Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Harga sebuah keperawanan


__ADS_3

Paginya, Jeremi kaget begitu melihat seorang gadis cantik tertidur tanpa busana dibawah tubuh nya, ada bercak darah bercampur lendir masih membasahi area pribadinya.


"Astaga, apa yang sudah aku lakukan. siapa gadis ini?" ucap Jeremi syok. beberapa adegan kejadian semalam kembali berputar sempurna diingatan nya.


"Sial! minuman membuat kesadaran ku hilang. gadis ini ternyata masih perawan, semua sudah terlanjur terjadi, baiklah aku akan memberikan kompensasi yang pantas untuk nya." gumam Jeremi berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. setelah kembali berpakaian rapi Jeremi mendekat Elisa yang masih tertidur sambil meringkuk disofa. menggoyangkan lengan gadis itu agar terbangun.


"Hey bagunlah!"


Perlahan Elisa membuka matanya, mengumpulkan kesadarannya kembali.


"Kamu, Pria pemerkosa!"

__ADS_1


Refleks Elisa mengindar, seraya menahan rasa perih. air matanya kembali membasahi wajah cantiknya.


"Jangan menangis, aku paling tidak suka wanita cengeng. cepat bersihkan tubuh mu dan ganti dengan pakaian yang baru. setelah ini aku akan memberikan kompensasi yang setimpal untuk harga keperawanan mu yang sudah aku renggut." ucap Jeremi tersenyum, berfikir jika segala sesuatu akan lebih mudah jika di ukur dengan uang. Elisa mengabaikan perkataan Jeremi, dia menyeret langkah kakinya dengan susah payah menuju kamar mandi, tangisannya belum juga berhenti.


"Jika diperhatikan, gadis ini terlihat sangat cantik. gaya berpakaiannya juga sopan dan juga memiliki kemiripan dengan Ravela, aaaahh semua ini gara-gara Ravela, entah kenapa aku begitu terobsesi pada istri orang, sehingga aku bisa merasakan nikmatnya seorang perawan...aku benar-benar sudah gila!" umpat Jeremi merutuki diri nya sendiri.


Elisa membasahi seluruh tubuhnya, sambil mengusap kasar karena dia sangat jijik dengan tubuhnya yang sudah ternoda. semula Elisa berfikir hidup nya akan jauh lebih baik setelah bekerja di kantor pusat, selain kinerja dan prestasi nya yang bagus, Elisa juga bisa berdekatan dengan sahabatnya Ravela dan kekasihnya Frans. namun baru beberapa hari impian dan harapan nya sudah hancur dalam sekejap mata.


Tok!tok!tok!


Tangis Elisa terhenti ketika pintu kamar mandi diketuk dari luar, gadis itu segera menyambar handuk untuk menutupi tubuh polosnya.

__ADS_1


"Nona, apa kamu baik-baik saja?" terdengar suara seorang perempuan dari luar, sehingga Elisa membuka sedikit pintu dengan mata yang sudah sembam karena kebanyakan menagis.


"Saya diminta tuan Jeremi, untuk mengantarkan pakaian ganti untuk nona." ucap seorang pelayan sambil memberikan paper bag ketangan Elisa, dengan tatapan iba dia seolah-olah paham dengan apa yang sudah menimpa gadis malang itu.


"Terimakasih."


Elisa menundukkan wajahnya, dia merasa malu dilihat orang lain saat kondisinya seperti ini.


"Iya nona, jika butuh sesuatu lagi. panggil saja saya."


Elisa segera berganti pakaian, tujuannya adalah pergi secepat mungkin dari tempat yang sudah seperti neraka baginya. dia gagal menjaga mahkota yang akan dia persembahkan untuk suaminya kelak, kini justru hilang direnggut Presdirnya yang mabuk dan tanpa kendali. meskipun dulunya Elisa begitu mengagumi sosok Jeremi sewaktu dia masih menjadi aktor, namun sekarang yang tersisa hanyalah kebencian dan kemarahan.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah memaafkan dirimu Jeremi, mungkin saat ini aku tidak bisa membalas perbuatan mu. tapi tunggu saat nya tiba, kamu akan merasakan bagaimana sakitnya kehilangan sesuatu yang berharga."' bathin Elisa.


__ADS_2