Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Udara segar puncak


__ADS_3

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ini kali pertama Ravela menaiki pesawat pribadi milik suaminya yang seorang miliader. dia disambut hangat oleh dua orang pramugari cantik, Vella tersenyum sungkan karena merasa begitu dihormati.


"Selamat datang nona, tuan muda. semoga perjalanan anda menenangkan." sambutan dan senyum ramah pramugari menyapa, lalu membantu memasangkan belt pengaman dikursi Vella, sedangkan Alex memasang nya sendiri, karena dia tidak ingin disentuh sembarangan wanita, selain istri nya Ravela.


"Aku seperti bermimpi, hidup ku berubah seratus delapan puluh derajat setelah bersuamikan kamu, sayang." bathin Vella menikmati kemewahan fasilitas yang tersedia didalam nya. meskipun sebelumnya dia sudah pernah menaiki penerbangan khusus bersama Alex, tapi yang sekarang benar-benar terasa berbeda.


Vella menikmati pemandangan luar yang begitu mengesankan bagi nya, seketika tanpa sadar kilasan masa kecil melintas dipikirannya, dia merasa pernah berlarian beriringan dengan seorang anak laki-laki disebuah pematang sawah sambil membawa layangan plastik, mereka tertawa lepas.


"Astaga! bayangan itu kembali menganggu ku?" gumam Vella berkeringat dingin.


"Siapa sebenarnya anak laki-laki itu? kenapa aku tidak bisa mengingat sedikitpun tentang masa laluku?" Vella menghempas tubuhnya lemas disandararan kursi.


"Sayang, kamu kenapa?"


Alex mengusap keringat diwajah Vella, menarik kedalam pelukannya. saat melihat Vella yang pucat seperti memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, mungkin sedikit pusing saja karena sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh." mengalihkan perhatian Alex.


"Pejamkan matamu dan tidur lah, aku selalu ada disamping mu."


Vella memejamkan mata, namun pikirannya masih terngiang-ngiang pada kilasan kejadian yang melintas tiba-tiba dialami bawah sadarnya. berbagai pertanyaan berkecamuk dibenak Vella.


"Siapa aku sebenarnya, apa aku masih memiliki kekuarga?" bertanya-tanya dalam hatinya, hingga perjalanan jauh membuat Vella tertidur begitu saja dalam dekapan hangat Alex.


"Sayang bagunlah kita sudah sampai ditempat yang kamu inginkan!" Alex menguncang pekan bahu Ravela. perlahan gadis itu mengerjap kan matanya, sembari mengumpulkan kesadaran tidak lama senyum merekah mengembang disudut bibirnya.


"Wah ini sangat indah dan menakjubkan, suamiku aku sangat menyukai tempat ini. terimakasih sudah mengajakku kesini." Vella tersenyum antusias untuk segera turun dari helikopter.


Alex membibing Vella yang tersenyum begitu turun dari helikopter, menuju villa yang akan dijadikan sebagai tempat destinasi wisata bulan madu mereka. udara segar pegunungan terasa dingin menyentuh kulit, yang dikelilingi Padang rumput dan perkebunan teh milik opa Jean, yang sudah diwariskan untuk cucu satu-satunya Alexander.


"Sayang, aku sudah mengabulkan keinginan mu untuk pulang dan bulan madu di puncak yang indah ini, sekarang aku ingin imbalan nya darimu?" goda Alex menghentikan langkahnya lalu merubah posisi mereka agar saling berhadapan.

__ADS_1


"Imbalan, mmmmhh...., bagaimana jika aku buatkan makanan spesial hasil masakan aku sendiri. atau juga sejenis es krim." ucap Vella memberi pilihan, begitu melihat gelagat mesum dari suaminya, berharap untuk saat ini pikiran Alex dapat dialihkan ke makanan.


"Tidak semudah itu, aku bukan bocah yang begitu mudah disogok dengan makanan. aku tahu kamu ingin mengalihkan perhatian ku, sayang. ingat tujuan utama kita datang ketempat ini, untuk bulan madu dan memproduksi anak." Alex menarik tangan Ravela menuju sebuah kamar yang sudah dipersiapkan sebelumnya.


"Iya, aku sangat ingat suamiku. tapi kita baru saja sampai."


"Kamu silahkan istrahat, biarkan aku yang bekerja." membisikkan ditelinga vella diikuti ciuman hangat bibirnya.


Alex merebahkan tubuh Vella, nafas Vella naik-turun, diikuti buah dadanya yang besar ketika Alex mulai menindih nya dari atas.


"Sepertinya kamu sudah tidak sabaran lagi, sayang."


"Tidak, aku hanya capek dan ingin Istrahat sejenak. setelah menempuh perjalanan jauh." jawab Vella.


"Tapi, bahasa tubuh mu tidak sejalan dengan ucapan mu, sayang." bisik Alex ketika mendengar ******* lembut dari bibir Vella saat mendapat ciumannya.

__ADS_1


"Itu karena aku kegelian, dan ngantuk." pura-pura menguap lalu memejamkan mata.


"Biar aku saja yang bekerja, kamu cukup membuka paha dan menikmati permainan ku." bisik Alex yang mulai menelusuri leher jenjang Vella yang akhirnya pasrah, mengingat dirinya yang juga ingin segera hamil.


__ADS_2