Dinikahi Miliader

Dinikahi Miliader
Beri aku waktu


__ADS_3

Elisa mulai merasa nyaman tanpa kehadiran Jeremi, bahkan dia sudah mulai menerima keadaan dirinya yang sudah kehilangan bayinya. wanita itu mencari kesibukan dengan menata kembali bunga-bunga dan tanaman hidup di sekitar perkarangan rumah yang asri dan sederhana.


Di apartemennya, Jeremi yang sudah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Elisa, terlihat resah dan gelisah. semakin ditahan rasa rindu dihati nya terasa semakin menyiksa, sehingga dia memutuskan untuk menyerah dengan mendatangi rumah Elisa, berharap wanita itu tidak menolak kehadirannya.


Elisa yang tengah asyik dengan tanaman hias nya, kaget dengan kemunculan Jeremi yang sudah berdiri dibelakang nya dengan posisi yang begitu dekat.


"Kamu!"


"Ya Elisa, aku sangat merindukanmu beberapa hari ini, tolong terima dan maafkan aku. jangan siksa aku seketika ini." ucap Jeremi dengan wajah memelas.


"Beri aku waktu, karena tidak mudah bagiku untuk menerima semuanya." Jawab Elisa sendu.


"Ya, aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar siap untuk memaafkan aku, kita akan memulai nya dari awal lagi." ucap Jeremi yang ingin memegangi tangan Elisa, tapi wanita itu segera menepisnya.


"Jangan sentuh aku Jeremi, aku sudah bilang jika aku belum siap."


"Oke, maafkan aku. tapi izinkan aku untuk ikut tinggal bersama mu dirumah ini, atau dirumah ku. yang penting aku bisa terus berdatangan didekat mu, itu sudah lebih dari cukup bagiku."


"Terserah, kamu bisa memakai kamar tamu dirumah ku." Elisa mulai menyerah, karena dia tidak ingin pulang kerumah Jeremi. dia lebih nyaman menempati rumah nya yang sederhana.

__ADS_1


"Terimakasih Sayang, aku bahagia sekali kamu memberikan aku kesempatan." ucap Jeremi dengan mata berbinar-binar bahagia.


Elisa kembali masuk kerumah menuju kamarnya, dia ingin menyendiri dan beristirahat. Elisa berpesan pada asisten Sarah untuk tetap siap siaga dengan menyuruh wanita itu untuk memakai kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur nya sendiri. agar Jeremi tidak leluasa ataupun tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, rasa trauma masih menghantui Elisa.


Pagi yang cerah, Elisa membuka mata sambil menikmati hangatnya cahaya matahari yang merambat masuk kedalam kamarnya. malam ini Elysa tidur sangat pulas sehingga dia merasa sangat bugar ketika bangun.


Kruukk... kruukk...


Elisa meraba perutnya yang berbunyi nyaring ketika mencium aroma masakan dari arah dapur, rasa lapar membuat nya tidak bisa menahan lebih lama lagi, sehingga Elisa segera mencuci muka dan gosok gigi saja tanpa mandi pagi seperti biasanya. lalu turun kebawah dengan penampilan yang sangat natural tanpa polesan makeup ataupun lipstik.


Jeremy yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk Elisa tersenyum, merasa usahanya untuk merebut kembali hati Elisa tidak sia-sia. istri imut nya tengah berjalan kearahnya.


"Ya, aku ingin membuatkan makanan spesial untuk mu." ucap Jeremi mulai menyajikan kedalam piring lalu memberikan pada Elisa.


"Makanlah, semoga kamu menyukai masakan ku."


Elisa yang sudah kelaparan, tidak menyia-nyiakan kesempatan. dia mulai menyendok makanan tersebut dengan lahap nya.


"Bagaimana rasanya?"

__ADS_1


"Enak, aku menyukai nya." ucap Elisa memperlihatkan puring nya yang kosong, Jeremi kembali menambah makanan kedalam piring tersebut, Elisa kembali menghabiskannya.


"Masih mau nambah?"


"Sudah cukup, aku sangat kekenyangan bahkan aku kesulitan untuk bangkit."


"Aku akan mengendong mu, mau kekamar atau taman depan rumah."


"Aku mau duduk di sofa saja sambil nonton televisi."


"Baiklah."


Jeremi mengendong Elisa, dia bisa merasakan detak jantung Elisa yang begitu cepat. mendudukkan perlahan setelah itu menyalakan televisi. menunjuk sikap bagaimana dia begitu peduli dan sangat memanjakan sang istri.


***


Jeremi tidak bisa menahan diri, sehingga ciuman mendarat di bibir Elisa tanpa disadarinya. kecupan penuh kelembutan membuat Elisa terbuai, dia membalas meskipun kata hati dan bahasa tubuhnya bertolak belakang. hatinya menghianati pikirannya sendiri, yang selalu ingin kabur dari Jeremi.


"Tahan dirimu Elisa, jangan mudah luluh dan tergoda." gumam Elisa meyakinkan perasaan nya namun dia juga tidak bisa memungkiri jika dia sangat menikmati dan nyaman dengan sentuhan-sentuhan lembut yang diberikan Jeremi.

__ADS_1


"Tapi bagaimana caranya untukku pergi dari Jeremi, pria ini sangat berkuasa, sangat mudah baginya untuk menemukan tempat persembunyian ku. sementara hidup harus berlanjut, mungkin aku harus menerima dan menjalani dengan ikhlas apa yang sudah menjadi takdir dan jodohku." gumam Elisa.


__ADS_2