Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Saling Curhat


__ADS_3

"Apa maksudmu Elisa, kenapa kamu menagis?" tanya Ravela yang panik, namun Elisa tidak menjawab dan terus menagis karena tidak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Oke, kamu tunggu ya, aku akan kerumah mu sekarang." ucap Ravela.


"Ya, Vella. aku tunggu." ucap Elisa yang sangat ingin berbagi keluh kesah, rasanya Elisa sudah tidak sanggup memendamnya sendirian.


Setelah berhasil membujuk rayu sang suami agar mengizinkan pergi ketempat Elisa, tanpa membuang-buang waktu lagi Vella segera meminta sopir pribadi yang sudah disiapkan Alex untuk mengantarkannya kerumah sang sahabat.


"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada Elisa, tidak biasanya dia bersikap aneh seperti ini." gumam Vella.


Setelah sampai dikediaman Elysa, Ravela langsung menuju pintu masuk yang terkunci rapat dari dalam.


"Elisa, ini aku tolong buka pintunya."


Tidak lama terdengar langkah Elisa menuju pintu, gadis itu langsung memeluk erat Ravela menumpahkan segala tangisannya.


"Elisa, tenangkan dirimu. ceritakan apa yang membuatmu seperti ini?" bujuk Vella membibing Elisa menuju sofa.

__ADS_1


"Aku...aku malu menceritakan padamu Vella, aku tidak sanggup hick... hick, hidup ku dalam fase terpuruk dan hancur saat ini, Vella." Elisa kembali menangis bayangan keberingasan Jeremi saat merenggut kehormatannya kembali melintas, Ravela hanya bisa mengelus pelan punggung Elisa berharap sahabatnya itu mampu mengendalikan emosi nya.


"Elisa, kita sudah seperti saudara bukan orang lain lagi. ceritakanlah apa yang menjadi beban pikirannya mu agar kamu lega, jangan pendam permasalahan mu sendirian, aku akan membantu mu sebisa mungkin." bujuk Ravela dengan suara lembut.


"Baiklah Vella, sebenarnya aku telah...!!!" Elisa kembali menagis.


"Kamu kenapa? jangan buat aku penasaran Elisa."


"Aku telah diperkosa Vella, oleh mantan bos ku yang kejam hick..."


Vella menutup mulutnya kaget bahkan dia sempat terdiam beberapa saat, kemudian tangannya mengepal geram.


"Siapa orang nya Elisa, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. jangan takut aku selalu bersamamu." ucap Vella kesal.


"Tidak Vella, orang seperti ku tidak akan mampu melawan penguasa seperti dirinya. aku juga tidak ingin melibatkan mu dalam permasalahan ku, yang penting sekarang aku ingin menghindari pria pemerkosa itu untuk selama-lamanya. dan melanjutkan hidup ku seperti semula." jawab Elysa.


"Apa bos mu itu seorang pria tua botak dan berperut buncit, pendek, mulut monyong kedepan. punya istri empat. kalau bertemu ingin rasanya aku menghajar pria tua itu." ucap Vella, yang membuat Elisa sedikit terhibur dan tertawa lepas, melupakan sejenak duka yang dirasakan nya.

__ADS_1


"Apanya yang lucu Elisa?"


"Ucapan mu, mengingatkan aku pada Kakek Jean dulu, sewaktu kamu menolak keras perjodohan. eh tahunya kamu malah menikah dengan pangeran tampan." balas Elisa.


"Mudah-mudahan, pemerkosa mu juga seorang pangeran tampan Elisa. paling tidak kamu tidak terlalu rugi dibuatnya he...he..."


"Ravela hentikan!! aku serius. sudahlah tidak perlu kita membahas kejadian memalukan itu lagi." ucap Elisa kesal.


"Kenapa, apa aku mengenal pemerkosa itu?" tanya Vela penasaran.


"Mungkin?"


"Please Elisa, jangan buat aku penasaran lagi. tolong katakan jika dia bukanlah Alexander ku." ucap Ravela dengan ekspresi Imut nya.


"Tidak, tapi aku hanya ingin melanjutkan hidup ku dengan baik, meskipun aku tidak akan pernah menikah." ucap Elisa sendu.


"Sudahlah, aku yakin jika suatu saat kami akan menemukan jodoh yang tepat, bersedia menerima diri mu apa adanya." mereka berpelukan hangat, setelah bertemu dan mencurahkan isi hatinya pada Ravela, Elisa merasakan kelegaan yang luar biasa, dia juga sudah bisa tersenyum lepas seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2