
Setelah berpakaian rapi, Alex kembali menghampiri sang istri yang masih duduk di teras balkon. diam tanpa ekspresi duduk membelakangi nya. bahkan Vella seolah-olah tidak menganggap kehadiran Alex yang ikut duduk disebelahnya.
Pria mesum yang selalu menjahili dan menggoda sang istri, dengan berbagai cara dan tingkah konyol nya. kini tidak bisa berkutik, Alex terlihat tidak berdaya menghadapi kemarahan sang singa betina peliharaan nya yang sanggar dibalik sikap diamya. yang sesekali membalas tatapan Alex dengan tajam, dengan kedua bola mata melotot penuh amarah, sehingga Alex lebih memilih untuk mengalah dan kebingungannya dari mana dua harus menjelaskannya.
"Tuhan tolong aku, seorang Alexander yang disegani dan berkuasa, digilai para wanita cantik. mustahil dikalahkan seorang perempuan lemah berwajah imut dan ayu, layaknya seekor kucing kecil dengan buah dada besar, bodinya yang aduhai... sialnya, aku sudah tunduk padanya sekarang." bathin Alex mengusap kasar wajahnya, sambil berusaha mengeluarkan kata-kata yang sangat sulit terucap
"Sayang, maafkan aku."
"Maaf atas apa?" tanya Vella tanpa mengalihkan pandangan dari tanaman hias kesayangannya.
"Maaf, karena tidak bertindak tegas terhadap wanita yang berusaha untuk menggoda ku. seharusnya aku memarahi dan menyeret Sintia untuk keluar dari ruangan, agar dia tidak berusaha menggodaku lagi. namun terlambat sehingga membuat mu menjadi salah paham." ucap Alex.
"Apa dia sering datang kekantor, lalu menggoda mu dengan tubuh nya?"
"Ya, tapi aku selalu mengabaikannya. hingga kaki ini dia semakin berani berbuat nekad seperti tadi siang." Jawab Alex jujur tanpa ada yang ditutupi lagi.
__ADS_1
"Melihatnya yang nyaris telanjang, kamu jadi tidak bisa bersikap tegas, begitu?" ucap Vella penuh penekanan.
"Tidak, tapi percayalah tidak terjadi apapun diantara kami, karena aku tidak akan mudah terpancing pada wanita lain, selain kami sayang." Alex pusing menjelaskan namun dia juga tidak bisa marah-marah pada istrinya yang tengah hamil.
"Apa aku harus percaya ucapan mu, atau penglihatan ku sendiri?" Vella masih ingin tahu kesungguhan suaminya.
"Sayang, dalam membina rumah tangga saling percaya satu sama lain adalah nomor satu, selain komunikasi yang lancar diantara kita berdua, aku harap kamu bisa mengerti dan memahami perasaan ku ya g ada hanya kamu seorang." ucap Alex meyakinkan.
"Apa wanita bernama Sintia itu lebih seksi, lebih cantik dariku?"
"Suamiku, aku percaya padamu. aku minta kamu juga percaya padaku ya!" ucap Ravela tersenyum puas, karena bisa mengetahui lebih jauh lagi isi hati suaminya.
"Tentu aku percaya padamu Sayang, sikap posesif ku selama ini hanya takut kamu kenapa-napa diluaran dana tanpa pengawasan dariku, aku sangat menyayangi dan mencintai mu dan tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa mu, sayang." jawab Alex.
"Apakah aku sudah boleh memeluk mu sekarang?" tanya Alex, Vella menganggukkan kepalanya tersenyum bahagia.
__ADS_1
"Suamiku, aku percaya jika kamu tidak akan mengkhianati janji suci pernikahan kita. tapi aku minta untuk kedepannya tolong bertindak lebih tegas lagi terhadap perempuan dan para penggemar mu. karena tanpa kamu sadari, senyumanmu bisa saja membuat perempuan diluar sana meleleh."
"Ya sayang, aku berjanji dan tidak akan memberi lampu hijau pada mereka."
"Aku senang mendengar kejujuran mu, suamiku."
"Berati kamu sudah memaafkan aku?"
"Ya."
"Terimakasih Sayang, sikap mu seharian ini hampir membuat dunia ku terhenti." bisik Alex mengeratkan pelukannya.
"Suamiku hati-hati, dan longgarkan pelukanmu. ingat baby kita."
"Ya, maafkan Daddy nak, yang terlalu bersemangat." Alex mencium perut Ravela dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan.
__ADS_1