
Sebelum memejamkan mata, Alex menarik tubuh Ravela kedalam pelukannya.
"Hari ini kamu dan mami sangat puas menikmati jalan-jalan berdua, tanpa peduli dengan ku. bahkan kamu juga mengabaikan panggilan dan pesan masuk dariku?" tanya Alex mengeratkan pelukannya sehingga Ravela kewalahan untuk melepaskan diri nya.
"Maaf suamiku, aku tidak menyadarinya dan juga tidak memeriksa ponsel ku, bahkan aku sempat ketiduran selama dipijit di tempat spa." jawab Vella ketika Alex mengigit kecil lehernya.
"Ketiduran, kenapa bisa? apa yang memijid mu laki-laki atau perempuan sih? kenapa mami bisa seceroboh ini terhadap menantunya?" ucap Alex membabi buta dengan pertanyaan nya.
"Kamu terlalu berlebih-lebihan suamiku, semuanya perempuan. karena mami sangat menjagaku." terang Vella, namun Alex terlihat tidak puas dengan jawaban Vella, gigitan yang meninggalkan tanda merah kembali menghiasi dadanya.
"Auuuh sakiiit, kamu seperti drakula, predator *** Alex. rasanya aku ingin mencakar-cakar tampang tidak bersalah mu itu setiap berhasil membuat ku tidak berdaya seperti ini!" umpat Vella dalam hatinya.
"Apa yang kamu pikirkan tentang ku?"
"Tidak ada suamiku." Vella tersenyum kikuk karena Alex bisa membaca pikiran nya yang tengah mengumpat dalam hati.
"Aku berhak disetiap centi ditubuh mu, apa menurutmu yang aku lakukan ini salah?"
"Tidak ada yang salah, kamu selalu benar." ucap Vella yang mendadak pusing setiap adu argument dengan Alex sehingga dia ingin beranjak.
Alex menarik tangan Vella, menahan tubuh itu sehingga mereka saling tatap dalam diam, seolah-olah menyalami hati dan perasaan mereka masing-masing.
"Berfikir yang baik-baik saja tentang ku! Oke." ucap Alex, Vella mengangguk meskipun tidak sesuai dengan kata hatinya.
"Mendekat lah."
Alex kembali berbaring, Vella mendekat merebahkan kepalanya di dada Alex. perlahan dengan penuh kelembutan Alex membelai rambutnya.
"Suamiku, apa kamu mencintai ku?" Vella menutup mulutnya menyesali pertanyaan yang tiba-tiba terlontar begitu saja.
__ADS_1
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, tapi kamu bisa menilai di setiap tindakan ku." ucap Alex meraba jantung nya sendiri yang seringkali bekerja dibatas normal detak kecepatannya.
"Kenapa jantungku berdetak begitu kencang? setelah mendengar pertanyaan Vella barusan, benarkah aku mencintai nya?" bathin Alex, namun dia kembali berusaha bersikap seperti biasa agar tidak terlalu kentara dihadapan Vella yang ingin mengetahui kepastiannya. Alex membalikkan tubuh Vella, menindihnya dengan ciuman yang membuat Vella kewalahan.
"Suamiku, aku masih lelah sama seperti dirimu. bagaimana jika malam ini kita lewati dengan tidur berpelukan saja."
"Terlambat, kamu terlalu banyak bicara hari ini. sehingga menghilang rasa kantuk dan lelahku." bisik Alex, sedangkan tangannya sudah menarik tali pengait pakaian tidur Vella, untuk memulai malam panas mereka.
Saat terbangun, tubuh Vella terasa berat bahkan dia tidak bisa bergerak sedikitpun. karena Alex memeluk tubuh nya begitu erat meskipun matanya terpejam.
"Aduuuh aku kebelet banget, apa aku bangunkan saja."
"Suamiku,...tolong singkirkan tangan mu aku tidak bisa bergerak." Vella menggoyang pelan lengan Alex.
"Mmmmhh, kenapa kamu membangunkan ku sih?"
"Pergi saja, apa kamu mau ditemani juga?"
"Tidak, tapi tolong singkirkan tangan mu ditubuh ku, ini berat dan aku tidak bisa bergerak karena nya." ucap Vella namun Alex semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku sudah kebelet, apa kamu mau aku pipis di kasur ini." rengek Vella disela ancaman. seketika Alex menarik tangannya.
"Jangan lama-lama." ucap Alex dengan mata yang masih terpejam, tidak terdengar jawaban Vella.
"Aaaahh.... legalnya." ucap Vella keluar dari kamar mandi. perlahan dia merebahkan tubuhnya disamping Alex agar pria itu tidak terbangun, Vella ingin tidur nyaman tanpa dililit tangan kekar dan kaki yang menghimpit tubuhnya.
Perlahan Vella menatap Alex, entah kenapa sekarang dia begitu suka menatap wajah tampan suaminya.
"Benarkah dia mencintai ku?"
__ADS_1
Pertanyaan itu kembali melintas, Vella larut dalam lamunannya saat pertama kali tahu akan dijodohkan dulu nya, bagaimana cara Alex menatap tidak suka kearahnya. namun sekarang tatapan itu sudah terlihat berbeda, lebih lembut dan hangat.
Alex yang menyadari jika Vella tengah menatap wajahnya, membuka mata sehingga membuat Ravela terlonjak kaget.
"Kamu mikirin apa? kebiasaan ya melamun sambil menatap ketampanan ku." ucap Alex seraya menyentil kening Ravela.
"Aww... sakiiit."
Alex tersenyum melihat wajah imut bercampur kesal Vella, bibirnya maju beberapa centi sehingga membangkitkan kembali gairah bercinta Alex.
"Sorry aku kelepasan."'
Alex mengelus lembut kening yang baru saja di centilnya, sambil berbisik.
"Bagaimana kalau kita melakukan olah raga Kasur, aktivitas yang tidak membosankan. anggap saja sebagai permintaan maaf ku karena sudah menyentil kening mu." ucap Alex tersenyum mesum.
"Tidak! aku sudah memaafkan mu, suamiku. sekarang aku ingin melanjutkan tidur saja." Vella menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut seraya membelakangi Alex. namun penolakan Vella membuat api gairah Alex semakin berkobar.
Ditempat lain, Natali sudah melupakan tujuan kepulangannya. malam ini dia uring-uringan merasa malu untuk menghubungi Kenzo terlebih dahulu, namun dia sangat merindukan untuk bertemu kembali dengan pria tampan tersebut, yang merupakan pria kedua yang sudah mencuri hatinya setelah Alexander.
"Kenzo, sedang apa kamu saat ini?"
Natali menulis pesan singkat, seketika dia ingin mengurungkan namun terlambat, pesan sudah terkirim dan dibaca Kenzo.
"Natali! aku sedang memikirkan dirimu." balas Kenzo.
"Bagaimana kalau akhir pekan ini kita ketemuan?"
"Boleh juga, aku akan menjemputmu. kirimkan saja alamat nya." balas Kenzo tersenyum lepas.
__ADS_1