
Tok!Tok!Tok!
Aktivitas seru mereka terhenti ketika pintu kamar diketuk dari luar, dengan kesal Alex bangkit. membuka pintu kamar, seraya menatap tajam kearah pengawal yang menundukkan kepalanya ketakutan.
"Kamu ingin mati ya, beraninya mengganggu ku?" hardik Alex menarik kerah baju pengawal dengan kasar.
"Maafkan saya tuan, tapi dibawah ada nona Natali yang memaksa ingin masuk! kami sudah melarangnya. tapi dia tetap bersikukuh ingin bertemu dengan anda." lapor pengawal, tidak lama terdengar suara klakson mobil Natali terus-menerus yang memekakkan telinga.
"Sial! apa kalian tidak bisa mengatasi hal kecil seperti ini, atau laporkan saja dia ke polisi. kenapa harus membangun aku." teriak Alex.
"Brank!"
Alex membanting kuat pintu kamar, Vella yang duduk terlonjak kaget dengan reaksi tidak terduga suaminya, semula Vella berfikir Alex akan turun dengan senang hati menemui kekasihnya, namun diluar dugaan suasana hati Alex berubah terlihat sangat memburuk.
"Habis aku malam ini! sepertinya Alex akan melampiaskan emosinya padaku." Vella mundur saat langkah Alex semakin maju, membuka kancing piyama bagian atas, sehingga Alex sudah telanjang dada dengan deru nafas yang naik turun.
***
"Mana Alex!"
"Maaf nona Natali, tuan muda sedang istrahat bersama istri nya. jadi dia tidak ingin diganggu apalagi memenui anda." ucap pengawal.
"Apa? Alex menolak kedatangan ku?"
"Ya, jika Anda tidak mau pergi. terpaksa kami melakukan pemaksaan atau memangil petugas keamanan." ucap pengawal memasang wajah dingin.
__ADS_1
"Berani kalian memperlakukan aku seperti ini! awas kalian." ancam Natali.
"Alex! Alex!"
Natali yang tidak mau menyerah, dia yakin dihati paling dalam nya Alex masih sangat mencintai nya. sehingga dia masih berusaha semampunya untuk mempertahankan hubungan.
"Maaf nona, tapi anda sudah mengganggu keamanan dan kenyamanan tuan muda kami. terpaksa kami harus mengambil tindakan tegas terhadap mu." mendorong Natali untuk kembali masuk dalam mobilnya.
Dalam kamarnya, Alex mendengar teriakan Natali. dia mengumpat kesal.
"Dasar perempuan gila!"
Alex berusaha mengabaikan, percintaan panas nya dengan Ravela jauh lebih penting. dari pada harus mendengarkan namanya berulangkali di teriakan oleh Natali, disertai bunyi klakson mobil nya secara berulang-ulang.
Tidak lama, terdengar kembali suara mesin mobil dihidupkan dan dijalankan dengan kasar. setelah itu tidak terdengar lagi suara-suara penggagu, yang ada hanya deru nafas yang saling berpacu menikmati indahnya cinta tanpa ada yang saling mengungkapkan dengan bibir mereka masing-masing, hanya bahasa tubuh mereka lah yang paling peka menandakan jika mereka saling membutuhkan satu sama lain.
"Jeremi, jika kamu masih peduli padaku. temui aku sekarang di danau." Natali mengetik pesan singkat pada Jeremi, hanya dialah satu-satunya harapan Natali.
Tidak lama, setelah membaca pesan singkat Natali. Jeremi segera melakukan mobilnya menuju danau. dia kawathir ditengah kondisi nya yang terguncang dan masih labil, Natali akan berbuat nekad.
Jeremi segera turun dari mobilnya, begitu melihat gadis yang tengah melamun sendirian ditepi danau. dengan pencahayaan yang temaram, langkah kaki Jeremi terayun pelan, lalu dia ikut duduk disebelah Natali.
"Jeremi, akirnya kamu datang juga. cuma kamu yang masih peduli padaku." ucap Natali dengan pandangan sendu.
"Mata mu sembab, apa kamu menagis lagi demi Alex?"
__ADS_1
"Ya!"
"Natali, lepaskan Alex. biarkan dia bahagia dengan pilihannya. percuma kamu masih tetap berusaha untuk mempertahankan dia, yang ada kamu akan merasa semakin tersakiti." bujuk Jeremi, memegang sebelah tangan Natali, menunjukkan betapa peduli nya dia sebagai seorang sahabat.
"Huuuaa... semuanya sama saja, tidak ada yang mau memperdulikan perasaan ku. aku hanya ingin dukungan dan bantuan mu, Jeremi. bukan nasehat yang tidak penting." tangis Natali pecah. dia kesal sendirian karena Jeremi tidak mendukungnya lagi.
"Natali maaf, jika kata-kata ku menyinggung. tapi semua ini karena aku masih peduli padamu."
"Jeremy, kamu tahu bagaimana perasaan ku pada Alex. hanya kamu harapkan ku. please Jeremi bantu aku yang tidak bisa hidup tanpa Alex. aku rela menjadi yang kedua, asalkan Alex tidak meninggalkan aku."
Natali yang tidak bisa membendung kesedihannya, menghambur kedalam pelukan Jeremi. pria itu tersentak karena tidak siap dengan hati dan tubuhnya yang ikut bergetar, bagaimana pun dulunya Jeremi sangat menyukai Natali. meskipun perasaan itu sudah luntur seiring berjalannya waktu.
"Tenangkan hatimu dulu, baru setelah itu bisa berfikir dengan jernih." bujuk Jeremi, seraya melepaskan perlahan pelukan Natali.
"Bagaimana jika untuk sementara waktu, kamu pergi berlibur kesuatu tempat yang tenang, memberikan mu kenyamanan." Jeremi memberikan solusi yang menurutnya paling ampuh.
"Tidak Jeremi, aku tidak ingin meninggalkan Alex dan masih ingin berusaha."
"Sepertinya itu harapan yang sia-sia, Natali. atau kamu temui saja istri nya, Ravela. ajak dia berbicara dari kehati. sebagai sesama perempuan tentunya Vella akan memahami perasaan mu." balas Jeremi.
"Sudah, tapi percuma. Vella tidak mau membantuku karena terikat dengan tuan Jean. dia tidak akan bercerai dari Alex sebelum tua bangka itu mati. Jeremy, tolonglah aku. aku yakin kamu pasti bisa membujuk Ravela. atau dekati dia dan dapatkan cintanya." ucap Natali, karena dia tahu jika Jeremi tertarik pada Vella.
"Aku sudah berjanji, untuk tidak mengganggu apa yang sudah menjadi milik Alex. Aku tidak ingin di cap sebagai pembinor ataupun pagar makan tanaman." balas Jeremi yang tidak setuju.
"Jangan pedulikan Alex ataupun ucapan orang lain, toh mereka juga tidak pernah peduli perasaan mu ataupun diriku yang dibuang begitu saja." Natali mulai berusaha mengompori Jeremi.
__ADS_1
"Sepertinya, Ravela juga menyukai mu, Jeremi. ingat ucapan nya saat pertemuan pertama kalian?"