Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Perkelahian yang tidak terelakan


__ADS_3

Pandangan Frans tertuju pada sebuah ruangan yang terhalang dinding kaca, nampak seorang pria yang terlihat patah hati dan putus asa.


"Bukankah pria itu yang telah merebut Elisa dariku, tapi kenapa dia terlihat frustasi?" berbagai pertanyaan membuat Frans semakin penasaran dengan terus memperhatikan Jeremi.


"Aku yakin hubungan mereka pasti ada masalah?" tanpa sadar langkah kaki Frans berjalan mendekati Jeremi yang terlihat mulai teller.


Pria yang tengah frustasi itu, mengangkat kepalanya begitu melihat kehadiran Franz, dia tersenyum sinis lalu kembali meneguk minuman nya.


"Kamu terlihat sangat kacau, apa yang sudah kamu perbuat terhadap Elisa ku?" ucap franz yang tidak mampu mengendalikan emosi nya.


"Dia bukan Elisa mu, kawan. tapi dia sudah resmi menjadi istri ku." Jeremi menarik kasar Krah baju Frans dengan tatapan tajam.


"Dimana Elisa, kenapa kamu mabuk-mabukan disini?" franz mengabaikan tatapan marah Jeremi, dia masih menanyakan keberadaan Elisa. sambil mengedarkan pandangannya berharap menemukan sosok Elisa disana.


"Elisa ku sedang berada di rumah sakit, dia baru saja kehilangan calon bayi kami.. kenapa begitu banyak orang yang ingin menghancurkan hubungan kami, termasuk kamu." tunjuk Jeremi tepat di jidat franz.


"Kamu seharusnya berkaca bung, kamulah yang telah merusak hubungan kami yang indah. jika tidak saat ini aku dan Elisa pasti sudah menikah."


Franz yang sudah kalap mata langsung melayangkan pukulan keras kewajah dan perut Jeremi, begitu juga sebaliknya. perkelahian mereka berdua tidak dapat terelakkan lagi. setelah puas melampiaskan kemarahan dan dendam nya, Franz pergi begitu saja. tidak ada anak buah yang biasa menjaga Jeremi, karena dia sengaja datang seorang diri tanpa pengawasan khusus. bahkan untuk membayar semua kerusakan, Frans menggunakan uang Jeremi. Frans tersenyum puas malam ini.


Besoknya, Jeremi terbangun dia mendapati dirinya sudah berada di apartemen pribadinya. dengan kondisi tubuh yang tersaji sakit, memar dan lembam belas luka pukulan.

__ADS_1


"Apartemen, siapa yang sudah membawaku kesini?" perlahan Jeremi ingin bangkit, namun tubuhnya kembali ambruk diranjang.


"Aduuh sakiiit!"


Jeremi berusaha mengingat kejadian semalam, perkelahian nya dengan mantan kekasih Elisa. seketika tangannya mengepal geram, meskipun begitu Jeremi tidak berniat untuk mencari atau membuat perhitungan dengan franz, dia sadar akan kesalahannya sendiri yang sudah menghancurkan hubungan Frans dan Elisa.


Jeremi menghubungi asisten Sarah, yang ditugaskan nya untuk menjaga Elisa selama dirumah sakit. Jeremi sengaja ingin menghindari beberapa hari ini, sampai emosi dan kemarahan Elisa berkurang.


"Hallo Sarah, bagaimana kondisi istri ku sekarang?"


"Kondisi nyonya muda sudah stabil tuan, bahkan pagi ini sudah diperbolehkan untuk pulang kembali." terang Sarah.


"Syukurlah, tetap awasi dia. berikan pelayanan terbaik. terutama jangan sampai Elisa berniat untuk kabur dariku." ucap Jeremi yang takut kehilangan Elisa setelah bayi yang menjadi pengikat mereka sudah tiada.


Setelah menutup panggilan nya, Sarah masuk kedalam ruangan perawatan Elisa.


"Selamat pagi nyonya muda!"


Elisa yang masih enggan berbicara, membalas sapaan Sarah dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.


"Kondisi nyonya sudah sangat stabil, pagi ini kita sudah bisa kembali pulang kerumah." ucap Sarah sambil berkemas.

__ADS_1


"Pulang?"


"Ya nyonya, kerumah besar tuan Jeremi."


Elisa merasa tidak ingin kembali kerumah Jeremi lagi, sehingga dia meminta untuk diantarkan kerumah nya sendiri.


"Aku tidak ingin kembali kesana, antarkan aku kerumah ku sendiri." ucap Elisa.


"Tapi ini perintah dari tuan muda."


"Aku tidak peduli, pokoknya aku ingin pulang kerumah ku. jika tidak biarkan aku mati saja." teriak Elisa mengancam diantara tangisannya.


"Baik.. baiklah, nyonya muda." ucap pelayan setelah menghubungi Jeremi dan mendapatkan persetujuan.


"Tunggu sampai kondisi ku benar-benar pulih, setelah itu aku benar-benar akan pergi sejauh mungkin darimu, Jeremi." gumam Elisa dibalik sikap diam nya.


Sepanjang perjalanan pulang, pandangan Elisa terlihat kosong, sesekali dia mengusap perutnya yang datar, dan air mata yang membasahi wajah cantiknya, meskipun Sarah berusaha untuk menghibur dan mengajaknya ngobrol-ngobrol namun tidak membawa pengaruh apa-apa bagi Elisa.


"Mana ponsel ku?"


"Ini nyonya." Sarah menyerah ponsel Elisa yang dipegangnya.

__ADS_1


Elisa mengusap layar ponselnya, saat ini dia hanya menginginkan sahabat baiknya Ravela berada disisinya, untuk berbagi keluh kesah yang dirasakan nya.


__ADS_2