Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Team Kesebelasan


__ADS_3

"Ngomong-ngomong, kapan kami berdua akan menimang-nimang cucu?" tanya Vella, membuat Revan dan Anabella langsung salah tingkah.


"Kalau bisa bikin nya yang banyak ya, biar rumah besar kita rame dengan suara tawa dan tangisan Anak-anak kalian." sela Alex.


"Kalau Anabella, terserah kak Revan saja. kalau bisa sih sebelas anak juga lumayan rame, ya kan sayang." balas Anabella sok romantis, refleks Revan keselek oleh air ludahnya sendiri hingga terbatuk-batuk mendengar ucapan Anabella barusan.


"Gila nih cewek, satu aja belum pernah bikin. malah nantangin tim kesebelasan segala." gerutu Revan seraya nyengir kuda mengiyakan ucapan Anabella.


"Wah... wah... mommy senang sekali mendengarnya." mata Vella berbinar-binar bahagia.


"Jika perlu, Daddy akan berikan resep rahasia jamu pantang mundur kuat turun-temurun, pasti ampuh mencetak tim kesebelasan." Alex tidak kalah semangatnya.


"Iiih... Daddy selalu saja otaknya seperti ini, pengen nularin sifat-sifat itu..tu pada anak sendiri, malu tau." Vella menyikut lengan Alex.


"Tapi jika dipikir-pikir omongan Daddy ada benar juga ya. Anabella, kamu jangan pelit-pelit ya ngasih jatah pada suamimu."


"Tidak mom, Anabella justru siap kapanpun." jawab Anabella membuat Revan mati kutu seakan diserang rame-rame.


"Oya malam ini, mommy dan Daddy nginep disini ya."


"Jangan mom..!!!" keduanya langsung kompak menjawab, membuat Alex dan Ravela saling pandang.

__ADS_1


"Bo...boleh kok, mom." meralat kembali ucapan mereka.


"Aduh kompaknya anak menantuku, memang seharusnya kalian mengizinkan kami tidur disini meskipun hanya semalam." ujar Vella senyum-senyum karena dia ingin melihat sejauh mana hubungan pasangan yang tengah berpura-pura romantis dihadapannya.


"Kalo begitu, Anabella rapikan kamarnya dulu ya mom."


"Silahkan sayang."'


"Mom, aku ikut Anabella beres-beres kamarnya ya."


"Mmmmhh, memang seharusnya begitu. suami-istri itu harus saling membantu."


Revan segera menyusul Anabella kekamar, menyembunyikan barang-barang gadis itu agar tidak ketahuan oleh Vella, jika selama ini mereka tidur dikamar yang terpisah.


"Bisa jadi sayang, tapi biarkan saja... seiring berjalannya waktu cinta akan tumbuh dihati mereka berdua, bukankah kita dulu juga mengalami hal yang sama. buktinya kita sekarang saling mencintai dan hidup bahagia." tutur Alex.


"Benar juga, bahkan kamu sangat bucin dan mesum." canda Vella teringat bagaimana tingkah suaminya dulu.


"Aku berharap wanita yang bernama Vivian itu tidak mengusik kehidupan Revan lagi, mas."


"Mudah-mudahan, istriku sayang." balas Alex masih tetap romantis meskipun usia pernikahan mereka sudah terbilang cukup lama.

__ADS_1


"Mommy, Dad. kamarnya sudah siap dirapikan. selamat beristirahat." ucap Anabella.


"Terimakasih sayang, Revan juga ajak istrimu istrahat gih dikamar. sepertinya Anabella sudah ngantuk tuh." goda Vella sambil senyum-senyum.


"Iya mom."


"Awas saja! jika besok pagi rambutmu tidak basah!" goda Alex masuk dalam kamar menyusul Vella.


Revan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, pusing dengan tingkah mommy dan Daddy yang kepo dengan urusan ranjangnya bersama Anabel.


"Andai saja kalian berdua tahu perasaanku, yang hanya ingin melakukannya dengan Vivian." batinya merintih sedih, lalu Revan menuju kamarnya sendiri, dimana sudah ada Anabella disana.


"Meskipun malas harus tidur satu kamar dengan Anabella, tapi aku bisa melewatinya. lagian ini kesempatanku untuk melihat bentuk wajah Anabella sekarang, apakah dia bertambah cantik atau malah sebaliknya." batin Alex dengan rencana terselubung.


"Kenapa Anabella tidak membuka cadarnya saat tidur? apa wajahnya sangatlah buruk sekarang, sehingga dia begitu malu untuk memperlihatkan pada suaminya sendiri." batin Revan begitu memasuki kamar.


Mereka berdua tiba-tiba merasa canggung dalam ruangan kamar yang sama, Revan pun bingung mau tidur dimana. atmosfer terasa mencekam layaknya perputaran film horor yang menakutkan.


"Satu ranjang dengan Anabella tidak mungkin, pasti dia akan langsung kegeeran. lalu aku harus tidur dimana?"


Revan tiba-tiba mendapatkan ide, dia mengambil guling dan meletakkannya di tengah-tengah. sebagai pembatas mereka berdua.

__ADS_1


"Hey... Anabella, kamu jangan besar kepala dulu. kita tidur satu ranjang bukan untuk melakukan sesuatu seperti yang kau harapkan barusan, jadi jangan mimpi bisa menyentuh tubuhku!" ucap Revan sok angkuh, meskipun hatinya deg-degan karena ini pertama kalinya dia tidur dengan perempuan.


"Ya, aku tahu diri kok, jadi kak Revan tidak perlu khawatir." jawab Anabella.


__ADS_2