
"Tuan, aku belum pernah tampil polos dihadapan orang lain, aku malu."
"Aku bukan orang lain, tapi suamimu. seperti nya aku harus mengingatkan dirimu, jika kita belum memulai malam pertama." ucap Alex tersenyum mesum, seraya mengangkat sebelah alisnya keatas.
"A..aaapa? malam pertama?" tubuh Vella seketika bergetar, semula dia sangat berharap jika Alex tidak akan menyentuhnya, mengingat pernikahan mereka yang tanpa dilandasi cinta, tapi sekarang Alex tiba-tiba meminta jatahnya.
Sore hari ini, akan menjadi sejarah panjang dalam hidup Vella. mereka akan memulai tugas sebagai pasangan suami-istri, jantung Vella berdegup kencang.
"Cepat buka pakaian mu, aku ingin membuktikan jika istri ku ini benar-benar cantik dan masih perawan." bisik Alex dengan pandangan berkabut. melihat pergerakan Vella yang lambat, Alex membantu membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Vella, hingga terpampang jelas kulit putih mulus tanpa noda dihadapan nya.
"Ufffftt."
Vella kewalahan mengimbangi ciuman bibir Alex yang brutal, hingga dia kesulitan untuk bernafas. tangan Alex tidak mau diam, hingga dua berhasil melepas seluruh pakaian yang melekat ditubuh Vella. tanpa gadis itu bisa menolak ataupun meronta lagi, karena dia sadar jika dia sudah menjadi milik Alex seutuhnya.
"Naik dan duduklah diatas pangkuan ku." perintah Alex. dengan gerakan ragu-ragu Vella menuruti, seraya memegangi otot-otot kekar dan terasa sangat keras dengan bentuk tubuhnya yang sispex.
"Kamu harusnya beruntung, karena menjadi wanita pertama yang akan menikmati tubuh ku." bisik Alex.
"Hanya, seperti ini permainan mu?"
"Aku tidak tahu caranya, ini yang pertama bagiku."
"Apa sebelumnya kamu tidak pernah melihat cara orang berhubungan, melalui Vidio atau apalah?" tanya Alex.
"Tidak pernah!"
Alex menatap dua bola mata Vella, terlihat kejujuran dan kepolosan disana, sehingga dia berinisiatif untuk mengambil alih permainan mereka.
Ciuman Alex semakin dalam, ******* bibir yang terasa manis. Vella kembali kesusahan untuk bernafas.
"Tuan, kamu...kamu lah orang pertama yang melakukan nya." jawab Vella terbata-bata seraya mengatur pernafasannya yang masih memburu, seperti habis lari yang seringkali dia lakukan pagi dan sore harinya.
"Bagus, ternyata aku mendapatkan istri yang benar-benar virgin."
"Tuan, bolehkah aku minum segelas air dulu."
"Cepat, aku tidak bisa menunggu lama."
Vella bangkit mengambil handuk, diikuti Alex dari belakang, setelah menghabiskan segelas air putih. Alex kembali membibing nya menuju ranjang, untuk melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda.
__ADS_1
Tangan Alex menarik handuk putih yang semula menutupi tubuh Vella, membuang asal benda tersebut. Vella yang masih malu-malu menutup buah dadanya yang besar dengan menyilang kedua tangannya.
"Singkirkan tangan mu."
Perlahan Vella menurunkan tangannya, layaknya bayi yang kehausan bergelayut dan tidak ingin terlepas dari ibunya. itulah yang dilakukan Alex. ******* sakit dan nikmat membuat Vella sesekali mengaduh.
Semua powerplay diajar kan Alex, bahkan tubuh Vella sudah dua kali dibuat bergetar, sesuatu yang belum pernah dia rasakan. sedangkan Alex masih gagah berani menggerayangi nya.
"Tahanlah, mungkin pada awal-awal kamu akan merasakan sedikit kesakitan. tapi untuk seterusnya kamu bakal ketagihan." bisik Alex.
"Baiklah, tapi tolong pelan.... pelan saja." jawab Vella yang sudah lemas.
"Aaaagghhh...sakiiit huuuffp..."
Vella merasa bagian tubuh terbelah, air mata menetes di kedua sudut matanya. tidak pernah terbayangkan sebelumnya jika melepas keperawanan akan sesakit ini.
"Uuuhh...oooohhh, It feels good, Natali love you."
Terdengar ceracauan tidak jelas keluar dari mulut Alex, Vella yang mendengarnya hanya bisa tersenyum getir, seraya mengatur pernafasannya.
"Aku tidak berhak untuk cemburu, aku hanya perempuan yang dijual ibu angkat ku. meskipun begitu aku masih bersyukur, karena pria yang menjadi suamiku, bukanlah pria tua yang cacat."
Vella tidak ingin berfikir terlalu jauh lagi, karena hal itu hanya akan membuat nya merasa sedih, Vella memilih memejamkan mata karena merasa sangat lelah dan tubuhnya terasa sakit semua, menjelang pagi Alex kembali mengulangi permainan nya, seakan dia mempunyai tenaga ekstra yang tidak pernah lelah.
Vella tertidur begitu saja, dia tidak ingat apa-apa lagi. begitu membuka mata sudah tidak ada lagi Alex yang semula tidur disebelah nya.
"Kemana dia, apa sudah berangkat kerja?"
Vella berusaha untuk duduk, namun saat hendak menggerakkan sebelah kakinya dia kembali kesakitan.
"Aduuuh perih banget."
Vella mencoba menggerakkan anggota tubuh nya, dia kembali terbaring lemas, pandangan matanya tertuju pada noda merah yang terdapat di sepray putih.
"Tok tok tok."
"Masuk!"
"Selama pagi nona muda." asisten Rani masuk kedalam kamar nya yang masih berantakan.
__ADS_1
"Nona, saya akan membantu memandikan anda."
"Baiklah, terimakasih Rani."
Meski malu tubuh polosnya yang terdapat banyak tanda merah terlihat Rani, namun Vella tidak mempunyai pilihan lain. karena dia benar-benar tidak mampu untuk melangkah sendiri.
Rani dengan telaten membantu nya mandi, dengan aromaterapi yang memberikan ketenangan tersendiri bagi Vella. setelah itu Rani kembali membantunya berpakaian lalu mendandani Vella. tidak lama, pelayan bagian dapur datang membawa troli berisi banyak makanan kesukaan Vella.
"Silakan sarapan dulu, nona muda. setelah itu minumlah jamu kebugaran ini, agar tubuh Anda kembali fit." bujuk Rani.
"Minumlah, ini demi kebaikan Nona sendiri." dengan penuh kelembutan, Rani terus melayani dan membujuk Vella, sehingga segelas jamu habis diminum nya.
"Sudah lama aku tidak menghubungi sahabat ku Elisa? apa kabar nya dia sekarang." Vella mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Elisa.
"Vella, apa kabar mu, aku kangen tau. semenjak menikah kamu tidak pernah menghubungi ku lagi."
"Aku juga kangen saat kebersamaan kita, tapi kamu tahu sendiri bagaimana kehidupan ku sekarang." balas Vella.
"Apa tuan tampan itu memperlakukan mu dengan baik, atau malah menyakiti mu?" tanya Elisa tidak sabaran.
"Tidak, dia memperlakukan aku dengan baik. kamu tidak perlu kawathir."
"Syukurlah."
Vella menghabiskan setengah jam, untuk ngobrol-ngobrol dengan sahabatnya Elisa. sebenarnya dia ingin keluar dan menikmati jalan-jalan berdua lagi, tapi mengingat kondisi nya, terpaksa Vella membatalkan niatnya.
***
Alex sengaja datang pagi-pagi, karena akan memimpin rapat besar yang sempat tertunda kemaren.
Senyum mengembang dibibir Alex, menunjukkan jika itu bukan dia yang sesungguhnya. meskipun begitu, tidak menyurutkan wajah tegang dari peserta rapat. terutama bagi mereka yang sudah melakukan kesalahan.
Pikiran Alex teringat pada pergulatan nya dengan Vella semalam, sesekali pria tampan itu mengusap wajahnya. bahkan dia tidak konsentrasi sama sekali dalam memimpin rapat.
"Rey, kamu lanjutkan rapat ini. apapun hasil nya segera laporkan."
"Baik, tuan."
Alex pergi menuju ruangan kerjanya, menatap dalam pada foto dirinya yang tengah merangkul mesra Natali.
__ADS_1
"Semoga pernikahanku dan Vella, tidak menjadi penghalang. kesempatan ku untuk bersatu dengan Natali, aku yakin, cepat atau lambat Natali pasti akan kembali demi aku." gumam Alex yang terkadang sempat berfikir, jika seandainya opa tiada. itu adalah kesempatan baik untuk nya dan Natali bersatu.