Anryzel akhirnya menemukan strategi yang cocok untuk digunakan sebagai cara mendapatkan sekerat daging tanpa harus mengeluarkan koin emas.


"Nenek, aku sedang membutuhkan sekerat daging ini untuk mengisi tenaga. Aku telah berputar-putar cukup lama tapi hanya menemukan tempat ini yang menjual makanan. Begini saja, karena aku hanya memiliki koin emas, dan nenek sendiri tidak memiliki cukup koin untuk kembalian, bagaimana jika nenek memberikan sekerat daging ini untukku? Aku berjanji suatu saat akan membayarnya. Atau jika nenek merasa tidak percaya, bagaimana jika aku melakukan satu hal sebagai bayaran atas sekerat daging ini?" terang Anryzel.


Wanita tua itu menyimak penjelasan Anryzel dengan mata yang sedikit terbuka. Jujur saja ini pertama kalinya dalam seumur hidup, ada seorang bangsawan yang meminta sekerat daging secara baik-baik. Biasanya, bangsawan seperti mereka datang dengan kekerasan, lalu meminta dengan paksaan, bahkan jika tidak meminta, mereka akan membayar dengan penuh penghinaan.


"Tuan, saya terenyuh dengan kata-katamu. Jika Tuan merasa lapar, maka ambil saja sekerat daging ini secara gratis. Saya tidak bisa mengambil keuntungan apapun dari seorang bangsawan yang baik seperti Anda."


"Eh?" Anryzel terkejut.


Meskipun kalimat itu telah dipikirkannya secara matang, tapi Anryzel tidak berharap semuanya akan berjalan sangat lancar. Minimal, Anryzel mengira bahwa wanita tua itu akan menyuruhnya melakukan sesuatu sebagai bayarannya.


"Begitu? Nenek sangat baik. Kalau begitu aku akan mengambilnya dengan senang hati."


Anryzel mengambil sekerat daging yang masih dalam keadaan dipanggang menggunakan tangannya. Daging itu tidak dapat dipungkiri sangat panas, tapi Anryzel bersikap seolah-olah rasa panas itu tidak ada.


Sontak hal tersebut membuat wanita tua itu meringis karena mengira bahwa Anryzel terlalu ceroboh. Namun saat Anryzel memasukkan sekerat daging itu pada mulutnya, dan berkata bahwa daging panggang itu enak, wanita tua hanya tersenyum lembut.


"Tuan, darimana Anda berasal?" tanya wanita tua.


Anryzel mengunyah daging itu secara perlahan dan benar-benar meresapi rasanya. Tekstur dan rasa daging itu benar-benar unik, seperti bukan daging yang berasal dari hewan di bumi. Meski begitu, Anryzel masih memperhatikan pertanyaan dari wanita tua lalu menjawabnya dengan halus.


"Ah soal itu, aku berasal dari negeri yang jauh. Karena beberapa alasan aku tidak bisa mengatakannya dengan spesifik. Ngomong-ngomong, daging apa ini Nek?" tanya Anryzel penasaran.


Wanita tua itu tersenyum dan berkata, "Saya mengerti. Itu berasal dari daging Lembu Hutan, teksturnya memang agak kasar, tapi rasanya memang enak."


Anryzel mengangguk-angguk lalu menelan habis daging panggan yang dimakannya. Ukurannya tidak terlalu besar, tapi sudah lumayan sebagai pengganjal lapar. Karena rasanya yang enak dan sekerat saja terasa belum cukup, Anryzel mulai berubah pikiran.

__ADS_1


"Sudah kuputuskan!" seru Anryzel mengejutkan wanita tua.


"Ada apa, Tuan?" tanya wanita tua sedikit khawatir.


"Nek, aku akan membeli semua daging ini dengan harga satu koin emas. Anggap saja ini adalah harga atas kebaikanmu yang mau memberikanku sekerat daging."


Wanita tua itu tersentak kaget, lalu menggelengkan kepala dengan intens. "Tidak, tidak, tidak! Tuan tidak perlu sungkan, saya tidak bisa menerima koin sebesar itu!"


"Jika Nenek memang menghormatiku, seharusnya tidak ada kata menolak. Lagipula aku masih memiliki banyak koin, Nenek tenang saja!" seru Anryzel dengan tegas.


Namun bukan itu yang dimaksud oleh wanita tua. Wanita tua mulai berpikir, meskipun bangsawan dihadapannya ini baik, tapi sifat dasar mereka yang suka menghambur-hamburkan uang tetap sama.


Meski dengan keraguan dan sedikit enggan, wanita tua itu terpaksa mengangguk sambil berbicara, "Kalau begitu, terima kasih banyak, Tuan."


Anryzel memberikan satu koin emas kepada wanita tua, sedangkan wanita tua memberikan daging panggang yang tersisa kepada Anryzel. Dua puluh daging panggang ditaruh dalam sebuah daun unik berbentuk kerucut, karena terlihat aman maka Anryzel menerimanya dengan sukarela.


"Oke, terima kasih dagingnya. Aku pergi dulu, semoga Nenek selalu sehat dan bahagia! Sampai jumpa, Nek!" seru Anryzel seraya pergi membawa sejumlah daging panggang yang banyak.


Anryzel merasa suasana hatinya sedang baik. Bertemu dengan seorang wanita tua yang baik hati juga berperan dalam memperbaiki suasana hatinya.


"Daging lembu hutan ya? Nenek itu, dia benar-benar pandai dalam memanggang!"


Memakan sepuluh kerat daging seraya berjalan sudah cukup mengenyangkan perut Anryzel. Sekarang di dalam daun kerucut itu masih tersisa sepuluh kerat daging, bagaimana dia menghabiskannya?


"Ah, mungkin aku berikan saja pada orang lain?" Anryzel berkata sambil mencari orang yang terlihat membutuhkan.


Pandangan Anryzel terkunci pada seorang pria yang sedang bekerja. Pria itu tampak kelelahan karena masih bekerja walaupun sudah larut malam.


"Maaf, apa kau mau daging panggang? Tenang saja, ini masih baru."


Pria itu tersentak dan bersikap waspada. Namun pandangannya tertuju pada daun kerucut berisi daging panggang yang mengeluarkan aroma menggoda.


Anryzel menaruh daun kerucut berisi daging panggang di dekat pria tersebut, kemudian berjalan pergi meninggalkannya. Karena hari sudah malam, dirinya pun memutuskan untuk mencari penginapan.


Mencari penginapan di tempat asing tentu tidak mudah. Anryzel harus berkeliling menyusuri sudut demi sudut perkotaan demi menemukan tempat yang cocok. Namun perjalanan itu secara tak sengaja malah membawa Anryzel menuju kawasan mewah.


Mengapa disebut kawasan mewah? Karena tempat ini dipenuhi bangunan dan toko yang berkualitas dan mewah. Jika dibandingkan dengan beberapa tempat yang pernah Anryzel kunjungi di Kota Ceeven, sepertinya ini adalah kawasan elit tempat para bangsawan dan orang terpandang berbelanja.


"Hm, aku merasakan firasat buruk."


Setelah Anryzel berkata demikian, hal buruk benar-benar terjadi. Seseorang tanpa sengaja menabrak Anryzel dari arah yang berlawanan hingga membuat orang itu terjatuh. Anryzel merasa heran, mengapa ada orang yang menabraknya padahal sosoknya jelas dan dia berjalan secara hati-hati.


"Eh?" Anryzel tersentak saat melihat orang yang terjatuh.


Firasatnya memang tidak salah karena dia bertemu dengan sesuatu yang buruk. Mengapa dan bagaimana bisa, saat ini dalam keadaan seperti ini dia bertemu dengan mereka bertiga?


"Oryna, apa kamu baik-baik saja?" Mirina bergegas membantu Oryna untuk bangkit.


"Ya, hanya sedikit tergores," balas Oryna.


Satu lagi teman mereka yang bernama Etheria tidak memerhatikan kondisi Oryna, melainkan menghampiri Anryzel kemudian langsung menunjuknya dengan jari.


"Hei, seorang wanita terjatuh di hadapanmu, mengapa kau diam saja?"


Anryzel menatap dengan tatapan bingung, "Hah? Mengapa jadi aku yang bersalah di sini?"


Etheria semakin marah, dan tentu hal tersebut adalah sikap yang tidak masuk akal di mata Anryzel.

__ADS_1


"Masih membela diri sendiri? Dasar laki-laki tidak punya nurani!" seru Etheria menarik perhatian orang-orang sekitar.


Oryna dan Mirina yang menyadari temannya mulai berulah segera menghampiri dan menarik Etheria ke belakang mereka. Kedua orang itu sadar, pada kasus kali ini mereka lah yang salah.


"Sstt! Jangan berbicara lagi, Etheria!" tegur Mirina pelan.


Oryna mengambil alih pembicaraan. Dia menghadap pada Anryzel seraya sedikit membungkuk, lalu mengatakan permintaan maaf.


"Maaf atas perkataan temanku, dia memang memiliki sikap yang aneh. Maaf juga atas kecerobohanku karena telah menabrakmu," ucap Oryna dengan halus dan sopan.


Oryna sadar bahwa Anryzel memiliki penampilan yang sangat baik. Jika bukan seorang bangsawan maka dia adalah seseorang yang terpandang. Akan menjadi gawat jika reputasi mereka sebagai Red Orchid tercemar karena berperilaku buruk terhadap orang terpandang.


"Aku mengerti, sikap temanmu masih bisa dimaklumi. Hanya saja, aku berharap tidak akan bertemu dengan kalian lagi," ujar Anryzel seraya beranjak pergi melewati Oryna dan kedua temannya.


Anryzel merasa bersyukur mereka tidak menyadarinya. Oleh karena itu, sebagai antisipasi dia memutuskan untuk segera pergi tanpa melakukan basa-basi. Lagipula dia merasa cukup lelah, ingin segera menemukan penginapan dan beristirahat dengan nyaman.


Sedangkan di belakang, Oryna, Mirina, dan Etheria termenung dalam diam. Sejak kapan mereka begitu mudah diabaikan? Mengesampingkan status sebagai ksatria aulzania, mereka merasa bahwa dalam hal penampilan, mereka cukup percaya diri sebagai wanita.


"Eh, kita diabaikan?" tanya Oryna.


"Kurasa begitu," balas Mirina.


"Sudah kuduga, dia memang lelaki yang menyebalkan!" seru Etheria menimpali.


Oryna memegang dagu, dan terpikirkan sebuah rencana yang cukup menyenangkan. "Hei, bagaimana jika kita memberinya sedikit pelajaran karena berani mengabaikan kita?"


Mirina dengan tegas menjawab, "Setuju. Bangsawan muda seperti dia biasanya hanya mengandalkan status dan rupa, tapi secara mental mereka sangat pengecut."


Etheria menimpali, "Ide bagus. Ayo kita beri dia pelajaran!"


Ketiga orang itu pun tersenyum licik, tanpa menghiraukan pandangan sekitar yang tertuju pada mereka. Dengan cepat, mereka menghilang dari tempat itu demi menyusul Anryzel yang telah mengabaikan mereka.


Anryzel telah berjalan cukup jauh dari kawanan Oryna. Dia mulai meninggalkan kawasan mewah dan memasuki kawasan yang sepi dan minim penerangan. Karena tidak kunjung menemukan penginapan, sempat terlintas di pikirannya untuk terbang dan mencari penginapan itu dari atas langit, tapi saat dia akan mengaktifkan skill yang memungkinkan untuk terbang, sebuah suara datang dari belakang.


"Jangan bergerak!" ancam seseorang dari belakang.


Orang itu menodongkan pedang ke arah Anryzel. Satu-satunya alasan mengapa Anryzel membiarkan orang tersebut menodongkan pedangnya, itu karena Anryzel sengaja.


"Uhm? Aku tidak mengerti mengapa mereka melakukan ini?" tanya Anryzel dalam hati.


Tidak lama, dua sosok lain muncul dan menodongkan pedang mereka ke arah Anryzel dari dua arah yang berbeda. Sekarang Anryzel telah dikepung oleh tiga orang bersenjata. Lalu bagaimana dia keluar dari situasi yang aneh ini?


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Anryzel dengan tenang.


Ketiga orang itu hanya diam, kenyataannya mereka terkejut dan tidak menyangka kalau Anryzel akan bersikap setenang itu bahkan saat dikepung oleh tiga orang bersenjata.


"Siapa kau? Mengapa kau tidak takut sedikitpun?" tanya seorang dari mereka.


"Hah? Bukankah aneh seorang penjahat bertanya hal itu?"


"Eh! Jangan banyak omong, apa kau tidak merasa terancam sedikitpun?!"


Anryzel hanya tersenyum sedikit dan berkata, "Kalian tidak menunjukkan niat jahat sama sekali. Untuk apa aku takut?"


Ketiga orang bersenjata itu bergetar karena perkataan Anryzel yang tepat sasaran. Meskipun berniat ingin memberi pelajaran, tetapi tidak sampai tahap di mana mereka akan mencelakainya.


Karena merasa rencana mereka gagal, Oryna memberi perintah kepada kedua temannya, "Mundur!"

__ADS_1


Mereka pun menghilang tanpa mengatakan hal yang lain. Anryzel hanya bisa menghela napas, karena setelah ini ada kemungkinan mereka akan semakin mencurigai dirinya.


"Sudahlah, biarkan saja terjadi."


__ADS_2