
Pagi yang cerah, Anabella sudah siap dengan gamis syar'i dan cadar yang menutupi sebagian wajahnya. tidak banyak yang tahu wajah cantik dibalik cadar tersebut, sepasang mata yang indah, hidung mancung, bibir dan dagunya yang seksi, bahkan kulit putih bersih Anabella seperti susu, lembut dan sangat wangi. merupakan anugrah terindah yang dimilikinya.
Anabella sudah siap bekerja dan menjabat sebagai CEO muda diperusahaan besar mendiang sang ayahanda, yang bergerak di bidang teknologi yang menjadikannya terdepan dalam setiap produk. selama ini hanya dikelola oleh orang-orang kepercayaan Jeremi.
Kedua bola mata Anabella mengembun begitu memasuki ruangan kerja luas dan mewah, diatas meja dan didinding masih terpajang foto ke-dua orang tuanya.
"Mommy... Daddy, aku akan menyimpan setiap kenangan indah kebersamaan kita dilubuk hati yang terdalam." Anabella memejamkan mata mengirimkan doa terbaik untuk kedua orang tuanya dialam sana.
Tok!Tok!Tok!
"Masuk."
"Nona muda, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." ucap asistennya Sarah.
"Siapa dia, Sarah?"
"Sepertinya CEO dari perusahaan King'."
"Kak Revan? suruh dia masuk." ucap Anabella dengan mata berbinar-binar, dia memang sudah lama menaruh rasa pada anak sahabat mommynya itu.
"Baik nona."
Anabella duduk di meja kerja dengan salah tingkah, bibirnya sesekali mengulas senyuman manis meskipun tidak terlihat karena tertutupi oleh cadar.
"Assalamualaikum, Anabella."
"Waalaikumsalam kak Revan, silahkan duduk."
"Ya, terimakasih."
Revan duduk berhadapan dengan Anabella, ekspresi wajahnya seakan ingin tersenyum melihat penampilan Anabella yang menurutnya sangat lucu dan kampungan. meskipun sudah menempuh pendidikan diluar negeri.
__ADS_1
"Kak Revan, kenapa menatapku seperti itu?" Anabella salah tingkah ditatap, sehingga memalingkan wajahnya kesamping.
"Mmmmhh, Anabella ada hal penting yang ingin aku bicarakan berdua denganmu. sehingga aku sengaja menemuimu kesini."
"Hal penting apa kak?"
"Tentang perjodohan kita."
DEGH!!!
"Anabella, sedari kecil hingga sekarang aku menganggapmu sebagai saudara Perempuanku sendiri, tidak ada cinta melainkan hanya kasih sayang sebagai seorang kakak tidak lebih. semoga kamu mengerti!"
"I...iya kak, aku mengerti." berusaha untuk menahan gejolak didadanya.
"Apakah kamu bersedia membantuku?"
"Maksud kak Revan, aku harus membantu bagaimana?"
"Kak Revan, maaf jika aku menolak permintaamu. sebagai seorang anak, aku harus berbakti dan menuruti keinginan mereka."
"Shiiit sial, apa kamu mencintaiku? sehingga mau bertahan?"
"Aku hanya mencintai Allah, dan tidak meletakan cintaku pada manusia." tersenyum sehingga ke-dua bola matanya menyipit.
"Sudah kuduga, tapi jangan harap aku akan membalas perasaanmu meskipun kita sudah menikah nantinya." ucap Revan pergi begitu saja hatinya sangat kesal karena Anabella tidak bisa diajak untuk kerjasama.
"Kita lihat saja nanti, kak Revanku." bathin Anabella tersenyum.
Dalam mobilnya Revan membanting stir untuk menumpahkan kekesalannya.
"Awas kamu Anabel, akan aku buat kamu menyesal dengan pernikahan ini."
__ADS_1
Revan melaju kencang menuju apartemen Vivian, hal ini jauh lebih baik untuk mengembalikan moodnya yang tengah memburuk.
"Sayang, kamu lagi dimana?"
"Disalon, habis itu aku harus pemotretan. emangnya kenapa?"
"Aku lagi bete banget ni, hari ini cancel semua jadwalmu ya. segera temui aku diapartemen."
"Oke, aku akan hubungi asistenku untuk memberitahukan perubahan jadwalnya."
"Cepat Viv, aku tidak bisa menunggu lama. ini sangat penting."
"Ada masalah apa sih Revanku, tidak biasanya kamu seperti ini?" tanya Vivian penasaran.
"Aku tidak bisa membahasnya ditelpon, pokoknya kamu harus segera pulang."
"I...iya."
Permintaan kedua orang tuanya benar-benar membuat Revan prustasi, sesekali pria tampan itu mengusap kasar wajahnya.
Vivian yang habis perawatan mahal, menghabiskan sekian juta uang Revan melangkah penuh semangat, dia selalu ingin terlihat cantik mempesona dihadapan sang kekasih.
Ceklek..!!! pintu apartemen terbuka, hal pertama yang dilihat Vivian adalah wajah kusut Revan yang berbeda dari biasanya, dia seketika mengerut kan keningnya bingung berjalan mendekati Revan.
"Sayang, ada apa?"
Revan seketika tersadar dari lamunannya, dia berusaha tersenyum agar Vivian tidak curiga, Revan bingung mencari alasan yang tepat untuk menjelaskan pada Vivian, jika dia sudah dijodohkan dengan perempuan lain.
Revan sadar dari awal hubungan nya dengan Vivian, tidak pernah mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, mereka selalu beralasan jika pekerjaan Vivian sebagai model tidak tepat untuk mendampingi Revan, dan tidak ingin cucu mereka terlahir dari rahim wanita yang tidak jelas menurut mereka.
"Ditanya kok diam?"
__ADS_1