
Revan menunggu beberapa detik didepan pintu, belum juga terdengar sahutan dari dalam, rasa kesal yang semula begitu menggebu-gebu berubah menjadi khawatir.
"Anabella, apa kamu baik-baik saja?" hening masih tanpa jawaban.
"Aku masuk ya!"
Ceklek!!!
Mata Revan membulat melihat Anabella tertatih-tatih berjalan keluar dari dalam kamar mandi, kedua tangannya memegangi perut bawah pusarnya. seperti menahan sakit.
"Anabella, sepertinya kamu kesakitan. kita pergi ke dokter ya." Revan meraba dahi Anabella, ingin memeriksa suhu tubuhnya, namun perempuan yang masih mengenakan cadar itu segera mengibaskan tangannya.
"Aku ngak kenapa-napa kok kak, bentar lagi juga pasti sembuh." jawab Anabella lemah.
"Tidak apa-apa bagaimana, badanmu terlihat lemas sekali."
"Kak, aku sudah sering seperti ini, setelah istrahat nyerinya akan hilang dengan sendirinya."
"Apa obatnya sudah diminum?"
"Sudah!" seraya menunjuk obat yang telah diminumnya barusan.
"Untuk kedepannya jika terjadi apa-apa padamu, segera beritahu aku selaku suamimu, bukanya laki-laki lain seperti Kyano."
"Aku tidak pernah memberitahukan pada mas Kyano, kami bertemu secara tidak sengaja dirumah sakit."
__ADS_1
"Mustahil, pasti pertemuan yang disengaja."
"Terserah kak, aku malas berdebat." mengabaikan Revan berjalan menuju ranjang.
"Anabella, dengarkan aku jika sedang berbicara!" Revan menarik sebelah tangan Ana, hingga tubuh mungil gadis itu jatuh kedalam pelukannya. Revan kaget mersakan sesuatu yang terasa kenyal padat berisi menyentuh dadanya. seketika darahnya berdesir mersakan sesuatu yang sulit untuk diartikan.
"Bola mata yang sangat indah!" batin Revan terpesona.
"Lepas Kak, kamu membuatku sulit bernafas!" Anabella mendorong tubuh Revan sehingga mundur beberapa langkah kebelakang.
"Jangan geer, aku tidak sengaja menyentuhmu. lagian Vivian jauh lebih cantik dari pada kamu." umpat Revan, untuk menghindari rasa malu dia memilih pergi meninggalkan kamar Anabella tanpa menoleh lagi.
"Ada apa denganku, yang begitu menikmati pelukan barusan, rasanya begitu mendebarkan dan membuatku bergairah. sesuatu yang belum pernah aku rasakan bersama Vivian."
"Ana begitu wangi, farfum yang sama sewaktu dia masih anak-anak dulu." pikiran Revan berkelana, apalagi setelah bertemu pandang dengan kedua bola mata Anabella yang begitu indah.
"Sepertinya, Anabella belum makan malam. aku ingin memasak sesuatu untuknya. anggap saja sebagai tanggung jawabku selaku suaminya."
Revan pergi menuju dapur, mengeluarkan beberapa bahan-bahan dari kulkas. meskipun dia anak orang kaya, namun selama kuliah di Amerika Revan sering memasak untuk dirinya sendiri.
Setengah jam berkutat di dapur, masakan yang dibuat Revan sudah jadi, asap mengepul mengadakan jika masih sangat panas.
"Kalau aku mengantarkan makanan ini kekamarnya, Anabella pasti kegeeran dan beranggapan jika aku menyukainya. tapi jika tidak diberikan sayang sekali makanan yang susah payah aku bikin jadi mubazir tidak termakan."
Revan jadi serba salah, akhirnya meletakan makanan diatas meja begitu saja, setelah itu dia menuju sofa duduk santai sambil menyalakan televisi.
__ADS_1
"Aku harus berani membangunkan Anabella, kasihan dia yang tidak punya siapa-siapa lagi." Revan kembali mengetuk pintu kamar Anabella.
Tok!tok!!
"Anabella, apa kamu tidak makan malam?"
"Aku lagi tidak selera makan, kak."
"Bagaimana mau sembuh, makanlah aku sudah capek-capek masak untukmu
"Kak Revan masak untukku, terimakasih kak." ucap Anabella merasa tidak enak hati, berjalan pelan-pelan keluar kamar.
"Sebenarnya kak Revan pria yang baik. hanya saja ucapannya terkadang kasar dan tidak mengenakkan hati." gumam Anabella.
"Duduklah."
Anabella menganggukkan kepalanya, meskipun dia masih bingung dengan sikap Revan yang tiba-tiba berubah manis seperti ini.
Pasangan muda ini mulai makan tanpa berkata-kata lagi, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar menengah kesunyian diantara mereka berdua. selesai makan Anabella membawa piring kotor menuju dapur, dua sempat kaget melihat kondisi dapur yang sudah berantakan.
Anabella menyingsingkan sedikit lengannya, untuk membersihkan semua peralatan kotor tersebut, sudah menjadi kebiasaan Anabella yang tidak menyukai sesuatu yang berantakan dan kotor. tidak butuh waktu lama kondisi dapur sudah terlihat rapi dan kembali bersih.
"Katanya sakit, ngapain kamu masih memaksakan diri untuk bekerja." Revan tiba-tiba muncul dari arah belakang.
"Sakitnya sudah agak mendingan kak, lagian aku bosan dikamar terus jika tidak melakukan apa-apa."
__ADS_1