
"Kenapa kamu senyum-senyum?" sapa Alex, saat melihat wajah sang istri yang terlihat sangat cerah pagi ini.
"Hari ini aku sangat senang, karena sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah lagi." balas Vella.
"Apa kamu sudah bosan dirumah sakiiit selama beberapa hari ini."
"Ya suamiku, aku rasa kamu pasti juga mersakan hal yang sama dengan ku." ucap Vella.
"Aku tidak akan pernah merasa bosan, selagi itu ada disamping mu, istri ku."
"Benarkah?" Vella tersenyum merasa begitu dicintai.
"Ya, apa kamu merasa puas dengan jawaban ku?"
"Tidak juga, tapi bayi ini yang senang jika didekat Papi nya." ucap Vella mencari alasan seraya mengelus-elus perutnya.
"Papi! panggilan yang sangat bagus, aku tidak sabar lagi untuk mendengarkan anak kita memanggil ku secara langsung." ucap Alex dengan tatapan menerawang.
"Keinginan mu akan terwujud suamiku, sabarlah dulu."
"Ya, aku akan bersabar selagi kamu juga menjaga dengan baik kehamilan mu, termasuk menghabiskan sarapan sebelum pulang, kasihan bayi kita. dia butuh asupan nutrisi yang cukup." Alex duduk disebelah Vella, membantu menyuapi dan memastikan jika makanan di piring itu habis. meskipun perutnya ingin menolak, tapi Vella tetap memaksakan diri untuk memakan dan menelan makanannya demi sang bayi dan suami tercinta.
"Kira-kira, anak kita nantinya berjenis kelamin cowok apa cewek ya?" Alex mengelus sayang perut istri nya.
"Bagiku sama saja, yang penting dia terlahir sehat dan tidak kurang apapun."
__ADS_1
"Ya, aku juga berharap seperti itu. kalau cewek dia pasti secantik kamu, kalau cowok sudah jelas setampan papi nya yang pintar dalam urusan bisnis dan wanita cantik." Alex menepuk dadanya, yang langsung dipiloti oleh Vella.
"Sayang, kenapa menatap seram begitu. kamu cemburu ya!"
"Tidak!"
"Wajah mu terlihat semakin mengemaskan, jika seperti ini." goda Alex.
"Jangan bicara yang aneh-aneh lagi, selera makan ku bisa hilang karena nya."
Alex akhirnya diam, hingga Vella menghabiskan sarapannya, Alex meminta asisten Rani untuk mengurus administrasi kepulangan mereka.
"Barusan mami juga menghubungi ku, dia sudah menunggu kepulangan kita dirumah."
"Angkat tangan mu."
"Suamiku, kamu mau apa?"
"Membantu mu menganti pakaian, bukankah kita harus pulang hari ini!" ucap Alex melepaskan satu persatu kancing piyama Vella.
"Ya, tapi aku bisa melakukannya sendiri."
"Jangan banyak membantah, patuh dan turuti saja perkataan ku."
Alex sudah membuka pakaian bagian atas Vella, dia menahan Saliva nya berkali-kali begitu disuguhi tubuh montok yang putih bersih, gairah kelelakian Alex langsung beraksi.
__ADS_1
"Suamiku, hentikan!!"
Sebelah tangan Alexander menelusuri area bagian perut dan menciuminya, sedangkan Vella mengigit bibir bagian bawahnya antara malu dan kegelian begitu mata Alex menatap fokus perutnya yang masih terlihat datar.
"Kamu terlihat lebih seksi dengan posisi seperti ini, sayang."
"Sudah, nanti ada yang masuk secara tiba-tiba. memergoki kita dengan posisi seperti ini." Vella melirik pintu masuk saat Alex menciumi bagian sensitifnya.
"Sebentar saja, aku ingin ngobrol-ngobrol dengan anakku." jawab Alex kembali kebagian perut Vella, lalu mengelus dan menempelkan telinganya.
"Anakku, tumbuh sehat ya diperut mami. jangan buat dia susah makan dan tidur, papi tidak ingin melihat mamimu menjadi kurus, karena hal itu tidak enak untuk diremas-remas dan papi ngak bakalan puas." ucap Alex yang membuat Vella terbatuk-batuk dengan ucapan nya yang vulgar.
"Biasanya calon ayah itu membisikkan yang baik-baik, misalnya doa. bukanya kalimat-kalimat mesum." ucap Vella sedangkan Alex hanya tersenyum menanggapinya. lalu kembali melanjutkan ciumannya.
"Sudah, aku kedinginan." Vella menarik pakaian ganti nya yang baru lalu mengenakan dengan cepat, jika tidak Alex pasti akan kembali bermain-main dengan tubuh nya.
"Liburan kita sudah berakhir, kita akan pulang dengan penerbangan pertama hari ini." Alex memeluk hangat Vella yang tersenyum senang karena merasa begitu dimanja.
"Baiklah, tapi ingat pesan dokter barusan, kita harus menjaga kehamilan ku di trimester pertama ini. terutama untuk tidak terlalu sering berhubungan intim." ucap Vella mengingatkan.
"Dokter minta untuk hati-hati, bukan melarangnya."
"Itu sama saja suamiku."
"Sudahlah, kita pikirkan nanti saja. yang penting sekarang kita pulang dulu." membibing tangan Vella meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1