
"Aku dimana dan siapa yang sudah menculik ku?"
Vella masih bertanya-tanya. suasana sepi dan jauh dari pemukiman banyak penduduk seperti disebuah hutan belantara. kedua tangannya terasa perih dan pegal karena terikat dengan posisi menghadap kebelakang. sementara mulutnya disumpal dengan lacban yang membuat area sekitar bibirnya bertambah perih.
"Mmmhhh, lepaskan aku." teriak Vella sambil berusaha memberontak, namun suara yang keluar hanya teriakan tanpa suara, air mata membanjiri kedua pipinya.
"Alex kamu dimana sayang, tolongin aku dan anak kita. aku kesakitan di tempat yang sangat menakutkan ini." bathin Vella disela-sela isakan tangis. serta rasa penasaran tentang siapa dalang yang telah menculik dirinya.
"Puck...puck...pick."
Tepuk tangan, seseorang dari arah yang berlawanan membuat tangis Vella terhenti seketika. dia segera menoleh kearah suara karena sangat penasaran dengan sosok orang yang telah membekapnya, mengingat dia merasa tidak mempunyai musuh selama ini.
Sena membuka lakban penutup mulut Vella dengan kasar, sehingga membuat bibir nya memerah lalu meringis kesakitan.
__ADS_1
"Aaaagghhh....sakiiit?" gumam Vella merintih merasa bibirnya membengkak.
"Siapa kamu?" tanya Vella menatap orang yang masih memakai penutup wajah dihadapan nya.
Perempuan itu membuka satu persatu penutup wajah, sehingga terlihat jelas wajah aslinya yang tersenyum jahat kerah Ravela.
"Kak, kak Sena???"
Ravela tercekat tidak percaya, sambil berusaha untuk mengeluarkan suara. dia tidak menyangka jika yang menculik dirinya saat ini adalah kakak angkat yang sangat disayanginya, karena selama ini mereka tumbuh kembang dalam satu kekuarga yang sama, meskipun Ravela tidak pernah mendapatkan keadilan dalam kasih sayang orang tua, tapi entah apa yang membuat Sena selalu iri pada nya.
"Kenapa kakak menculik ku? apa salah ku padamu kak. bukankah selama ini aku selalu mengalah dan mengikuti kemauan mu dan mama?" tanya Vella.
"Kesalahan mu sangat banyak dek, terutama kehidupanmu yang selalu beruntung dibandingkan aku. semua pria yang aku sukai lebih memilih dirimu dibandingkan aku, mulai dari Nick kekasihku sendiri yang belum bisa move on dari mu, serta suamimu yang tampan dan kaya raya Alexander. dia yang seharusnya menjadi suamiku, kamu benar-benar beruntung Ravela, bahkan kamu juga mempunyai kakak seorang pengusaha kaya. selain mengambil kasih sayang papaku dulu, sekarang setelah kamu kaya raya. mamaku pun mulai ikut-ikutan berpijak padamu dibandingkan aku anak kandungnya sendiri. ini tidak adil bagiku." teriak Sena.
__ADS_1
"Itu tidak benar kak, aku dan mama sangat menyayangi mu. bahkan aku mengalah dengan memaksa Nick untuk bersama dan memilihmu kak, tentang pernikahan ku dengan Alex. bukankah dulu kakak sendiri dan mama yang memaksaku untuk menerima lamaran tuan Jean." jawab Vella.
"Ya, sebelum aku tahu, jika dia bukanlah pria tua yang lumpuh melainkan seorang pangeran." jawab Sena.
Sena berdiri tepat dihadapan Vella, dia berjongkok sebelah tangannya maju menarik kasar rambut panjang Ravela, sehingga Vella berteriak kesakitan. melihat hal itu Sena tertawa bahagia.
"Ini belum seberapa dengan rasa sakit yang aku rasakan selama ini." tersenyum sinis.
"Kak tolong lepaskan aku, aku berjanji tidak akan menuntut mu dan meminta Alex untuk menutup kasus kecelakaan waktu itu. kita bisa memperbaiki kembali kesalahpahaman ini dan memulai kehidupan dengan penuh kasih sayang dari awal lagi, tolong hapus dendam dan amarahmu untuk ku, kak. hick... hick...." ratap Ravela.
"Apa yang kamu katakan, dasar ******." emosi Sena memuncak, sebelah tangannya terangkat.
"Plack... plakcc."
__ADS_1
Tamparan keras melayang dikedua belah pipi Ravela, membuatnya meringis kesakitan dengan sudut bibir yang mengalir darah segar.