
"Alex, kita mau kemana?"
"Aku ingin mengajakmu menikmati udara sejuk ditepi danau ini Sayang, bagaimana apa kamu menyukainya?"
"Ya!"
Vella yang sangat menyukai pemasangan lepas tersenyum senang, namun seketika matanya tertuju pada sebuah bangunan kecil yang menyerupai sebuah gubuk yang sering digunakan untuk orang-orang bersantai.
Wajah cantiknya mengeluarkan keringat, pandangan nya berputar-putar sambil berteriak kesakitan. beberapa kilasan kejadian masa lalu pertengkaran nya dengan Sena kembali bermuculan tanpa mampu dia kontrol.
"Mati kamu ditangan ku, Vella."
Sena semakin menggila, maju mengadang Vella dengan sebilah pisau yang tajam, dengan tatapan mata penuh amarah dan kebencian.
"Jangan kak, ini berbahaya."
Vella mulai ketakutan, dia mengambil apapun yang bisa dia lemparkan pada tubuh Sena yang semakin mendekati nya. tangan Vella berhasil menggapai sebuah balok lalu mengibas kan pada tubuh Sena.
Pisau yang dipegang Sena berhasil terlepas, kedua wanita ini saling memperebutkan pisau. aksi saling dorong mendorong membuat pisau yang berhasil didapatkan Vella. tanpa sengaja pisau tersebut mendarat sempurna ditubuh bagian perut Sena. wajahnya melotot menahan sakit yang teramat sangat. darah segar bercucuran, melihat hal itu Vella berteriak ketakutan.
"Ma... maafkan aku kak, sungguh aku tidak sengaja melakukannya padamu." Vella menagis dia benar-benar tidak berniat untuk membunuh Sena yang mulai ambruk ditanah.
"Vella, ma... maafkan kakak dek. pergilah dan ikuti jalan setapak di belakang gubuk ini, kamu akan menemukan jalan keluarnya, jangan pedulikan aku." ucap Sena berusaha menggapai tangan Vella.
"Tidak! aku tidak bisa meninggalkan kakak dalam keadaan seperti ini Hick... hick."
"Pergilah Vella, ini hukuman yang pantas kakak dapatkan. jika tidak kebencian ini akan terus membuat kakak tersiksa, lalu mencari-cari mu. kakak sudah lama mengalami gangguan mental yang kadang suka bertindak diluar akal sehat dan kendali kakak sendiri." ucap Sena.
__ADS_1
Vella menagis memeluk tubuh Sena yang sudah tidak bernafas lagi, tubuhnya yang lemah tidak memungkinkan bagi Vella untuk membawa serta mayat sang kakak. hari sudah semakin sore suara lolongan binatang hutan membuat Vella ketakutan, sehingga dia mempercepat langkah keluar dari gubuk untuk mencari rumah penduduk sekitar. berharap bisa memberikan nya pertolongan untuk menguburkan jenazah Sena.
Banyaknya persimpangan jalan setapak, membuat Vella kebingungan. rasa lelah dan haus membuatnya oleng dan tidak bisa menjaga keseimbangan nya lagi, meskipun begitu Vella tetap memaksakan diri untuk melanjutkan langkah kakinya.
"Bruuggh!!!"
Tubuh wanita cantik itu jatuh beberapa meter ke dasar jurang, hingga kepalanya terbentur pada sebuah batu besar dan mengeluarkan banyak darah, Vella terkapar pingsan seketika hingga dia tidak ingat apa-apa lagi.
"Vella... Vella sayang banguuun!!!"
Alex kelimpungan melihat istrinya yang tiba-tiba pingsan, dia dan Kenzo segera bertindak cepat dan membawa Ravela kembali ke rumah sakit dengan kondisi yang belum sadarkan diri.
"Dokter, berapa lama istri saya akan tertidur seperti ini?" tanya Alex panik.
"Sebentar lagi dia akan siuman, efek obatnya masih bekerja."
"Seharusnya aku lebih bersabar lagi, dan tidak terlalu memaksakan Ravela untuk mengingat semua nya kembali. Aaagggh....semoga kamu tidak kenapa-napa sayang." doa Alex.
"Aaaahh..."
Ravela tersadar dari tidur panjangnya, Kenzo yang melihat langsung menepuk pundak Alex, mereka berdua berjalan mendekati Ravela sambil menunggu reaksi Vella setelah tersadar.
"Suamiku!"
"Kak Kenzo!"
"Ya sayang, kami selalu ada untukmu. apa yang kamu rasakan sekarang?" ucap Alex.
__ADS_1
"Aku sudah mengingat semua nya kembali."
"Alhamdulillah." Alex sujud syukur, sambil menekuk Ravela. begitu juga dengan Kenzo.
" Kak Sena menculik ku dan dia juga terluka. aku lah yang membunuhnya hick...hick..."
"Tidak sayang, kamu bukan pembunuh tapi sedang melindungi diri mu dan bayi kita." bujuk Alex.
"Iya dek, kamu tidak perlu menyesali diri. mungkin ini ganjaran yang harus diterima Sena, jika tidak dia akan terus-menerus berusaha untuk menyakiti mu, karena penyakit kejiwaan yang sudah lama dideritanya." terang Kenzo yang sudah menyelidiki semuanya.
"Tapi mayatnya masih digunakan tua."
"Tidak sayang, tim SAR sudah menemukan jasad Sena di tempat kejadian, meskipun sangat sulit untuk dikenali dan banyak yang beranggapan jika itu adalah dirimu, sayang. kak Sena juga sudah dikubur secara layak, mudah-mudahan saja dia sudah tenang dialam sana tanpa ada dendam lagi di hatinya." terang Alex memeluk kembali Ravela, agar sang istri tidak kepikiran kejadian buruk itu lagi.
Dokter kembali memeriksa kondisi Ravela, dan mengatakan semua sudah baik baik saja, tinggal sedikit pemulihannya, satu atau dua hari lagi dia boleh pulang ke Indonesia.
"Suamiku, aku sudah tidak sabaran untuk bertemu segera dengan anak kita, mama, Elisa dan kak Natali."
"Ya, semua sudah menunggu kepulangan kita dengan kabar baik ini. tapi untuk sementara waktu aku masih ingin disini."
"Kenapa?"
"Aku ingin, menikmati bulan madu kedua dengan mu, sayang." ucap Alex menatap dalam.
"Kalau begitu, biar aku saja yang pulang terlebih dahulu. membawa Kabar bahagia ini, Alex tolong jaga adikku." pesan Kenzo.
"Tentu kak, mulai sekarang aku akan melindungi mu dengan segenap jiwa dan ragaku, sayang."
__ADS_1