Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Putus urat malu


__ADS_3

Hari berganti Minggu dan bulan, kehamilan Ravela semakin membesar. begitu juga dengan selera makannya, sehingga membuat Alex over protektif tidak ingin istri nya makan sembarangan, mengigat Vella selalu minta yang aneh-aneh, termasuk makanan yang dijual ditepi jalan yang menurut Alex tidak higienis untuk istri nya yang tengah hamil besar.


"Makanlah sepuas mu, ini makanan yang sudah dimasak seorang koki khusus, sehingga dijamin higenis dan aman untuk mu dan calon bayi kita." ucap Alex saat memulai makan mereka berdua.


"Iya... iya, aku akan makan." ucap Vella menyendok makanannya, meskipun masih kesal terhadap Alex yang melarangnya ini dan itu. Vella berusaha menghabiskan makan dengan lahap nya tanpa banyak bicara lagi.


Selesai makan, Vella mengantarkan Alex yang akan dinas keluar kota. ciuman hangat mendarat untuk melepas suaminya bekerja, meskipun Alex akan kembali pulang malam harinya, dia tidak bisa menginap ataupun pergi lama-lama apalagi berjauhan dari Vella.


"Sayang, apa kamu tidak menginap saja. aku tidak tega melihat mu harus bolak-balik." ucap Vella dengan tatapan lembut.


"Tidak, aku tidak bisa berjauhan dengan mu, sayang. karena kita mempunyai perbedaan dalam hal pemikiran dan prinsip, wanita mampu bertahan karena dipikiran nya sembilan puluh persen jalan-jalan dan makanan. sedangkan seorang pria sembilan puluh persen adalah bercinta." ucap Alex sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Itu sih mau ku saja, suamiku lepas tangan mu ditubuh ku. malu dilihat pelayan apalagi mami." bisik Vella.


"Ha...ha..., bukankah kamu sudah berulang kali mengatakan jika urat maluku sudah putus." jawab Alex enteng tersenyum menatap wajah kesal Ravela.


***

__ADS_1


Setelah Alex berangkat ke luar kota, Melinda sengaja mengajak Vella datang kebutik nya, mengajari menantu nya banyak hal termasuk cara mengelola bisinis butik besarnya, dengan harapan Vella bisa menjadi penerusnya kelak. Vella terlihat senang, dia merasa hidup nya lebih berarti dengan kesibukan ikut bekerja.


"Vella, apa kamu sudah paham dengan apa yang sudah mami ajarkan barusan."


"Sudah mi, rasanya sangat menyenangkan jika hari-hari ku disibukkan dengan pekerjaan seperti ini." jawab Vella tersenyum.


"Kamu bisa datang kapanpun kamu mau, karena mami merasa sudah terlalu tua untuk terus bekerja. mami ingin menikmati masa pensiun sambil menghabiskan waktu bersama seorang cucu, kelak mami harap kamu bersedia meneruskan usaha yang sudah mami rintis semenjak masih muda." ucap mami menatap perut Ravela.


"Apa maksud mami?"


"Vella, mami ingin menyerahkan butik-butik mami untuk mu. apa kamu keberatan, nak?"


"Kamu tenang saja, mami akan membantu membujuk Alex."


"Terimakasih, mami. Vella senang sekali."


"Vella, sekarang temani mami untuk bertemu klien diruang rapat. sebelum benar-benar terjun kamu juga harus mempelajari banyak hal dalam berbisnis dan bekerjasama."

__ADS_1


"Baiklah mi." balas Vella bersemangat.


Rapat berjalan lancar, hingga waktu makan siang mereka habiskan disebuah ruangan khusus untuk menikmati makan siang yang sudah tersaji, sedangkan diluar kota Alex tengah berusaha untuk menghubungi Vella, selera makannya berkurang jika belum mendengar atau melakukan panggilan Video dengan istri tercinta.


"Astaga, aku melupakan ponsel ku."


Vella segera membuka tasnya, ponsel masih bergetar tertera nama suamiku.


"Hallo suamiku, apa kamu sudah makan siang?" tanya Vella berbasa-basi, dia tahu jika saat ini Alex tengah kesal.


"Aku belum makan, kenapa mengabaikan panggilan ku?"


"Maaf suamiku, aku tengah menemani mami rapat. sekarang aku baru bisa mengangkat panggilan mu." jawab Vella.


"Apa mami melarangmu untuk mengangkat telpon?"


"Tidak sayang, tapi ponsel ku ada dalam tas, sehingga aku tidak mendengar getaran nya."'

__ADS_1


"Sekarang temani aku makan." ucap Alex, dia berubah menjadi sangat manja, sehingga saat makan pun dia ingin diperhatikan istri nya.


__ADS_2