
"Aku mohon, cepatlah pergi dari sini. aku benci!! aku benci kamu hiks....hiikss." umpat Elisa.
"Please jangan menolak ku, cantik. semakin kamu membenci dan menolak ku, hanya akan membuatku semakin penasaran dan tertantang untuk memiliki dirimu seutuhnya." ucap Jeremi masih dengan tubuh polos nya, membuat Elysa semakin jijik melihat benda itu.
"Cepat kenakan pakaian mu dan tinggal kan rumahku." ucap Elisa mendorong kasar tubuh Jeremi, dia seperti mendapatkan kekuatan ekstra dibalik kesedihannya.
"Baiklah cantik, tapi ingat kita sudah dua kali berhubungan tanpa pengaman. tidak menutup kemungkinan kamu akan mengandung benihku, Calon Jeremi Anderson." ucap Jeremi menyeringai puas sambil beranjak meninggalkan ranjang Elisa yang sudah dia buat berantakan.
"Brengsek, sialan aku akan terus mengutuk mu setiap detik Jeremi. enyalah dari hadapan ku." Elisa membanting apapun yang bisa terjangkau oleh tangannya untuk mengusir pria yang masih bisa tersenyum melihat kemarahan dan amukannya.
"Brak.... Brak!!"
"Kenapa aku harus melayani nafsu bajingan itu lagi hiks....hiks...aku jijik pada diriku sendiri, kenapa aku harus bertemu dengannya. apa salahku bahkan selama ini aku selalu berusaha untuk menjadi gadis gadis baik-baik." Elisa mandi cukup lama, dia ingin membersihkan semua bekas sentuhan Jeremi ditubuhnya, meskipun kulitnya sudah terasa sangat sakit karena goresan dari kuku-kukunya sendiri. namun Elisa tidak peduli, karena hatinya jauh lebih sakit dibandingkan apapun.
__ADS_1
"Aku harus kemana? pulang kerumah orang tua ku tidak berani, bagaimana jika aku benar-benar hamil anak pria brengsek itu, tapi jika aku tidak pergi dia pasti akan kembali mencariku dengan mendatangi rumah ini." Elisa mulai gundah, pikirannya menjadi buntu, sedangkan untuk meminta bantuan dari sahabat nya Ravela tidak mungkin."
Elisa yang dulunya ceria, terlihat penuh tekanan dan frustasi, semalaman Elisa menghabiskan waktunya dengan menagis, seiring dengan tubuhnya yang kembali sakit dan meriang, sehingga paginya Elisa tidak berangkat kerja. tanpa sadar mata Elisa tertuju pada segepok uang dengan jumlah yang fantastis tergelatak diatas meja riasnya. dia tahu jika itu pasti ulah Jeremi yang ingin menyogoknya.
"Dasar iblis, kamu pikir aku wanita bayaran." Elisa kembali murka sehingga uang itu dia lemparkan dan bertebaran dalam kamarnya, gadis itu tertunduk sedih menagis dilantai yang dingin meratapi nasip dan kisah cintanya dengan Frans yang telah berakhir.
Elisa menghukum dirinya sendiri, seharian gadis itu menagis dilantai tanpa makan dan minum, kondisi fisiknya semakin lemah hingga dia terbaring tidak sadarkan diri.
Dikantor perusahaan nya, terbersit rasa bersalah dihati Jeremi, namun dia segera menepis perasaan nya dan membenarkan perbuatannya.
"Aku harus kembali kerumah Elisa, entah kenapa aku begitu mengkhawatirkan dirinya. Elisa mudah-mudahan saja kamu tidak bertindak nekad." gumam Jeremi melajukan kencang mobilnya dengan panik.
Begitu sampai di kediaman Elisa, dengan langkah panjang Jeremi langsung menuju kedalam kamar gadis itu, matanya terbelalak kaget melihat Elisa yang terbaring lemah dengan kondisi kamar yang berantakan.
__ADS_1
"Please, Elisa bagunlah!"
Jeremi menarik Elisa kedalam pangkuannya, menatap wajah imut dan cantik dengan tubuh yang mungil, namun memiliki buah dada yang besar. sekarang tujuan utama jeremi adalah rumah sakit. dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa gadis malang itu karena perbuatannya sendiri.
Dirumah sakit, Elisa langsung mendapatkan perawatan intensif. Jeremi yang panik berjalan mondar-mandir didepan pintu ruangan, tidak sabaran menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Tidak lama pintu ruangan dokter terbuka, Jeremi langsung bertanya.
"Bagaimana kondisinya?"
Detak jantung dan nadi nya lebih cepat dibandingkan manusia normal, setelah kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut, wanita ini ternyata tengah hamil muda dengan kondisi yang sangat lemah sepertinya dia kekurang gizi." terang dokter memperbaiki letak kacamatanya.
DEGH!!!
__ADS_1
"Apa Elysa hamil?"